Pdt. Dr. Melianus Ferry H Kakiay (Ketum GBIN) : Ke Depan, GBIN Akan Hidupkan Kembali Ajaran Alm.Pdt. HL Senduk (Om Ho)

News, Religi1216 Views

Jakarta,Victoriousnews.com,-Cikal bakal lahirnya Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN) berawal dari sebuah gerakan Pelayanan Bethel Nusantara (Pelbenus) yang dibentuk sejak pandemi Covid-19 awal tahun 2020 lalu. Gerakan Pelbenus ini bertujuan untuk mengakomodir para hamba Tuhan  agar tetap dapat melakukan pelayanan ke daerah-daerah. Demikian dikatakan oleh Ketua Umum Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN), Pdt. Dr. Melianus Ferry Haurissa Kakiay, M.Th ketika dijumpai di kediamannya, di Kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu, (21 Juni 2023).

Ki-ka: Stevano Margianto (Ketum Perwamki) & Pdt.Ferry Haurissa usai bincang-bincang di kediamannya, sembari menikmati Kopi, Rabu (21/6/2023).

Menurut Pdt. Ferry Kakiay, gerakan Pelbenus itu bisa merangkul semua denominasi gereja. “Artinya, tidak tersekat dalam sinode gereja, karena kita murni pelayanan.  Di masa pandemi, Pelbenus menggerakkan sejumlah hamba Tuhan telah melakukan gebrakan kegiatan, yakni bakti sosial berupa sembako, pembagian masker, dan lain sebagainya,” ujar Gembala Jemaat  GBIN Kapernaum Jakarta yang akrab disapa Pdt.Ferry.

Dengan berlandaskan kasih dan ketulusan dalam melayani Tuhan, gerakan Pelbenus ini semakin  membesar. Saat itulah, para hamba Tuhan yang tergabung dalam Pelbenus mengusulkan agar membuat gerakan pelayanan yang lebih besar, kuat dan berdampak luas, bagi masyarakat, bangsa dan negara. “Apalagi melihat kondisi pelayanan gereja saat ini, sepertinya tenang-tenang saja. Usulan mendirikan sebuah gereja pun akhirnya terwujud, dengan nama Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN). Kemudian saya memberanikan diri untuk mencoba mendirikan gereja. Langkah pertama saya bertemu dengan Dirjen Bimas Kristen di era Prof Thomas Pentury.  Saat itu beliau katakan untuk mendirikan sebuah gereja /sinode itu tidak ada moratorium. Yang ada adalah juknis (petunjuk teknis pelaksanaan), misalnya harus ada akte pendirian, rekomendasi dari 3 sinode, domisili. Juknis berikutnya; minimal harus ada 25 persen dari Propinsi yang ada di Republik ini atau sekitar 9-10 Propinsi.  Selain itu harus menyertakan 10 ribu KTP sesuai Juknis itu.  Tapi ketika sudah terbentuk minimal  25 persen  propinsi, jumlah KTP itu tidak diperlukan lagi,” papar Pdt. Ferry sembari menambahkan bahwa saat ini sudah terbentuk Propinsi DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, dan Papua. “Setelah Jemaat-jemaat di DKI mendapat SKTL maka kami mengadakan deklarasi dan selanjutnya akan ke Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Maluku dan seterusnya,” tambahnya.

Lanjut Pdt. Ferry, setelah menerima Juknis tersebut, ia kemudian menyampaikan kepada teman-teman hamba Tuhan dan sepakat membuat akte pendirian. “Disitulah kita juga tetap berdiskusi jangan sampai meninggalkan GBI, karena ada perahu baru ini. Tetapi semakin kita memikirkan hal itu, semakin terdorong untuk meninggalkan, dengan alasan karena melihat ‘situasi & kondisi’ yang saat ini terjadi. Puji Tuhan, sekarang GBIN sudah memiliki kantor sebagai domisili di kawasan Jalan Pemuda No. 65 (Chic’s Music lantai 4), Rawamangun, Jakarta. Kantor tersebut adalah persembahan dari pemilik Chic’s Music, Bapak Jemmy Suhadi yang juga hadir saat deklarasi GBIN pada tanggal 17 Juni 2023 lalu,” tandas Pria kelahiran Sorong, Papua, 5 Mei 1959.

Ketika ditanya, GBIN itu aliran apa? Suami dari Pdm. Eva Tan ini menjelaskan bahwa GBIN itu memakai kata Injili. “Harus dipahami bahwa kata  Injili atau evangelio itu bermakna menyampaikan kabar baik untuk semua orang. Apa yang dikatakan Alkitab itulah yang kita laksanakan. Artinya, Injili itu memberitakan kabar baik sesuai amanat Alkitab. Tetapi pada intinya gereja di seluruh dunia ini harus memberitakan Injil. Nah, paham kita adalah mengutamakan Injili harus diberitakan, melalui Injil harus merubah hidup orang,” tukas Papa dari 4 anak.

GBIN Akan Kembalikan Ajaran Alm. Pdt. HL Senduk

 Ferry menegaskan, GBIN akan mengembalikan ajaran yang ditanamkan oleh pendiri GBI, yaitu  Alm.Pdt. HL.Senduk (Om Ho). Karena Om Ho menanamkan ajaran Rasul-rasul. Dan Rasul-rasul itu mengajarkan ajaran Yesus Kristus. “Nilai-nilai yang dulu ditanamkan oleh Alm. Om Ho itu yang saya hidupkan kembali. Contoh ajaran Om Ho adalah hidup sederhana, rendah hati, melayani dengan tulus, jujur, hamba Tuhan hidup dengan iman. Hal itu kita akan terapkan dalam ajaran GBIN. Begitu pula mekanisme tata gereja, kita kembalikan di era Om Ho. Kemudian bisa ditambahkan dengan yang baru dan  yang masih relevan dengan kondisi zaman. Yang jelas tata gereja yang baik dan masih relevan dengan kondisi saat ini akan diterapkan dalam pelayanan GBIN,” ungkap Mantan Ketua BPD GBI DKI Jakarta selama 2 dua periode & Ketua Departemen Pekabaran Injil BPH GBI periode 1991-1997.

Untuk mewujudkan kerinduannya, Pdt.Ferry mengaku telah berkunjung ke STE (Sekolah Teologi Extension) yang didirikan HL Senduk. “Disana banyak sekali buku yang ditulis HL Senduk, saya sudah bicara dengan pimpinan STE nya, dan meminta izin, buku-buku karya Om Ho  akan saya pakai  untuk mengajar. Karena beliau adalah guru saya. Jadi saya tidak bisa lari jauh. Sampai sekarang saya masih ingat ajaran Om Ho. Pertanyaannya? kalau Om Ho masih hidup, apakah akan keluar dari GBI? Jelas tidak. Tapi karena beliau sudah almarhum, ya oke kita hidupkan ajarannya kembali. Dengan tetap mengakarkan semangat dan nilai-nilai hidup yang beliau tanamkan atau wariskan,” urainya.

Masih menurut Pdt. Ferry,  yang jelas GBIN akan melaksanakan tugas gereja sesuai dengan Alkitab. “Tugas gereja itu cuma 2, yaitu menginjil dan membina yang sudah diinjili itu. Kemudian, melengkapi jemaat lalu mengutus lagi untuk menginjil dan memenangkan banyak jiwa. Saya mau tegaskan, bahwa gereja tidak boleh dipakai sebagai alat untuk mencari uang atau mencari hidup. Tetapi gereja harus menjadi sebuah tempat orang-orang percaya, berjumpa, beribadah menyembah Tuhan, dilengkapi supaya mereka pergi memberitakan Injil yang mereka alami kepada semua orang. Gereja pada zaman rasul rasul tidak ada yang besar. Tidak ada mega church. Gereja rasul-rasul itu kecil-kecil tetapi jumlahnya banyak dan berada dimana-mana,” tukasnya.

GBIN Siap Menghadapi Tantangan Zaman Yang Semakin Besar & Sulit

Berbicara tantangan gereja ke depan, mau ada atau tidak covid,  tantangan gereja tetap besar. Terutama adalah tantangan moral. “Ketika moral seseorang tidak baik, maka akan merusak semua lini kehidupan. Rusaknya moral itu bisa dimulai dari dirinya sendiri, keluarga, kemudian merambah kepada tetangga dan akhirnya  kepada bangsa dan negara. Karena itu kita sebagai gereja memiliki tanggungjawab untuk memberitakan kabar baik ini. Supaya mereka berbalik, bertobat, moral mereka bisa diperbaiki,” jelas Pdt. Ferry.

Tantangan gereja yang kedua, menurut Pdt.Ferry adalah krisis ekonomi. Saat ini krisis yang melanda negara Amerika, itu bukanlah barang baru. “Di dalam kisah Alkitab juga pernah terjadi krisis ekonomi di zaman Firaun Mesir  dan Yusuf. Ada 7 tahun kelimpahan, tapi ada juga 7 tahun paceklik. Tapi hal itu bisa diatasi. Menurut saya, negara besar seperti Amerika bisa mengatasi krisis ekonominya kalau benar-benar takut Tuhan. Begitu pula di Indonesia, pemimpin (Presiden) dan pejabatnya  harus takut Tuhan. Jujur saya katakan, kita harus malu dengan Bapak Presiden Jokowi. Beliau itu sederhana, rendah hati dan terbuka kepada semua orang.  Tapi sayangnya, orang-orang yang berada disampingnya sombong-sombong. Merasa diri hebat Mestinya kita rendah hati”.

Tantangan gereja yang ketiga adalah maraknya kasus narkoba. “Kasus ini sulit diberantas, jika para pejabatnya pun ikut ‘main gila’. Contoh saja, baru-baru ini ada jendral kepolisian di Sumut yang terjerat kasus narkoba. Akhirnya tertangkap juga. Jadi kalau aparat, pemimpin dan pengayom masyarakat tidak berubah, maka hal semacam itu akan terus terjadi. Disinilah peran Gereja termasuk GBIN  harus muncul dengan mengabarkan Injil,” pungkas Pdt. Ferry. SM

Comment