Perayaan Natal Pemprov DKI Jakarta: MEWUJUDKAN JAKARTA YANG DAMAI, MAJU, BAHAGIA & SEJAHTERA BAGI MASYARAKAT

Perayaan Natal Pemprov DKI Jakarta: MEWUJUDKAN JAKARTA YANG DAMAI, MAJU, BAHAGIA & SEJAHTERA BAGI MASYARAKAT

Suasana Perayaan Natal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di JIEXPO Kemayoran (13/1) 2018

Jakarta, Victoriousnews. com, -Mengusung tema “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu” dan sub tema Bekerja Sama Mewujudkan Jakarta yang Damai Maju, Bahagia dan Sejahtera Bagi Masyarakat,  Perayaan Natal Bersama Pemerintah Provinsi Jakarta dengan Masyarakat Kristen dan Katholik DKI Jakarta akhirnya bisa dilaksanakan secara indoor, yakni di Jakarta Internasional Expo Kemayoran Jakarta, pada tanggal 13 Januari 2018. Acara yang dihadiri sekitar 3000 umat Kristiani tersebut dilayani oleh Pdt. Dr. Jacob Nahuway (Ketua Umum PGPI/Gembala GBI Mawar Saron) sebagai pembawa firman.

Tampak hadir dalam acara tersebut, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan wakil Gubernur Sandiaga Uno (Anies-Sandi). Kehadiran Anies-Sandi disambut Abang-None Jakarta dan Tarian khas Betawi. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjanjikan natal bersama warga ibu kota dengan pihak Pemprov DKI akan terus dilaksanakan setiap tahun. Hal tersebut kata dia, merupakan bagian dari komitmen dan janjinya untuk menjadikan Jakarta sebagai kota milik bersama, bukan hanya satu golongan saja. Perayaan Natal ini, menurut Anies, adalah kegiatan yang dilakukan bersama antara pemprov dan warga. “Dan ini merupakan wujud komitmen bahwa Jakarta adalah milik kita. Jakarta adalah rumah semua.”

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ketika menyampaikan kata sambutan

                Perayaan Natal Bersama ini didukung oleh perwakilan lembaga Kristen seperti Persekutuan Gereja-Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI) Jakarta, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah DKI Jakarta, Keuskupan Agung Katolik, Gereja Ortodoks Indonesia (GOI), Persekutuan Gereja-Gereja Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII), Bala Keselamatan dan Persekutuan Baptis Indonesia (PBI) Wilayah Jakarta.

Dalam sambutannya, Ketua PGPI (Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia) DKI Jakarta Pdt. Jason Balompapueng menyampaikan bahwa dengan perayaan Natal Bersama ini membuktikan menjaga kerukunan umat dengan baik. Jakarta adalah kota toleran.

Pdt. Jason Balompapueng mendamping Gubernur Anies

Sementara itu, Ketua Panitia Gamal Sinurat, menjelaskan, perayaan natal ini sebagai  tindak lanjut dari gagasan yang dilontarkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang pada awalnya Anies Baswedan ingin perayaan Natal diselenggarakan di Monas. “Tapi dalam beberapa pertemuan disepakati dilaksanakan di JIExpo.” Natal Bersama ini diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 700 juta tanpa menggunakan anggaran daerah, tapi dari donasi dan sponsorship dari pihak swasta. Menurut Gamal, “Ada juga bantuan sarana dan prasarana. Contohnya untuk listrik ada dukungan genset dari Dinas Perindustrian dan Transportasi ada dukungan Dinas Perhubungan DKI.”

 Sedangkan, Koordinator Komunitas Suluh Jakarta atau KSJ, Franky Tampubolon menyerukan umat untuk bersatu, mendukung pemerintah DKI Jakarta yang bertujuan untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang penuh damai. Menurutnya kemajemukan Jakarta adalah keindahan yang harus terus dirawat. “Artinya pemerintah tetap menjadi bagian dari doa-doa umat di gereja,” begitu kata mantan Ketua Pemuda PGIW Jakarta itu.

Ia mengungkapkan bahwa KSJ hadir untuk mendukung upaya pemerintah membawa kesejahteraan warga Jakarta. KSJ sanggup menjembatani harapan umat, “Mengangkat menjadi kebutuhan masyarakat, menjadi perhatian semua pihak termasuk pemprov,”  tutur Franky yang juga mantan Ketua Pemuda PGI. Margianto/foto: roy

 

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Guru Besar FE-UI): Suka Tidak Suka, Kita Harus Hadapi Era Disruption

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D ketika memberikan kuliah umum di STT REM

Jakarta,Victoriousnews.com,-Saat memberikan kuliah umum yang mengangkat tema “Disruption” di kampus STT REM, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI), Prof. Rhenald Kasali, Ph.D mengatakan, pada dasarnya manusia takut akan perubahan. Itu sebabnya banyak orang, khususnya generasi tua atau zaman ‘Old’, tidak suka bahkan melakukan perlawanan terhadap perubahan atau Reformator (Pelaku Perubahan) karena dianggap mengancam kehidupan mereka.

                                                                                         

“Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita akan menghadapi era Disruption. Ini adalah era dimana kehidupan semakin dinamis di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat berubah. Era disruption menantang kita bagaimana menghadapi musuh yang tidak kelihatan. Orang tidak lebih siap yang kehidupannya di atas turun ke bawah dibanding  yang dari bawah menuju ke atas. Itu sebabnya banyak orang stress bahkan bunuh diri ketika kehidupan atau prestasinya menurun,” papar Prof. Rhenaldi yang juga pendiri ‘Rumah Perubahan’ ketika menyampaikan kuliah umum di STT REM, Jalan Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G, Kelapa Gading, Jakarta Utara, (08/01/2018).

Menurut Prof. Rhenaldi di era disruption ini, orang yang memiliki pendidikan (ijazah) tinggi belum tentu hidupnya berhasil. Yang berhasil adalah mereka yang bekerja keras dengan kreatifitas, inovatif dan inisiatif. “Kita masuk kerja dengan ijazah, tetapi orang mendapatkan jabatan dan penghasilan tinggi karena kinerja. Era disruption dimana penemuan (Teknologi dan Inovasi) baru semakin cepat, dengan sendirinya menghabisi produk dan bisnis lama dan menghasilkan produk dan bisnis baru. Ojek online dan shooping online contohnya. Disruption juga menghabisi professional job menjadi virtual job. Kondisi ini sesungguhnya bukan mengurangi lapangan kerja dan menambah pengangguran tetapi memunculkan profesi baru dan lapangan kerja baru. Siapa yang siap?,” paparnya.

Baca Juga : Dr.Ariasa Supit, M.Si: Mulai Tahun 2018 Kuliah Umum STT REM Akan Diadakan Sebulan Sekali

Lanjut Kasali, anak-anak generasi mendatang harus dipersiapkan memiliki mental yang baik, yakni, fokus, terus mengembangkan kemampuan diri menjadi inovatif dan kreatif dan memiliki sifat inisiatif.“Sayangnya banyak orangtua salah mendidik anak dengan memanjakan mereka dengan berbagai kemudahan dan fasilitas, tidak memberikan kepercayaan diri dan memaksakan keinginan demi rasa bangganya kepada anak. Generasi milineal saat ini maunya serba instan, happy, mudah dan santai mendapatkan uang, cepat menyerah dan putus asa serta tidak fokus,” terangnya.

Kata Kasali, orangtua yang notabene mendapat pola didikan masa lalu memaksakan pola didikannya kepada anak zaman now. Padahal, seharusnya didikan pada anak harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi zamannya. “Anda mau membawa masa lalu ke masa sekarang atau membawa masa depan ke masa sekarang?,” ujarnya.

Prof Rhenald  Kasali berpose bersama dengan para dosen STT REM

Masih kata Prof. Kasali, Disruption itu memiliki 3 zona waktu, yakni: the present, the future dan the past. “ Hari ini orang bisa mengungkapkan pikirannya secara terbuka, baik pikiran yang positif maupun pikiran yang negatif. Kalau zaman old, kita menulis buku harian (diary) digembok di lemari dan sifatnya sangat rahasia takut dibaca orang lain. Tetapi sekarang, setiap pikiran kita bisa dibaca di media sosial,”tandas Prof. Kasali. margianto

Dr.Ariasa Supit, M.Si: Mulai Tahun 2018 Kuliah Umum STT REM Akan Diadakan Sebulan Sekali

Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit, M.Si  saat menyampaikan sambutan dalam kuliah umum STT REM

Jakarta, Victoriousnews.com,-“Dunia saat ini mengalami kecanggihan teknologi yang serba cepat, murah dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Setiap orang juga merasakan dampak dari kecanggihan teknologi, mulai dari HP/Android, media sosial, televisi, internet dan sebagainya—yang semuanya bisa dikerjakan serba cepat. Seperti yang dikatakan Presiden Jokowi, dunia pendidikan saat ini tidak bisa lagi seperti dulu yang belajar mengetahui apa itu ilmu Akuntansi, Teknik, Hukum dan lainnya karena teknologi zaman dinamis, dunia berubah semakin cepat,” Ujar Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit, M.Si dalam kata sambutannya dalam acara Kuliah Umum Kepemimpinan di kampus Sekolah Tinggi Teologia Rahmat Emanuel (REM), Jl.  Pelepah Kuning III Blok WE 2 No.4 G-K Kelapa Gading Jakarta Utara.

Lanjut Ariasa, STT REM berencana akan menggelar kuliah umum sebulan sekali. Hal itu guna menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa, tidak hanya belajar mengenai Teologi. Bagaimana menyiapkan mahasiswa yang siap di era perubahan cepat dengan kreatif dan inovatif dalam mengaplikasikan keilmuannya. “Mulai tahun 2018 STT REM telah membuat program, bahwa kuliah umum ini akan dilaksanakan sebulan sekali (setiap bulan). Dan mulai Januari ini menghadirkan Prof. Rhenald Kasali sebagai pembicara,” tutur Ariasa.

Kika: Johan Tumanduk (Direktur Eksekutif Conrad Supit Center) dan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D

Dengan mengusung tema “Disruption—Menghadapi Lawan-Lawan Yang Tak Kelihatan”, kuliah umum yang gelar tanggal 8 Januari 2018, diikuti oleh mahasiswa-mahasiswi S1 dan S2 STT REM, sejumlah dosen pengajar, Wakil Ketua 1, Pdt. Dr. Antonius Natan, M.Th, Pdt. Dr. Rahtomojati, Pdt. Dr. Lenny Chendralisan, Pdt. Dr. Ariasa Supit, M.Si (Ketua STT REM), Agung Suprio (Komisioner KPI Pusat), serta menghadirkan pembicara Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Guru Besar FEUI, Penulis, pendiri Rumah Perubahan) dan William Wiguna M.Pd, CPHR, CBA, CPI (Ketua Umum Aspirasi, Direktur Program Pasca Sarjana STT REM). Acara ini dipandu oleh Bapak Johan Tumanduk, S.H, M.M; M.Min, M.Pd.K (Direktur Eksekutif Conrad Supit Center) selaku Moderator.

Komisioner KPI Pusat, Agung Suprio

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI Pusat), Agung Suprio, mengungkapkan, bahwa tema Disruption ini memang sangat cocok dengan kondisi kekinian. Sesuai dengan UU No.32/2002, tentang penyiaran Indonesia, bahwa konsep penyiaran saat ini adalah anytime dan anywhere. “Kita menyiarkan sesuatu tidak menunggu waktu lama. Kita harus siap berubah untuk mengikuti teknologi. Contohnya, jika ada stasiun televisi yang tidak mau berubah dan tidak punya konten kreatif, cepat atau lambat akan bangkrut. Sebab sesuai data asosiasi penyiaran televisi, saat ini per hari, orang nonton televisi semakin menurun dibandingkan orang yang melihat internet/media sosial,” tukas Agung Suprio dalam kata sambutannya.

Baca Juga :Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Guru Besar FE-UI): Suka Tidak Suka, Kita Harus Hadapi Era Disruption

Menurut Agung, setiap hari rata-rata orang menonton internet melalui smartphone atau ipad 180 menit per-hari. Diperkirakan pada Tahun 2030 penyiaran televisi dan radio sudah tidak ada lagi. “Sekarang penyiaran sudah berubah. Penikmat televisi dan radio sudah mulai beralih ke Youtube, Facebook, Instagram dan lainnya menggunakan internet,” ujar dia.

Kata Agung, Disruption (era dinamis perubahan cepat teknologi) dibutuhkan KPI guna memberikan kreativitas dan inovasi baru. “Industri pertelevisian dan radio akan berusaha memberikan tontonan atau materi siaran yang lebih baik dan menarik masyarakat,” jelas Agung.

  

 

Seusai kuliah umum, sebagai bentuk terimakasih, panitia Kuliah Umum STT REM diwakili oleh Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit memberikan plakat kepada Prof. Rhenald Kasali. margianto

Pesan Natal Nasional Presiden Jokowi: Jangan Lelah Bekerja Di Ladang Tuhan!

Presiden Jokowi Hadiri Perayaan Natal Nasional di Pontianak Kalbar (Foto: Setkab.go.id)

Pontianak, Victoriousnews.com-Dalam Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak seluruh umat Kristiani di Indonesia agar jangan pernah lelah bekerja. “Jangan pernah lelah bekerja di ladangnya Tuhan. Jangan pernah lelah bekerja di ladang pengabdian kita masing-masing, apapun profesinya, apapun pekerjaannya, apapun status yang kita miliki, baik sebagai pedagang, supir, petani, buruh, PNS, TNI, POLRI. Jangan pernah lelah bekerja untuk kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara,” kata Presiden ketika memberi sambutan pada Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017 di Rumah Radakng, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (28/12). Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa Tuhan sudah memberi anugerah kepada kita untuk hidup di tanah air kita tercinta, Indonesia yang kekayaan alamnya begitu berlimpah dan memberi kita kecukupan.

“Tapi Tuhan tentu tidak ingin kita jadi berdiam diri. Kita harus terus berusaha, bekerja keras dan berdoa untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju bangsa pemenang. Untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya,” ujar Kepala Negara.

Dalam kesempatan itu, Presiden yang hadir bersama Ibu Negara Iriana menjelaskan bahwa saat ini kita sedang mengarungi perjalanan menuju negara maju dengan membangun di seluruh pelosok tanah air Indonesia membangun dari desa dari pulau-pulau terdepan, membangun kawasan perbatasan sebagai beranda-beranda terdepan Republik. “Kita sedang berlayar menuju negara maju dengan membangun manusia Indonesia. Sekali lagi, membangun manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang unggul, manusia Indonesia yang tangguh, manusia Indonesia yang bermartabat,” tuturnya.

Perjalanan menuju kemajuan bangsa ini membutuhkan peran semua elemen bangsa  termasuk umat Kristiani untuk menjadi manusia-manusia terbaik dalam bidangnya masing-masing. “Untuk menjadi pribadi yang optimis, yang tangguh, yang selalu hidup dengan kasih di hati yang selalu membantu sesama manusia, yang selalu mau bergotong royong,” ucapnya.

Tampak hadir pada perayaan Natal bersama ini antara lain, Wakil Presiden keenam Try Sutrisno, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri ESDM Ignasius Jonan yang juga Ketua Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian serta Gubernur Kalimantan Barat Cornelis. margianto/Setkab.go.id

Dr. Antonius Natan, M.Th: Tahun 2018 Adalah Tahun Pujian dan Kesaksian

Dr. Antonius Natan, M.Th (Wakil Ketua I Bidang Akademik STT REM)

Awal tahun 2018 adalah saat yang tepat kita kembali mempelajari apa yang menjadi pengharapan dalam Tuhan Yesus. Umat Tuhan perlu memahami waktuNya. Kita akan mengerti apa yang Tuhan sedang kerjakan dan apa yang harus kita lakukan untuk meresponi kehendakNya. Demikian dikatakan oleh Wakil ketua I Bidang Akademik Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel (STT REM), Dr. Antonius Natan, M.Th. “Kita percaya di tahun 2018 Tuhan Akan terus melanjutkan pekerjaanNya. Awal tahun baru politik akan memanas, fungsi sosial media menjadi ‘berhala baru’ bagi banyak kalangan. Sebab pada bulan Juni 2018 akan ada PILKADA di 171 kota dan 17 provinsi pemilihan gubernur baru dan sisanya pilkada walkota dan bupati. Kemudian, pada bulan April 2019, akan diadakan Pemilu DPR, DPRD I dan II serta dan Pemilihan Presiden secara bersamaan,” tutur Dr. Antonius.

Menurut Dr. Antonius yang juga menjabat sebagai Sekretaris Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) DKI Jakarta ini mengungkapkan, secara global kepanikan multidimensi akan terjadi, resesi ekonomi dengan siklus 10 tahunan akan melanda, perebutan kekuasaan di Timur Tengah akan mempengaruhi kawasan Asia. Anomali cuaca membawa malapetaka tersendiri dan banyak hal lagi yang menggoncangkan. Tetapi di dalamnya ada ekspresi dari peperangan rohani, perubahan secara drastis akan terjadi membuat manusia kehilangan pengharapan dan kehilangan akal sehat. “Maka perlu Umat Tuhan berdoa dan tetap melekat dengan Tuhan Yesus. Dengan semakin banyak umat Tuhan memuji dan menyembahNYA maka akan terjadi ‘self inner healing’ yang menghapus luka luka batin, kekuatiran dan kecemasan, pemulihan membawa umat Tuhan dalam keadaan kudus sehingga kuat dan menjadi Umat Pemenang,” tukasnya.

Lanjut Anton, umat Tuhan harus siap menjadi tumpuan orang banyak dan membawa kesaksian yang membangkitkan kasih dan kuasa Tuhan. Sebab, kedatangan Tuhan Yesus semakin terasa dekat. “Melalui statement Presiden USA Donald Trump di akhir 2017 mengenai ibukota Israel di Yerusalem adalah sebagai bagian penggenapan Janji Tuhan sepenuhnya terhadap bangsa Israel secara jasmani. Tahun 2018 adalah TAHUN PUJIAN DAN KESAKSIAN. Sesuai Firman Tuhan: “Yoël 2:24 Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak. Mari masuki tahun baru dengan rasa syukur dan pujian pengagungan. margianto

PERADILAN HAM AD HOC NASIONAL DAN INTERNASIONAL UNTUK KEJAHATAN KEMANUSIAAN DI MASA LALU

Prof. Dr. Marthen Napang. foto istimewa

Jakarta,-Victoriousnews.com– Kejahatan kemanusiaan di masa lalu sebelum dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat diajukan dalam peradilan Hak Asasi Manusia (HAM) Ad Hoc Nasional dan Internasional. Kejahatan Kemanusiaan yang terjadi dalam serangan bersenjata atau agresi pasukan militer Belanda di berbagai wilayah NKRI dapat diajukan dalam peradilan HAM Ad Hoc Belanda atau Indonesia atau Internasional. Demikian dua catatan penting poin ke-18 dan ke-19 Prof. Dr. Marthen Napang., SH., MH., M.Si dalam Peluncuran Buku berjudul ‘Indonesia Tidak Pernah Dijajah” di Ruang Abdul Muis (Gedung Nusantara DPR-RI) di Jalan Gatot Subroto (Senayan, Jakarta) pada Sabtu, 23 Desember 2017.

Lebih jauh, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hassanudin (Makassar, Sulawesi Selatan) ini memberikan hipotesis sebagai berikut; pertama, Kejahatan kemanusiaan merupakan salah satu jenis kejahatan yang tertua sama tuanya dengan sejarah kehidupan umat manusia. Kedua, Kejahatan kemanusiaan semakin membahayakan keselamatan dan keberadaan umat manusia dengan segala peradabannya. Ketiga, Setiap negara memiliki kewajiban internasional untuk menuntut dan mengadili setiap kejahatan kemanusiaan. Keempat, Setiap negara memiliki kewajiban internasional untuk menuntut, mengadili, dan mengekdtradisi pelaku kejahatan kemanusiaan dimanapun kejahatan itu dilakukan. Kelima, Penagakan hukum dilakukan terhadap pelaku kejahatan kemanusiaan pada Pengadilan Nasional dan Internasional yang khusus dibentuk untuk itu.

Keenam, Pengadilan Nasional setiap negara wajib dan mengadili setiap pelaku kejahatan kemanusiaan secara mandiri dan tidak bertujuan untuk melindungi pelaku kejahatan yang seharusnyanya bertanggungjawab. Ketujuh, Pengadilan Pidana Internasional (ICC: International Criminal Court) memiliki yurisdiksi komplementeri (pelengkap) terhadap yurisdik pengadilan nasional. Kedelapan, Manakala Pengadilan Nasional tidak mampu dan sungguh-sungguh menuntut dan mengadili pelaku kejahatan kemanusiaan, maka Pengadilan Pidana Internasional wajib menuntut dan mengadili pelaku kejahatan tersebut. Kesembilan, Pengadilan Pidana Internasional wajib melakukan yurisdiksinya untuk menuntut dan mengadili kembali pelaku kejahatan kemanusiaan, meskipun telah ada putusan Pengadilan Nasional yang berkekuatan hukum tetap (inkraht) manakala terbukti pengadilan nasional tersebut tidak dapat melaksanakan yurisdiksinya secara mandiri dan ditujukan hanya untuk melindungi pelaku kejahatan kemanusiaan dari pertanggungjawabannya.

Kesepuluh, Setiap orang tanpa kecuali harus bertanggungjawab secara individual atas kejahatan kemanusiaan. Kesebelas, Penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan kemanusiaan dilakukan tanpa mengenal batas waktu (kadaluwarsa). Keduabelas, Kejahatan kemanusiaan tetap dapat diadlili secara in absensia. Ketigabelas, Kejahatan kemanusiaan dapat diadili meskipun pelakunya tiada secara hukum. Keempatbelas, Penegakan hukum terhadap kejahatan kemanusiaan yang telah lengkap rumusan delik dan unsur-unsur kejahatannya akan menunjang pelaksanaan penegakan hukum secara efektif.

Kelimabelas, Untuk mendukung penegakan hukum yang efektif, maka kejahatan agresi sebagai salah satu jenis kejahatan kemanusiaan yang terjadi perlu segera dirumuskan definisinya beserta unsur-unsur kejahatannya. Keenambelas, Perumusan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan antara lain; putusan-putusan pengadilan internasional maupun pengadilan nasional sebelumnya (yurisprudensi), konvensi-konvensi internasional, diktrin hukum terkait dan pendapat-pendapat para ahli. Ketujuhbelas, Pelanggaran terhadap kewajiban internasional tersebut di atas dapat menimbulkan pengalihan tanggungjawab pelaku terhadap negara pelaku kejahatan.

Dalam Pasal 6 Piagam Mahkamah diatur yurisdiksi Mahkamah yang meliputi Crimes against peace (kejahatan terhadap perdamaian), war crimes (kejahatan perang), dan crimes against humanity (Kejahatan terhadap kemanusiaan). Mahkamah Nuremberg telah mengumumkan 12 orang terdakwa dengan hukuman mati, tiga (3) orang dengan hukuman pernjara seumur hidup, empat (4) orang dengan hukuman penjara yang bervariasi lamanya, dan membebaskan tiga (3) orang yang dinyatakan tidak bersalah. Selain itu juga menyatakan enam (6) organisasi sebagai organisasi yang melakukan tindak kriminal dan membebaskan dua (2) organisasi lainnya. Di antara para pejabat pemerintahan dan organisasi (Nazi) Jerman yang telah diadili adalah Goering, Von Ribbentrop, Keitel (Menteri Pertahanan), Rosenberg, Saukel (Menteri Perumahan), Jenderal Jodi (Ketua Gabungan Kepala Staf Jerman).

Tribunal Tokyo dibentuk berdasarkan deklarasi Jenderal Mac Arthur selaku Panglima Tertinggi Tentara Sekutu yang menyatakan pembentukan Mahkamah Militer Internasional untuk Timur Jauh (International Military Tribunal for the Far East) pada tanggal 19 Januari 1946, untuk mengadili pelaku kejahatan perang di Timur Jauh. Mahkamah Tokyo telah menghukum tujuh (7) orang terdakwa dengan hukuman mati, 16 orang dengan hukuman penjara seumur hidup, dan dua (2) orang dengan hukuman penjara yang lamanya bervariasi. Salah satu pejabat negara yang telah dijatuhi hukuman adalah Jenderal Tojo (Perdana Menteri).

Di samping pengadilan militer di Nuremberg dan Tokyo pasca Perang Dunia II, langkah penuntutan yang bersifat Nasional atas dasar Control Council Law No 10, juga terjadi di Republik Federal Jerman, Kanada, Perancis dan Israel, Australia dan Inggris. Pengadilan internasional ad hoc untuk mengadili pelaku kejahatan kemanusiaan dalam situasi perang atau konflik bersenjata, beserta komisi penuntutnya, yaitu; the International Criminal Tribunal for the Farmer Yugoslavia (ICTY) di Den Haag dan the Commision of Expert Established Pursuant to Security Council Resolution 780 yang menginvestigasi pelanggaran hukum humaniter di bekas negara Yugoslavia. Kedua, the Internatinal Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR) di Arusha dan the Independent Commision of Expert Established in Accordance with Security Council Resolution 835, The Rwanda Commission yang menginvestigasi pelanggaran yang dilakukan selama perang saudara (Civil War) di Rwanda.

Selain Marthen Napang, dua pembahas lain yang tampil adalah Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhi Purdjatno dan Brigjen TNI (Purn) Dr Saafroedin Bahar. Drs Bambang Sulistomo (moderator) dan Jenderal TNI (Purn) Widjojo Soejono (sambutan). Dr Fadli Zoon SS MSc (Plt Ketua DPR-RI) sebagai keynote speaker menyatakan, melalui Keppres Nomor 28 Tahun 2006 pada tanggal 18 Desember 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan tanggal 19 Desember terbentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yaitu pada 19 Desember 1948 sebagai Hari Bela Negara. Sjafruddin Prawiranegara merupakan pelaku sejarah dari PDRI, kala itu, ia mendeklarasikan berdirinya PDRI.

“Dasar dibentuknya PDRI karena Ibu Kota Yogyakarta diduduki Belanda. Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan beberapa menteri juga ditangkap Belanda. Sjafruddin Prawiranegara yang juga sebagai Menteri Kemakmuran diberi mandat untuk membentuk pemerintah Republik Darurat di Bukittinggi Sumatera Barat,” katanya.

Peluncuran buku karya Batara R Hutagalung sekaligus Seminar Nasional dalam rangka peringatan Hari Bela Negara tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh termasuk Drs Effendi Muara Sakti Simbolon MIPol (Anggota DPR-RI periode 2009-2014) dari daerah pemilihan DKI Jakarta III sekaligus mantan calon gubernur Sumatera Utara. Margianto-P1