JAKARTA, VictoriousNews.com — Api perjuangan para pahlawan pada 10 November 1945 bukan sekadar kobaran emosi sesaat. Dengan persenjataan seadanya, mereka berani berdiri menghadapi penjajahan karena ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada senjata: keberanian dan semangat yang menyala di dalam dada.
Dari api itulah perjuangan mempertahankan kemerdekaan terus dikobarkan.
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang telah mengalami kemerdekaan yang jauh lebih dalam—kemerdekaan dari dosa melalui Tuhan Yesus Kristus?
Apakah api semangat mereka dalam mengikut dan melayani Tuhan masih menyala?
Pertanyaan itulah yang mengawali khotbah Pdt. Nico Watung dalam ibadah Minggu Raya di Gereja Kemuliaan Sion (GKS) Altira Sunter, Blok B12–15, Sunter Jaya, Jakarta Utara, Minggu (9/8/2026).
Mengangkat tema “Rahasia Api Pelayanan Tetap Menyala”, berdasarkan Imamat 6:8–13, Pdt. Nico mengajak jemaat tidak sekadar melihat aktivitas pelayanan, tetapi memeriksa kembali kondisi hati dan kehidupan rohani masing-masing.
Menurutnya, persoalan yang kerap terjadi bukan karena seseorang tidak pernah memiliki semangat. Justru banyak orang memulai pelayanan dengan api yang besar, tetapi perlahan kehilangan bahan bakarnya.
“Banyak anak-anak Tuhan memulai pelayanan dengan semangat seperti kembang api: nyalanya besar, tetapi cepat padam. Padahal Tuhan mau api kita seperti api di mezbah Bait Allah, yang terus menyala,” tegasnya.
Api Itu Harus Tetap Menyala
Pdt. Nico menegaskan, menjaga api pelayanan bukan sekadar pilihan pribadi. Itu merupakan panggilan sekaligus perintah Tuhan.
Dalam Imamat 6:12–13 disebutkan bahwa api di atas mezbah harus terus dijaga agar tidak padam. Setiap pagi imam harus menambahkan kayu bakar dan mengatur korban di atas mezbah.
Bagi Pdt. Nico, mezbah tersebut dapat menjadi gambaran kehidupan pelayanan orang percaya.

“Pelayanan kita adalah mezbah. Kalau apinya padam, hubungan dengan Tuhan menjadi dingin dan pelayanan bisa berubah menjadi rutinitas. Karena itu Tuhan memerintahkan: jaga tetap menyala,” katanya.
Dari pesan tersebut, ia memaparkan enam rahasia agar api pelayanan tidak mudah padam.
1. Isi Terus Bahan Bakar Rohani
Rahasia pertama adalah terus mengisi kehidupan dengan bahan bakar rohani.
Mengutip Roma 12:11, Pdt. Nico mengingatkan agar orang percaya tidak kendor dalam kerajinan, tetapi tetap “bernyala-nyala dalam roh” dan melayani Tuhan.
Menurutnya, api tanpa kayu bakar tidak akan bertahan. Demikian pula pelayanan tidak mungkin terus menyala jika tidak ditopang kehidupan rohani yang sehat.
Ada tiga bahan bakar utama yang harus terus dipelihara: doa pribadi, firman Allah, dan Roh Kudus.
Doa pribadi, katanya, bukan hanya doa di mimbar atau di tengah jemaat. Yesus sendiri mengajarkan agar orang percaya masuk ke kamar, menutup pintu, dan berdoa kepada Bapa yang melihat segala sesuatu secara tersembunyi.
Pdt. Nico kemudian mengangkat Daniel sebagai teladan. Di tengah tekanan dan ancaman, Daniel tetap mempertahankan kehidupan doanya. Ia berdoa tiga kali sehari dan tetap percaya kepada Tuhan ketika menghadapi ancaman gua singa.
“Dalam doa pribadi kita membawa keluarga, persoalan, sakit penyakit, pergumulan, dan seluruh kebutuhan kita kepada Tuhan. Di sanalah kita belajar mendengar suara-Nya,” ujarnya.
Selain doa, firman Allah harus menjadi kompas kehidupan.
“Kalau firman Tuhan menjadi kompas hidup, sekalipun kita melewati gunung, lembah, jalan berbatu, dan berbagai tantangan, kita tidak akan kehilangan arah,” katanya.
Bahan bakar ketiga adalah Roh Kudus. Pelayanan, menurutnya, tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan manusia.
Mengutip Kisah Para Rasul 1:8, ia mengingatkan bahwa orang percaya menerima kuasa ketika Roh Kudus turun dan kemudian menjadi saksi Kristus.
“Firman dan Roh Kudus harus berjalan bersama. Tanpa pekerjaan Roh Kudus, kita mudah lemah dan pelayanan hanya mengandalkan kekuatan sendiri,” tegasnya.
2. Nyalakan Kembali Karunia yang Mulai Redup
Rahasia kedua adalah mengobarkan kembali karunia yang Tuhan berikan.
Mengutip 2 Timotius 1:6, Pdt. Nico mengingatkan pesan Rasul Paulus kepada Timotius untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padanya.
Ia menjelaskan, gambaran tersebut seperti meniup bara yang hampir padam agar kembali menyala.
“Banyak pelayan Tuhan lelah dan kecewa karena manusia. Akhirnya mereka mengubur talentanya. Paulus berkata kepada Timotius: tiup lagi, nyalakan kembali. Ingat panggilan awalmu,” ujarnya.
Karena itu, ketika pelayanan terasa berat, orang percaya perlu kembali bertanya kepada Tuhan tentang panggilan awal yang pernah diterimanya.
Kekecewaan terhadap manusia tidak boleh menjadi alasan untuk mengubur karunia yang Tuhan percayakan.
3. Jangan Kehilangan Kasih Mula-Mula
Rahasia ketiga adalah menjaga kasih mula-mula.
Pdt. Nico mengacu pada Wahyu 2:4–5 tentang jemaat Efesus. Jemaat itu dikenal memiliki pelayanan yang baik, bekerja keras, dan teguh dalam doktrin. Namun ada satu persoalan serius: mereka telah meninggalkan kasih yang semula.
“Pelayanannya bagus, doktrinnya kuat, kerja keras. Tetapi hatinya mulai dingin. Melayani karena tanggung jawab, bukan lagi karena cinta kepada Yesus,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu tanda api pelayanan mulai meredup adalah hilangnya sukacita.
Pelayan mulai mudah tersinggung, menghitung-hitung pengorbanannya, bahkan merasa jerih payahnya tidak dihargai.
Obatnya bukan sekadar berhenti melayani, tetapi kembali kepada Tuhan dan memulihkan kasih mula-mula.
“Kembali kepada perbuatan semula. Ingat saat pertama kali melayani dengan air mata dan sukacita,” katanya.
Ia menegaskan, Tuhan tidak pernah melupakan air mata dan pengorbanan umat-Nya.
4. Jangan Melayani Sendirian
Rahasia keempat: jangan menjalani pelayanan seorang diri.
Pdt. Nico mengutip Amsal 27:17 bahwa besi menajamkan besi dan manusia menajamkan sesamanya. Prinsip yang sama terlihat dalam Pengkhotbah 4:9–10: dua orang lebih baik daripada seorang diri karena ketika yang satu jatuh, yang lain dapat menolongnya.
“Arang yang dipisahkan akan cepat dingin. Tetapi ketika arang ditumpuk bersama, apinya semakin besar,” tuturnya.
Karena itu, kehidupan jemaat dan komunitas menjadi penting. Orang percaya membutuhkan sesama untuk saling menguatkan, menegur, mendoakan, dan menjaga agar semangat pelayanan tidak padam.
Pelayanan bukan arena untuk membuktikan siapa yang paling hebat. Pelayanan adalah panggilan untuk berjalan bersama sebagai tubuh Kristus.
5. Buang Abu dari Hati
Rahasia kelima adalah melakukan koreksi secara terus-menerus dan membuang “abu” yang menutupi api.
Mengacu pada Imamat 6:10, Pdt. Nico menggambarkan abu sebagai berbagai hal yang dapat menumpuk dalam hati: kekecewaan, iri hati, luka, kepahitan, serta persoalan yang tidak pernah dibereskan.
Abu mungkin terlihat kecil. Namun jika terus menumpuk, api akan sulit berkobar.
Karena itu, ia mengajak jemaat melakukan pemeriksaan hati setiap hari.
“Setiap hari kita perlu bertanya: Tuhan, abu apa yang sedang menutupi api saya?” katanya.
Pertanyaan sederhana itu menjadi ajakan untuk tidak membiarkan luka dan kekecewaan mengambil alih kehidupan rohani.
6. Bertumbuh Lebih Dalam, Berakar dan Berbuah
Rahasia terakhir adalah terus growth, deeper and stronger, semakin dalam dan semakin kuat.
Pdt. Nico mengacu pada Kolose 2:6–7 yang mengajarkan agar orang percaya tetap hidup di dalam Kristus, berakar, dibangun, dan diteguhkan dalam iman.
Menurutnya, api pelayanan tidak akan bertahan hanya dengan mengandalkan pengalaman masa lalu. Orang percaya harus terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.
“Jangan hanya ingin dipakai Tuhan, tetapi bertumbuhlah di dalam Dia. Berakar, dibangun, diteguhkan, dan menghasilkan buah,” pungkasnya.
Dari Api Pelayanan ke Mental Seorang Juara
Pesan tentang menjaga api pelayanan kemudian diperkuat Gembala GKS Altira Sunter, Pdt. Wahjono Aripin.
Sebelum menutup doa berkat, Wahjono mengingatkan jemaat bahwa semangat mengikut dan melayani Tuhan tidak cukup hanya dimiliki ketika keadaan berjalan baik.
Mengacu pada 2 Timotius 2:1–5, ia menyoroti tiga gambaran penting tentang ketekunan seorang pelayan: prajurit, petani, dan atlet.
Ketiganya memiliki karakter yang sama: disiplin, ketekunan, kesabaran, serta kesediaan menjalani proses sampai mencapai tujuan.
“Tidak kebetulan kalau Timotius diingatkan tentang seorang prajurit, seorang petani dan seorang atlet,” ujarnya.

Seorang prajurit tidak boleh mudah menyerah ketika menghadapi tekanan. Petani harus sabar menunggu hasil dari apa yang ditanamnya. Sementara seorang atlet dituntut memiliki disiplin dan mental kuat untuk bertanding hingga garis akhir. Di sanalah ketahanan seorang pelayan Tuhan diuji.
Belajar dari Rudy Hartono
Untuk memperjelas pesannya, Wahjono membawa jemaat melihat kembali perjalanan salah satu legenda bulu tangkis Indonesia, Rudy Hartono.
Rudy mencatat sejarah dengan menjuarai All England sebanyak tujuh kali berturut-turut pada era 1960-an hingga 1970-an. Namun, perjalanan menuju kemenangan tidak selalu mudah.
Salah satu rival tangguhnya adalah pemain Denmark, Svend Pri. Menghadapi lawan tersebut, Rudy tidak selalu memperoleh kemenangan dengan mudah. Pertandingan berlangsung ketat dan menguji konsentrasi serta mentalnya.
Bagi Wahjono, kisah tersebut bukan sekadar nostalgia olahraga. Ada pelajaran penting tentang mental seorang pemenang.
Rudy, katanya, tidak membiarkan dirinya terseret emosi meskipun menghadapi permainan lawan yang dapat mengganggu konsentrasi.
Ia memilih menjaga fokus, mempertahankan semangat, dan terus berjuang hingga pertandingan benar-benar berakhir. “Dia punya mental juara. Dia tidak terpancing dengan emosi, tetapi dia menjaga bagaimana semangatnya tetap menjadi semangat untuk memenangkan pertandingan,” ungkap Wahjono.
Jangan Biarkan Masalah Memadamkan Api
Menurut Wahjono, tantangan dan persoalan dalam pelayanan tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan semangat. Sebaliknya, tekanan justru dapat menjadi ruang untuk belajar mengendalikan diri dan menjaga api pelayanan tetap menyala.
Tema menjaga api pelayanan, menurutnya, menjadi pengingat penting terutama bagi mereka yang telah bertahun-tahun mengikut Tuhan dan terlibat dalam pelayanan.
Sebab, semakin panjang perjalanan, semakin besar pula kemungkinan seseorang mengalami kejenuhan.
“Jangan sampai persoalan dan masalah itu menjadikan kita patah semangat. Tetapi justru mengajarkan kita bagaimana kita bisa mengatur semangat kita,” tegasnya.
Pelayanan bukan arena yang selalu dipenuhi kemenangan. Ada kegagalan, kritik, penolakan, kelelahan, dan pergumulan.
Namun seorang pelayan Tuhan dipanggil untuk tetap berdiri dan menyelesaikan pertandingan.
Bukan karena ia tidak pernah jatuh, melainkan karena ia memilih bangkit dan terus berjalan.
Dipanggil Menjadi Pemenang
Wahjono kemudian mengingatkan bahwa seorang pemenang tidak lahir tanpa pertandingan.
Seseorang disebut pemenang karena ia berani masuk ke arena, menghadapi lawan, melewati tekanan, dan bertahan hingga akhir.
“Seorang pemenang itu disebut menjadi seorang pemenang karena dia ada dalam satu arena pertandingan dan di sana dia bertanding untuk mengalahkan dan menjadi seorang pemenang,” katanya.
Karena itu, ia berharap setiap orang percaya tidak berhenti sebagai pribadi yang sekadar bertahan, tetapi terus bertumbuh dan memenangkan setiap pergumulan bersama Tuhan.
“Biar semua yang hadir pada pagi hari ini adalah pemenang-pemenang di dalam Tuhan, bahkan Tuhan katakan lebih daripada seorang pemenang,” ujarnya.
Ia juga mendorong jemaat untuk terus mengasah karunia dan talenta yang Tuhan percayakan.
Talenta, katanya, tidak boleh berhenti sebagai potensi. Karunia harus dikembangkan dan dipakai untuk memuliakan Tuhan, baik di gereja maupun di tempat seseorang bekerja dan berkarya.
“Semakin hari semakin tajam di dalam karunia dan talenta yang Anda miliki, dan terus memuliakan Tuhan melalui bidang di mana Anda bekerja,” pesannya.
Pada akhirnya, menjaga api pelayanan bukan sekadar mempertahankan semangat ketika keadaan baik.
Justru ketika angin masalah datang meniup, di sanalah kualitas api itu diuji.
Api yang dijaga dengan doa, firman, Roh Kudus, kasih, kebersamaan, hati yang bersih, dan pertumbuhan iman tidak mudah dipadamkan.
Seperti seorang atlet yang terus bertanding hingga peluit terakhir berbunyi, orang percaya dipanggil untuk tetap berlari, tetap melayani, dan tetap setia sampai garis akhir.
Sebab kemenangan iman bukan hanya tentang bagaimana seseorang memulai pertandingan, tetapi bagaimana ia mengakhirinya bersama Tuhan. SM













