JAKARTA,VictoriousNews.com–Di balik tubuh yang tampak sehat, banyak orang diam-diam memikul beban kecemasan, stres, bahkan depresi. Fenomena ini semakin nyata di tengah kehidupan modern dan menjadi tantangan serius yang tidak boleh diabaikan.
Keprihatinan itu disampaikan Pdm. Yohan Dinata saat berkhotbah dalam ibadah Minggu pukul 13.00 WIB di GBI Pejaten (penggembalaan Pdt. Sapto Edhi Raharjo), Mal Pejaten lantai 3, Jakarta Selatan, Minggu (12/7/2026). Menurutnya, penyakit mental kini jauh lebih berbahaya karena kerap tidak terlihat, namun perlahan menghancurkan kehidupan seseorang. “Hari-hari ini yang paling berbahaya bukan hanya sakit secara fisik, tetapi sakit secara mental,” tegas Yohan yang tergabung dalam tim penggembalaan GBI Pejaten.
Yohan mengatakan, setiap orang berpotensi mengalami luka batin akibat persoalan keluarga, pekerjaan, lingkungan sosial maupun tekanan hidup. Karena itu, gereja harus hadir sebagai tempat pemulihan.
Sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan mental dan pemulihan rohani, GBI Pejaten akan menggelar Healing Movement Community (HMC) pada 17 Agustus 2026. Momentum Hari Kemerdekaan Indonesia tersebut diharapkan menjadi kesempatan bagi jemaat untuk mengalami kemerdekaan dari berbagai belenggu emosional dan luka batin. “Kami mengajak seluruh jemaat untuk ikut. Yang belum pernah mengikuti HMC silakan bergabung. Yang sudah pernah pun tidak ada salahnya mengikuti kembali, karena Roh Kudus terus bekerja memulihkan kehidupan kita,” ujarnya.
Empat Tahap Pemulihan
Dalam HMC, peserta akan dibimbing melalui empat sesi utama, yakni Hati Bapa, Gambar Diri, Luka Batin, dan Kemenangan di dalam Kristus.
Menurut Yohan, banyak persoalan hidup berakar pada cara seseorang memandang dirinya sendiri dan pengalaman masa lalu yang belum diselesaikan.
Empat Respons Menghadapi Masalah
Mengulas Filipi 4:6-9, Yohan menjelaskan bahwa manusia umumnya memiliki empat respons ketika menghadapi persoalan.
Pertama, fight, yaitu melawan dengan emosi dan kemarahan.
Kedua, flight, memilih menghindari masalah.
Ketiga, freeze, memendam persoalan dan memilih diam.
Sedangkan yang keempat adalah faith, yakni menghadapi persoalan dengan iman, kasih, dan penyelesaian yang benar. “Alkitab mengajarkan kita untuk menyelesaikan persoalan bukan dengan amarah atau lari dari masalah, tetapi dengan iman kepada Tuhan,” katanya.
Tiga Kunci Mengatasi Kecemasan
Berdasarkan Filipi 4, Yohan menyampaikan tiga langkah praktis menghadapi tekanan hidup.
Pertama, membawa setiap persoalan kepada Tuhan melalui doa dan permohonan yang disertai ucapan syukur.
Kedua, memenuhi pikiran dengan segala sesuatu yang benar, mulia, adil, suci, dan patut dipuji sesuai Firman Tuhan.
Ketiga, melakukan apa yang telah dipelajari dan diajarkan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. “Doa mengubah hati kita, Firman Tuhan mengubah cara berpikir kita, dan tindakan iman membawa kita kepada damai sejahtera Allah,” tuturnya.
Kesehatan Mental Semakin Memprihatinkan
Dalam khotbahnya, Yohan juga menyinggung hasil survei mengenai kesehatan mental mahasiswa yang menunjukkan tingginya angka kecemasan dan depresi. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alarm bahwa persoalan mental kini semakin nyata dan membutuhkan perhatian bersama.
Ia menegaskan bahwa gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang pemulihan bagi mereka yang sedang bergumul dengan luka batin, stres, maupun depresi. “Firman Tuhan adalah kekuatan Allah yang sanggup menyelamatkan, mengubahkan, dan memulihkan setiap orang yang percaya kepada-Nya,” pungkasnya.SM

















