Jakarta,VictoriousNews.com — Paskah bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momen perenungan mendalam tentang pembebasan sejati yang dikerjakan Tuhan bagi umat manusia. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua BPD GBI DKI Jakarta Pdt. Sapto Edhi Rahardjo, saat ditemui di GBI Pejaten.
Menurut Pdt. Sapto, makna Paskah berakar dari peristiwa pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, di mana mereka “dilewati”-passover oleh malaikat maut karena darah anak domba yang tercurah di ambang pintu rumah mereka. Peristiwa itu menjadi gambaran sempurna tentang karya penebusan Yesus Kristus—Anak Domba Allah yang tak bercacat—yang melalui darah dan kematian-Nya, membebaskan manusia dari belenggu dosa.
“Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali bukan dijajah oleh bangsa lain, tetapi oleh kedagingan—oleh keinginan duniawi dan dosa yang mengikat,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa pembebasan dalam Kristus membawa manusia kepada tujuan ilahi, yakni menjadi terang dan garam di tengah dunia.
Lebih jauh, Pdt. Sapto menjelaskan bahwa dosa telah menciptakan jurang pemisah antara manusia dengan Allah. Banyak orang berusaha menjangkau Tuhan melalui perbuatan baik dan ritual keagamaan, seolah-olah sedang menaiki tangga atau melompati tembok untuk mencapai Yang Mahakudus. Namun, kekristenan justru menyatakan kebenaran yang berbeda.
“Bukan kita yang mencari Tuhan, tetapi Tuhan yang lebih dahulu mencari kita. Dia yang turun dari kemuliaan-Nya, melompati ‘tembok’ dosa itu, dan datang sebagai manusia untuk menebus kita,” tegas Pdt. Sapto yang juga Gembala GBI Pejaten, Jakarta Selatan.
Ia juga menyinggung kisah Barabas sebagai cerminan nyata kasih Kristus. Saat dihadapkan pada pilihan antara Yesus yang tidak bersalah dan Barabas yang jelas-jelas penjahat, orang banyak justru memilih membebaskan Barabas dan menyalibkan Yesus. Namun, di situlah kasih Tuhan dinyatakan—Yesus rela menggantikan posisi manusia yang seharusnya menerima hukuman.
“Seharusnya kitalah yang dihukum, tetapi karena kasih-Nya yang begitu besar, Dia memilih mengorbankan diri-Nya bagi kita,” ujarnya penuh penekanan.
Menutup perbincangan, Pdt. Sapto mengajak masyarakat, baik di Indonesia maupun secara global, untuk tidak hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Ia mengingatkan bahwa Tuhan telah lebih dahulu memberikan hidup-Nya sebagai jaminan anugerah yang sempurna.
“Pegang terus Tuhan, fokus kepada-Nya, dan cari kehendak-Nya. Apa yang tidak bisa kita usahakan, sudah Tuhan kerjakan lebih dahulu bagi kita,” pesannya.
Dalam semangat Paskah, ia pun menyampaikan ucapan selamat kepada umat Kristiani untuk terus merenungkan makna penebusan, memahami kasih Tuhan, dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud iman yang hidup. Timoty

















