Jakarta, VictoriousNews.com — Di mimbar Gereja Pentakosta Kristus (Gepenkris) Jakarta, Jalan Bangau Buntu No. 597, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Minggu, (15/2/26) Advokat senior Jhon SE Panggabean, SH, MH kembali menyampaikan kotbah yang menyentuh relung hati. Ia mengingatkan jemaat tentang satu hal mendasar dalam kehidupan orang percaya: doa.
“Doa adalah nafas hidup orang percaya. Kalau kita tidak berdoa, kita seperti kekurangan oksigen—ngap-ngapan,” ujar Jhon Panggabean yang kerap dinubuatkan sebagai “Pendeta” ketika menyampaikan kotbah di berbagai denominasi gereja.
Menurutnya, di tengah kesibukan, tekanan hidup, dan berbagai pergumulan, doa adalah sumber kekuatan yang menjaga iman tetap hidup. Tanpa doa, jiwa terasa sesak dan langkah kehilangan arah. Karena itu, ia mengajak jemaat kembali berdoa dengan sungguh-sungguh agar hati kembali dipenuhi “oksigen” dari surga.
Dalam khotbah bertema “Tetaplah Berdoa” yang berlandaskan 1 Tesalonika 5:17, Jhon memaparkan beberapa poin penting tentang makna dan kuasa doa.
Mujizat Itu Nyata: Disembuhkan dari penyakit autoimun & Dilindungi dari kecelakaan

Mengutip Efesus 6:18, ia menegaskan pentingnya berdoa setiap waktu di dalam Roh. Ia pun membagikan kesaksian pribadinya. Selama dua tahun menderita autoimun, sepuluh kali keluar-masuk rumah sakit, bahkan sempat berobat ke Penang, Malaysia. Namun akhirnya, ia mengaku disembuhkan Tuhan melalui doa yang sungguh-sungguh. “Tuhan Maha Penyembuh. Saya menyaksikan sendiri mujizat itu,” ujarnya.
Ia juga mengisahkan pengalaman kecelakaan hebat di jalan tol. Mobil yang dikendarainya terbalik empat kali akibat ban pecah. Dalam situasi genting itu, ia hanya sempat berseru, “Yesus tolong saya!” Mobil ringsek dan hancur, namun ia selamat. “Di situlah perlindungan Tuhan nyata,” katanya.
Doa Harus Dibarengi Iman Yang Kuat
Selain berdoa setiap waktu, Jhon mengingatkan agar doa tidak bertele-tele, melainkan tulus dan penuh iman. Dalam segala persoalan, umat percaya diminta tetap berdoa, termasuk mendoakan bangsa dan para pemimpin—dari Presiden hingga RT/RW—agar takut akan Tuhan dan menjauhi korupsi serta kejahatan.
Mengacu pada Filipi 4:6, ia menekankan doa dengan ucapan syukur. Sementara Markus 11:24 mengajarkan agar setiap doa dinaikkan dengan iman. Jika doa dijawab, tetaplah setia. Jika belum, jangan goyah.
Begitu pula, Yakobus 5:14-16 mengingatkan pentingnya mendoakan orang sakit. Roma 12:12 menegaskan agar umat bertekun dalam doa—bekerja sambil tetap bersandar kepada Tuhan.
“Kesimpulannya jelas: bertekunlah dalam doa dan percayalah. Jika belum menerima jawaban, tetaplah setia. Doa bukan untuk memuaskan kepentingan pribadi, melainkan untuk memuliakan nama Tuhan,” pungkas Jhon.
Kesaksian Pujian yang Menguatkan

Sebelum firman Tuhan disampaikan, ibadah diisi dengan kesaksian pujian dari keluarga Gepenkris Permata Hijau. Suasana semakin khidmat saat Tulus Hutapea bersama putrinya, Theresia Hutapea, membawakan lagu “Pulang” ciptaan Pdt. Dr. Erastus Sabdono, terinspirasi dari Yohanes 14:1-4. Lagu itu mengalir lembut, menguatkan pengharapan akan janji Tuhan tentang rumah Bapa.
Pergumulan dibalik Jadwal Pelayanan

Menjelang doa berkat, Gembala Gepenkris Jakarta,Pdt. Dr. Solider Siringoringo, menyampaikan pengumuman terkait jadwal pelayanan bulan Maret. Ia membuka sisi hati seorang gembala yang jarang terlihat jemaat.
“Menyusun jadwal bukan sekadar teknis. Ada pergumulan dan doa di dalamnya. Memadukan tim musik dan WL yang tepat perlu keselarasan dan pertimbangan yang matang,” ungkapnya.
Ia menegaskan, setiap pelayanan lahir dari proses doa. Tidak semudah menyusun daftar nama, tetapi memastikan setiap pelayan siap, berada di tempat yang tepat, dan dipakai Tuhan secara maksimal.
Ibadah Minggu itu menjadi pengingat kuat bahwa doa bukan pelengkap, melainkan kebutuhan utama. Di tengah dunia yang kian bising, pesan dari Gepenkris Jakarta terdengar jernih dan tajam: Tetaplah berdoa. Karena di sanalah iman bernafas dan hidup menemukan arah. SM


















