HUT Ke-80 TNI, Pengamat militer Dr. John Palinggi, MM, MBA: TNI Prima, Solid, dan Setia pada Sumpah Prajurit

banner 468x60

JAKARTA, Victoriousnews.com – Hari Minggu, 5 Oktober 2025, Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 dengan mengusung tema “TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju.” Momentum istimewa ini menjadi refleksi perjalanan panjang TNI sebagai garda terdepan pertahanan negara sekaligus mitra rakyat dalam menjaga kedaulatan.

Pengamat militer Dr. John N. Palinggi, MM, MBA menegaskan, tema tersebut mencerminkan kesiapan penuh TNI dalam menghadapi berbagai ancaman di segala situasi, sekaligus meneguhkan soliditas internal yang sehat, tangguh, dan berlandaskan sumpah prajurit.

 “TNI Prima artinya, TNI siap menghadapi ancaman segala cuaca apapun bentuknya. Dan sangat sehat. Sehat artinya soliditas internal TNI terjamin dan tangguh. Meski menghadapi keterbatasan, tetapi dengan sumpah prajurit, Sapta Marga, dan Delapan Wajib TNI, mereka tetap prima dan siap melaksanakan tugasnya,” tegas John Palinggi yang diundang resmi untuk menghadiri Puncak acara HUT TNI ke-80 pada 5 Oktober 2025  di Silang Monas, Jakarta Pusat.

Lanjut John, ada falsafah dari daratan Tiongkok, kesehatan itu adalah modal yang paling utama bangsa. Hal itu  juga berlaku bagi TNI. “Kalau dikatakan TNI Rakyat, sudah jelas bahwa TNI berasal dari rakyat dan untuk rakyat. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 yang diperbarui dengan UU Nomor 3 Tahun 2005 menyebutkan, TNI adalah tentara rakyat. Artinya, antara TNI dan rakyat tidak bisa dipisahkan dalam menjaga keutuhan bangsa,” ujarnya.

John menepis anggapan bahwa militer identik dengan otoriter. Menurutnya, TNI justru menjadi institusi yang paling cepat bertransformasi menuju prinsip-prinsip demokrasi. “Perubahan besar dari ABRI menjadi TNI adalah bukti nyata. Sayangnya, seringkali kesalahan oknum digeneralisasi sehingga nama TNI tercoreng. Itu kebiasaan yang tidak baik dan harus dihentikan,” tegasnya.

Lebih lanjut, John menilai perayaan HUT ke-80 TNI beriringan dengan 80 tahun Indonesia merdeka menjadi momentum penting. “Selama delapan dekade, TNI konsisten menjaga kedaulatan bangsa ini. Saya sampaikan salut dan penghormatan yang tinggi,” ucapnya.

Dalam konteks global, ia mengingatkan bahwa dinamika politik, keamanan, dan ekonomi internasional sangat memengaruhi situasi kawasan, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, perhatian terhadap kekuatan pertahanan mutlak diperlukan. “Presiden memperhatikan semua aspek bangsa, namun TNI tetap harus diperkuat sesuai skala ancaman. Alutsista, organisasi, dan anggaran harus diselaraskan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Kalau kita lengah, ancaman dari dalam maupun luar bisa mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa,” tandasnya.

Meski Anggaran Terbata, TNI Tetap Solid & Menjaga Profesionalitas

Menurut  Dr. John N. Palinggi, MM,meskipun Tentara Nasional Indonesia (TNI) selama ini beroperasi dengan anggaran terbatas, kekuatan utama TNI tetap terjaga: soliditas, profesionalitas, dan ketahanan fisik prajurit. “TNI terus melakukan latihan-latihan, menjaga profesionalitas, dan menguatkan fisik personelnya. Masyarakat harus tahu, semboyan TNI adalah Tri Dharma Eka Karma, pengabdian tiga matra darat, laut, dan udara dalam tekad serta semangat perjuangan,” jelas John.

Makna Moto Tiap Matra dan Pasukan Elit

John menjabarkan bahwa setiap angkatan dalam TNI memiliki moto yang menjadi jiwa dan pengikat moral. Angkatan Darat menjunjung Kartika Eka Paksi – lambang burung perkasa tanpa tanding, penuh kekuatan dan kejujuran. Sementara pasukan elitnya, Kopassus, memegang semboyan “Berani, Benar, Berhasil,” yang bermakna lebih baik pulang tinggal nama daripada gagal di medan laga.

Di bawah Angkatan Darat juga ada Kostrad dengan motto Yudha Nirbaya Bakti, yang berarti pengabdian melalui perang tanpa mara bahaya. Angkatan Laut mengusung semboyan “Jalesveva Jayamahe,” bermakna “di laut kita jaya,” sementara pasukan Marinir menggemakan “Jalesu Bhumyamca Jayamahe” – kejayaan di darat maupun laut.

Adapun Angkatan Udara memiliki moto “Swa Bhuwana Paksa,” yang berarti sayap pelindung tanah air. Pasukan elitnya, Kopasgat, bersemboyan “Karmanye Vadikaraste Maphalesu Kadacana,” yaitu bekerja tanpa menghitung untung rugi. “Moto-moto ini bukan sekadar slogan, melainkan semangat yang hidup dalam setiap prajurit,” kata John.

Penegakan Disiplin dan Integritas

Menurut John, masyarakat tidak perlu mencurigai TNI secara berlebihan. “Di dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit sudah jelas, prajurit tidak boleh menentang perintah pimpinan. Kalau ada yang melanggar, langsung diproses melalui Polisi Militer, Jaksa Militer, hingga Mahkamah Agung Militer. Sistemnya berjalan normal,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menghina atau memfitnah TNI. “Kalau ada kesalahan, laporkan. Pasti diproses. Jangan menjadikan TNI sebagai musuh. Justru TNI yang mampu mempersatukan bangsa ini di tengah perbedaan suku, agama, golongan, dan bahasa,” ujarnya.

Latar Belakang Penempatan TNI di Jabatan Sipil

John juga mengulas soal penempatan personel TNI dalam jabatan sipil. Hal itu, menurutnya, berawal dari krisis ekonomi 1998 dan kredit macet yang menghancurkan perbankan nasional. “Saat itu kerugian negara mencapai ribuan triliun. Maka, demi stabilisasi, dalam UU No. 34/2004 dimasukkanlah peran TNI di lembaga-lembaga strategis seperti Lemhannas, Dewan Pertahanan Nasional, dan BIN. Tujuannya agar ada pikiran panjang, idealisme nasional, dan pengawasan yang kuat,” jelasnya.

Namun, lanjut John, kehadiran TNI dalam jabatan sipil sering dicurigai secara berlebihan. “Padahal niatnya untuk menjaga stabilitas, bukan mengambil alih. Tanpa keterlibatan TNI, banyak ancaman bisa lebih liar, mulai dari terorisme, perdagangan ilegal, hingga melemahnya deteksi dini di desa-desa,” tambahnya.

Jumlah Personel Bukan Ukuran

Terkait jumlah TNI dengan populasi Indonesia yang kini hampir 280 juta jiwa, John menegaskan bahwa ukuran kekuatan bukan semata jumlah personel. “TNI itu prima, artinya mampu mengatur diri sendiri sesuai skala ancaman. Bukan sekadar menambah jumlah seperti pegawai negeri. Perencanaan TNI berbeda, terukur, dan berbasis kebutuhan pertahanan,” katanya.

Menurut John Palinggi, kekuatan TNI tidak terletak pada besarnya anggaran atau jumlah personel semata, melainkan pada soliditas, disiplin, moto perjuangan, serta kesetiaan pada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. “Selama 80 tahun TNI menjaga keutuhan bangsa ini. Tanpa TNI, tidak ada Indonesia yang kokoh. Karena itu, masyarakat harus menghargai dan mendukung peran TNI sebagai pengawal kedaulatan negara,” pungkasnya. SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60