Ps Irjen Pol Daniel Silitonga: Ikut TUHAN, Jangan Banyak Alasan!

News, Religi418 Views

JAKARTA,VictoriousNews.com— Mengikut Yesus bukan sekadar bersemangat ketika menerima berkat, melainkan tetap setia saat doa belum terjawab, persoalan belum selesai, dan kenyamanan harus dikorbankan. Iman sejati tidak berhenti pada kata-kata, tetapi dibuktikan melalui ketaatan.

Pesan tegas itu disampaikan Ps Irjen Pol Daniel TM Silitonga, mantan Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 7 Desember 2023–20 Mei 2025, saat berkhotbah di GBI Pejaten, di bawah penggembalaan Pdt. Sapto Edhi Rahardjo, Mal Pejaten, lantai 3, Jakarta Selatan, Minggu (11/10/2026).

Berlandaskan Lukas 9:57–62, Daniel mengajak jemaat menguji kesungguhan iman: apakah benar-benar bersedia mengikuti Kristus, atau hanya datang kepada-Nya ketika kehidupan berjalan sesuai harapan?

“Apakah kita masih mau tetap mengikut Yesus ketika doa tidak dijawab seperti yang kita inginkan, masalah belum selesai, dan kehidupan tidak berjalan mulus?” demikian pertanyaan reflektif Daniel, yang pernah menjabat Kapolda Papua Barat pada 20 Juni 2022–7 Desember 2023.

Bagi pria kelahiran 8 Oktober 1968 ini, kesetiaan kepada Kristus tidak boleh ditentukan oleh keadaan. Mengikut Tuhan berarti tetap percaya ketika jalan kehidupan tidak selalu mudah, sekaligus bersedia melakukan kehendak-Nya tanpa terus mencari alasan untuk menunda ketaatan.

Ponari dan Daya Tarik Mujizat

Untuk menggambarkan kuatnya keinginan manusia mencari pertolongan melalui hal-hal ajaib, Daniel mengangkat fenomena Ponari, bocah asal Jombang, Jawa Timur, yang menjadi perhatian publik pada 2009 karena dipercaya mampu menyembuhkan penyakit menggunakan batu yang ditemukannya.

Kala itu, orang-orang dari berbagai daerah berdatangan untuk mendapatkan air rendaman batu tersebut. Fenomena ini memperlihatkan betapa besar harapan manusia terhadap kesembuhan dan betapa cepat sesuatu yang dianggap ajaib menarik perhatian publik.

Daniel kemudian mengajak jemaat merenungkan sebuah pertanyaan: jika sesuatu yang dipercaya memiliki daya penyembuhan mampu menarik begitu banyak orang, bagaimana dengan Yesus yang dalam kesaksian Injil menyembuhkan orang sakit, memulihkan mereka yang menderita, bahkan membangkitkan orang mati?

Namun, persoalan mendasarnya bukan sekadar berapa banyak orang mencari mukjizat, melainkan apakah mereka tetap setia mengikuti Yesus ketika tidak lagi menerima apa yang diharapkan.

Dalam iman Kristen, mukjizat bukan tujuan akhir pemuridan. Tanda-tanda kuasa Allah mengarahkan manusia kepada Kristus, tetapi iman sejati harus bertumbuh menjadi pertobatan, ketaatan, dan kehidupan yang selaras dengan kehendak-Nya.

Karena itu, mengikut Yesus bukan transaksi untuk memperoleh kesembuhan, kekayaan, jabatan, atau keberhasilan. Kristus bukan sekadar sarana memenuhi keinginan manusia, melainkan Tuhan yang layak diikuti dan ditaati.

Tiga Ujian Kesungguhan Mengikut Kristus

Daniel, yang menjabat Gubernur Akademi Kepolisian pada 27 Februari–2 Oktober 2026, menguraikan tiga percakapan Yesus dalam Lukas 9:57–62. Ketiganya menyingkap tiga tantangan mendasar dalam pemuridan: kenyamanan, prioritas, dan keteguhan komitmen.

Pertama, mengikut Yesus tanpa menjadikan kenyamanan sebagai syarat.

Lukas 9:57–58 mencatat seseorang yang berkata kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Namun, Yesus menjawab bahwa serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, sedangkan Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

Jawaban itu menegaskan bahwa mengikut Kristus bukan jaminan kehidupan yang selalu nyaman. Yesus sendiri berjalan menuju Yerusalem, menghadapi penolakan, dan menjalankan misi-Nya dengan kesediaan menanggung penderitaan.

Karena itu, komitmen iman perlu diuji ketika pekerjaan belum membaik, persoalan keluarga belum terselesaikan, atau doa belum dijawab sesuai keinginan.

Iman yang dewasa tidak menuntut Allah mengikuti agenda manusia. Sebaliknya, orang percaya belajar mempercayai-Nya sekalipun belum memahami seluruh jalan yang harus ditempuh.

Kedua, jangan menjadikan alasan sebagai penghalang ketaatan.

Dalam Lukas 9:59–60, Yesus memanggil seseorang untuk mengikuti-Nya. Namun, orang itu meminta izin terlebih dahulu untuk menguburkan bapaknya.

Yesus menjawab dengan tegas, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati, tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah.”

Perkataan ini tidak boleh dipahami sebagai perintah untuk meremehkan orang tua atau mengabaikan tanggung jawab keluarga. Alkitab justru menegaskan pentingnya menghormati ayah dan ibu. Sebagian penafsir memahami permintaan tersebut sebagai keinginan menunda keputusan sampai urusan keluarga terselesaikan. Namun, teks tidak menjelaskan secara terperinci keadaan keluarga orang tersebut.

Pokok utama perkataan Yesus terletak pada prioritas Kerajaan Allah. Panggilan-Nya tidak boleh terus-menerus ditunda oleh berbagai kepentingan yang pada akhirnya menghalangi seseorang untuk taat.

Daniel menghubungkan pesan ini dengan perumpamaan perjamuan besar dalam Lukas 14:16–24. Para undangan menolak hadir dengan berbagai alasan: membeli ladang, membeli lembu, dan baru menikah.

Alasan-alasan tersebut berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Namun, persoalannya muncul ketika kepentingan pribadi ditempatkan lebih tinggi daripada undangan yang telah diterima.

Pesannya jelas: jangan sampai alasan yang terdengar masuk akal justru menjadi penghalang untuk melakukan kehendak Tuhan.

Ketiga, jangan menoleh ke belakang setelah memutuskan mengikut Yesus.

Lukas 9:61–62 mencatat seseorang yang menyatakan kesediaannya mengikuti Yesus, tetapi meminta izin untuk berpamitan terlebih dahulu dengan keluarganya. Yesus kemudian berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Gambaran seorang pembajak yang harus menjaga arah pandangannya memberikan penekanan kuat tentang keteguhan komitmen. Perhatian yang terus terpecah membuat alur bajakan sulit berjalan lurus.

Demikian pula dalam pemuridan. Mengikut Kristus menuntut arah hidup yang jelas, bukan komitmen setengah hati yang selalu kembali dikalahkan oleh keinginan mempertahankan kenyamanan lama.

Perkataan Yesus bukan larangan untuk mengasihi keluarga atau mengenang masa lalu. Intinya, Kristus harus menjadi pusat kehidupan dan penentu arah setiap keputusan.

Daniel juga mengingatkan bahwa menjadi murid Kristus tidak cukup hanya dengan menghadiri ibadah, mendengarkan khotbah, atau mengagumi kuasa Tuhan. Orang percaya dipanggil untuk memberitakan Kerajaan Allah melalui perkataan, tindakan, dan kepedulian terhadap sesama.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan seberapa sering seseorang berkata bahwa dirinya mengikut Yesus, melainkan seberapa sungguh ia bersedia menaati-Nya. Ketika kenyamanan terganggu, doa belum terjawab, dan berbagai alasan muncul untuk menunda, di situlah kesetiaan diuji.

Mengikut Yesus berarti melangkah dengan iman, menetapkan Kerajaan Allah sebagai prioritas, dan terus berjalan dalam ketaatan. Bukan karena perjalanan itu selalu mudah, melainkan karena Kristus layak menjadi Tuhan atas seluruh kehidupan. SM

Comment