GERKINDO DORONG UMAT KRISTEN UNTUK MENJADI POLITISI YANG CERDAS & BERINTEGRITAS

GERKINDO DORONG UMAT KRISTEN UNTUK MENJADI POLITISI YANG CERDAS & BERINTEGRITAS

Pembicara diskusi Gerkindo 19/1. Ki-ka: Jerry Sumampouw, Yerry Tawalujan, Boni Hargens, dan Pdt. Gomar Gultom

Jakarta, Victoriousnews.com- Ormas bernama Gerakan Kasih Indonesia (GERKINDO) menyelenggarakan Diskusi Publik dengan mengusung tema “Bagaimana Menghadirkan Politisi Kristen Yang Cerdas Dan Berintegritas”, Jumat (19/01/2018) di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)  Lantai 10, Jalan Salemba Raya 12 Jakarta Pusat. Acara diskusi yang dipandu oleh Ketua Umum Gerkindo, Pdt. Efraim Yerry Tawalujan sebagai moderator ini, menampilkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya. Diantaranya adalah: Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum PGI), Jeirry Sumampouw (Koordinator Komite Pemilih Indonesia/TePi)  dan Boni Hargens (Direktur Lembaga Pemilih Indonesia/LPI).

Ketua Umum Gerkindo, Yerry Tawalujan, mengatakan, bahwa memberikan edukasi politik kepada warga gereja dan pemimpin-pemimpin Kristen merupakan salah satu tugas pihaknya. Tujuannya agar warga gereja maupun pemimpin Kristen aktif terlibat di dunia politik. “Bukan untuk mengejar kekuasaan, tetapi sebagai bagian dari pelayanan, bagian dari tanggung jawab rohani untuk menjadi terang dan garam, juga di bidang politik.  Karena, tujuan akhirnya untuk Indonesia sejahtera,” tukas Yerry.

Yerry Tawalujan (Ketua Umum Gerkindo)

Menurut Yerry, dari perspektif Kristiani, Indonesia sejahtera adalah perintah Alkitab. Untuk membuat bangsamu sejahtera,  itu jelas tertulis dalam Alkitab yaitu dalam kitab Yeremia 29 ayat 7. Lebih lanjut, dia menjelaskan, menghadirkan politisi yang cerdas dan berintegritas merupakan dua hal yang harus dimiliki oleh seluruh politisi, khususnya politisi Kristen. “Cerdas, berbicara tentang kapabilitasnya tentang skillnya, yang akan menjadi pertanyaan kenapa Anda mau maju jadi caleg,” katanya.

Lanjut Yerry, integritas menyangkut karakter seseorang. Karena banyak orang yang cerdas, namun integritasnya kurang. “Kita mau cari dua hal ini berjalan bersama-sama. Tokoh yang cerdas, kadar intelektualnya bagus, performa kinerjanya luar biasa, track recordnya bagus, tapi juga ditunjang dengan integritas, dengan karakter, karakter yang sudah terbukti, orang-orang seperti inilah yang harus kita hadirkan di Senayan (DPR) maupun di DPD tingkat I dan tingkat II,” tandasnya.

Sementara itu,  Jerry Sumampouw, lebih menyoroti bahwa seorang politisi harus mengenal dirinya, mengenal saingannya, mengenal medan pertempuran dan harus memahami regulasi atau aturan pemilu. “Kalau seorang caleg tidak punya modal materi, modal sosial, modal basis konstituen maka sebaiknya berpikir ulang untuk maju. Sebaiknya juga harus maju dari daerah dimana dia tinggal,” tegas Jerry.

Jerry Sumampouw (Koordinator TePI)

Apakah mungkin ada politisi Kristen yang bersih? “Jika kita ingin memiliki politisi Kristen yang bersih, maka harus dipersiapkan dari sekarang. Misalnya, mengajak/mengkader warga gereja yang berkompeten untuk menjadi caleg; mengkosolidasikan caleg Kristen untuk didistribusikan di lintas partai. Kenapa harus begitu? Karena dalam medan politik itu kotor, maka kita harus menjadi “sapu” untuk membersihkannya. Intinya, harus ada caleg Kristen yang bersih,” ujar Jerry Sumampouw.

Baca juga: POLITISI KRISTEN HARUS TAKUT AKAN TUHAN, CAKAP & BENCI AJARAN SUAP

Menurut Jerry, kerja politik itu harus rasional, tidak boleh emosional. Kerja politik itu tidak boleh reaktif, tetapi harus proaktif. “Dalam politik itu tidak ada juara harapan. Yang ada hanya menang atau kalah. Oleh sebab itu seorang politisi tidak boleh melakukan kesalahan. Sebab sedikit saja kesalahan, maka bisa berakibat fatal. Kita harus tanamkan sejak dini, bahwa politik adalah pengabdian untuk menyelesaikan persoalan. Dan politik adalah adalah pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk dilayani,” ungkap Jerry.margianto

JEREMY LIN, PEMAIN BASKET NBA YANG RINDU JADI PELAYAN TUHAN

Jeremy Lin-NBA Player

VICTORIOUSNEWS.COM,-Jeremy Shu-How Lin. Begitu nama lengkap Pria kelahiran 23 Agustus 1988 ini. Ia adalah pemain bola basket profesional asal Amerika Serikat. Sejak 2011 bermain untuk New York Knicks dalam liga National Basketball Association (NBA). Pada Juli 2012, Lin Pindah ke Houston Rockets. Lin adalah salah satu dari segelintir pemain Amerika berdarah Asia (“Asian American”) dalam sejarah NBA dan pemain Amerika pertama berketurunan Cina atau Taiwan.

Lin lahir di Los Angeles, California dan dibesarkan di Palo Alto, California. Orang tuanya, Gie-Ming Lin dan Shirley Wu, beremigrasi dari Taiwan ke Amerika Serikat di pertengahan tahun 1970-an. Mereka berdua tingginya 5’6″/5,5 feet (170 cm). Keluarga ayahnya berasal dari Beidou, Changhua di Taiwan (kakek buyutnya berimigrasi ke Taiwan dari Zhangpu County, Fujian di daratan Cina). Sedangkan keluarga ibunya berasal dari Pinghu, Zhejiang di daratan Cina. Ia mempunyai seorang kakak, Josh, dan adik laki-laki, Joseph. Gie-Ming mengajari putra-putranya bermain bola basket di tempat berolahraga YMCA setempat. Lin tumbuh dalam keluarga Kristen yang taat.

Dalam tahun terakhirnya di Sekolah Menengah Atas Palo Alto High School (2005–2006), Lin menjadi kapten dan memimpin timnya kepada rekor menang-kalah 32–1 serta mengalahkan tim bertaraf nasional dari sekolah Mater Dei, 51–47, untuk merebut juara Divisi II negara bagian California (California Interscholastic Federation/CIF). Menurut Dana O’Neil dari ESPN, “Lin adalah pilihan utama untuk pemain terbaik tahun itu (“player of the year”) dari hampir semua publikasi di California.”  Ia diberi penghargaan sebagai pemain first-team All-State dan Northern California Division II Player of the Year, dengan rata-rata untuk tahun terakhirnya 15.1 poin, 7.1 assist, 6.2 rebound dan 5.0 steal.

Seperti dilansir oleh gospelherald.com,  atlet Kristen ini sharing firman Tuhan yang terambil dalam Lukas 16: 19-31. Dalam perikop tersebut, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang yang sangat kaya dan orang yang sangat miskin yang keadaannya terbalik setelah mereka meninggal. Orang miskin, Lazarus, menuai penghargaan abadi di surga setelah kematian, sementara orang kaya, yang menjalani kehidupan mewah dan mengabaikan orang miskin, menderita siksaan neraka. “Saya mendorong semua orang untuk membaca bagian ini dan untuk memikirkan anggota keluarga Anda, teman dekat, rekan kerja, teman sebaya atau bahkan orang asing seperti orang kaya di bagian ini,” kata Lin.

NEW YORK, NY – APRIL 24: NBA player, Jeremy Lin attends the TIME 100 Gala celebrating TIME’S 100 Most Influential People In The World at Jazz at Lincoln Center on April 24, 2012 in New York City. (Photo by Fernando Leon/Getty Images for TIME)

Lin meminta penggemarnya untuk berdoa bahwa di tahun yang akan datang, dia akan menjadi “pelayan radikal” dari kekayaan yang Tuhan telah memberkati dia. “Dia telah meyakinkan saya baru-baru ini untuk lebih berusaha mempelajari bagaimana cara terbaik menggunakan uang untuk mempercepat kerajaan Allah,” katanya.

Seperti diberitakan, bintang NBA awal tahun ini bekerja sama dengan dua badan amal berbasis Asia, Upah Satu Hari, yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang pendidikan anak perempuan, dan Proyek Pemberhentian di Chiang Mai di barat laut Thailand. Marginto/gospelherald.com

Sambutan Walikota Jaksel, Tri Kurniadi Dalam Perayaan Natal PGLII: Kiranya Natal Membawa Kebahagiaan Buat Kita Semua

H.Tri Kurniadi (Walikota Jakarta Selatan)

Jakarta, Victoriousnews.com,-Perayaan Natal Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) yang digelar di Grha Karmel ITC Permata Hijau Jakarta Selatan (15/1) telah berlangsung lancar. Acara yang mengangkat tema : “Celebration, Salvation,  & Reconsilation ini tampak dihadiri oleh pemerintah Jakarta Selatan dan pimpinan aras gereja nasional, yakni: H. Tri Kurniadi.,SH  (Walikota Jakarta Selatan mewakili Gubernur DKI), Pdt. Dr. Nus Reimas (Ketua Majelis Pertimbangan PGLII),  Pdt. Dr. Ronny Mandang (Ketua Umum PP PGLII), Pdt Dr. Freddy Soenyoto, MTh (Sekum PP PGLII), Pdt. Royke Bovie Rori  (Ketua Umum PW PGLII DKI Jakarta), Pdt. Dr. Antonius Natan (Sekum PW PGLII DKI Jakarta),  Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang (Ketua Umum PGI), Pdt. Gomar Gultom M. Th (Sekum PGI), Dr. Maya Malau, M.Pd (perwakilan dari Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI), Lisa Mulyati S.Sos., M.Si (Pembimas Kristen DKI Jakarta), para hamba Tuhan serta umat Kristen di Indonesia.

                Walikota Jakarta Selatan H.Tri Kurniadi, mewakili Gubernur DKI Jakarta, dalam kata sambutannya,  memberikan apresiasi tinggi bagi setiap orang yang mempersiapkan perayaan Natal, “Diantara kesibukan kerja yang menumpuk, kita berharap perayaan natal setiap tahunnya bisa menjadi budaya baru untuk kebersamaan terutama bagi 7 aras gereja. Biarlah kita jalin kebersamaan dengan sekitar kita yang sering terabaikan. Kiranya natal membawa kebahagiaan buat kita semua,” demikian kata  Walikota Jaksel Tri Kurniadi.

Sedangkan, Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang, mengatakan, bahwa, PGI bergembira bisa menghadiri acara ini. “PGI melihat bahwa setiap kita memiliki tugas yang sama sebagai warga negara di negara dengan masyarakat majemuk. Dan untuk menghadapi tahun politik, Pendeta Lebang mengatakan agar semua gereja tidak terlibat politik. Henriette mengakui bahwa gereja memang telah terpolarisasi namun kita harus tetap menyadari bahwa gereja berasal dari firman yang sama,” tandas Ketua Umum PGI, Henrriette.

Paduan Suara Mahasiswi STT REM turut mengisi acara Natal PGLII

Dalam khotbahnya, Ketua Umum PGLII Pendeta Dr. Ronny Mandang mengatakan bahwa Celebration diungkapkan dengan suatu alasan, di mana kehadiran Yesus di muka bumi sesungguhnya kesukaan besar bagi semua kaum. Setiap kita diingatkan bahwa, Hari Raya Natal adalah momentum pernyataan kesukaan besar di antara bangsa-bangsa yang sedang mengalami kesulitan besar. “Kita harus membawa kesukaan besar di tengah kesulitan besar!, ” demikian kata Pendeta Mandang.

Pdt. Dr. Ronny Mandang (Ketum PGLII) ketika menyampaikan firman Tuhan

Begitu juga dengan Salvation, Lanjut Pdt. Mandang,  yang diungkapkan karena kehadiran Yesus yang menyelamatkan setiap manusia yang percaya kepada-Nya. Natal adalah kabar keselamatan besar, karena Yesus adalah Tuhan yang memberikan keselamatan. Lalu Rekonsiliasi yang diungkapkan para malaikat, di mana Natal juga merupakan momentum perdamaian, mengingat kita sebagai orang percaya adalah orang-orang yang memegang amanat pembawa damai sejahtera. Setiap kita yang meletakkan percaya pada Bayi Natal itu dengan sendirinya berdamai dengan Tuhan. Namun tidak berhenti di situ saja kita juga harus berdamai dengan diri sendiri, bahkan juga berdamai dengan lingkungan sekitar kita, dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Berbicara mengenai perayaan Natal PGLII yang mengangkat tema Celebration, Salvation, Reconsiliation (Lukas 2), Sekum PW PGLII DKI Jakarta, Dr. Antonius Natan, mengatakan, bahwa, Natal mengingatkan kita  bahwa Kelahiran Yesus adalah suatu peristiwa yang perlu dirayakan dan disyukuri.

Trio Sekum. Kika: Pdt. Dr. Antonius Natan (Sekum PW PGLII DKI Jakarta), Pdt. Gomar Gultom, M.Th (Sekum BPH PGI) dan Pdt Dr. Freddy Soenyoto, M.Th (Sekum PP PGLII)

“Peristiwa dimana manusia mendapatkan anugerah kehidupan. Dunia menjadi fokus sorga agar relasi yang rusak dipulihkan. Karya penebusan Yesus diawali dengan Allah menjelma menjadi manusia, mempersamakan martabatNya menjadi manusia sehingga manusia layak untuk menjadi penghuni Sorga. Dan tentu saja manusia yang ada saat ini perlu melakukan respon dengan memperbaiki hubungan antar sesama manusia dan terutama pemulihan terhadap diri sendiri. Manusia diciptakan dengan serupa dengan Allah dengan pengertian bahwa manusia hendaknya memiliki Personality yang sama dengan Allah, memiliki Karakter yang sama dengan Allah. Proses inilah yang terus menerus dikerjakan manusia dari hari ke hari hingga tahun ke tahun hingga ajal menjemput. Maka kita perlu bersukacita menjalani hidup bersama dengan proses yang Tuhan kehendaki. Mari masuki tahun 2018 bersama dengan Allah kita cakap menanggung segala perkara,” pungkas Dr. Antonius kepada Victorious. Margianto/foto: Roy, Antonius

Perayaan Natal Pemprov DKI Jakarta: MEWUJUDKAN JAKARTA YANG DAMAI, MAJU, BAHAGIA & SEJAHTERA BAGI MASYARAKAT

Suasana Perayaan Natal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di JIEXPO Kemayoran (13/1) 2018

Jakarta, Victoriousnews. com, -Mengusung tema “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu” dan sub tema Bekerja Sama Mewujudkan Jakarta yang Damai Maju, Bahagia dan Sejahtera Bagi Masyarakat,  Perayaan Natal Bersama Pemerintah Provinsi Jakarta dengan Masyarakat Kristen dan Katholik DKI Jakarta akhirnya bisa dilaksanakan secara indoor, yakni di Jakarta Internasional Expo Kemayoran Jakarta, pada tanggal 13 Januari 2018. Acara yang dihadiri sekitar 3000 umat Kristiani tersebut dilayani oleh Pdt. Dr. Jacob Nahuway (Ketua Umum PGPI/Gembala GBI Mawar Saron) sebagai pembawa firman.

Tampak hadir dalam acara tersebut, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan wakil Gubernur Sandiaga Uno (Anies-Sandi). Kehadiran Anies-Sandi disambut Abang-None Jakarta dan Tarian khas Betawi. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjanjikan natal bersama warga ibu kota dengan pihak Pemprov DKI akan terus dilaksanakan setiap tahun. Hal tersebut kata dia, merupakan bagian dari komitmen dan janjinya untuk menjadikan Jakarta sebagai kota milik bersama, bukan hanya satu golongan saja. Perayaan Natal ini, menurut Anies, adalah kegiatan yang dilakukan bersama antara pemprov dan warga. “Dan ini merupakan wujud komitmen bahwa Jakarta adalah milik kita. Jakarta adalah rumah semua.”

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ketika menyampaikan kata sambutan

                Perayaan Natal Bersama ini didukung oleh perwakilan lembaga Kristen seperti Persekutuan Gereja-Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI) Jakarta, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah DKI Jakarta, Keuskupan Agung Katolik, Gereja Ortodoks Indonesia (GOI), Persekutuan Gereja-Gereja Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII), Bala Keselamatan dan Persekutuan Baptis Indonesia (PBI) Wilayah Jakarta.

Dalam sambutannya, Ketua PGPI (Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia) DKI Jakarta Pdt. Jason Balompapueng menyampaikan bahwa dengan perayaan Natal Bersama ini membuktikan menjaga kerukunan umat dengan baik. Jakarta adalah kota toleran.

Pdt. Jason Balompapueng mendamping Gubernur Anies

Sementara itu, Ketua Panitia Gamal Sinurat, menjelaskan, perayaan natal ini sebagai  tindak lanjut dari gagasan yang dilontarkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang pada awalnya Anies Baswedan ingin perayaan Natal diselenggarakan di Monas. “Tapi dalam beberapa pertemuan disepakati dilaksanakan di JIExpo.” Natal Bersama ini diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 700 juta tanpa menggunakan anggaran daerah, tapi dari donasi dan sponsorship dari pihak swasta. Menurut Gamal, “Ada juga bantuan sarana dan prasarana. Contohnya untuk listrik ada dukungan genset dari Dinas Perindustrian dan Transportasi ada dukungan Dinas Perhubungan DKI.”

 Sedangkan, Koordinator Komunitas Suluh Jakarta atau KSJ, Franky Tampubolon menyerukan umat untuk bersatu, mendukung pemerintah DKI Jakarta yang bertujuan untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang penuh damai. Menurutnya kemajemukan Jakarta adalah keindahan yang harus terus dirawat. “Artinya pemerintah tetap menjadi bagian dari doa-doa umat di gereja,” begitu kata mantan Ketua Pemuda PGIW Jakarta itu.

Ia mengungkapkan bahwa KSJ hadir untuk mendukung upaya pemerintah membawa kesejahteraan warga Jakarta. KSJ sanggup menjembatani harapan umat, “Mengangkat menjadi kebutuhan masyarakat, menjadi perhatian semua pihak termasuk pemprov,”  tutur Franky yang juga mantan Ketua Pemuda PGI. Margianto/foto: roy

 

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Guru Besar FE-UI): Suka Tidak Suka, Kita Harus Hadapi Era Disruption

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D ketika memberikan kuliah umum di STT REM

Jakarta,Victoriousnews.com,-Saat memberikan kuliah umum yang mengangkat tema “Disruption” di kampus STT REM, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI), Prof. Rhenald Kasali, Ph.D mengatakan, pada dasarnya manusia takut akan perubahan. Itu sebabnya banyak orang, khususnya generasi tua atau zaman ‘Old’, tidak suka bahkan melakukan perlawanan terhadap perubahan atau Reformator (Pelaku Perubahan) karena dianggap mengancam kehidupan mereka.

                                                                                         

“Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita akan menghadapi era Disruption. Ini adalah era dimana kehidupan semakin dinamis di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat berubah. Era disruption menantang kita bagaimana menghadapi musuh yang tidak kelihatan. Orang tidak lebih siap yang kehidupannya di atas turun ke bawah dibanding  yang dari bawah menuju ke atas. Itu sebabnya banyak orang stress bahkan bunuh diri ketika kehidupan atau prestasinya menurun,” papar Prof. Rhenaldi yang juga pendiri ‘Rumah Perubahan’ ketika menyampaikan kuliah umum di STT REM, Jalan Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G, Kelapa Gading, Jakarta Utara, (08/01/2018).

Menurut Prof. Rhenaldi di era disruption ini, orang yang memiliki pendidikan (ijazah) tinggi belum tentu hidupnya berhasil. Yang berhasil adalah mereka yang bekerja keras dengan kreatifitas, inovatif dan inisiatif. “Kita masuk kerja dengan ijazah, tetapi orang mendapatkan jabatan dan penghasilan tinggi karena kinerja. Era disruption dimana penemuan (Teknologi dan Inovasi) baru semakin cepat, dengan sendirinya menghabisi produk dan bisnis lama dan menghasilkan produk dan bisnis baru. Ojek online dan shooping online contohnya. Disruption juga menghabisi professional job menjadi virtual job. Kondisi ini sesungguhnya bukan mengurangi lapangan kerja dan menambah pengangguran tetapi memunculkan profesi baru dan lapangan kerja baru. Siapa yang siap?,” paparnya.

Baca Juga : Dr.Ariasa Supit, M.Si: Mulai Tahun 2018 Kuliah Umum STT REM Akan Diadakan Sebulan Sekali

Lanjut Kasali, anak-anak generasi mendatang harus dipersiapkan memiliki mental yang baik, yakni, fokus, terus mengembangkan kemampuan diri menjadi inovatif dan kreatif dan memiliki sifat inisiatif.“Sayangnya banyak orangtua salah mendidik anak dengan memanjakan mereka dengan berbagai kemudahan dan fasilitas, tidak memberikan kepercayaan diri dan memaksakan keinginan demi rasa bangganya kepada anak. Generasi milineal saat ini maunya serba instan, happy, mudah dan santai mendapatkan uang, cepat menyerah dan putus asa serta tidak fokus,” terangnya.

Kata Kasali, orangtua yang notabene mendapat pola didikan masa lalu memaksakan pola didikannya kepada anak zaman now. Padahal, seharusnya didikan pada anak harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi zamannya. “Anda mau membawa masa lalu ke masa sekarang atau membawa masa depan ke masa sekarang?,” ujarnya.

Prof Rhenald  Kasali berpose bersama dengan para dosen STT REM

Masih kata Prof. Kasali, Disruption itu memiliki 3 zona waktu, yakni: the present, the future dan the past. “ Hari ini orang bisa mengungkapkan pikirannya secara terbuka, baik pikiran yang positif maupun pikiran yang negatif. Kalau zaman old, kita menulis buku harian (diary) digembok di lemari dan sifatnya sangat rahasia takut dibaca orang lain. Tetapi sekarang, setiap pikiran kita bisa dibaca di media sosial,”tandas Prof. Kasali. margianto

Dr.Ariasa Supit, M.Si: Mulai Tahun 2018 Kuliah Umum STT REM Akan Diadakan Sebulan Sekali

Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit, M.Si  saat menyampaikan sambutan dalam kuliah umum STT REM

Jakarta, Victoriousnews.com,-“Dunia saat ini mengalami kecanggihan teknologi yang serba cepat, murah dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Setiap orang juga merasakan dampak dari kecanggihan teknologi, mulai dari HP/Android, media sosial, televisi, internet dan sebagainya—yang semuanya bisa dikerjakan serba cepat. Seperti yang dikatakan Presiden Jokowi, dunia pendidikan saat ini tidak bisa lagi seperti dulu yang belajar mengetahui apa itu ilmu Akuntansi, Teknik, Hukum dan lainnya karena teknologi zaman dinamis, dunia berubah semakin cepat,” Ujar Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit, M.Si dalam kata sambutannya dalam acara Kuliah Umum Kepemimpinan di kampus Sekolah Tinggi Teologia Rahmat Emanuel (REM), Jl.  Pelepah Kuning III Blok WE 2 No.4 G-K Kelapa Gading Jakarta Utara.

Lanjut Ariasa, STT REM berencana akan menggelar kuliah umum sebulan sekali. Hal itu guna menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa, tidak hanya belajar mengenai Teologi. Bagaimana menyiapkan mahasiswa yang siap di era perubahan cepat dengan kreatif dan inovatif dalam mengaplikasikan keilmuannya. “Mulai tahun 2018 STT REM telah membuat program, bahwa kuliah umum ini akan dilaksanakan sebulan sekali (setiap bulan). Dan mulai Januari ini menghadirkan Prof. Rhenald Kasali sebagai pembicara,” tutur Ariasa.

Kika: Johan Tumanduk (Direktur Eksekutif Conrad Supit Center) dan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D

Dengan mengusung tema “Disruption—Menghadapi Lawan-Lawan Yang Tak Kelihatan”, kuliah umum yang gelar tanggal 8 Januari 2018, diikuti oleh mahasiswa-mahasiswi S1 dan S2 STT REM, sejumlah dosen pengajar, Wakil Ketua 1, Pdt. Dr. Antonius Natan, M.Th, Pdt. Dr. Rahtomojati, Pdt. Dr. Lenny Chendralisan, Pdt. Dr. Ariasa Supit, M.Si (Ketua STT REM), Agung Suprio (Komisioner KPI Pusat), serta menghadirkan pembicara Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Guru Besar FEUI, Penulis, pendiri Rumah Perubahan) dan William Wiguna M.Pd, CPHR, CBA, CPI (Ketua Umum Aspirasi, Direktur Program Pasca Sarjana STT REM). Acara ini dipandu oleh Bapak Johan Tumanduk, S.H, M.M; M.Min, M.Pd.K (Direktur Eksekutif Conrad Supit Center) selaku Moderator.

Komisioner KPI Pusat, Agung Suprio

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI Pusat), Agung Suprio, mengungkapkan, bahwa tema Disruption ini memang sangat cocok dengan kondisi kekinian. Sesuai dengan UU No.32/2002, tentang penyiaran Indonesia, bahwa konsep penyiaran saat ini adalah anytime dan anywhere. “Kita menyiarkan sesuatu tidak menunggu waktu lama. Kita harus siap berubah untuk mengikuti teknologi. Contohnya, jika ada stasiun televisi yang tidak mau berubah dan tidak punya konten kreatif, cepat atau lambat akan bangkrut. Sebab sesuai data asosiasi penyiaran televisi, saat ini per hari, orang nonton televisi semakin menurun dibandingkan orang yang melihat internet/media sosial,” tukas Agung Suprio dalam kata sambutannya.

Baca Juga :Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Guru Besar FE-UI): Suka Tidak Suka, Kita Harus Hadapi Era Disruption

Menurut Agung, setiap hari rata-rata orang menonton internet melalui smartphone atau ipad 180 menit per-hari. Diperkirakan pada Tahun 2030 penyiaran televisi dan radio sudah tidak ada lagi. “Sekarang penyiaran sudah berubah. Penikmat televisi dan radio sudah mulai beralih ke Youtube, Facebook, Instagram dan lainnya menggunakan internet,” ujar dia.

Kata Agung, Disruption (era dinamis perubahan cepat teknologi) dibutuhkan KPI guna memberikan kreativitas dan inovasi baru. “Industri pertelevisian dan radio akan berusaha memberikan tontonan atau materi siaran yang lebih baik dan menarik masyarakat,” jelas Agung.

  

 

Seusai kuliah umum, sebagai bentuk terimakasih, panitia Kuliah Umum STT REM diwakili oleh Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit memberikan plakat kepada Prof. Rhenald Kasali. margianto

Pesan Natal Nasional Presiden Jokowi: Jangan Lelah Bekerja Di Ladang Tuhan!

Presiden Jokowi Hadiri Perayaan Natal Nasional di Pontianak Kalbar (Foto: Setkab.go.id)

Pontianak, Victoriousnews.com-Dalam Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak seluruh umat Kristiani di Indonesia agar jangan pernah lelah bekerja. “Jangan pernah lelah bekerja di ladangnya Tuhan. Jangan pernah lelah bekerja di ladang pengabdian kita masing-masing, apapun profesinya, apapun pekerjaannya, apapun status yang kita miliki, baik sebagai pedagang, supir, petani, buruh, PNS, TNI, POLRI. Jangan pernah lelah bekerja untuk kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara,” kata Presiden ketika memberi sambutan pada Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017 di Rumah Radakng, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (28/12). Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa Tuhan sudah memberi anugerah kepada kita untuk hidup di tanah air kita tercinta, Indonesia yang kekayaan alamnya begitu berlimpah dan memberi kita kecukupan.

“Tapi Tuhan tentu tidak ingin kita jadi berdiam diri. Kita harus terus berusaha, bekerja keras dan berdoa untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju bangsa pemenang. Untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya,” ujar Kepala Negara.

Dalam kesempatan itu, Presiden yang hadir bersama Ibu Negara Iriana menjelaskan bahwa saat ini kita sedang mengarungi perjalanan menuju negara maju dengan membangun di seluruh pelosok tanah air Indonesia membangun dari desa dari pulau-pulau terdepan, membangun kawasan perbatasan sebagai beranda-beranda terdepan Republik. “Kita sedang berlayar menuju negara maju dengan membangun manusia Indonesia. Sekali lagi, membangun manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang unggul, manusia Indonesia yang tangguh, manusia Indonesia yang bermartabat,” tuturnya.

Perjalanan menuju kemajuan bangsa ini membutuhkan peran semua elemen bangsa  termasuk umat Kristiani untuk menjadi manusia-manusia terbaik dalam bidangnya masing-masing. “Untuk menjadi pribadi yang optimis, yang tangguh, yang selalu hidup dengan kasih di hati yang selalu membantu sesama manusia, yang selalu mau bergotong royong,” ucapnya.

Tampak hadir pada perayaan Natal bersama ini antara lain, Wakil Presiden keenam Try Sutrisno, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri ESDM Ignasius Jonan yang juga Ketua Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian serta Gubernur Kalimantan Barat Cornelis. margianto/Setkab.go.id

Dr. Antonius Natan, M.Th: Tahun 2018 Adalah Tahun Pujian dan Kesaksian

Dr. Antonius Natan, M.Th (Wakil Ketua I Bidang Akademik STT REM)

Awal tahun 2018 adalah saat yang tepat kita kembali mempelajari apa yang menjadi pengharapan dalam Tuhan Yesus. Umat Tuhan perlu memahami waktuNya. Kita akan mengerti apa yang Tuhan sedang kerjakan dan apa yang harus kita lakukan untuk meresponi kehendakNya. Demikian dikatakan oleh Wakil ketua I Bidang Akademik Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel (STT REM), Dr. Antonius Natan, M.Th. “Kita percaya di tahun 2018 Tuhan Akan terus melanjutkan pekerjaanNya. Awal tahun baru politik akan memanas, fungsi sosial media menjadi ‘berhala baru’ bagi banyak kalangan. Sebab pada bulan Juni 2018 akan ada PILKADA di 171 kota dan 17 provinsi pemilihan gubernur baru dan sisanya pilkada walkota dan bupati. Kemudian, pada bulan April 2019, akan diadakan Pemilu DPR, DPRD I dan II serta dan Pemilihan Presiden secara bersamaan,” tutur Dr. Antonius.

Menurut Dr. Antonius yang juga menjabat sebagai Sekretaris Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) DKI Jakarta ini mengungkapkan, secara global kepanikan multidimensi akan terjadi, resesi ekonomi dengan siklus 10 tahunan akan melanda, perebutan kekuasaan di Timur Tengah akan mempengaruhi kawasan Asia. Anomali cuaca membawa malapetaka tersendiri dan banyak hal lagi yang menggoncangkan. Tetapi di dalamnya ada ekspresi dari peperangan rohani, perubahan secara drastis akan terjadi membuat manusia kehilangan pengharapan dan kehilangan akal sehat. “Maka perlu Umat Tuhan berdoa dan tetap melekat dengan Tuhan Yesus. Dengan semakin banyak umat Tuhan memuji dan menyembahNYA maka akan terjadi ‘self inner healing’ yang menghapus luka luka batin, kekuatiran dan kecemasan, pemulihan membawa umat Tuhan dalam keadaan kudus sehingga kuat dan menjadi Umat Pemenang,” tukasnya.

Lanjut Anton, umat Tuhan harus siap menjadi tumpuan orang banyak dan membawa kesaksian yang membangkitkan kasih dan kuasa Tuhan. Sebab, kedatangan Tuhan Yesus semakin terasa dekat. “Melalui statement Presiden USA Donald Trump di akhir 2017 mengenai ibukota Israel di Yerusalem adalah sebagai bagian penggenapan Janji Tuhan sepenuhnya terhadap bangsa Israel secara jasmani. Tahun 2018 adalah TAHUN PUJIAN DAN KESAKSIAN. Sesuai Firman Tuhan: “Yoël 2:24 Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak. Mari masuki tahun baru dengan rasa syukur dan pujian pengagungan. margianto

PERADILAN HAM AD HOC NASIONAL DAN INTERNASIONAL UNTUK KEJAHATAN KEMANUSIAAN DI MASA LALU

Prof. Dr. Marthen Napang. foto istimewa

Jakarta,-Victoriousnews.com– Kejahatan kemanusiaan di masa lalu sebelum dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat diajukan dalam peradilan Hak Asasi Manusia (HAM) Ad Hoc Nasional dan Internasional. Kejahatan Kemanusiaan yang terjadi dalam serangan bersenjata atau agresi pasukan militer Belanda di berbagai wilayah NKRI dapat diajukan dalam peradilan HAM Ad Hoc Belanda atau Indonesia atau Internasional. Demikian dua catatan penting poin ke-18 dan ke-19 Prof. Dr. Marthen Napang., SH., MH., M.Si dalam Peluncuran Buku berjudul ‘Indonesia Tidak Pernah Dijajah” di Ruang Abdul Muis (Gedung Nusantara DPR-RI) di Jalan Gatot Subroto (Senayan, Jakarta) pada Sabtu, 23 Desember 2017.

Lebih jauh, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hassanudin (Makassar, Sulawesi Selatan) ini memberikan hipotesis sebagai berikut; pertama, Kejahatan kemanusiaan merupakan salah satu jenis kejahatan yang tertua sama tuanya dengan sejarah kehidupan umat manusia. Kedua, Kejahatan kemanusiaan semakin membahayakan keselamatan dan keberadaan umat manusia dengan segala peradabannya. Ketiga, Setiap negara memiliki kewajiban internasional untuk menuntut dan mengadili setiap kejahatan kemanusiaan. Keempat, Setiap negara memiliki kewajiban internasional untuk menuntut, mengadili, dan mengekdtradisi pelaku kejahatan kemanusiaan dimanapun kejahatan itu dilakukan. Kelima, Penagakan hukum dilakukan terhadap pelaku kejahatan kemanusiaan pada Pengadilan Nasional dan Internasional yang khusus dibentuk untuk itu.

Keenam, Pengadilan Nasional setiap negara wajib dan mengadili setiap pelaku kejahatan kemanusiaan secara mandiri dan tidak bertujuan untuk melindungi pelaku kejahatan yang seharusnyanya bertanggungjawab. Ketujuh, Pengadilan Pidana Internasional (ICC: International Criminal Court) memiliki yurisdiksi komplementeri (pelengkap) terhadap yurisdik pengadilan nasional. Kedelapan, Manakala Pengadilan Nasional tidak mampu dan sungguh-sungguh menuntut dan mengadili pelaku kejahatan kemanusiaan, maka Pengadilan Pidana Internasional wajib menuntut dan mengadili pelaku kejahatan tersebut. Kesembilan, Pengadilan Pidana Internasional wajib melakukan yurisdiksinya untuk menuntut dan mengadili kembali pelaku kejahatan kemanusiaan, meskipun telah ada putusan Pengadilan Nasional yang berkekuatan hukum tetap (inkraht) manakala terbukti pengadilan nasional tersebut tidak dapat melaksanakan yurisdiksinya secara mandiri dan ditujukan hanya untuk melindungi pelaku kejahatan kemanusiaan dari pertanggungjawabannya.

Kesepuluh, Setiap orang tanpa kecuali harus bertanggungjawab secara individual atas kejahatan kemanusiaan. Kesebelas, Penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan kemanusiaan dilakukan tanpa mengenal batas waktu (kadaluwarsa). Keduabelas, Kejahatan kemanusiaan tetap dapat diadlili secara in absensia. Ketigabelas, Kejahatan kemanusiaan dapat diadili meskipun pelakunya tiada secara hukum. Keempatbelas, Penegakan hukum terhadap kejahatan kemanusiaan yang telah lengkap rumusan delik dan unsur-unsur kejahatannya akan menunjang pelaksanaan penegakan hukum secara efektif.

Kelimabelas, Untuk mendukung penegakan hukum yang efektif, maka kejahatan agresi sebagai salah satu jenis kejahatan kemanusiaan yang terjadi perlu segera dirumuskan definisinya beserta unsur-unsur kejahatannya. Keenambelas, Perumusan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan antara lain; putusan-putusan pengadilan internasional maupun pengadilan nasional sebelumnya (yurisprudensi), konvensi-konvensi internasional, diktrin hukum terkait dan pendapat-pendapat para ahli. Ketujuhbelas, Pelanggaran terhadap kewajiban internasional tersebut di atas dapat menimbulkan pengalihan tanggungjawab pelaku terhadap negara pelaku kejahatan.

Dalam Pasal 6 Piagam Mahkamah diatur yurisdiksi Mahkamah yang meliputi Crimes against peace (kejahatan terhadap perdamaian), war crimes (kejahatan perang), dan crimes against humanity (Kejahatan terhadap kemanusiaan). Mahkamah Nuremberg telah mengumumkan 12 orang terdakwa dengan hukuman mati, tiga (3) orang dengan hukuman pernjara seumur hidup, empat (4) orang dengan hukuman penjara yang bervariasi lamanya, dan membebaskan tiga (3) orang yang dinyatakan tidak bersalah. Selain itu juga menyatakan enam (6) organisasi sebagai organisasi yang melakukan tindak kriminal dan membebaskan dua (2) organisasi lainnya. Di antara para pejabat pemerintahan dan organisasi (Nazi) Jerman yang telah diadili adalah Goering, Von Ribbentrop, Keitel (Menteri Pertahanan), Rosenberg, Saukel (Menteri Perumahan), Jenderal Jodi (Ketua Gabungan Kepala Staf Jerman).

Tribunal Tokyo dibentuk berdasarkan deklarasi Jenderal Mac Arthur selaku Panglima Tertinggi Tentara Sekutu yang menyatakan pembentukan Mahkamah Militer Internasional untuk Timur Jauh (International Military Tribunal for the Far East) pada tanggal 19 Januari 1946, untuk mengadili pelaku kejahatan perang di Timur Jauh. Mahkamah Tokyo telah menghukum tujuh (7) orang terdakwa dengan hukuman mati, 16 orang dengan hukuman penjara seumur hidup, dan dua (2) orang dengan hukuman penjara yang lamanya bervariasi. Salah satu pejabat negara yang telah dijatuhi hukuman adalah Jenderal Tojo (Perdana Menteri).

Di samping pengadilan militer di Nuremberg dan Tokyo pasca Perang Dunia II, langkah penuntutan yang bersifat Nasional atas dasar Control Council Law No 10, juga terjadi di Republik Federal Jerman, Kanada, Perancis dan Israel, Australia dan Inggris. Pengadilan internasional ad hoc untuk mengadili pelaku kejahatan kemanusiaan dalam situasi perang atau konflik bersenjata, beserta komisi penuntutnya, yaitu; the International Criminal Tribunal for the Farmer Yugoslavia (ICTY) di Den Haag dan the Commision of Expert Established Pursuant to Security Council Resolution 780 yang menginvestigasi pelanggaran hukum humaniter di bekas negara Yugoslavia. Kedua, the Internatinal Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR) di Arusha dan the Independent Commision of Expert Established in Accordance with Security Council Resolution 835, The Rwanda Commission yang menginvestigasi pelanggaran yang dilakukan selama perang saudara (Civil War) di Rwanda.

Selain Marthen Napang, dua pembahas lain yang tampil adalah Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhi Purdjatno dan Brigjen TNI (Purn) Dr Saafroedin Bahar. Drs Bambang Sulistomo (moderator) dan Jenderal TNI (Purn) Widjojo Soejono (sambutan). Dr Fadli Zoon SS MSc (Plt Ketua DPR-RI) sebagai keynote speaker menyatakan, melalui Keppres Nomor 28 Tahun 2006 pada tanggal 18 Desember 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan tanggal 19 Desember terbentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yaitu pada 19 Desember 1948 sebagai Hari Bela Negara. Sjafruddin Prawiranegara merupakan pelaku sejarah dari PDRI, kala itu, ia mendeklarasikan berdirinya PDRI.

“Dasar dibentuknya PDRI karena Ibu Kota Yogyakarta diduduki Belanda. Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan beberapa menteri juga ditangkap Belanda. Sjafruddin Prawiranegara yang juga sebagai Menteri Kemakmuran diberi mandat untuk membentuk pemerintah Republik Darurat di Bukittinggi Sumatera Barat,” katanya.

Peluncuran buku karya Batara R Hutagalung sekaligus Seminar Nasional dalam rangka peringatan Hari Bela Negara tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh termasuk Drs Effendi Muara Sakti Simbolon MIPol (Anggota DPR-RI periode 2009-2014) dari daerah pemilihan DKI Jakarta III sekaligus mantan calon gubernur Sumatera Utara. Margianto-P1