Jejak Iman Para Perintis Kristen yang Membangun Blimbingsari di Tengah Hutan Angker Bali Barat

banner 468x60

JEMBRANA, Bali, VictoriousNews.com – Di ujung barat Pulau Bali, di antara hamparan perkebunan dan hijaunya hutan tropis Kecamatan Melaya, berdiri sebuah desa yang lahir dari air mata, pengorbanan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Namanya Blimbingsari.

Hari ini, desa tersebut dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi Kristen yang unik di Indonesia. Namun di balik ketenangan dan keindahannya, tersimpan kisah perjuangan iman yang menggetarkan hati. Sebuah cerita tentang orang-orang yang rela kehilangan kampung halaman demi mempertahankan keyakinan mereka kepada Kristus.

Ketika Iman Harus Dibayar dengan Pengucilan

Sejarah Blimbingsari berawal dari masuknya Injil ke Bali pada awal abad ke-20.

Menurut tokoh masyarakat sekaligus Majelis Gereja Protestan di Bali (GKPB) Jemaat PNIEL Blimbingsari, Gede Sudigda, pelayanan penginjilan yang dilakukan Sang Tohang, seorang penginjil Tionghoa, pada tahun 1931 melahirkan kelompok-kelompok orang Bali yang menerima Kekristenan.

Para perintis Kristen yang ditulis dalam prasasti di Homestay Puri Eling Blimbingsari, Melaya, Jembrana Bali

Namun keputusan mengikuti Kristus saat itu bukanlah pilihan yang mudah. Mereka menghadapi berbagai tekanan sosial. Petani Kristen tidak memperoleh aliran air irigasi karena menolak mengikuti ritual pemujaan Dewi Sri. Ada keluarga yang ditolak memakamkan bayinya di kuburan desa. Bahkan jenazah umat Kristen yang telah dimakamkan digali kembali dan dibuang. “Mereka mengalami diskriminasi yang sangat berat hanya karena keyakinan mereka,” tutur Sudigda.

Gelombang penolakan yang terus membesar akhirnya mendorong pemerintah kolonial Belanda mencari jalan keluar. Solusinya adalah memindahkan komunitas Kristen tersebut ke wilayah baru yang jauh dari permukiman asal mereka.

Menembus Hutan Angker Menuju Harapan Baru

Tahun 1939 menjadi babak baru dalam sejarah Kekristenan di Bali. Sebanyak 30 pria Kristen dari sejumlah desa seperti Carangsari, Untal-Untal, Abianbase, Pemblingan, Semate, dan Sading diberangkatkan menuju sebuah kawasan hutan lebat di Bali Barat.

Monumen Prasasti para perintis lengkap di Homestay Puri Eling

Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Mereka harus berjalan kaki hampir 100 kilometer selama tiga hari tiga malam menembus jalan setapak yang belum tersentuh pembangunan.

“Mereka berangkat lebih dulu. Istri dan anak-anak masih ditinggalkan di kampung asal,” kenang Sudigda, keturunan langsung salah satu perintis Blimbingsari, Ketut Nyenggol dan Ni Luh Siram.

Sesampainya di lokasi, mereka tidak menemukan apa pun selain hutan belantara yang sunyi dan menyeramkan.

Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi. Ular besar, harimau, buaya, dan nyamuk malaria menjadi ancaman setiap hari. Tidak ada rumah. Tidak ada jalan. Tidak ada sumber kehidupan selain sungai yang mengalir di tengah hutan.

Di tempat itulah mereka mendirikan barak sederhana sebagai tempat berteduh.

Dengan parang dan alat seadanya, para perintis mulai membuka sekitar 450 hektare hutan. Setiap ayunan parang bukan hanya menebas semak belukar, tetapi juga menebas ketakutan dan keraguan akan masa depan.

Paskah di Tengah Batang Pohon Tumbang

Di tengah kerasnya perjuangan membuka hutan, para perintis tidak pernah melepaskan pegangan utama mereka: iman kepada Tuhan.

Setelah lahan berhasil dibuka, mereka mengadakan perayaan Paskah pertama. Tidak ada gedung gereja. Tidak ada mimbar megah. Yang ada hanyalah batang-batang pohon tumbang yang masih berserakan di tanah yang baru dibuka.

Di atas kayu-kayu itulah mereka menyalakan lilin-lilin kecil sebagai simbol kemenangan Kristus atas maut.

Perayaan sederhana tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak penting lahirnya komunitas Kristen Blimbingsari. Di tengah keterasingan dan ketidakpastian, mereka percaya Tuhan tidak meninggalkan mereka.

Desa yang Dibangun Berdasarkan Firman Tuhan

Keistimewaan Blimbingsari bukan hanya terletak pada sejarah pengorbanannya, tetapi juga pada cara para perintis membangun desa.

Meski sebagian besar tidak mengenyam pendidikan tinggi, mereka memiliki visi yang jauh melampaui zamannya.

Jalan utama desa dibuat selebar sekitar 10 meter dan dirancang membentuk simbol salib. Di sepanjang jalan itulah rumah-rumah warga berdiri hingga sekarang.

Pembagian tanah dilakukan secara adil. Setiap keluarga memperoleh lahan dengan ukuran yang sama.

Inspirasi mereka berasal dari kisah bangsa Israel saat memasuki Tanah Kanaan. Keluarga-keluarga yang berasal dari desa yang sama ditempatkan dalam satu wilayah agar ikatan persaudaraan tetap terjaga. “Kami percaya tanah ini adalah tanah yang Tuhan sediakan bagi orang tua kami,” ujar Sudigda.

Nama yang Tumbuh dari Hutan Belimbing

Ki-ka: Gede Sudigda & Drh Gede Swarna, generasi penerus dari para perintis kekristenan di Blimbingsari, Melaya Jembrana Bali

Gede Sudigda menuturkan, kawasan tersebut dipenuhi pohon belimbing hutan yang buahnya kecil-kecil. Bahkan banyak pohon yang hanya berbunga tanpa menghasilkan buah. Keberadaan pohon-pohon itulah yang kemudian menginspirasi para perintis memberi nama daerah tersebut sebagai Blimbingsari. “Di sini dulu banyak pohon belimbing hutan. Buahnya kecil-kecil, bahkan ada yang tidak berbuah. Dari situlah nama Blimbingsari berasal,” tukas Sudigda.

Misteri Salib Bengkok & Gereja yang Memuliakan Kristus

Seiring bertambahnya jumlah penduduk, kehidupan rohani masyarakat juga berkembang. Dari ibadah sederhana di rumah-rumah warga, lahirlah gereja yang kemudian menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat.

Menariknya, gereja di Blimbingsari tidak mempertahankan arsitektur Barat. Bangunan gereja kemudian dirancang dengan nuansa budaya Bali yang kuat.

Ornamen alam, taman terbuka, bunga, air, dan hembusan angin menjadi bagian dari konsep bangunan yang menggambarkan seluruh ciptaan memuliakan Sang Pencipta.

Namun satu simbol tetap menjadi pusatnya: salib. Menurut Sudigda, simbol salib bengkok yang terdapat pada bangunan gereja maupun monumen perintis memiliki makna mendalam.

Pertama, melambangkan penderitaan Yesus ketika disalibkan dengan posisi kaki yang tertekuk. Kedua, mencerminkan keluwesan budaya Bali yang tampak dalam gerakan tari tradisional. Di Blimbingsari, Injil dan budaya Bali bertemu tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Dari Kelapa Hingga Kakao: Berkat yang Bertumbuh dari Tanah Pengasingan

Sekretaris II GKPB PNIEL Blimbingsari, Drh. Gede Swarna, menuturkan bahwa setelah keluarga para perintis menyusul ke desa baru, mereka membawa bibit kelapa dari Denpasar. Kelapa menjadi sumber kehidupan utama selama puluhan tahun.

Selain itu, masyarakat menanam jagung, kacang-kacangan, dan pisang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kini kakao menjadi salah satu komoditas unggulan yang menopang perekonomian warga. “Perkebunan yang diwariskan turun-temurun menjadi bukti bahwa tempat yang dulu dianggap pembuangan telah berubah menjadi sumber kehidupan dan berkat Tuhan yang luar biasa,” ujar Swarna.

Dari Desa Terbuang Menjadi Destinasi wisata  Dunia

Waktu membuktikan bahwa pengasingan tidak pernah menjadi akhir dari kisah Blimbingsari.

Sebaliknya, dari tanah yang dahulu dianggap terpencil dan angker, lahir sebuah desa yang kini dikenal hingga mancanegara. Tahun 2011, Blimbingsari ditetapkan sebagai desa wisata.

Wisatawan datang untuk menyaksikan harmoni yang langka antara budaya Bali dan iman Kristen. Program live in, wisata edukasi, trekking hutan hujan tropis, kerajinan ecoprint, hingga pengalaman mengikuti ibadah kontekstual Bali menjadi daya tarik yang unik.

Desa ini juga dikenal sebagai salah satu desa terbersih di Bali karena komitmen warganya menjaga lingkungan dan mengurangi penggunaan plastik.

Prestasinya pun membanggakan. Pada 2010 Blimbingsari meraih Juara I Pariwisata Berbasis Masyarakat tingkat Provinsi Bali. Tujuh tahun kemudian, penghargaan serupa diraih di tingkat nasional.

Warisan Iman yang Tak Pernah Padam

Hampir sembilan dekade telah berlalu sejak langkah pertama para perintis menembus hutan Bali Barat.

Mereka pernah ditolak, diasingkan, dan kehilangan tempat berpijak. Mereka menghadapi penyakit, binatang buas, dan masa depan yang serba tidak pasti. Namun mereka tidak menyerah.

Hari ini, setiap jalan yang membentuk simbol salib, setiap pohon yang tumbuh di perkebunan warga, dan setiap pujian-pujian yang berkumandang di gereja GKPB Jemaat PNIEL Blimbingsari menjadi saksi bahwa iman yang teguh mampu mengubah penderitaan menjadi pengharapan.

Blimbingsari bukan sekadar desa wisata religi. Ia adalah monumen hidup tentang kemenangan iman. Sebuah kisah bahwa dari tanah pengasingan, Tuhan dapat menghadirkan tanah perjanjian.

Belajar dari Mojowarno, Menata Pelayanan di Tanah Bali

Di tengah perjuangan membangun kehidupan baru di Blimbingsari, para perintis Kristen tidak hanya membuka hutan dan mengolah lahan. Mereka juga membangun fondasi gereja yang kokoh melalui proses belajar dari gereja yang lebih dahulu bertumbuh, yakni GKJW Mojowarno, Jombang -Jawa Timur.

Hubungan tersebut terjalin setelah masa pendudukan Jepang berakhir. Saat itu, pelayanan gereja di Bali masih sangat terbatas. Jemaat yang terus bertambah membutuhkan pembinaan, sementara tenaga pelayan gereja masih minim. Dalam kondisi itulah GKJW Mojowarno hadir memberikan pendampingan.

Sejumlah utusan gereja dikirim ke Bali untuk memperkuat pelayanan jemaat. Mereka membawa berbagai bahan pengajaran iman, termasuk buku-buku kecil berisi Injil Lukas yang dikenal dengan judul Kabar Baik Karangan Lukas. Literatur sederhana itu menjadi sarana penting untuk memperkenalkan ajaran Kristen kepada jemaat yang sebagian besar masih baru dalam iman.

Tak hanya menerima kunjungan para pelayan gereja, sejumlah majelis GKPB Blimbingsari juga belajar langsung ke Mojowarno. Di sana mereka mempelajari tata gereja dan berbagai pelayanan dasar, mulai dari baptisan, pemberkatan pernikahan, pelayanan kedukaan, hingga penggembalaan jemaat.

Pengalaman itu menjadi bekal berharga bagi para pemimpin gereja di Blimbingsari. Apa yang mereka pelajari kemudian diterapkan dan dikembangkan sesuai konteks budaya Bali. Dari proses belajar tersebut lahirlah pelayanan gereja yang semakin tertata dan mandiri.

Jejak hubungan Blimbingsari dan Mojowarno menjadi salah satu kisah penting dalam sejarah kekristenan di Bali. Dari Mojowarno, para perintis memperoleh pengetahuan dan penguatan. Dari Blimbingsari, benih-benih pelayanan itu kemudian bertumbuh menjadi gereja yang hidup, mengakar, dan tetap setia melayani hingga generasi sekarang. SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60