Jembrana, Bali-VictoriousNews.com– Di tengah rangkaian perayaan HUT ke-3 Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN) di Desa Wisata Blimbingsari, Melaya-Jembrana, Bali, sebuah tema seminar yang unik sekaligus menggugah perhatian peserta disampaikan oleh pembicara internasional asal Malaysia, Ps. Wilson Ng dan diterjemahkan oleh Ps Jeremias Panggabean (Ketua DPD GBIN DKI Jakarta).
Mengangkat tema “Meeting God Thru A Braying Donkey” (Bertemu Tuhan Melalui Keledai yang Meringkik), Ps. Wilson mengajak para hamba Tuhan dan jemaat melihat kembali makna pelayanan dari sudut pandang yang jarang dibahas: belajar dari seekor keledai.
Bagi sebagian orang, keledai identik dengan hewan sederhana, keras kepala, bahkan dianggap kurang bernilai dibanding kuda. Namun di tangan Tuhan, keledai justru menjadi simbol kerendahan hati, ketaatan, dan pelayanan yang tulus.
Mengawali pemaparannya dari Matius 11:29, Ps. Wilson menekankan bahwa inti kehidupan Kristen bukanlah mengejar mujizat atau posisi pelayanan yang tinggi, melainkan belajar menjadi seorang pelayan.
“Di dalam Kerajaan Allah mungkin ada rasul, nabi, gembala, penginjil, dan pengajar. Itu adalah jabatan yang diberikan Tuhan. Tetapi status kita semua tetap sama, yaitu pelayan,” ujarnya.
Menurutnya, banyak orang terpikat pada karunia, jabatan, dan pengaruh rohani, tetapi melupakan identitas utama yang diajarkan Yesus. “Tuhan tidak akan berkata ‘baik sekali rasul yang setia’ atau ‘baik sekali gembala yang setia’. Yang Tuhan cari adalah hamba yang setia,” katanya disambut antusias peserta seminar.
Mujizat Dimulai dari Ketaatan
Ps. Wilson mengingatkan bahwa hampir setiap mujizat besar dalam Alkitab diawali oleh sesuatu yang sederhana yang diserahkan kepada Tuhan.
Lima roti dan dua ikan memberi makan ribuan orang. Tempayan yang diisi air berubah menjadi anggur. Demikian pula ketika Yesus meminta seekor keledai untuk memasuki Yerusalem.
“Setiap kali Tuhan meminta sesuatu, selalu ada tujuan ilahi di baliknya. Mujizat dimulai ketika seseorang bersedia menyerahkan apa yang dimilikinya kepada Tuhan,” tuturnya.
Baginya, keledai yang ditunggangi Yesus menuju Yerusalem bukan sekadar alat transportasi. Hewan itu menjadi gambaran seorang pelayan yang rela dipakai Tuhan tanpa mencari perhatian bagi dirinya sendiri.
Jangan Membangun Nama Sendiri
Salah satu bagian yang paling mengena dalam seminar tersebut adalah ketika Ps. Wilson berbicara tentang bahaya membangun kerajaan pribadi di dalam pelayanan.
Ia menggambarkan suasana ketika Yesus memasuki Yerusalem. Orang banyak bersorak “Hosana” sambil melambaikan daun palma. Namun pujian itu ditujukan kepada Yesus, bukan kepada keledai yang ditunggangi-Nya. “Bayangkan jika keledai itu berpikir semua sorakan itu untuk dirinya. Begitulah bahaya yang sering terjadi dalam pelayanan,” katanya.
Menurutnya, setiap pencapaian, pengaruh, dan kehormatan yang dimiliki seorang pelayan Tuhan sesungguhnya berasal dari Kristus yang bekerja melalui hidupnya. “Kalau Yesus turun dari punggung keledai itu, tidak ada lagi yang memperhatikannya. Demikian juga hidup kita. Tanpa Tuhan, kita bukan siapa-siapa,” tegasnya.
Karena itu, ia mengingatkan para pelayan Tuhan agar tidak terjebak membesarkan nama diri, gereja, atau organisasi, melainkan mengutamakan kemuliaan nama Kristus.
Pelayan Tidak Bersaing
Melalui ilustrasi tentang kuda dan keledai, Ps. Wilson juga menyoroti fenomena persaingan yang kerap muncul dalam pelayanan.
Menurutnya, kuda dikenal sebagai hewan pacuan yang selalu berlomba untuk menjadi yang tercepat. Sebaliknya, keledai tidak hidup dalam kompetisi. “Kalau kita benar-benar hamba Tuhan, kita tidak sedang bersaing satu sama lain. Kita tidak membangun nama sendiri, tetapi bersama-sama membangun Kerajaan Allah,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pelayanan bukanlah arena perlombaan untuk mencari popularitas, melainkan kesempatan untuk melayani sesama dan memuliakan Tuhan.
Kehidupan yang Akan Dipertanggungjawabkan
Dalam bagian lain seminarnya, Ps. Wilson mengajak peserta merenungkan singkatnya kehidupan manusia.
Ia mengibaratkan hidup seperti permainan catur. Ada bidak yang menjadi raja, menteri, benteng, atau pion. Masing-masing memiliki posisi dan peran berbeda. “Namun ketika permainan selesai, semua bidak kembali masuk ke kotak yang sama,” katanya.
Ilustrasi itu menjadi pengingat bahwa jabatan, status, dan pencapaian duniawi pada akhirnya akan berakhir. Yang tersisa adalah bagaimana seseorang menggunakan hidupnya untuk melayani Tuhan dan sesama. “Suatu hari kita semua akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan. Pertanyaannya bukan seberapa besar jabatan kita, tetapi apa yang telah kita lakukan dengan kehidupan yang Tuhan percayakan,” ujarnya.
Menjadi Pelayan yang Berdampak
Sepanjang seminar, Ps. Wilson berulang kali menegaskan bahwa Tuhan selalu mengingat setiap pelayanan yang dilakukan dengan tulus.
Ia mencontohkan tokoh-tokoh Alkitab seperti Stefanus, Dorkas, Barnabas, Yonatan, hingga perempuan Sunem yang menunjukkan bahwa pelayanan sederhana sering kali menghasilkan dampak besar dan meninggalkan warisan rohani bagi generasi berikutnya. “Tuhan tidak pernah melupakan apa yang kita lakukan bagi-Nya. Jika bukan kita yang menuai hasilnya, anak cucu kita dapat menikmati berkat dari kesetiaan itu,” katanya.
Menutup sesi seminar, Ps. Wilson mengajak seluruh peserta untuk tidak menjadi orang Kristen yang hanya memiliki label rohani, tetapi kosong dalam kehidupan nyata.
Ia mengingatkan bahwa alasan terbesar untuk melayani adalah teladan Kristus sendiri yang telah memberikan seluruh hidup-Nya bagi manusia. “Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang ingin dilayani. Dunia membutuhkan lebih banyak pelayan yang rela memberikan hidupnya bagi Tuhan dan sesama,” pungkasnya. SM

















