GKJW Raih Anugerah Nasional, Arsip Sejarah & Nasionalisme  Kristen Jawa Resmi Diakui Negara

banner 468x60

Jakarta,VictoriousNews.com– Peringatan Hari Kearsipan Nasional ke-55 menjadi momentum bersejarah bagi Greja Kristen Jawi Wetan atau GKJW. Di tengah semangat tema nasional “Empowering the Future: Kearsipan untuk Memberdayakan Masa Depan Menuju Indonesia Emas 2045”, GKJW berhasil menorehkan prestasi membanggakan melalui pengakuan arsip sejarahnya sebagai bagian dari Memori Kolektif Bangsa.

Puncak peringatan Hari Kearsipan Nasional 2026 yang dirangkaikan dengan Rakornas dan Anugerah Kearsipan Tahun 2026 berlangsung di Arsip Nasional Republik Indonesia, Jalan Ampera Raya No.7 Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).

Ketua MA GKJW Pdt. Natael Hermawan (ketiga dari kiri) ketika menerima penghargaan dari ANRI dalam peringatan Hari Kearsipan Nasional di Gedung Arsip Nasional Jl. Ampera Raya, Cilandak, Ps Minggu Jakarta Selatan, Rabu (20/5/26).

Dalam acara tersebut, Majelis Agung GKJW diwakili oleh Pdt. Natael Hermawan dan Pdt. Yosep untuk menerima penganugerahan Program Registrasi Arsip sebagai Memori Kolektif Bangsa Periode I Tahun 2026.

Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusi GKJW dalam menyerahkan khazanah arsip bersejarah bertema: “Menjadi Kristen Jawa, Membela Indonesia: transformasi identitas, kontekstualisasi, dan peran kebangsaan GKJW dalam arus sejarah bangsa (1931-1995).”

Pengakuan ini sekaligus mempertegas posisi GKJW sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia. Di tengah pergulatan zaman, GKJW hadir bukan hanya sebagai lembaga gerejawi, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang ikut merawat nasionalisme, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan toleransi antarumat beragama.

Dengan dukungan dan pendampingan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Majelis Agung GKJW berhasil membuka kembali lembar-lembar sejarah yang selama puluhan tahun tersimpan dalam senyap. Arsip-arsip itu menjadi bukti nyata bagaimana umat Kristen Jawa turut ambil bagian dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kedaulatan bangsa.

Berawal dari “Gugur Gunung” Membersihkan Gudang

Siapa sangka, jejak sejarah besar itu justru ditemukan dari sebuah kegiatan sederhana. Semua bermula dari gerakan “Gugur Gunung” atau kerja bakti yang diinisiasi Pdt. Natael Hermawan bersama pengurus Majelis Agung GKJW di kantor Majelis Agung, Jalan S. Supriadi No.18 Kota Malang.

Saat membersihkan gudang lama, mereka menemukan peti-peti kayu bertumpuk di sudut ruangan. Ketika dibuka, tersimpan arsip-arsip tua dengan kertas menguning dan sebagian mulai lapuk dimakan usia.

Namun di balik lembaran rapuh itu, tersimpan catatan sejarah yang mengejutkan. Arsip tersebut berisi data, surat-menyurat, hingga dokumentasi perjalanan GKJW yang selama ini hanya hidup dalam cerita turun-temurun.

Penemuan itu menjadi titik balik penting dalam pelurusan sejarah kontribusi GKJW terhadap bangsa Indonesia.

Misteri “Pendeta” Tak Dikenal

Di tengah kebingungan mengenai bagaimana menyelamatkan arsip-arsip tua tersebut, sebuah peristiwa tak biasa terjadi.

Beberapa hari setelah kerja bakti, Pdt. Yosep menerima telepon dari seorang pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Pegawai tersebut menanyakan keberadaan arsip lama GKJW sekaligus menawarkan bantuan preservasi dan digitalisasi.

Keanehan muncul ketika pihak Disperpusip menjelaskan bahwa sebelumnya ada seorang “pendeta GKJW” yang menghubungi mereka dan meminta bantuan penyelamatan arsip. Namun setelah ditelusuri, nama pendeta tersebut tidak pernah tercatat dalam daftar pendeta GKJW di Jawa Timur. Nomor telepon yang digunakan pun kini sudah tidak aktif. Hingga hari ini, sosok “pendeta” misterius tersebut masih menjadi teka-teki.

341 Arsip Menjadi Warisan Bangsa

Setelah mendapat persetujuan Majelis Agung GKJW, tim Disperpusip Jawa Timur langsung bergerak melakukan penyelamatan arsip. Tahap awal dilakukan dengan memilah dokumen berdasarkan tahun dan kondisi fisik. Selanjutnya dilakukan digitalisasi agar arsip tetap lestari dan dapat diakses generasi mendatang.

Dari ribuan dokumen yang ditemukan, dipilih sebanyak 341 arsip tekstual yang dinilai paling relevan dengan tema pengajuan Memori Kolektif Bangsa Arsip Nasional Republik Indonesia.

Melalui proses seleksi dan sidang kelayakan yang ketat, akhirnya Khazanah Arsip Majelis Agung GKJW resmi meraih Anugerah Kearsipan 2026.

Penghargaan ini menjadi penegasan bahwa iman Kristen, budaya Jawa, dan nasionalisme bukanlah hal yang saling bertentangan. GKJW membuktikan bahwa menjadi Kristen Jawa berarti tetap mencintai budaya leluhur sekaligus setia membela Indonesia.

Momentum Menjaga Sejarah Gereja

Usai menerima penghargaan, Pdt. Natael Hermawan mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas pencapaian tersebut. “Semoga momentum ini menjadi inspirasi bagi jemaat-jemaat GKJW dan Majelis Agung GKJW untuk menjaga dan memelihara kearsipan serta dokumennya,” ujarnya.

Pdt. Natael yang juga menjabat Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah Jawa Timur menegaskan bahwa arsip bukan sekadar tumpukan kertas lama, melainkan saksi perjalanan iman, budaya, dan perjuangan bangsa.

Kini, dari gudang tua yang nyaris terlupakan, GKJW berhasil menghadirkan kembali suara sejarah kepada Indonesia. Sebuah pesan kuat bahwa identitas kebangsaan dan kekayaan budaya tetap dapat berjalan harmonis bersama iman yang teguh. SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60