Ps Pengky Andu: Sukses Tahun 2020 Bersama Tuhan Dengan Kegigihan, Pengorbanan,Ketekunan & Kejujuran

Ps Pengky Andu: Sukses Tahun 2020 Bersama Tuhan Dengan Kegigihan, Pengorbanan,Ketekunan & Kejujuran

Tahun 2020 ini penuh dengan tantangan. Setidaknya ada 4 tantangan besar yang akan kita hadapi pada tahun 2020 yaitu: Pertama, Kita akan menghadapi perubahan cepat, dinamis, besar dan global. Kedua, kita akan menghadapi ketidakmampuan atau sulit dalam memprediksi situasi. Ketiga, Kita akan menghadapi berita yang simpang-siur (tumpang tindih). Keempat, Kita akan menghadapi realitas atau kenyataan terlihat kabur (samar) dan sulit dibeberkan.

Melihat tantangan yang begitu besar pada tahun ini, tentu saja kita harus mempersiapkan masa depan (prepare the future) dengan cara yang efisien dan efektif. Apa yang dimaksud dengan efisien dan efektif? Efisien adalah melakukan sesuatu dengan benar. Sedangkan efektif adalah melakukan sesuatu yang benar. Melakukan secara efisien & efektif itu berarti melakukan sesuatu dengan benar dan dengan cara yang benar. Yakni: benar secara spiritual; benar secara emosional dan tepat secara relasional.

Saudara yang dikasihi Tuhan, jika membaca kitab Keluaran 13:17-22, mengisahkan tentang penyertaan Tuhan kepada bangsa Israel di padang gurun dalam bentuk tiang awan dan tiang api, maka kita dapat memetik pelajaran yang sangat berharga. Tiang api melambangkan kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya (Kel. 13:21). Sedangkan tiang awan melambangkan kemuliaan Tuhan yang selalu menutupi kemah pertemuan. Kedua lambang kehadiran Tuhan tersebut terus terlihat dan menuntun bangsa Israel memasuki tanah perjanjian di bawah kepemimpinan Yosua. Tuhan bertindak sebagai seorang Gembala (Pemimpin yang luar biasa). Di tengah perjalanan padang gurun yang berbahaya itu, Tuhan tidak mengutus para malaikat-Nya, tetapi Tuhan sendirilah yang hadir dan memimpin perjalanan mereka.

Serupa dengan perjalanan bangsa Israel di padang gurun, maka hidup kita di dunia adalah sebuah proses mempersiapkan masa depan. Meskipun terkadang menakutkan tetapi juga sekaligus menyenangkan. Bagaimana kita dapat melewati semua tantangan dalam mempersiapkan masa depan kita? Tentu saja kita harus memiliki kegigihan (tujuan yang jelas,rencana yang jelas, persekutuan yang bersahabat). Kegigihan yang disertai keuletan, pengorbanan, ketekunan, dan kejujuran pasti melahirkan sebuah kesuksesan luar biasa. Kuncinya adalah persiapkan masa depan saudara dengan belajar dari kisah bangsa Israel yang mau berjalan dan dituntun oleh Tuhan. Jangan pernah takut gagal. Seseorang yang merasa gagal itu bukan berarti ditolak. Tetapi gagal karena merasa tidak mampu menindaklanjuti penolakan. Percayalah bahwa masa depan kita pasti sukses, jika menjadikan Tuhan sebagai pemimpin, pelindung, penuntun, dan penyertaanNya di tengah dunia yang penuh dengan tantangan. SM

Ps Johan Lumoindong: 2020 Tahun Double Blessing!

Saat ini kita telah memasuki tahun baru 2020. Tahun kembar 2020 (menurut kalender Cina Shio, tahun tikus logam) adalah tahun kompetisi yang serba digitalisasi. Sehingga perlu disikapi dengan bijak karena pasti akan berdampak positif dan juga negatif. Tetapi bagi anak-anak Tuhan, angka gandeng atau kembar 2020 ini adalah tahun rahmat Tuhan dan tahun dobel berkat (double blessing) bagi kita semua. Tahun kembar itu langka. Karena tidak semua orang dapat menikmati tahun angka kembar seperti saat ini. Apakah saudara ada yang lahir di tahun kembar 1818 atau 1919? Pasti zaman sekarang jarang sekali yang memiliki umur lebih dari 100 tahun. Makanya kita patut bersyukur, bisa menikmati tahun kembar 2020 ini.

Saudara yang dikasihi Tuhan, untuk menikmati tahun dobel berkat, kita dapat belajar dari ketaatan Maria yang terambil dalam kitab Lukas 1:37-38. Dalam kisah tersebut, Maria mampu memuaskan hati Tuhan dan memiliki respons positif bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Walaupun kita mengalami berbagai problema hidup yang seolah-olah tidak ada harapan, tetapi percayalah dan miliki respons positif bahwa Tuhan Yesus sanggup memulihkan seluruh kehidupan kita. Respons positif ini juga harus dibarengi dengan sikap yang taat dalam mempraktikkan firman Tuhan.

Saudara rindu memperoleh dobel berkat? Tentu harus mampu melewati masalah. Contohnya, bagaimana kita bisa tahu arti menjaga kesehatan, jika tidak pernah mengalami sakit. Bagaimana kita bisa mengerti dan tahu artinya kekayaan, jika tidak pernah mengalami kemiskinan. Inilah yang namanya sebuah proses. Proses ini pun membutuhkan sebuah kesetiaan dalam mengiring Tuhan. Seperti tertulis dalam Lukas 1:38-39, Maria menunjukkan sikap yang rendah hati, setia, jujur dan berjalan sesuai dengan rencana Tuhan.

Sudah siapkah saudara menerima dobel berkat 2020? Mari kita teladani dan belajar dari sikap Maria yang taat, berintegritas (jujur), loyal dan rendah hati.

Ps. Yonathan: Memberi Bukan Sekedar Materi, Tetapi Seluruh Hidup Kita Kepada Tuhan

Ps. Yonathan

“…Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis.20:35 b). Ayat Alkitab ini menegaskan bahwa Tuhan itu rindu agar setiap umatNya itu dapat melakukan perintahNya, yakni memberi. Yang dimaksud memberi dengan benar adalah; bukan sekedar uang atau materi (harta), tetapi seluruh hidup kita harus dipersembahkan kepada Tuhan (Roma 12:1-2).

Anda tahu ikan Salmon? Uniknya ikan Salmon adalah hidupnya di air asin (laut) tetapi ketika menetaskan telurnya selalu berada di air tawar. Ikan Salmon tahu persis kapan harus berada di air asin dan kapan berada di air tawar. Bahkan ketika Salmon selesai menetaskan telurnya di air tawar, dirinya rela mati dan membiarkan dagingnya dimakan oleh anak-anaknya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita rela memberikan seluruh hidup kita kepada Tuhan? Ketika kita mampu mempersembahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, bisa dipastikan hari lepas hari akan mengalami sebuah “keajaiban memberi” atau mujizat dalam memberi. Apa itu keajaiban/mujizat dalam memberi? Alkitab menulis bahwa ‘siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan,….’ (Amsal 28:27; Amsal 19:17). Disini jelas, keajaiban yang dimaksud adalah Tuhan pasti memberkati secara luar biasa dan tidak akan membiarkan berkekurangan dalam segala aspek kehidupan kita.

Lalu bagaimana cara memberi yang terbaik kepada Tuhan maupun sesama? Setidaknya ada 8 (delapan) cara yang dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, Memberi dengan rela dan sukacita (2 Kor. 9:6-7). Kedua, Memberi dengan motivasi yang benar (Mat. 6: 3). Ketiga, Memberi dengan kepekaan atas kehendak Tuhan. Keempat, Memberi yang dimulai dari hal sederhana. Kelima, Memberi senyuman yang tulus. Keenam, Memberi perhatian & pelukan kepada keluarga. Ketujuh, Memberi kebaikan kepada orang lain. Kedelapan, Memberi pengampunan.

Hal yang paling penting adalah bukan terletak seberapa banyak/besar kita dalam MEMBERI, melainkan seberapa banyak KASIH yang dapat kita berikan. Mari kita belajar memberi yang terbaik, dan persiapkan diri kita untuk menerima keajaiban atau mujizat yang luar biasa dari Tuhan! SM

Pdt. Elrik Simanjuntak, S.Th: Pesan Natal 2019, Jika Mau Dipakai Tuhan Harus Hidup Kudus

Pdt. Elrik Simanjuntak, S,Th ketika menyampaikan firman Tuhan

Kalimantan Tengah, Victoriousnews.com,– Gereja Bethel Indonesia (GBI) Manyahi dan Lamunti yang terletak di Kecamatan Mantangai- Kapuas, Kalimantan Tengah telah sukses menggelar perayaan Natal pada hari Selasa, 10 Desember 2019  pk. 15.00 Wita yang lalu.  Selain dihadiri oleh ratusan jemaat, juga tampak hadir pengurus Persekutuan Gereja-Gereja & Lembaga Injili Indonesia (PGLII) wilayah Kapuas-Kalteng.

Bapak Danu sebagai ketua panitia Natal mengucapkan terimakasih kepada segenap panitia yang telah berjerih Lelah menyukseskan acara Natal. “Kami juga berterima kasih kepada para hamba Tuhan serta jemaat yang berkenan hadir dalam Ibadah Natal di tempat ini. Kiranya Tuhan senantiasa memberkati kita sekalian,” tukas Pak Danu dalam kata sambutannya.

Sementara itu, Ketua  PGLII (Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga Injili Indonesia) Pdt Hara P. Nababan dalam sambutannya, menghimbau untuk tidak membedakan  ras dan berbagai denominasi gereja janganlah saling bermusuhan, atau hanya mau berteman dan bersahabat satu gereja saja. “Melainkan dalam perbedaan denominasi gereja ada kerukunan, damai, dan bersatu bahwa di dalam Tuhan kita adalah satu. Dalam kegiatannya PGLII menujukkan bahwa ada kesamaan visi dan misi dalam berbagai gereja untuk memuliakan nama Tuhan Yesus Kristus. Dan menjadi berkat bagi sesama dan semua orang,” papar Pdt. Hara Nababan.

Pujian Penyembahan dinaikan oleh Ibu gembala setempat sebagai Worship Leader dengan diiringi oleh Pdt. Samuel Situmorang, S.TH (PGLII) sebagai pemain keyboard. Disusul dengan Doa pembukaan oleh:  Pdt Bernard Situmorang (PGLII /GBI Barigas Kuala Kapuas). Berbagai pujian Natal yang dinyanyikan oleh Worship Leader menambah semaraknya suasana Ibadah dan Perayaan Natal. Bahkan meski sempat hujan deras ketika paduan Suara jemaat GBI Manyahi dan Lamunti tampil mengisi kesaksian pujian, ternyata tidak menghalagi sukacita natal. Sebaliknya justru mereka tampak bersukacita menyambut kelahiran sang Juruselamat.

Setelah Doa Persembahan yang dipimpin oleh Pdt. Paulus (PGLII-GPI), dilanjutkan penyampaian Firman Tuhan yang disampaikan Gembala Sidang setempat, Pdt. Elrik Simanjuntak, S.Th. Dalam kotbahnya, Pdt. Elrik mengusung Tema: “Yesus Datang Untuk Menyelamatkan Yang Hilang” Lukas 19:10. “Visi utama Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini adalah mencari yang terhilang. Karena Visi Yesus adalah rela mengorbankan segalanya termasuk nyawanya. Bahkan sebelum naik ke Surga ia berpesan tunggal agar menjadikan semua bangsa muridNya. Yesus memberi perintah, pergilah ke seluruh bumi menyampaikan kabar keselamatan apapun resikonya” Matius 28:19-20. Karena itulah Yesus datang agar kita menjadi manusia yang mengerti arti jalan kita yang sebenarnya. Hasilnya tidak ada alasan untuk tidak melayani Dia. Ingat saudaraku panggilan pertobatan dimulai dari keluarga, bukan hanya dari Pdt, penginjil dll, dan dia datang bukan untuk meneguhkan iman kita (Lukas 5:31-32) di dalam Lukas pasal 4:19 Zakheus adalah orang yang dianggab tidak baik tapi memiliki keinginan besar untuk bertemu Yesus. Penting untuk diketahui bahwa waktulah yang mengajar kita untuk mengambil keputusan. Waktu jugalah alat penggerak yang menentukan akhir perjuangan kita. Ingat kekayaan hanya pelengkap bukan penentu. Maka tidak salah orang ingin kaya, tetapi memfokuskan diri pada kekayaan, itulah yang salah. Yesus datang ke rumah Zakheus ada lawatan Tuhan yang sangat besar. Dimana Yesus memperbaiki pondasi rohani Zakheus yang salah dan menemukan hatinya. Hasilnya Lukas 9:8 setelah Zakheus mengalami perjumpaan dengan Yesus dimana akhir hidupnya dia membayar 4 kali lipat apa yang dilakukan semula. Di akhir zaman ini begitu banyak hal yang berkaitan dengan prinsip surga yang hilang dalam kehidupan umat manusia di bumi hari-hari ini yakni diantaranya:

Pertama, Jiwa (Lukas 19:10). Jadi inilah tugas kita lewat Amanat AgungNya. Itulah  kabar baiknya sehingga manusia mengalami pertobatan. Ciri-ciri jiwa yang terhilang: Egois, Bayi rohani, Pikiran yang mencari untung, Berjalan tanpa mengerti dia mau kemana, popularitas tapi menuju ke kuburan. Oleh sebab hendaklah kita  sebagai, umat Tuhan dan hamba Tuhan tugas kita harus kita lakukan memenangkan jiwa seberapapun besarnya. Kedua, Kasih (Matius 24:12). Salah satu tanda kasih, di akhir zaman adalah kasih mulai dingin (2 Tim 3:1-5), dimulai dari kita seharusnya kita menjadi panutan, pastikan jangan sampai diri kita yang terhilang.  Oleh sebab itu, pesan Natal hari ini: Kalau mau dipakai untuk pembangunan rohani kita harus hidup kudus (1 Petrus 1:15-16), sebab Tuhanlah yang memberikan karunia dan jabatan kepada kita (Efesus  4:11-12),” tukas Pdt. Elrik.

Lebih lanjut Pdt. Elrik juga memberikan tips kepada jemaat yang hadir dalam menghadapi persoalan hidup. Pertama, Jangan menyerah,  dan jangan mengambil keputusan bahwa kita tidak bisa Ingat gagal bukan karena kita melangkah akan tapi karena kita tidak mau melangkah. Kedua, Kembangkan talentamu dan jangan disimpan. Ketiga, Hargai berkat yang diberikan Tuhan dan Tuhan memberi berdasarkan kepercayaan itu,

Setelah Firman Tuhan disampaikan dilanjutkan dengan Perayaan natal yang diisi dengan Paduan suara dari PGLI, sekolah Minggu GBI Manyahi & Lamunti. Sambil berbagi kasih kepada para tamu undangan yang hadir berupa tas pelayanan, payung, slayer, CD lagu rohani, kemeja, dan sebagainya.  Disusul dengan doa Syafaat oleh Pdt. Petrus Mujimim (PGLII-GPdI), doa Berkat oleh Pdt. Elrik Simanjutak, S.Th serta diakhiri jamuan kasih makan bersama.  Yanti

Family Gathering GBI Vifa Robinson di The Spring of Living water Cisarua

CISARUA, Victoriousnews.com-Dengan mengusung tema “Kebersamaan Dalam Kasih”, GBI Victorious Family Apartemen Robinson, menggelar acara Family Gathering di The Spring of Living Water Cisarua, Bogor, Jawa Barat (Sabtu, 9/11).


Acara bernuansa kekeluargaan ini bertujuan agar sesama jemaat dengan pengerja tercipta kebersamaan yang makin erat. Kebersamaan dalam kasih dan mesra ini ibarat satu keluarga yang utuh dalam Kristus. Kegiatan ini juga merupakan suatu bentuk dukungan untuk mewujudkan visi Gereja Victorious Family yaitu Menjadi Seperti Yesus Melalui Keluarga Berkemenangan Yang Memberi Dampak.


Melalui acara ini pengerja GBI Victorious Family Apartemen Robinson, berharap, agar sesama jemaat dengan pengerja bisa menjadi keluarga yang berkemenangan di dalam Kristus Yesus.
Meski perjalanan dengan Bis dari Apartemen Robinson menuju The Spring of Living Water Cisarua memakan waktu selama 7 Jam akibat macet parah, namun acara yang diikuti 150 peserta (jemaat dan pengerja) ini berjalan lancar dan sukses. Peserta tampak antusias dan bersemangat mengikuti acara family gathering tersebut.
Setibanya di lokasi seluruh peserta langsung disambut dengan makan siang. Setelah itu baru acara kegiatan dimulai yang dipimpin oleh panitia. “Pertama-tama kita patut bersyukur kepada Tuhan Yesus, sehingga kita tiba dengan selamat dan acara berjalan baik. Saya juga berterimakasih kepada Gembala Sidang, Seluruh Panitia, para sponsor yang mendukung dan kepada seluruh peserta yang sudah mengambil bagian,” tutur Ps. Afu selaku YMGS GBI Victorious Family Apartemen Robinson dalam kata sambutannya.
Sebagai bentuk kebersamaan, dilanjutkan dengan acara games menarik, seru dan menciptakan kebersamaan seluruh jemaat dan pengerja. yang diikuti seluruh jemaat dan panitia.. Tak pelak, suasana sukacita, senang, ceria, dan penuh dengan canda tawa dirasakan oleh seluruh peserta, hingga tak terasa waktu sudah sore.
Pada akhirnya, kegiatan ditutup dengan pembagian hadiah kepada peserta yang berhasil memenangkan game. Disusul dengan sesi foto bersama, serta diakhiri dengan doa penutup oleh Tim Pendoa. FAT/ SM

 

 

 

 

Bishop Efraim Tendero (Sekjen WEA) Buka Sidang Raya WEA di Sentul, Bogor

Usai memukul gong sebanyak 3 kali, Bishop Efraim Tendero pose bersama dengan pimpinan PGLII dan WEA

SENTUL,BOGOR-Victoriousnews.com– Bishop Efraim Tendero asal Filipina selaku Sekjen World Evangelical Alliance memukul gong sebanyak tiga kali, menandai pembukaan perhelatan akbar General Assembly World Evangelical Alliance (GA WEA), Kamis, 7 November Pkl. 17.00 Wib.
Sidang Raya organisasi yang menaungi gereja-gereja dan lembaga-lembaga Injili se-dunia ini beranggotakan 131 negara, dan dihadiri oleh delegasi dari 92 negara.


Acara ini tampak semarak dan sangat meriah, karena panitia mengusung budaya Indonesia yang bhineka dengan bingkai Pancasila serta menjunjung toleransi antar umat beragama. Hal itu ditampilkan dalam parade kebudayaan nusantara yang melukiskan keragaman Indonesia dengan berbagai suku, bahasa, agama, adat istiadat, namun hidup dalam harmoni dan toleransi antar umat beragama, dengan falsafah hidup Pancasila.

Ki-ka: Stevano Margianto (Ketum Perwamki, Robby Repi (Pembina Perwamki, NB Suratinoyo (Pembina Perwamki), Bishop Efraim Tendero (Sekjen WEA), Pdt. Nus Reimas (Maper PGLII), Pdt. Antonius Natan (Sekum PGLII DKI/Penasihat Perwamki) dan Paul Maku Goru (Ketua DPP Perwamki)

Antusiasme ribuan peserta yang memadati ruangan Sentul International Convention Centre (SICC), Sentul City- Bogor, Jawa Barat, berdecak kagum tatkala sang pelukis pasir mulai menggoyangkan tangannya sekaligus menabur pasir di atas papan kanvas.
Pelukis pasir menggambarkan kembali bagaimana Tuhan Yesus sang Juru Selamat itu datang dengan kasih untuk menyelamatkan manusia berdosa.

Baca JugaPdt. Dr. Niko Njotorahardjo: Saat Ini Kita Memasuki Pentakosta Ketiga

Dalam pembukaan GA WEA 2019, selain dihadiri oleh ribuan jemaat maupun hamba Tuhan dari Jabodetabek, juga dihadiri pucuk pimpinan gereja, diantaranya Pdt. Dr. Ronny Mandang (Ketum PGLII), Pdt. Dr. Nus Reimas (Majelis Pertimbangan PGLII), Pdt. Mulyadi Sulaeman (Pimpinan PGPI/Penasehat Perwamki), Pdt. Antonius Natan (Sekum PGLII DKI Jakarta/Penasehat Perwamki), pimpinan nasional Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Pdt. William Wairata, dan Pdt. Niko Njotorahardjo (Gembala senior GBI Gatot Subroto).

Ki-ka: Pdt. Anton Tarigan (Ketua Panitia GA-WEA) bersama Bishop Efraim Tendero (Sekjen WEA)

General Secretary WEA Bishop Efraim Tendero, mengungkapkan, bahwa dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan sidang umum WEA 2019, dikarenakan realitas Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, memiliki kehidupan toleransi dan harmoni antar umat beragama, dan adanya ideologi Pancasila yang menarik untuk dikenal dan dipelajari bangsa-bangsa, khususnya anggota WEA. “ Ada 3 hal penting yang akan dibahas dalam GA WEA ini. Yang pertama adalah Global, karena dihadiri oleh wakil delegasi dari 92 negara. Yang kedua adalah generasi. Dimana, bukan hanya generasi tua, tetapi ada generasi muda yang terlibat di dalamnya. Yang ketiga adalah tentang Gender. Ini bukan hanya berbicara mengenai laki-laki saja, melainkan perempuan juga masuk dalam pembahasan,” tukas Bishop Tendero kepada Wartawan Perwamki yang diterjemahkan oleh Pdt. Dr. Jacob Oktavianus.
Masih kata Bishop Tendero, goal yang akan dicapai dalam acara GA-WEA adalah agar terjadi pemuridan di semua gereja dan berlangsung secara terus menerus. “Kami rindu agar Kerajaan Allah (Kingdom come) itu bisa menyentuh dalam aspek kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Kami juga sangat bersukacita, karena Indonesia menjadi tuan rumah acara ini, dan kerajaan Allah sungguh nyata di negeri ini, karya Roh Kudus begitu nyata. Pancasila adalah salah satu contohnya,dimana mereka takut akan Tuhan dan menghargai toleransi, hidup dalam kerhamonisan serta melakukan yang terbaik dalam profesi apapun. Selain upitu, ada pula Bhineka Tunggal Ika, sehingga sila-sila dalam Pancasila adalah yang terbaik,” papar Tandero yang tampak kagum dengan Pancasila.
Menurut Tendero, kekristenan di Indonesia saat ini sudah bertumbuh dengan semangat menyala-nyala, serta mereka menunjukkan sebagai murid Yesus yang sebenarnya. “Dan sebagai orang percaya mereka menjadi garam dan terang yang menjadikan dampak positif di tengah-tengah masyarakat. Kita memilki anak-anak Tuhan, baik di dunia usaha, dalam pekemaupu, pendidikan dan pemerintahan serta militer. Maka kita terus berdoa, sehingga mereka menjadi garam yang menggarami serta terang yang menerangi masyarakat,” ungkap Bishop Tendero.


Pdt. Dr. Ronny Mandang sebagai Ketua Umum PGLII dalam sambutannya menyatakan dengan tegas, bahwa apapun harganya, Injil Tuhan Yesus Kristus akan terus diberitakan di Indonesia.


Sementara itu, Ketua Panitia Pdt. Dr. Anton Tarigan, menjelaskan kepada wartawan, bahwa ketidakhadiran pemerintah dalam acara ini, dikarenakan pada saat bersamaan diadakannya GA WEA 2019, berlangsung juga pertemuan besar gereja-gereja, yakni Sidang Tahunan KWI, dan Sidang Raya PGI.
Dalam persidangan berikutnya, lanjut Anton, mulai mengejawantahkan tentang tema “Your Kingdom Come”- Datanglah kerajaanMu. “Sepanjang 5 hari ke depan, ini satu persatu dibahas, yakni mulai Global, Generarion, dan Gender (3 G). Akan ada pembicara dari dalam dan luar negeri. Ada pula, workshop, plenary session, table.discussion, dan sebagainya,” tukas Pdt. Anton Tarigan. SM

Sebagai Tuan Rumah GA World Evangelical Alliance 2019, Indonesia Akan Gaungkan Pancasila Sebagai Perekat Kerukunan Beragama

Tampak depan -duduk (Ki-ka): Pdt. Dr. Jacob Oktavianus, Deddi A Madong, SH dan Pdt. Tommy Lengkong, M.Th berpose bersama dengan para Jurnalis Kristiani di Wisma 76, Kamis, 31/10/2019.

JAKARTA,Victoriousnews.com,Organisasi penginjilan berkelas internasional bernama World Evangelical Alliance memberikan kepercayaan kepada Persekutuan Gereja-gereja dan lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) untuk menjadi tuan rumah dalam menggelar Sidang Raya dari pertemuan gereja-gereja dan Lembaga Injili sedunia atau General Assembly World Evangelical Alliance (GA WEA) 2019. Perhelatan akbar ini akan digelar selama seminggu, 7 sd 13 November di Sentul City International Convention Center (SICC), Sentul, Bogor-Jawa Barat.
Dengan mengusung tema besar “Your Kingdom Come” (Datanglah Kerajaan-Mu), acara ini akan dihadiri perwakilan dari 86 negara yang tersebar di lima benua, dengan jumlah perwakilan terbanyak dari Asia.
Mengapa mengusung tema “Datanglah KerajaanMu”? Menurut Sekretaris Umum PGLII, Pdt. Tommy Lengkong, M.Th, dalam teologi Kristen, kerajaan adalah istilah yang merujuk pada suasana atau keadaan yang dirahmati Tuhan. Lanjut Tommy, tema tersebut bertolak dari Roma 14:17, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus,” tutur Pdt. Tomny Lengkong, M.Th didampingi oleh Wakil Ketua Panitia GA WEA 2019 Bidang Dalam Negeri (Deddy A. Madong, SH) dan Wakil Ketua Bidang Luar Ngeri (Pdt. Jacob Octavianus) dalam Konferensi Pers di Wisma 76, Jakarta Barat, Kamis, 31/10/2019.
Sedangkan Deddy A Madong, SH, menjelaskan bahwa, melalui tema ini, Gereja-gereja Injili seluruh dunia merindukan kehadiran kebenaran, damai, kesejahteraan, dan kemajuan kehidupan bersama, baik dalam tingkat lokal, nasional maupun global, dapat terwujud. “Dan khusus bagi PGLII, salah satu sarana yang Tuhan pakai untuk mewujudkan Kerajaan Allah di Indonesia adalah melalui Pancasila sebagai modal dasar kerukunan umat beragama. Kita akan memperkenalkan Pancasila sebagai kebanggaan bangsa.
Kata Dedi, penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah GA WEA 2019, merupakan sesuatu yang luar biasa dan membanggakan. “Indonesia adalah negara dengan penduduk beragama Muslim terbesar di dunia. Nah Indonesia menjadi “laboratorium” teladan dalam hal toleransi, dan kerukunan antar umat beragama. Bayangkan saja, dari 131 negara yang bergabung dalam WEA, Indonesia yang dipilih oleh komite,” tutur Deddi.
Alasan penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah GA WEA 2019, menurut Deddi, merupakan sesuatu yang luar biasa dan membanggakan.Indonesia yang dipilih oleh komite internasional setelah mereka bergumul dalam doa. “Korea Selatan dan Afrika bahkan India mengajukan diri menjadi tuan rumah. Tapi dalam pergumulan doa, nama Indonesia yang muncul dan dipercaya sebagai tuan rumah dari even yang digelar 6 tahun sekali. Ini sungguh luar biasa,” tukas Deddi.
Kata Deddi, PGLII meyakini bahwa penunjukkan itu merupakan momentum dan waktu yang baik. “GEA WEA juga diagendakan akan membahas tiga materi utama yang menjadi perhatian utama gereja saat ini yaitu globalisasi, gender dan generasi,” papar Deddy.
Lanjut Deddi, acara WEA ini akan dibuka oleh Presiden Indonesia Joko Widodo. “GA WEA yang menghadirkan kurang Iebih 1000 peserta ini akan dihadiri pula oleh para pimpinan nasiona| dan internasional Gereja-gereja lnjili di dunia dan para tokoh-tokoh agama Kristen. Hadir pula CEO dari WEA Bishop Efraim Tandero. WEA sendiri telah berada di 131 negara dengan jumlah umat kurang Iebih 650-700 juta. “Agenda Sidang Raya ini juga akan melakukan pemilihan pengurus WEA tingkat dunia. Indonesia sendiri telah mengusulkan Pdt. Dr.Antonius Tarigan dan Pdt. Reza Sigarlaki untuk mewakili Asia,”
Dalam GA WEA 2019 ini, PGLII juga mengundang tokoh Islam nasional untuk berbicara mengenai Pancasila. Diantaranya adalah Ketua PBNU, Said Agil Siradj. SM

Kesaksian hidup Lily Jusuf: ‘ORANG BODOH YANG DIBERKATI TUHAN’

Ki-ka: Pose ketika Lily zaman  susah dan Lily sudah diberkati Tuhan

JAKARTA,Victoriousnews.com,- Setiap insan yang terlahir ke dunia ini pasti mendambakan untuk menikmati hidup bahagia, senang, sukacita dan berkecukupan secara materi. Kondisi semacam ini tidak dirasakan oleh wanita bernama lengkap Lily Jusuf sewaktu kecil. Semenjak bocah, Lily mengenyam sebuah drama kehidupan yang  amat pahit, getir, miskin bahkan  menderita secara ekonomi. Bayangkan saja, ketika usianya menginjak 4 tahun, Lily sering menahan lapar dan harus lantaran  orang tuanya tak punya uang untuk membeli makanan. Rumahnya terbuat dari bambu seperti gubuk reot, jelek; tidak ada toilet, bahkan tidurpun beralaskan kasur usang.  Ditambah lagi, penghasilan kedua orangtuanya yang pas-pasan—hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.  “Dari kecil saya mengalami hidup susah dan miskin sekali. Mau makan saja gak punya lauk. Saya sering puasa bukan karena niat untuk puasa, tetapi karena tidak ada yang bisa dimakan.  Mau buang air besar juga gak punya toilet. Pokoknya, miskin..kin..kin,” kenang Wanita kelahiran Jakarta, 02 Oktober 1968 ini mengisahkan kembali masa kecilnya yang sangat susah secara ekonomi.

Lily mengunjungi dan mendoakan anak yang sakit

Penderitaan Lily bukan hanya soal makan/minum dan pakai, melainkan juga merembet kepada masalah pendidikan. Dibandingkan dengan teman sebayanya, yang sama-sama berdarah Tionghoa, Lily tidak merasakan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Swasta yang berkualitas pada zamannya karena tidak punya biaya. Akhirnya, ia memutuskan untuk masuk ke SD Inpres (negeri) yang biayanya sangat murah meriah karena disubsidi oleh pemerintah.  Meski, sekolahnya murah, Lily pun sering menunggak biaya sekolah karena tak punya uang. Sehingga, ia  pun berniat membantu sang Mama untuk berjualan kolak yang dijajakan di sekitar lingkungan rumah maupun sekolahnya.

Lily Mengajak makan bareng anak jalanan

Tak jarang Lily mendapatkan hinaan, ejekan bahkan dibully oleh teman-temannya yang duduk di bangku SD Inpres di kawasan Mangga Dua, ketika melihat dirinya berjualan. Malu dan sakit hati?  Sudah pasti hal itu dirasakannya. Namun, dirinya tak peduli. Yang terbersit dalam benaknya adalah bagaimana bertahan hidup dan bisa sekolah.  “Saya itu terlahir dua bersaudara. Saya anak pertama, dan adik saya cowok. Pokoknya waktu itu, saya ingin membantu Mama untuk menghidupi keluarga. Karena Papa saya kurang peduli dengan Mama dan anak-anaknya. Sehingga sebagai anak pertama, saya harus bantu apa yang bisa saya lakukan, termasuk berjualan kolak.  Waktu itu benar-benar susah sekali,” ujar anak pertama dari pasangan (Alm).Heng Lay Thong (Papa Athong) dan Kong Djun Ngo (Mama Ango).

Ki-ka: Lily berdoa dan bersyukur telah bertambah usia & Sang Mama yang menjadi teladan hidupnya, Kong Djun Ngo (Mama Ango)

Dalam mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, Lily mengaku bukanlah anak yang pintar. Ia hanya anak yang biasa saja, bahkan nilainya pun tak memuaskan. Tetapi ia sangat rajin dan semangat untuk menuntut ilmu di bangku sekolah. Selepas lulus SD,  Lily pun berniat untuk melanjutkan sekolah menengah pertama. Lagi-lagi, lantaran faktor biaya sekolah, ia hanya puas masuk SMP (Sentosa) yang jaraknya tak jauh dari rumahnya. Ekonomi keluarganya juga tak kunjung membaik. Bahkan cenderung semakin merosot. Hal itu tak mematahkan semangatnya untuk belajar dengan giat. Dan mulai saat itulah, ia sering diajak teman sebayanya untuk pergi ke gereja.  Ia mulai paham mengenai cara berdoa secara Kristen. Perlahan tetapi pasti, ia mulai mempratekkan doa itu setiap hari.  “Saya dididik dalam keluarga non Kristen. Papa-Mama saya itu berdarah Tionghoa yang menganut kepercayaan leluhur.  Saya juga pernah ke gereja waktu kecil, tapi selalu dilarang oleh papa saya. Akhirnya, saya ngumpet-ngumpet perginya. Dulu saya pernah pergi ke gereja Pantekosta di dekat Mangga Dua Square,” kisah Lily.

Setelah lulus SMP dan usianya beranjak remaja, Lily berkeinginan mencari nafkah untuk membantu sang Mama berjualan. Namun, sang Mama berharap agar dirinya melanjutkan  melanjutkan sekolah SMA. “Ya karena waktu itu kondisi orang tua benar-benar tak mampu, sebagai anak pertama ingin banget bekerja saja untuk meringankan beban mama saya. Karena Papa saya waktu itu tidak bekerja, sehingga Mama sayalah yang banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga. Saya kasihan Mama saya bekerja sendirian. Bersyukurlah Mama saya mengerti, dan saya disuruh untuk lanjut sekolah SMA sampai selesai. Jadi saya ini S3, maksudnya SD, SMP dan SMA,” ujarnya sambil tertawa.

Selepas SMA, Lily bertekad dan berjuang agar hidupnya mengalami perubahan dalam hal finansial. Dengan sungguh-sungguh ia berdoa kepada Tuhan agar memperoleh pekerjaan yang dapat membantu ekonomi keluarga. “Doa saya pun terkabul. Saya diterima kerja di sebuah toko besi di kawasan Mangga Dua. Gajinya waktu itu Rp.75.000,-, dan uang makan Rp.1500,-. Ya walaupun gajinya kecil, saya tetap bersyukur saja. Karenanya saya yakin berkat Tuhan pasti indah pada waktuNya,” tukas Lily.

Keluarga yang bahagia dan diberkati Tuhan, ki-ka: Rudy Wong (Suami), Jennifer Wong (Putri pertama), Lily Jusuf, Jerry Winata (Putra Kedua) dan Jeffry Winata (Putra ketiga/bungsu)

Mendapat Jodoh Yang Baik dari Tuhan

 Kisah asmara dua insan antara Lily Jusuf dan Rudy Wong tergolong unik. Awalnya, ketika bertemu dengan Pria yang kini menjadi suaminya adalah berkat dikenalkan (baca: dijodohin) oleh teman dekatnya. Calon kekasih Lily adalah seorang pendiam dan  waktu itu bekerja sebagai Sales/Marketing di sebuah perusahaan. Namun, sebelumnya Lily mengaku bahwa dirinya senantiasa berdoa kepada Tuhan agar diberikan jodoh yang baik dan sayang kepadanya. “Waktu itu, saya berdoa kepada Tuhan. ‘Tuhan saya ingin mendapat suami yang baik dan sayang saya. Tidak perlu kaya. Yang penting dia mengasihi dan menerima saya apa adanya. Saya tahu dirilah, karena waktu itu saya masih hidup susah, ngapain juga cari orang kaya.  Dan Tuhan jawab tepat pada waktunya. Tuhan memberi pasangan yang baik dan sayang sekali. Singkat cerita, setelah cocok menjalin hubungan kekasih selama 4 tahun, akhirnya kami memutuskan untuk menikah pada tahun 1994. Kami waktu itu diberkati dalam pernikahan kudus secara Katolik,” ungkap Lily.

Pesta pernikahan pun digelar secara sederhana. Menurut Lily, karena tak ada dana untuk menggelar pesta mewah, Lily dan suami hanya mengeluarkan biaya 8 juta rupiah. Meski gaun pengantin yang dipakai bukanlah baru alias bekas, tetapi Lily bersyukur bahwa pesta pernikahannya berjalan dengan baik dan lancar. “Waktu itu kami menikah, biayanya 8 juta. Ya maklum, karena kondisinya masih susah. Terus, saya pake baju pengantin bekas, bukan beli baru. Sederhana saja dan tidak mewah.  Maklum tidak punya biaya.  Ya saya pakai yang murah-murah saja.  Karena saya juga tahu kondisi suami yang hanya sales/marketing saja di sebuah perusahaan. Kami hanya memiliki cinta yang kuat dan saling menyayangi,” urainya penuh syukur yang kini telah dikaruniai 3 anak (1 Putri dan 2 Putra), yakni:  Pertama, Jennifer Wong (24 tahun) lulusan S1 Bisnis Manajemen di Singapura. Anak kedua bernama; Jerry Winata (21 Tahun) lulusan S1 Mechanical Engineering di Universitas Seattle Amerika Serikat dan ketiga bernama Jeffrey Winata (14 tahun) masih sekolah SMP kelas 9 di Jakarta.

Keluarga yang kompak

Ketulusan Hati Mendatangkan Berkat

Kesetiaan, ketaataan, ketekunan, ketulusan hati serta senantiasa berdoa sungguh-sungguh kepada itulah yang mewarnai perjalanan hidup Lily dan suami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Perlahan tapi pasti, usahanya mulai diberkati oleh Tuhan. “Jadi sewaktu saya kerja di toko besi itu, gajinya  tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya saya kerja sama adik ipar saya di sebuah toko computer di kawasan Glodok. Waktu itu saya  digaji 300 ribu per bulan. Nah, singkat cerita, adik ipar saya menjual tokonya dan minta suami saya bayarin. Saya lupa toko itu dibayarin berapa puluh juta sama suami saya. Nah, akhirnya kita olah dan dagang komputer. Kemudian tahun 1998 ada kerusuhan dan kebakaran di Glodok Plaza. Kemudian kita pindah di Dusit Mangga Dua. Puji Tuhan, doa kami dijawab Tuhan. Mulai dari situlah, usaha kami perlahan-lahan diberkati Tuhan. Mulai tambah kios satu per satu. Dan suami bisa beli rumah pertama, walaupun  nyicil dan kumpul-kumpul uang,” ujar Lily yang memiliki kata mutiara ‘Hidup adalah pilihan. Pilihlah yang baik dan benar. Yang baik belum tentu benar. Yang benar sudah pasti baik’.

Tengah: Putra Kedua, Jerry Winata lulusan S1 Mechanical Engineering Seattle University Amerika Serika, kini telah bekerja di sana.

Tahun berganti tahun, berkat Tuhan terus mengalir deras dalam kehidupan rumah tangga Lily dan suami. Menurut Lily, jika hati kita tulus dalam membantu orang atau melakukan pekerjaan apapun, pasti berkat Tuhan akan mengikuti kita. “Sebaliknya, kalau yang ada dalam otak kita hanya fulus (baca: uang), maka apa yang kita kerjakan tidak akan menjadi mulus. Apalagi banyak akal bulus,” ujar Wanita lulusan Sekolah Pengkotbah Modern (SPM) angkatan 23 ini sembari tertawa lepas walaupun beberapa kali kena tipu milyaran rupiah.

Kata-kata tersebut maknanya sangat dalam. Ketulusan hati yang dipraktikkan oleh Lily dan suami dalam menjalankan usaha  akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa. Meski diberkati di usaha dagang komputer, namun Lily dan suami mencoba banting stir atau alih profesi ke dunia Properti. Ternyata di dunia bisnis Properti inilah yang menghantarkan dirinya semakin diberkati dalam hal keuangan dan harta benda. “Kemudian saya masuk ke dunia bisnis properti. Kami bisa membeli rumah dengan harga 485 juta. Nah karena waktu itu uangnya masih kurang, akhirnya rumah yang pertama kita jual untuk tambahan beli rumah mewah di kawasan Danau Sunter. Mulai tahun 2004 itulah bisnis Properti yang kami tekuni terus diberkati Tuhan sampai hari ini. Saya bersyukur karena Tuhan berkati luar biasa. Saya juga tidak menyangka melalui bisnis properti ini berkatnya luar biasa. Semua karena Tuhan Yesus yang memberkati keluarga kami,” kata Lily yang kini melanjutkan Studi di STT Lintas Budaya Kelapa Gading.

Terbeban Untuk Melayani Orang Susah

Didikan sang Mama untuk mengasihi dan memberi kepada orang yang berkekurangan itu selalu membekas dalam benak Lily ketika dirinya melihat anak-anak terlantar, pengamen, dan orang yang tidak mampu. Lily teringat kata-kata sang Mama ketika masih ia masih kecil dan susah, ‘kita harus memberi dan mengasihi setiap orang. Kasih saja baju kita yang layak pakai kepada orang lain yang butuh. Kita harus memberi orang makan’. “Mama saya selalu ajarkan anak-anaknya agar saling mengasihi. Memberi dibalik kekurangan. Kasih kepada orang susah,baju yang layak pakai. Kasih orang makan. Padahal waktu itu, Mama saya masih beragama non Kristen. Kemudian, waktu itu saya bilang, Ma kita aja miskin bagaimana mau kasih ke orang. Ternyata apa yang kita tabur dulu, dan baru menyadari bahwa saat inilah kami telah menuainya. Apa yang kami berikan ketika miskin, kini kami menuai dalam kelimpahan. Memberi dan mengasihi itu kekuatanya luar biasa. Sebab Tuhan Yesus juga mengajarkan, bahwa kita harus mengasihi sesama kita. Kita juga diajarkan harus memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Berkat Tuhan itu tidak akan habis, ketika hati kita tulus dalam mengasihi dan memberi kepada sesama,” tukas Lily yang kini rindu untuk membuka sebuah yayasan sosial  untuk menampung anak-anak tidak mampu dan anak terlantar.

Pelayanan Lily kepada orang gila di kawasan Bekasi

Sebagai seorang wanita yang pernah merasakan pahitnya hidup semasa kecilnya, Lily menangis dan terbeban untuk menolong anak-anak yang miskin. “Teladan Mama saya itulah yang tularkan kepada anak-anak saya saat ini. Saya didik anak-anak saya untuk mengasihi dan memberi kepada orang yang berkekurangan.Karena mama saya ajarin saya, waktu susah saja harus memberi dan memberi. Saya lebih senang melayani door to door, tidak suka hanya dalam gereja.  Karena kalau hanya melayani di gereja takutnya terikat oleh waktunya. Sekarang terbeban melayani Tuhan kepada orang-orang miskin, anak-anak jalanan. Jadi kalau saya melihat orang susah, itu teringat masa lalu saya. Masa kecil saya itu seperti itu. Pernah dalam pelayanan saya di Sukabumi, melihat pemulung dan pengamen. Saya ajak makan satu meja. Saya gak mau gengsi walaupun sudah diberkati seperti sekarang. Karena saya ingin menerapkan ajaran Tuhan Yesus, yaitu mengasihi sesama. Bahkan ada anak-anak jalanan yang saya temui, mengaku seumur-umur belum pernah makan Pizza. Bukannya saya mau pamer, tapi saya ingin membantu mereka dan berbuat baik. Biarlah hanya Tuhan saja yang tahu dan untuk kemuliaan nama Tuhan,” ungkap Lily yang semakin cinta Tuhan dan kini beribadah Gereja di kawasan MGK Kemayoran Jakarta Pusat.

Diberikan Tuhan “Karunia Kesembuhan”

            Kini, Lily bersama keluarga rindu hanya untuk menyenangkan hati Tuhan. Baginya, harta benda maupun uang yang ia miliki hanyalah titipan dari Tuhan, suatu saat akan lenyap. Meski banyak orang yang melekatkan label sebagai “orang kaya”, tetapi  hal itu tidak membuatkan menjadi sombong. Justru sebaliknya, ia beserta keluarga belajar semakin rendah hati.  Menurutnya, berkat apapun  yang diberikan Tuhan itu harus dikelola dan bermanfaat untuk mendatangkan kemuliaan Tuhan bukan untuk kepentingannya sendiri. “Puji Tuhan sampai saat ini Tuhan sudah berkati kami secara luar biasa. Saya punya suami yang baik dan sayang keluarga. Dikaruniai anak-anak yang luar biasa. Dan semuanya baik-baik. Sekolah di luar negeri dan yang terakhir masih SMP. Pokoknya saya bersyukur sekali. Karena semuanya berasal dari Tuhan. Dulu saya pernah berdoa sama Tuhan, jika Tuhan sudah berkati saya, maka saya ingin menjadi berkat bagi orang lain, yaitu rindu membuka yayasan sosial,” papar Lily yang mengaku tidak pernah mau menerima persembahan kasih ketika mendapatkan undangan kotbah atau mengisi kesaksian hidupnya di berbagai gereja.

Melayani anak-anak jalanan di bawah kolong tol Jakarta Barat

            Lily menceritakan ketika melayani dan mendoakan orang sakit beberapa waktu lalu. Dalam pelayanannya, ia sungguh bersyukur diberikan karunia kesembuhan oleh Tuhan. “Saya banyak melayani orang sakit. Baik mendoakan orang sakit melalui telepon maupun datang langsung ke Rumah Sakit. Puji Tuhan ketika saya diminta mendoakan orang,  mereka kebanyakan disembuhkan dari penyakitnya. Ada beberapa teman yang sakit kanker saya doakan sembuh. Awalnya saya tidak tahu, tetapi dari kesaksian orang-orang yang saya doakan mereka mengatakan setelah didoakan semuanya sembuh.  Semua karena Tuhan. Saya dapat karunia itu,ya baru beberapa tahun ini. Ini karunia yang diberikan Tuhan yang tidak bisa digantikan dengan apapun,” tandas Lily sembari menambahkan bahwa putra keduanya telah diterima kerja di sebuah perusahaan di  Amerika.

            Untuk membekali dirinya dalam melayani Tuhan, akhirnya Lily memutuskan untuk melanjutkan studi teologi di Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya Kelapa Gading. “Awalnya saya melanjutkan studi S1 di STTLB itu dikenalin sama teman saya namanya pak Bagus. Teman saya bilang, ‘kamu sekolah saja sama Pak Poltak deh’. Terus, saya bilang malas ah. Saya sudah tua, ngapain?. Saya sekolah juga gak pintar SMEA juga oon deh pokoknya.  Akhirnya ada SPM angkatan 23 saya diajak untuk ikut. Awalnya saya susah ikuti, karena bahasa kotbahnya dalam sekali. Kayaknya saya tidak bisa dan sempat mau mundur waktu itu. Teman-teman seangkatan saya menyemangati saya.  Akhirnya saya lulus juga.  Mulai dari situlah, kemudian Pak Poltak Sibarani (Ketua STTLB) bilang, Bu Lily kuliah S1 saja.  Saya sudah tua pak. Eh, saya putuskan ikut juga. Dan ternyata banyak juga yang lebih tua dari saya. Padahal saya sempat bergumul sama Tuhan. Saya mau jadi diri sendiri saja gak mau jadi siapa-siapa. Terus Roh Kudus bilang, kamu gak sekolah saja aku berkati luar biasa, bagaimana kalau sekolah. Nah, mulai saat itulah saya terus semangat sampai saat ini,” papar Lily.

Sebagai orangtua yang sukses dalam menjalankan bisnis, Lily ingin menularkannya kepada anak-anaknya. Saat ini ia sedang mempersiapkan sebuah ruko (dijadikan sebuah café) di kawasan Sunter untuk diberikan kepada putri pertamanya, Jennifer Wong. “Ini ruko rencananya mau dibuat café untuk anak pertama saya. Rencananya, saya rindu di lantai 2 ini ada persekutuan doa. Karena Jennifer ada rencana mau menikah. Saya bilang nanti mama bukain bisnis ya. Mama kasih kamu unpan sama kail, nanti ikannya tangkap sendiri. Pokoknya, saya kasih pondasi yang kuat. Semua kembali lagi, harus berdoa. Saya hidup dan diberkati ini,  juga semua karena atas karunia Tuhan. Sekali lagi, harta semua titipan Tuhan.  Hidup mengalir saja, Tuhan mau bawa kemana. Yang jelas, kalau kita tidak bisa berbuat baik kepada orang, janganlah engkau berbuat jahat,” pungkasnya bersemangat. SM

Ibadah Syukur Program GoodNews Episode ke 500 & Peluncuran Buku Love Revolution

Ps. Daniel Hendrata & Ps. Debby Catharina

JAKARTA, Victoriousnews.com,- Program tayangan talk show rohani Kristen “GoodNews” (GN) telah mengudara sejak 17 September 2005 di layar televisi. Puji Tuhan, pada hari Kamis (17/10/2019), GoodNews program memasuki episode ke-500 yang ditayangkan live recording di STOREHOUSE, The Bellezza Shopping Arcade lantai 1 Nomor 115- 118 Permata Hijau, Jakarta Selatan. Dalam episode istimewa ini menghadirkan narasumber sekaligus pendiri program tersebut yakni: Ps. Daniel Hendrata dan sang isteri Ps.Debby Catharina.
Dalam episode 500 program goodnews juga ditandai dengan peluncuran buku berjudul “Love Revolution” karya Ps. Daniel dan Ps Debby yang juga sebagai chairman dan co-founders dari Anugrah Ministries (www.anugrah.net), dan lead pastors dari Anugrah Church.

Momen istimewa, tiup lilin dan potong kue

Ps.Daniel Hendrata dan Ps. Debby Catharina adalah pasangan suami istri yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai pelayan penuh waktu, yakni menggembalakan di Anugrah Ministries, dan Anugrah Church.
Ps Daniel dan Debby menikah pada 7 Februari 1998, dan dikaruniai dua orang anak bernama Angeline Catharina Hendrata, dan James Richard Hendrata.

Ki-ka: Ps.Daniel, Edward Chen dan istri, Ps. Debby Catharina

Tepatnya, pada 11 Maret 2018, mereka resmi menjadi gembala dari Gereja Anugrah. Komitmen dan arah pelayanan suami-istri pendeta ini, ialah keselamatan, keluarga, dan pembentukan karakter.

Ps Daniel dan Ps Debby meyakini, bahwa keluarga mempunyai arti yang penting dalam kehidupan, bahkan dalam suatu masyarakat atau negara. Oleh karena itu, selain berkotbah secara umum, mereka juga banyak melakukan seminar, KKR, maupun pelayanan yang lebih spesifik menjangkau keluarga.

Setelah sukses menuliskan buku Guard Your Family, yang habis terjual hingga memasuki cetakan keempat, ‘Love Revolution’ merupakan buku lanjutan dari Guard Your Family persembahan dari Ps Daniel Hendrata dan
Ps Debby Catharina.

Buku interaktif ini mengajarkan tentang arti hidup yang sejati, bagaimana tidak menyerah sampai Love Revolution terjadi dalam keluarga kita, mengenali Waktu dan Musim dalam kehidupan kita, juga Millennial Parenting.

Ps. Daniel dan Ps.Debby, membuat buku Love Revolution, berangkat dari pengalaman mereka menghadapi masalah sejak memulai keluarga, mengurus anak, pindah dari Surabaya ke Jakarta, dan membentuk tim kerja Love Revolution, untuk memproduksi Goodnews.

“Cinta membutuhkan pengorbanan. Istri masa muda, beda dengan istri muda. Sebagai Kristen, istri kita adalah istri masa muda” tukas Ps. Daniel.

Acara syukuran ini dipandu oleh host Marsya Mannopo dan Shinta Rosari serta dimeriahkan oleh penyanyi mandarin pasangan suami istri, yakni Edward Chen dan Istri. SM