Pesan Kotbah Dalam Ibadah Kenaikan Yesus, Ps. Abraham Conrad Supit: Jadikan Kehidupan Kekristenan Yang Luar Biasa

Pesan Kotbah Dalam Ibadah Kenaikan Yesus, Ps. Abraham Conrad Supit: Jadikan Kehidupan Kekristenan Yang Luar Biasa

Jakarta, Victoriousnews.com,-  “Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yesus, karena melalui kenaikanNya ke Sorga, maka setiap umat yang telah ditebus dan diselamatkan disediakan tempat di sana (Yoh 14: 2).  Oleh sebab itu, kita harus percaya dengan iman yang teguh, bahwa Dia akan datang menjemput kita dan menyediakan tempat kekekalan kedua yang Tuhan berikan,” ujar Ps. Abraham Conrad Supit mengutip nats Alkitab yang terambil dalam kitab Kisah Para Rasul 1:6-11 ketika menyampaikan firman Tuhan dalam ibadah kenaikan Tuhan Yesus Kristus di GBI Victorious Family Ministries Kelapa Gading, Kamis (30/5).

Menurut Ps. Abraham, sebagai umat tebusanNya, harus menjadikan momentum hari Kenaikan Tuhan Yesus ini sebagai langkah kehidupan kekristenan yang luar biasa. Karena ketika Tuhan Yesus telah memberikan teladan luar biasa, rela disalib, mati, bangkit dan naik ke Sorga demi manusia berdosa.

“Makanya, kita harus menjadi pribadi yang luar biasa. Bukan biasa-biasa saja. Jika kita ada persoalan, jangan kecil hati, putus asa, tawar hati atau kecewa. Tetapi yakinilah bahwa Tuhan Yesus sanggup memberikan jalan keluar serta memberikan penghiburan. Kenapa? Karena jika kita merenungkan kembali dan membaca kembali kitab kejadian (ketika manusia jatuh dalam dosa), apabila Tuhan Yesus tidak datang ke dunia dengan kasihNya, maka kita dipastikan akan binasa karena tidak tidak memperoleh hidup kekal,” tutur Ps. Abraham mengutip ayat Yoh 3: 16, Kej 1:26; Kej 2: 15; Kej 3: 1-5;  Fil 2:6,7; Yes 9:6; Yoh 14:26; Kis 1:6-7; 1Kor 3: 9; Yoh 14: 12

Setelah taburan firman Tuhan, dilanjutkan dengan prosesi Perjamuan Kudus dan Ps. Abraham Conrad Supit didaulat untuk mendoakan jemaat maupun pengerja yang berulang tahun sepanjang bulan Mei 2019. Kemudian ibadah diakhiri dengan doa berkat yang dipimpin langsung oleh Gembala Sidang, Ps. Abraham Conrad Supit dan dilanjutkan dengan santap siang bersama. SM

Pesan Yasona H Laoly (Menkumham RI) dalam HUT PGI ke 69: Peran PGI dan gereja dibutuhkan untuk merajut keutuhan bangsa

Jakarta, Victoriousnews.com,-Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia mengatakan bahwa peran PGI dan gereja-gereja di Indonesia dibutuhkan untuk merajut keutuhan bangsa. Hal itu disampaikan  Yasona H Laoly, dalam sambutannya pada Ibadah Syukur 69 Tahun PGI di GKPS CIlilitan Jakarta Timur yang berlangsung Minggu, 26 Mei 2019.

Menkumham RI, Yasona H Laoly

“Saya tidak tahu apa yang salah dengan bangsa kita  ini. Perlu dibawakan dalam doa agar kepemimpinan yang akan dilantik Oktober 2019 nanti bisa meyakinkan bangsa ini meninggalkan paham-paham radikal. Di sinilah peran kita anak-anak Tuhan, untuk tampil beda, membawa dan mengusahakan damai di negeri ini. Juga peran PGI dan gereja gereja dalam merajut keutuhan bangsa”, demikian sambutan Laoly seperti dilansir dalam siaran Pers PGI yang dikirim oleh Humas PGI, Irma Simanjuntak.

Rangkaian peringatan didahului dengan   acara pada tanggal 25 Mei 2019 di Grha Oikoumene Jalan Salemba Raya No. 10 Jakarta melalui Dialog Lintas Iman yang dihadiri perwakilan agama-agama dan penghayat kepercayaan di Indonesia. Tema dialog  adalah Seruan Damai Pasca  Pengumuman Rekapitulasi Suara oleh KPU.

Setelah dialog dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan pagelaran wayang yang menghadirkan wayang kulit  sabda dengan tema Kebangkitan Yesus dengan dalang Ki Padmono SK dan Pdt. Ki Suyito Basuki.

Puncak perayaan HUT 69 tahun ini dilakukan melalui ibadah syukur pada hari Minggu, 26 Mei 2019 dengan tuan rumah GKPS Cililitan Jakarta Timur. Tema bulan Oikoumene PGI tahun 2019 adalah Berbahagialah Orang yang Membawa Damai (bdk Matius 5:9) dan pembawa firman dalam ibadah syukur ini  adalah Pdt.Yosi Octafred Rorimpandei dari Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI)

Dalam sambutannya, Ephorus GKPS, Pdt. Rumanja Purba sangat bersyukur ditunjuk sebagai tuan rumah HUT PGI ini sebab GKPS CIlilitan kedatangan tamu tokoh-tokoh oikoumenis dari berbagai tempat di Indonesia. Jemaat GKPS Cililitan yang merupakan gudang dari paduan suara berbakat juga berkesempatan menampilkan tarian dan pujian-pujian di hadapan tamu.

Lebih lanjut Ketua Umum PGI, Pdt. Heinriette Hutabarat Lebang  menyampaikan rasa syukur dan terima kasih buat semua pihak yang datang ke perayaan HUT PGI ini. Juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada GKPS Cililitan sebagai tuan rumah perayaan ini.  Tak lupa Pdt. Heinriette mengajak warga gereja untuk tetap sebagai pembawa damai di tengah ancaman perpecahan bangsa pasca pengumuman hasil rekapitulasi suara oleh KPU.

Ibadah syukur ini juga dihadiri oleh Eforus GKPS, Eforus HKBP, Ketua GKO, Ketua GMII, Ketua GPI, Sekum GPIB, selain MP, BPP, MPH dan Staf PGI serta pimpinan lembaga-lembaga mitra PGI dan jemaat GKPS Cililitan. SM

MEMAKNAI KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA

Suatu kebodohan kalau orang Kristen merayakan hari kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, tanpa mengerti makna yang terkandung dalam peristiwa tersebut. Untuk itu perlu dipertanyakan makna apakah yang terkandung di dalamnya. Sebelum Kristus naik ke Surga, Ia sudah beberapa kali membicarakan hal tersebut, (Yoh 8:21); (Yoh 16:7). Kalau Tuhan Yesus sudah menyebutnya beberapa kali mengenai hal kenaikanNya ke Surga, tentu hal itu memiliki makna yang penting, baik bagi Tuhan Yesus maupun bagi orang percaya. Bagi Tuhan Yesus, kenaikanNya ke Surga adalah dipulihkan kembali keadaanNya. Ia kembali pada posisinya semula. Ia duduk disebelah kanan Allah dan ditinggikan menerima kemuliaan, (KPR 2:33); (1 Petrus 3:22); (Ibrani 8:1). Dengan demikian kenaikan Tuhan Yesus juga menunjukan bahwa Ia menerima kuasa pemerintahan. Jadi bila kita berada dipihak Tuhan sebagai sekutuNya, maka kenaikan Tuhan Yesus merupakan momentum yang sangat penting. Bagi orang percaya, kenaikan Tuhan Yesus memberi arti besar yaitu bahwa hubungan orang percaya dengan Tuhan semakin dalam.

Tuhan Yesus berkata bahwa lebih baik bagiNya, kalau Ia naik ke Surga, sebab kenaikanNya, Roh Kudus turun (Yoh 16:7). KenaikanNya ke Surga tidak membuat hubungan orang percaya dengan Tuhan semakin jauh, sebaliknya justru menjadi semakin dekat. Sebab dengan kedatangan Roh Kudus maka Ia tinggal di dalam kita. Ia dapat menjadi orang percaya sampai kesudahan zaman, (Matius 28:18-20). Roh Kudus juga mengajarkan segala kebenaran kepada orang percaya, (Yoh 16 : 7-8).

Roh kudus memberikan kuasa kepada orang percaya untuk menjadi saksi, (KPR 1:8); (Yoh 20:21). Dengan demikian maka orang percaya mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam rencana penyelamatan dunia. Dengan kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, dunia dan manusia masuk ke dalam era baru, era terakhir dalam sejarah dunia yaitu era Roh Kudus. Dalam hal ini fokus kehidupan tidak lagi ditujujan kepada perkara-perkara fana dunia ini, tetapi kepada Persiapan menuju Kerajaan Allah yang akan datang, (KPR 1:6-8). Dalam (KPR 1:9-11), diatas mengenai malaikan yang berkata bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama ketika Ia naik ke Surga. Ia akan datang kembali kalau persiapan pemulihan KerajaanNya telah selesai. Pemulihan Kerajaan Israel ini merupakan tujuan perjalanan  orang percaya, sebab pada pemulihan Kerajaan Israel tersebut, orang percaya akan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Dengan kenaikan Tuhan Yesus orang percaya dipanggil untuk bekerja keras, yaitu  bertumbuh dewasa  dan menjadi saksi melayani Tuhan, (KPR 1:6-8)

MENUNGGU JANJI BAPA; (KPR 2:4). Setelah kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, murid-murid harus tetap tinggal di Yerusalem, menantikan apa yang disebut “Janji Bapa”. Mereka menantikan turunnya Roh Kudus. Ini adalah peristiwa besar dalam sejarah gereja, sebab sejak hari Pentakosta tersebut, gereja disyahkan sebagai utusan Tuhan ditengah-tengah dunia. Banyak orang salah memahami, dalam peristiwa turunnya lidah-lidah api yang mereka tebarkan adalah turunnya Roh Kudus. Sebenarnya Roh Kudus sudah dihembuskan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya sebelum hari Pentakosta tersebut, (Yohanes 20:22). Kalau dikatakan bahwa Roh Kudus baru Turun di hari Pentakosta, lalu apakah Roh yang dihembuskan oleh Tuhan Yesus sebelum peristiwa Pentakosta tersebut. Sebenarnya Roh Kudus telah diberikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya sesuai dengan janjiNya. Tetapi Roh Kudus baru bekerja secara aktif ketika Ia naik ke sorga dan diresmikannya zaman gereja Tuhan di hari Pentakosta. Itulah sebabnya “Pentahbisan Gereja”, dilakukan Tuhan dengan tanda-tanda yang menarik perhatian banyak orang. Tanda-tanda yang menarik perhatian banyak orang. Tanda-tanda itu antara lain turunnya dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah. Lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Mereka penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata  dalam bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan oleh Roh Kudus itu kepada mereka untuk mengatakanya. Itulah yang menyebabkan  orang-orang yahudi yang datang dari segala tempat dan berkumpul di Yerusalem menyaksikan peristiwa tersebut. BM

Hormatilah ayahmu dan ibumu…supaya lanjut umurmu!

NATS: Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, supaya lanjut umurmu (Ulangan 5:16)

Waktu itu tahun 1727. Di sebuah toko buku kecil di Lichfield, Inggris, seorang pria yang terbatuk-batuk sedang mengepak buku-buku untuk dijual di kios bukunya di pasar, tepatnya di Uttoxeter. Di tengah batuknya, ia menyuruh putranya yang berusia 18 tahun untuk mengantarkan buku-buku itu. Namun si anak muda yang sedang asyik membaca novel klasik Latin itu tidak mengindahkan perintah sang ayah meski ia mendengarnya. Kereta angkutan yang hendak ke pasar telah tiba, dan pria itu berjalan keluar di tengah guyuran hujan sambil membawa sendiri buku-bukunya, dan melakukan perjalanan sejauh 32 km ke pasar.

Lima puluh tahun kemudian seorang pria tua berdiri berjam-jam di tengah guyuran air hujan di sebuah kios buku di Uttotexer. Tatkala badai reda, perlahan ia kembali ke kereta yang menunggunya dan pulang. Di situlah ia menundukkan kepala dan menangis tersedu-sedu. Ia adalah sastrawan yang terkenal dan jenius, Samuel Johnson. Rupanya ia terkenang akan apa yang telah diperbuatnya terhadap sang ayah bertahun-tahun yang lalu.

Menghormati orangtua bukanlah sekadar kewajiban, tetapi merupakan hak istimewa. Sebagai anak, kita menghormati mereka dalam bentuk ketaatan; sebagai orang dewasa, kita menghormati mereka dengan cara menelepon, mengunjungi, serta mempedulikan mereka-yang jelas membutuhkan pengorbanan diri kita. Apabila kita kehilangan kesempatan untuk menunjukkan kasih dan penghormatan kepada mereka, maka kelak kita akan sangat menyesalinya.

Perintah yang harus kita ikuti sederhana: “Hormatilah ayahmu dan ibumu.” Allah selalu memberikan ganjaran atas kketaatan. Anak-anak yang mengecewakan orangtua berarti lupa kepada yang telah membesarkan mereka. ***

Miliki Iman Yang Kuat!

Orang Kristen yang telah mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi, harus meningkatkan mutu hidup rohaninya. Tuhan Yesus meminta kepada umatNya agar tulus dalam menjalani rencanaNya. Dalam kisah Alkitab,  diceritakan bahwa Ruth dengan tulus hati mengikuti Naomi. Maria juga dengan tulus hati mengikuti petunjuk malaikat Tuhan dalam menjalani rencana Allah, sehingga menjadi ibu Sang Juruselamat. Oleh karenanya, kita harus berani menjalani hidup ini sesuai dengan rencana Allah.

Ironisnya, fakta yang terjadi belakangan ini; jejaring sosial Facebook, justru menjadi ajang atau tempat pelampiasan emosi, kekesalan, unek-unek dan hal tidak penting lainnya. Bahkan anak-anak zaman sekarang cenderung tidak lagi mau mendengarkan orang tuanya. Disinilah pentingnya sebagai orangtua, kita berperan penting dalam menjaga kualitas rohani, terutama kepada anak-anak titipan Tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa justru anak-anak Tuhan sering jatuh bangun dalam meningkatkan kerohaniannya?

Ada dua hal yang menjadi penyebabnya, yakni: Pertama, Karena Umat Tuhan mempunyai dasar yang rapuh. Dalam kitab Matius 7: 24 dituliskan, kenapa rumah ini hancur? Karena fondasinya tidak kuat. Fondasi yang tidak kuat akan membuat umat Tuhan tidak bisa membangun pada tingkat yang lebih tinggi lagi. Demikian halnya dengan kehidupan “rumah rohani”. Perhatikan fondasi bangunan yang kuat dan bertingkat. Bagaimana campuran semennya tidak boleh kurang atau lebih. Tidak boleh ada kekurangan atau cela sedikitpun dalam membangun. Demikian pula dalam membangun fondasi kehidupan. Karena fondasi yang salah adalah cela yang dapat digunakan oleh Iblis untuk menghancurkan umat Tuhan.

Solusi yang paling ampuh untuk memperbaharui rohani adalah dengan membaca Alkitab/Firman Tuhan dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu adalah membangun iman dengan cara mentaati Firman Tuhan. Mentaati Firman Tuhan supaya diberikan hati dan roh yang baru. Yohanes 11: 19, supaya kehidupan rohani umat Tuhan terbangun. Ada dosa yang ditinggalkan. Sebab itu berilah waktu untuk membaca Alkitab. Bagaimana umat Tuhan bisa berbuah, yaitu, harus melekat pada pokok anggur itu. Kalau terlepas, umat Tuhan akan menjadi kering.

Kedua, Karena Umat Tuhan Tidak Bertobat Sungguh-Sungguh.  Pertobatan yang sungguh-sungguh akan membawa umat Tuhan lebih tinggi dalam peningkatan dan pertumbuhan rohani. Pertobatan bukanlah tangisan. Pertobatan bukanlah penyesalan. Pertobatan bukanlah “takut” karena dikejar Polisi! Pertobatan yang sesungguh adalah membawa kepada suatu perubahan kehidupan rohani umat Tuhan yang unggul.  Perlu sekali dalam hidup ini ada pertobatan yang sejati, yakni perubahan pola pikir, perubahan karakter lama, perubahan cara berbicara, perubahan tingkah laku. Secara umum pertobatan ibarat “Proses perubahan kepongpong menjadi kupu-kupu”.

Kalau pola hidup lama (karakter lama) masih ada, itu bukanlah pertobatan yang sungguh-sungguh. Galatia 2: 19-20, Paulus mengatakan pola hidup baru berarti bukan aku lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku. Roma 12: 2, hidup baru berarti ada perubahan akal budi supaya kehidupan rohani umat Tuhan terbangun. Tuhan Yesus Memberkati!

Tony Melendez; GITARIS TANPA LENGAN, YANG MEMULIAKAN TUHAN DARI KEKURANGANNYA!

 

Tony Melendez adalah sang Misionaris yang mewartakan musik dengan kaki, inilah julukan yang pantas untuk seorang Tony Melendez yang memiliki kekuatan Iman, yang mungkin tidak kita miliki. Tony dilahirkan tanpa tangan karena ibunya mengkonsumsi obat anti mual Thalidomide selama masa hamil Tony. Dia kemudian dibawa ke Los Angeles dari Nikaragua untuk dipasang tangan palsu. Tony memakai tangan palsu sampai berumur 10 tahun, setelah itu dia tidak mau memakainya lagi. Dia mengatakan : “Aku merasa tidak nyaman memakai tangan palsu, aku bisa memakai kakiku untuk sesuatu yang lebih banyak lagi. Kecakapannya menggunakan kakinya semakin meluas pada semua hal. Kata Tony ; “Aku ingat hal pertama yang kupelajari adalah memainkan organ. Kemudian di sekolah menengah atas aku mulai bermain gitar dan harmonika”. Dia juga mulai menulis lagu sendiri. Sekalipun Tony berkecimpung di dunia musik dan belajar di sekolah normal, Tony tidak menjadikan ketidaksempurnaannya menjadi hambatan buat dia. “Aku sangat menikmati hal-hal apapun yang bisa kukerjakan,” katanya.

Tanggal 15 September 1987 adalah saat saat yang tak terlupakan, ketika Tony Melendez bermain gitar untuk Paus Paulus Yohanes II di Los Angeles.  Dilahirkan tanpa lengan, Tony menampilkan sebuah lagu yang sangat menyentuh berjudul “Never Be The Same”. Ketika Paus mendekati dan menciumnya dengan penuh perasaan, saat itu paus seperti mewakili perasaan semua orang di seluruh negeri.

“Never Be The Same” adalah lagu yang tepat yang menggambarkan momen-momen yang merubah kehidupan Tony Melendez dan menjadikannya seorang gitaris yang menarik perhatian negerinya. Lagu itu sangat cocok menceritakan seorang laki laki yang menghabiskan hidupnya dengan yakin di atas ketidaksempurnaannya. “Di hari kelahiranku, ibuku tak sadar kalau aku tak punya tangan. Saudara-saudaraku segera menjauhkanku dari ibuku. Dokter yang menangani adalah adik nenekku. Saat itu aku diperlihatkan pada ibuku dengan masih tetap diselimuti tapi ibuku tak boleh lama-lama memelukku. Sampai akhirnya ibu memaksa. ‘Berikan putraku, aku ingin melihatnya, ada apa? Ada apa?’ suara ibu setengah berteriak. Mereka membawaku ke kamar dalam keadaan masih terbungkus selimut. Dan untuk pertama kalinya ibu melihatku, tanpa tangan,” kisah Tony

“Apa yang terjadi? Air mata mengalir dari matanya. Saat itu, nenekku masuk ke kamar memegang dan mengguncang pundak ibuku, ‘Ini putramu. Kasihi dan ajari dia. Biarkan ia tumbuh dewasa,”‘ kenang Tony penuh haru.

Ketika Tony mulai tumbuh besar, ibunya mengatakan kalimat sederhana namun penuh makna, “Tuhan menciptakanmu seperti ini, kau harus menerimanya.” Tony sadar betul, ia memang berbeda. Tak punya tangan, jari dan lengan. Penyebab kecacatan Tony adalah obat polithemaid, pereda mual yang diminum ibunya saat sedang mengandung. Mereka tak tahu kalau obat ini akan berdampak buruk. Dari keadaan yang dialaminya terciptalah lagu berjudul You Are His Miracle.

Diperlakukan seperti orang normal

Meski terlahir tak sempurna, kedua orangtua Tony memperlakukannya seperti anak yang lain. “Kulakukan semua dengan kakiku. Aku bisa menulis, memegang pisau dan memotong tomat. Ayahku biasanya bilang, ‘Biarkan Tony melakukannya saat ibu ingin membantuku,”‘ jelas Tony yang memoles bakat musiknya di gereja dan sebuah SMA di Chino, 64 km di timur Los Angeles.

Saat Tony masih sangat kecil, ayahnya, kelahiran El Savador, kerap menyuruhnya menyanyi dan menari dengan diiringi gitar sang ayah. Nampaknya di situlah ketertarikan Tony terhadap gitar mulai muncul. “Latihan musikku adalah melihat ayah main gitar gaya klasik Spanyol. Aku lalu berlatih. Umur 16 tahun akhirnya aku bisa main gitar, ayah pun bangga,”‘ tutur Tony.

Dua saudaranya, Jose dan Mary, mengakui Tony sangat mandiri, seperti orang normal. Ia tak banyak butuh bantuan kecuali hal yang sangat memerlukan ‘tangan orang lain’ seperti mengancingkan baju atau menutup resleting. Keluarga Tony tiba di Los Angeles 1963 setelah menempuh perjalanan bermobil dari Nikaragua, negara asal ibu Tony. Mereka mengurus perawatan medis bagi Tony di RS Ortopedi, LA, karena Tony tak bisa jalan.

Menjadi Suami  & Ayah

Tak terbayang oleh Tony, ia menikah dengan seorang wanita yang amat mencintai dan menghormatinya, Lynn. Ketika janji nikah diucapkan, mata Tony berkaca-kaca. Ia menatap dalam-dalam mata Lynn. Karena tanpa tangan, Lynn memakaikan kalung di leher Tony dengan ‘liontin’ cincin pernikahan. Mereka sepakat menjadi satu dalam berkat Allah.

Satu setengah tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak. Mereka pergi ke rumah yatim piatu di El Savador. Banyak perjuangan, kepedihan dan tangisan dan juga memeriksakan diri, kami melihat apakah ada anak yang terabaikan. Satu tahun kemudian kami mengadopsi Marissa,” tutur Tony. Menjadi ayah sangat menyenangkan, tambah Tony. Meski Tony tak dapat memeluk Marissa, ia dapat mengungkapkan kasih seorang ayah terhadap anaknya. Ia masih bisa menggendongnya! Marisa pun seolah mengerti betul keadaan Tony, dengan tangan mungilnya ia bergelayut di punggung ayahnya. Setahun setelah konser, Tony dan Lynn mengadopsi anak kedua, Andreas dari Nikaragua.

Berkat Tuhan mengalir dalam diri Tony sehingga bisa berkeliling dunia, memberi harapan pada banyak orang. Ia tampil di berbagai acara TV di Amerika, termasuk Good Morning America. Tony memang pantas mendapat penghargaan Inspirational Hero Award dari NFL Alumni Association di Miami dan Branson untuk kategori Best New Artist 1999. Ia misionaris yang mewartakan dengan musik di kakinya memberi pengharapan. ‘Ulurkan tangan, sentuh dengan tanganmu …. Jadikan dunia ini tempat yang lebih baik’.

Pdt. I Ketut Darsana, SPAK; BALITA YANG MALANG ITU… KINI MENJELMA JADI HAMBA TUHAN LUAR BIASA!

Perjalanan hidupnya sedari bocah kerap diwarnai dengan badai persoalan. Sejak berumur setahun, I Ketut Darsana harus rela kehilangan ayahnya yang dianiaya oleh sekelompok massa tak dikenal sampai meninggal. Penderitaannya semakin bertambah, ketika sang Ibu pun meninggalkan dirinya lantaran “dipaksa” menikah dengan salah seorang Pria yang menghabisi nyawa ayahnya. Darsana kecil sontak menjadi anak terlantar, kemudian dirawat oleh sang Paman. “Aku lahir di sebuah desa di Singaraja, Bali. Karena gejolak politik tahun 1965, ayahku dengan 4 saudara laki-lakinya dibunuh oleh sekelompok massa. Waktu itu, usiaku belum genap 1 tahun. Setelah ayahku meninggal, Ibuku harus menikah dengan salah seorang massa pembunuh ayahku. Hidup dibawah tekanan, maka ibuku menikah dan meninggalkan aku sebagai balita yang malang. Kemudian aku dirawat oleh paman. Yang kuingat saat itu, pamanku ini seorang yang tidak memiliki hati Bapa, senang berjudi dan main perempuan serta pemalas. Jadi sejak kecil aku harus hidup dari hari kehari dalam penderitaan. Membantu paman mencari nafkah, kerja apa saja untuk bertahan hidup. Kelaparan, penderitaan, kekerasan fisik dan hinaan akrab dengan aku,” kenang Pria kelahiran Singaraja, 3 Oktober 1964.

Lantaran sejak bayi sudah menjadi anak yatim, Darsana pun tak tahu nama dan wajah ayahnya. Darsana hanya ingat nama Ibunya yang bernama Luh Sini. Tahun demi tahun Darsana bertumbuh tanpa pernah menikmati kebahagiaan masa kecil dan kasih sayang dari orang tua, karena dirampas oleh “sejarah kelam” yang memilukan hati. Bermain dengan anak sebaya, menikmati makanan enak, tempat tidur nyaman, dan sebagainya pun tak pernah dirasakan. “Hari ini aku bisa makan, besok belum tentu ada makanan. Kecuali aku sendiri harus bekerja keras menjadi seorang anak pemungut jelai padi di belakang rombongan orang-orang dewasa yang sedang menuai padi di sawah. Bahkan untuk mencapai lokasi panen padi, aku harus berjalan kaki tanpa alas kaki sejauh belasan kilo meter,” tutur Darsana mengisahkan kembali kehidupan masa kecilnya.

Penderitaan demi penderitaan pun terus dialami oleh Darsana. Meskipun sudah lelah bekerja membantu sang paman dalam mencari nafkah,  namun perlakuan tak menyenangkan kerap menerpanya. “Aku sering dimarahin, dimaki bahkan dipukuli. Aku harus menerima keadaan itu. Sebab beliau adalah pamanku yang berfungsi sebagai pengganti ayahku. Suatu hari aku tidak tahan dengan semua penderitaan hidup, aku lari ke kuburan ayahku dan menangis di sana. Aku minta agar ayahku membawaku dalam kematiannya. Aku bilang mengapa aku harus lahir? Setelah beberapa waktu berlalu, aku mulai sadar dan tiba-tiba ingin melanjutkan sekolah untuk mengubah nasib. Tetapi bagaimana bisa sekolah? makan saja susah, selama ini sekolah selalu gratis. Kemudian aku berjanji, siapa saja yang bisa menolongku membiayai sekolah aku akan ikut agama orang yang baik hati itu sampai nanti aku tamat dan sudah bekerja, aku akan kembali lagi ke agama leluhurku. Sebelum aku tamat Sekolah Dasar, datanglah seseorang yang baik hati itu menawarkan bantuan untuk melanjutkan sekolahku. Aku pikir, dia adalah utusan Tuhan bagiku sehingga akupun bisa melanjutkan sekolah hingga akhirnya aku bertobat dan menjadi pengikut Kristus ketika duduk di bangku kelas 6 SD,” ungkap suami dari Susy Evawati Tjandra.

Merintis pelayanan & diserbu massa radikal

Seiring bergulirnya waktu, Darsana pun semakin teguh dalam pengenalan akan Juruselamat pribadinya. Hingga suatu saat selepas SMA, ia merantau ke Jakarta untuk melanjutkan studi teologi di ITKI Petamburan. “Setelah lulus, saya kemudian kembali ke Bali untuk merintis sebuah  pelayanan. Tapi ketika saya menggembalakan jemaat, harus menghadapi sekelompok massa radikal yang berunjuk rasa akan meresolusi tempat ibadah. Tepatnya pada bulan Agustus 2011, massa datang ketika saya sedang menyampaikan firman Tuhan. Mereka sudah masuk ke dalam ruangan gereja. Suasana pun mencekam dan membuat jemaat ketakutan dan tertekan. Massa yang datang itu menolak kehadiran gereja dan memerintahkan untuk segera menutup tempat ibadah. Langkah dialog dengan segala cara ternyata tak membuahkan kesepakatan, kecuali menutup dan pindah ke tempat yang baru walaupun sudah mengeluarkan uang untuk sewa tempat selama 5 tahun. Saya merasakan tekanan luar biasa. Karena hal itu sudah terjadi berkali-kali dalam pelayanan saya, hati saya pun mulai tawar dan kecewa. Saya protes, kenapa gereja selalu dihambat di negeri ini? Dalam titik kecewa dan tawar hati itulah, istri dipakai Tuhan untuk menguatkan saya. Istri saya bilang ‘pa…tetap kuat ya. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Hanya Tuhan saja kekuatan kita. Mulai saat itulah saya memutuskan untuk mencari Tuhan lewat doa dan puasa. Dalam pergumulan saya yang luar biasa itulah saya dijamah dan dipulihkan Tuhan secara luar biasa. Walaupun  massa menutup tempat ibadah, tetapi lewat penyerahan kepada Tuhan, hati saya tetap kuat untuk meneruskan pelayanan penggembalaan dan penginjilan bagi jiwa-jiwa di Pulau kelahiran saya,” ujar ayah dari Gede David Ebenhaezer ini menceritakan pengalaman pahitnya ketika merintis sebuah pelayanan di Bali.

Belajar dari pengalaman memilukan dalam pelayanannya itulah menginspirasi Pria yang kini telah menjadi seorang gembala di sebuah gereja di Denpasar dan Singaraja ini untuk menciptakan beragam lagu rohani. Serangkum lagu buah karyanya pun dikemas dalam album bertajuk ‘Yesus Kekuatanku’. “Kasih Tuhan kepadaku luar biasa indahnya, bukan saja menyelamatkan hidupku, Dia juga telah mati bagi dosa-dosaku, dan memberikanku segala yang baik. Kini aku menjadi seorang hamba Tuhan, Pendeta sebuah gereja, pendiri sebuah yayasan yang sedang membangun Panti Asuhan untuk anak-anak yang malang. Aku melihat diriku dalam diri mereka. Andai saja tidak ada yang mengulurkan tangan, maka  aku tidak akan pernah menjadi seperti sekarang ini. Tuhan juga mengaruniakan kepadaku talenta yang lain, sehingga aku juga sebagai pencipta dan penyanyi rohani. Kini albumku ada di seluruh Indonesia. Bukan bermaksud mencari popularitas tetapi aku mau menyampaikan pesan Tuhan melalui rangkaian kata dan nada,” ungkap hamba Tuhan yang kini telah memiliki 2 album rohani, “Yesus Pembelaku dan Yesus Kekuatanku.

Menurut Darsana, dalam perjalanan hidup kita, melayani Tuhan bukan berarti bebas dari airmata, bebas persoalan, tetapi hal itu akan dapat kita atasi ketika kita dekat dengan Tuhan. “Tuhan bukan hanya membela kita, tetapi memberikan kekuatan yang luar biasa,”pungkas hamba Tuhan yang diberi karunia dalam berolah vokal dan menciptakan lagu kepada wartawan di kantor Impact Music, Jakarta Selatan. (sumber: tabloid victorious edisi 691). SM

PDT.SAMUEL JIANTO, BERKALI-KALI DIANCAM DIBUNUH DALAM MELAYANI TUHAN!

Tak pernah terbersit dalam benak Samuel Jianto kecil untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Cita-citanya sewaktu bocah adalah ingin menjadi seorang pengusaha atau menjadi pemain sepakbola professional. Maklum, saking hobinya menggandrungi sepakbola dengan teman sebayanya, Samuel juga pernah masuk sebuah klub di Jawa Timur kala itu. Namun, berkat nazar orangtua yang juga seorang Pendeta, Samuel tidak bisa lari dari panggilan Tuhan. “Saya adalah anak sulung. Anak yang dinazarkan oleh orang tua saya. Sebab saya lahir, setelah papa-mama menikah 10 tahun. Makanya saya dikasih nama Samuel.  Dan akhirnya Tuhan kasih bonus, saya dikasih 4 adik. Jadi saya lima bersaudara. Ketika Papa bernazar, anak sulung harus menjadi hamba Tuhan,” tutur Samuel Jianto membuka perbincangan sembari menambahkan bahwa orang tuanya adalah seorang hamba Tuhan yang merintis pelayanan di Pulau Madura sejak 1946, khususnya di Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan.

                 Keinginan Samuel untuk menjadi pemain bola sewaktu kecil bukanlah tanpa alasan. Sebab, bagi Pria kelahiran 29 Januari 1959, menjadi pemain bola professional itu lebih menjanjikan untuk mendapatkan uang saku ketimbang menjadi seorang hamba Tuhan kala itu. Berbanding terbalik dengan kondisi yang dihadapi oleh orangtuanya yang mengabdikan diri untuk melayani Tuhan—hidup serba kekurangan dan kesederhanaan. “Saat itu saya kecil, mengalami hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan.  Jadi saya bisa naik motor itu setelah tamat SMA.  Itupun motor pinjaman. Karena waktu itu belum pernah punya motor. Jadi kami terbiasa hidup sederhana,” ungkap lulusan Sekolah Alkitab Beji, Malang tahun 1977.

                Setelah usianya beranjak remaja, Samuel mengalami kisah pertobatan yang unik. Saat itu ada anak dari seorang pengusaha yang sakit dan minta untuk didoakan. Padahal saat itu, meski Papanya adalah seorang Pendeta, Samuel masih suka curi waktu untuk menonton bioskop yang gedungnya bersebelahan dengan gereja dimana Papanya melayani. Namun, mungkin sudah waktunya Tuhan, apa yang pernah dinazarkan oleh sang Papa digenapi. Cara Tuhan adalah menjadikan Samuel untuk menggantikan posisi Papanya untuk mendoakan orang sakit. “Ketika masuk SMA kelas 1, ada orang dari PT Bentoel itu membawa anaknya yang sakit ke Pastori dan minta didoakan.  Waktu itu Papa saya sedang ada pelayanan ke luar kota beberapa hari. Kemudian saya katakan besok datang lagi. Orang tersebut, bertanya, kalau didoakan apakan sembuh? Saya katakan dengan iman pasti sembuh. Sebenarnya waktu itu, di saku saya ada tiket untuk menonton bioskop yang letaknya di sebelah gereja papa saya. Tapi gara-gara ada orang yang minta didoakan, saya tidak jadi nonton dan masuk kamar untuk berdoa. Saya bilang kepada Tuhan ‘Tuhan, besok orang yang datang itu harus sembuh ya Tuhan. Pokoknya saya terus meminta dan  berdoa kepada Tuhan agar orang yang sakit itu disembuhkan. Mulai saat itulah saya dipenuhi Roh Kudus untuk pertamakalinya.  Dan mulai sejak itu saya lupa nonton film dan lupa dengan gedung bioskop. Keesokan harinya, orang yang minta didoakan datang lagi. Kemudian saya yang saat itu mengalami kepenuhan Roh Kudus meyakini bahwa segala penyakit pasti disembuhkan Tuhan. Dan ternyata benar, setelah saya doakan orang tersebut disembuhkan Tuhan,” kenang suami dari Erni yang kini telah dikaruniai 3 anak (Steven, Philip dan Priskila).

Semenjak peristiwa itulah yang kemudian menjadi titik balik pertobatannya. Samuel menggenapi nazar sang Papa dan berkomitmen untuk meneruskan pelayanannya di Pulau Madura. “Setelah saya mengenal Tuhan, akhirnya saya membantu melayani di gereja.Saya makin terbeban dan cinta kepada pelayanan. Saya juga banyak melayani gereja pantekosta. Saya pikir gereja ini merupakan wadah yang tepat untuk saya dalam melayani. Saya punya beban untuk mengembangkan gereja. Karir saya itu saya mulai dari bawah. Saya pernah jadi anggota KP remaja, Sekretaris KP remaja, hingga ketua KP remaja,” ujar Pria yang kini telah dipercaya menjadi Ketua MD Jawa Timur.

Samuel mengaku, melayani Tuhan di Pulau Madura itu kerap mengalami gangguan, teror bahkan ancaman untuk dibunuh. “Melayani Tuhan di Madura, itu secara kontekstual. Kita harus tahu karakter mereka. Kalau bicara soal hambatan, kami sudah terbiasa.  Misalnya, gereja dilempari kotoran dan kacanya dipecahin. Saya pernah ketika sedang berkotbah dilempari telor busuk. Bahkan berkali-kali diancam mau dibunuh. Tetapi semua itu bisa dilewati, ketika kita terus menyerahkan persoalan kepada Tuhan,” tutur Samuel yang meneruskan penggembalaan pada tahun 1980.

Bagi Samuel, sebagai seorang hamba Tuhan harus tahan banting dalam melayaniNya. Tidak boleh mudah mengeluh dan tetap fokus kepada jiwa-jiwa yang dilayani. “Saya mengalir dengan gerakan Tuhan mengikuti aliran kemauan Tuhan. Dengan cara melayani yang professional, dedikasi yang tinggi dan menjaga integritas,” pungkas Gembala GPdI “Sahabat Allah”  di Madura dan Friend of God Ministry di  Surabaya. (sumber: tabloid victorious edisi 694). SM

GREZIA EPHIPANIA: ‘WALAU TAK DAPAT MELIHAT, TUHAN YESUS BERI TALENTA LUAR BIASA’

Penampilan Grace ketika memainkan Piano

Gadis cilik ini terlahir dengan nama lengkap Grezia Ephipania.  Ia kerap disapa Grace atau Grezia. Meski dilahirkan dalam keadaan tak bisa melihat, tetapi ternyata Tuhan mengaruniakan “mata rohani”—dan talenta yang luar biasa bagi anak keempat dari pasangan Suryadi Oey dan Yuliani ini.

Sedari kecil Grezia bertumbuh dengan pertolongan Tuhan. Ketika usianya menginjak 1,5 tahun, dia sudah pintar menyanyi tanpa ada yang mengajari. Grezia memiliki kecerdasan musikal. Meski umurnya baru 1 tahun, dia sudah dapat menyanyi dengan lafal yang jelas dan nada yang tepat.  Bukan itu saja, ketika Grezia berusia 3 tahun, orangtuanya membelikan sebuah piano, Grezia dapat memainkan piano dengan baik. Grezia juga mampu menguasai lagu baru dengan cepat, hanya dengan mendengarkannya saja.  Jari-jemarinya yang mungil itu menari-nari indah di atas papan tuts piano. Ditambah dengan olah vokal yang khas nan merdu, membuat banyak orang khususnya umat Kristiani merasa sangat diberkati. Betapa tidak, ditengah keterbatasan sebagai seorang anak kecil, tapi dapat memuliakan nama Tuhan dengan talenta dan karunianya. “Saya yakin Tuhan Yesus menyatakan kuasa-Nya dan Roh Kudus mengajarnya bermain piano dan beryanyi. Grezia juga mengikuti perlombaan menyanyi yang pesertanya adalah anak-anak normal di seluruh indonesia. Puji Tuhan dia mendapat juara 3. Semuanya itu karena Tuhan Yesus yang luar biasa,” ujar Mama Grezia, Yuliani

                Kisah kelahiran Grezia memang menjadi inspirasi iman bagi kita agar tetap kuat dalam mengiring Tuhan Yesus. Awalnya, kedua orang tua Grezia adalah pasangan suami istri yang berbeda agama. “Saya dan suamiku tinggal di kota Balikpapan dan dikaruniai 4 anak. Saya sudah beragama Kristen sejak kecil tetapi karena menikah dengan suami saya yang berbeda agama, maka saya mengikuti dia sampai 15 tahun. Puji Tuhan suami saya mau bertobat dan Percaya Yesus. Kami pun meminta ampun pada Tuhan dan bertobat total. Dengan cara Tuhan anak-anak kami, melihat kehidupan orang tua yang berubah, sehingga mereka semua ikut kami untuk percaya Yesus. Setelah menerima Yesus sebagai juruselamat, kami mengalami ujian iman. Anak pertama kami  mengalami kecelakaan tetapi Tuhan Yesus sembuhkan dia dengan cara yang luar biasa. Ketika dia mengalami kecelakaan, dokter berkata, dia kemungkinan tidak dapat hidup, tetapi Tuhan menyembuhkan dia selama satu bulan,” tutur Yuliani.

Lanjut Yuliani, ketika melahirkan Grezia, awalnya tidak tahu kalau anaknya itu lahir dalam kondisi matanya tak dapat melihat meskipun tubuhnya sehat. “Awalnya suami saya tidak memberitahukan ada sesuatu yang terjadi kepada anakku yang baru lahir ini. Suamiku tidak mau berkata kepada saya kalau anak itu  mengalami cacat pada matanya. Ketika itu suamiku pulang dan berdoa, Tuhan…. ketika saya percaya dan mengikuti Tuhan kenapa saya diberikan anak seperti ini? Kemudian Tuhan memberikan ayat kepada suamiku dalam kitab Yohanes 9:1-3 yang berbicara tentang jawaban Yesus kepada muridnya. Yohanes 9:1-3 ‘Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia’.

Ketika suami saya kembali ke rumah sakit dan memberi tahu saya kalau anak matanya cacat, lalu kami berdoa bersama-sama dan seorang hamba Tuhan datang melayani kami dan bernubuat kepada anakku, nanti dia akan menjadi pemuji dan penyembah. Tuhan tidak akan mempermalukan karena anak ini akan mempermuliakan nama Tuhan,” urai Yuliani.

                Memang Grezia mengalami keterbatasan dalam penglihatan sejak lahir. Pada waktu ia lahir, kedua bola mata Grezia berselaput putih. “Kenyataan pahit yang Grezia alami, karena Grezia tidak mengetahui apa-apa. Tapi Grezia tumbuh sehat seperti anak-anak yang normal, bermain sendiri, berjalan sendiri tanpa terhalang oleh apapun. Bahkan dapat naik turun tangga kurang lebih 20 anak tangga di rumah tanpa bantuan orang lain. Sampai saat ini kami sebagai orang tua Grezia tidak pernah kuatir karena semuanya itu adalah untuk Tuhan. Grezia sejak umur 4 tahun sudah kami ajak untuk ikut dalam pelayanan. Grezia memberikan kesaksian pujian untuk Tuhan,” ujar papa Grezia, Suryadi ketika dihubungi via telpon genggamnya.

Membuat Album Rohani
Suatu kali, Grezia dibawa menemui seorang produser musik rohani bernama Jason di Jakarta. Orangtuanya ingin merekam suara Grezia ke dalam album lagu. Mula-mula Jason tidak begitu berminat. Dia (Jason) berpikir, ‘ah paling-paling ini hanya ambisi orangtuanya saja.’ Untuk menguji kemampuan Grezia, Jason menyuruhnya unjuk kebolehan. Begitu melihat penampilan Grezia, Jason tersentak. Dia terkesima melihat kebolehan Grezia. Dia berubah 180 derajat dan justru bersemangat untuk merekam suaranya. Jason lalu menciptakan lagu-lagu untuk Grezia. Rekaman lagu itu dikirimkan ke Balikpapan untuk didengarkan. Total ada 12 lagu baru. Setelah siap, Grezia diundang ke Jakarta untuk rekaman suara. Hanya dalam waktu 3 hari Grezia rampung melantunkan 12 lagu.

Tepat tanggal 4 Februari tahun ini Grezia genap berusia 12 tahun. Kita doakan agar terus dipakai Tuhan secara luar biasa untuk menjadi berkat dan memenangkan banyak jiwa bagi kemuliaan nama Tuhan. Dan tentu saja, kita berharap melalui Album Rohani  Grezia, berjudul ‘Walau Ku Tak Dapat Melihat’ banyak orang dapat menjadi percaya Kristus. Biarpun dia mengalami kekurangan tetapi hal itu tidak menjadi alasan buat dia untuk tetap mengucap syukur kepada Tuhan. (sumber: tabloid victorious edisi 823). SM

Bio Data
Nama : Grezia Epiphania
Nama Panggilan : Grace/Grezia
Tempat Tanggal Lahir : Balikpapan, 04 Februari 2006
Papa : Suryadi Oey
Mama : Yuliani Sura
Anak ke : 4 dari 4 saudara
Hobi : Menyanyi dan bermain piano

Prestasi :

  • Juara 1 Penyanyi Anak Indonesia Tingkat Nasional Wilayah Kalimantan Timur 2013
  • Juara 3 Penyanyi Solo Gloria 2013 di Balikpapan
  • Juara 3 Grandfinal Kirana Semen Indonesia 2014 di Jakarta
  • Juara 2 Lomba Nyanyi Solo SDLB FLS2N Semarang 2014
  • Juara 1 Piano Contest and Singing Contest (Antar Sekolah) di Balikpapan 2014 (*diolah dari berbagai sumber)

Presidium AKU Indonesia Sepakat Dukung KPU Selesaikan Tugas & Tanggungjawabnya Laksanakan Pemilu 2019

Jakarta,Victoriousnews.com,-Presidium Aliansi Kebangsaan Umat Indonesia (AKU Indonesia) melihat, membaca, mencermati dan mengkaji perkembangan situasi dan kondisi sosial politik dalam negeri dan adanya pernyataan, deklarasi yang mengatasnamakan berbagai kelompok masyarakat, yang mengajak mendelegitimasi KPU. Oleh karenanya AKU Indonesia yang dimotori oleh ormas Asosiasi Pendeta Indonesia (API) dan Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) sepakat membuat pernyataan bersama, yakni :

Pertama,tahap pencoblosan di bilik suara sudah dilaksanakan, semuanya berjalan dengan aman, lancar dan rahasia. Kondisi ini disaksikan oleh masyarakat yang memberikan hak suaranya, Panwaslu, Bawaslu, saksi Paslon, Saksi partai-partai Politik dan pengamat dari dalam dan luar negeri. Kedua, Sistim dan mekanisme serta infrastruktur Pemilihan Umum 2019 dijalankan berdasarkan Undang Undang Pemilu No. 7 Tahun 2017, tentang Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh DPR-RI dimana semua fraksi ikut di dalamnya. Hampir semua unsur ada di KPU, jumlahnya cukup banyak dan dengan sistim kontrol berjenjang, sehingga berbagai kecurangan dapat dihindarkan, dan oleh karena itu tuduhan bahwa KPU melakukan kecurangan terencana, masif dan terstruktur adalah tidak beralasan. Ketiga, Hitung cepat dan klaim kemenangan bukanlah penentu akhir dari hasil Pemilihan Umum. Situng tidak menentukan pemenang Pilpres dan Pileg, tetapi untuk memberi informasi terbuka kepada masyarakat, karena proses rekapitulasi secara manual butuh waktu yang cukup lama. Situng memberi kesempatan kepada masyarakat untuk koreksi kolektif. Hari-hari ini yang terjadi adalah pembalikan logika karena ada kesalahan Situng maka pasti ada kecurangan, padahal bila terjadi kesalahan bisa diperbaiki. Keempat, Penetapan hasil Pemilihan Umum 2019 adalah dengan rekapitulasi manual secara berjenjang, mulai dari TPS sampai KPU. Kelima, Semua pihak, mulai dari Petugas KPPS, Panwaslu, Saksi, Bawaslu dan KPU telah bekerja keras untuk mensukseskan Pemilihan Umum 2019. Tidak sedikit jatuh korban dari Petugas KPPS, Aparat Keamanan dan Pengawas, oleh karena itu sikap beberapa elit politik dan pihak-pihak tertentu, yang berusaha mendelegitimasi hasil kerja KPU dengan mengumbar tuduhan kecurangan tanpa bukti, membangun narasi besar Pemilu curang, merupakan sikap yang tidak demokratis dan bisa menimbulkan konflik di tengah-tengah masyarakat. Rencana aksi penggalangan massa untuk menolak hasil kerja KPU adalah tindakan inkonstitusional. “Kami mengajak seluruh anak bangsa secara bersama-sama mendukung KPU dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya melaksanakan Pemilihan Umum 2019. Kami juga memberi apresiasi kepada POLRI dan TNI, yang bekerja keras mengamankan seluruh rangkaian Pemilihan Umum 2019,” ujar Press rilis yang dikirim oleh Presidium AKU Indonesia, Brigjen TNI (Purn) Pdt. Harsanto Adi, M.Th ( Ketum API) dan Djasarmen Purba, SH (Ketum MUKI). Margianto