Memaknai Jumat Agung

News, Religi1267 Views

Victoriousnews.com,-Good Friday atau Jumat Agung adalah hari penyaliban dan kematian Yesus Kristus di atas kayu salib di Bukit Golgota. Peristiwa tersebut menjadi sangat penting dan sakral bagi umat Kristiani di seluruh dunia.

Sebelum dihukum mati dengan disalib, Yesus ditangkap di Taman Getsemani, tidak lama setelah Ia melakukan Perjamuan Terakhir dengan murid-murid-Nya, yang diperingati umat kristiani sebagai “Kamis Putih”.

Setelah ditangkap, Yesus lantas diadili dan atas perintah Pontius Pilatus (Gubernur Kerajaan Romawi untuk Yudea), Ia dihukum mati dengan disalibkan di Bukit Golgota. (Lukas 23:33-49; Matius 27:45-46).

Kematian Yesus dipercayai umat kristiani sebagai bentuk kasih dan penyelamatan Tuhan untuk umat-Nya dengan menebus dosa manusia.

Itulah mengapa, kendati dikenal sebagai hari kesedihan atas sengsara dan kematian Yesus, peringatan Jumat Agung bukanlah momen untuk berdukacita, melainkan momen yang penuh cinta.

Diceritakan di Alkitab, setelah Yesus mati pada dan dikuburkan (Jumat Agung), pada hari ketiga, Ia bangkit dari kematian. (Lukas 23:50-56)

Kebangkitan Yesus inilah yang disebut dengan Hari Paskah, yang bertepatan dengan hari Minggu. Makna atau arti Paskah adalah Hari Kebangkitan. Hal ini berbeda dengan pengertian Jumat Agung.

Berikut ini adalah makna yang terkandung dalam peringatan Jumat Agung yang dikutip dari berbagai sumber.

  • Mengajarkan Pengampunan

Makna Jumat Agung yang pertama adalah mengajarkan kepada semua umat kristiani bahwa adanya pengampunan dari Tuhan. Dengan penyaliban Yesus Kristus, Tuhan memperlihatkan kecintaan-Nya kepada umat-Nya dengan mengampuni dosa mereka.

Bahkan Yesus ketika masih hidup, Ia menunjukkan betapa pentingnya kasih bagi kehidupan. Ia selalu menolong dan mengasihi orang-orang di sekitar-Nya. Bahkan ketika Ia menderita, Yesus meminta Allah Bapa untuk mengampuni orang yang bersalah tersebut.

Hal ini karena Yesus tahu bahwa manusia merupakan makhluK yang sangat terbatas dan memiliki banyak kelemahan yang membuat mereka mudah terjerumus dalam dosa.

Yesus mengajarkan bahwa tidak ada gunanya menyimpan atau memendam kebencian kepada orang lain. Membalas kejahatan dengan kejahatan tidak akan mengubah apa pun, yang ada hanya akan timbul kejahatan lainnya.

Dengan membalas kejahatan dengan kasih sayang, orang lain mungkin bisa berubah karena merasakan kasih.

Memberikan kasih kepada orang lain, merupakan satu di antara visi umat kristiani. Dengan memberikan kasih kepada orang lain, orang lain nantinya bisa menyebarkan kasih tersebut kepada orang yang lain lagi sehingga dari hal yang kamu lakukan, mampu menyebarkan kasih kepada seluruh umat.

Tanpa memiliki kasih,  semua kepercayaan dan pengharapanmu menjadi sia sia.

  • Mengajarkan Bahwa Penderitaan Bukanlah Akhir

Makna Jumat Agung yang kedua adalah bahwa penderitaan bukanlah akhir dari sebuah cerita. Setiap orang memiliki beban dan penderitaannya masing masing. Siapa saja yang ingin mengikuti Yesus Kristus, dikatakan harus juga siap memikul salib-Nya, atau beban, sengsara, dan penderitaan-Nya.

Menjadi orang kristiani tidak menjanjikan akan hidup nyaman dan selalu senang. Sebaliknya, banyak tantangan kehidupan yang harus kamu lalui.  Bagaimana kita memandang beban tersebut yang paling penting, apakah menjadi tantangan ataupun menjadi penderitaan.

Kita harus percaya bahwa hidup memang dihiasi dnegan berbagai tantangan dan ujian. Jangan hanya berharap kepada kesenangan dan kemudahan. Dengan fokus terhadap tujuan kita, maka akan merasakan bahwa hidup memang harus berjuang dan nantinya sukacita akan datang bila kamu terus berusaha.

Memperingati Jumat Agung dengan berjuang dan menganggap penderitaan bukanlah akhir cerita, melainkan awal perjalanan, maka kita akan lebih memaknai hidup.

  • Momen membangun mentalitas pemenang

Hidup penuh dengan berbagai tantangan dan halangan. Seseorang akan dikatakan sebagai pemenang apabila ia berhasil melewati tantangan atau halangan tersebut.

Dengan melewati tantangan dan halangan tersebut, seseorang bisa menuju ke tingkat selanjutnya dalam hidupnya. Dengan halangan dan tantangan tersebut nantinya kepribadianmu akan terbentuk.

Kita dapat belajar dari masalah atau ujian yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menghadapi semua itu, kamu bisa memiliki pengalaman dan lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.

Dengan inilah mentalitas pemenang bisa terbentuk. Orang yang sudah memiliki mental pemenang tahu bahwa dia harus berusaha keras sebelum mencapai tujuannya. Dengan melewati tantangan tantangan hidup, dia tahu akan bersukacita bila berhasil.

Jumat Agung menjadi momen di mana umat kristiani seharusnya berbenah dan membentuk mentalitas pemenang. Jadi, tidak hanya sekadar perayaan atau peringatan semata, tetapi bisa menjadikan diri untuk berkembang ke tingkat selanjutnya.

Dengan menjadikan Yesus sebagai teladan, kita harus yakin semua perjuangan kita dalam hidup ini tidak akan sia-sia. SM/*dbs