Perbedaan itu indah. Kalimat ini bukanlah slogan belaka, tetapi fakta yang terjadi dalam kehidupan kita adalah demikian adanya. Misalnya, andai saja Tuhan menciptakan manusia seluruh organ tubuhnya sama—hanya satu macam, hidung semua atau kaki semua tentu tidak sedap dipandang mata. Oleh karenanya, bersyukurlah bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan beragam bentuk organ tubuh dan berbeda fungsi tetapi memiliki satu tujuan yakni saling menopang untuk “hidup dan menghidupi”.

Begitu pula dalam ranah berbangsa dan bernegara—kita mengenal semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”—Berbeda tetapi tetap satu. Sebagai bangsa yang besar, kaya akan budaya dan perbedaan kita harus mulai belajar untuk melakukan toleransi terhadap orang yang berbeda pandangan dengan kita. Terutama dalam hal praktik kehidupan beragama yang berbeda-beda. Inilah yang bisa disebut dengan “toleransi”.

Pengertian “toleransi” secara luas adalah suatu sikap atau perilaku manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan. Toleransi juga dapat dikatakan istilah dalam konteks sosial budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi baik dari kaum liberal maupun konservatif. Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain.

Toleransi dalam beragama sangatlah vital dalam kondisi negara kita Indonesia yang sangat multikultural. Kita sebelumnya harus bertanya pentingkah toleransi dalam beragama? Tentu saja kalau kita cinta perdamaian dan beriman kepada Tuhan maka nilai toleransi itu sangatlah penting untuk dijunjung tinggi. Di negara tercinta ini telah jelas mengakui beberapa agama yang semuanya berbeda cara sembahyangnya. Memang tidak mudah untuk belajar toleransi apalagi dalam hal beragama karena agama ialah hal yang sangat luhur dan tidak bisa diganggu gugat. Tapi perlu disadari pada hakikatnya agama itu mengutamakan perdamaian sejati.

See also  Presiden Jokowi Dengan Tegas Menyatakan Konstitusi Menjamin Kebebasan Beragama

Agama adalah suatu pilihan bebas tiap individu dan tiap agama benar adanya kecuali muncul agama yang mengajarkan nilai nilai keburukan. Toleransi umat beragama sangat penting untuk menjaga kesatuan bangsa kita. Tujuan yang lebih luasnya lagi untuk menjaga perdamaian dunia. Setiap orang akan sangat sensitif terhadap masalah agama. Oleh karena itu sangat disayangkan sekali kalau banyak nyawa yang akan mati disebabkan oleh perbedaan pandangan yang sejatinya memang berbeda. Jadikan perbedaan itu indah adalah pola pikir yang baik untuk mengawali misi penting menjaga kerukunan antar sesama.

Betapa akan terasa luar biasa indah, jika seluruh umat beragama di negeri ini juga merasakan kegembiraan yang sama. Dengan cara ini, sejarah akan mencatat bahwa perbedaan agama bukanlah persoalan sensitif yang gampang menyulut konflik, tetapi menjadi sumber mata air yang tak pernah kering bagi “semaian benih” kerukunan.

Apakah kita sudah melakukan toleransi beragama? Ini adalah pertanyaan refleksi bagi kita semua terutama yang mengaku punya agama. Apakah kita sudah menerapkan toleransi beragama dalam kehidupan sehari hari. Apakah kita sebagai umat beragama sudah merasa aman untuk beribadah? Kalau sudah berarti lingkungan tempat kita tinggal sudah bisa menerapkan nilai toleransi yang baik. Lalu apakah kita tidak didiskriminasi karena agama? Kalau kita tidak mengalami diskriminasi tandanya lingkungan itu sudah baik dalam mewujudkan nilai toleransi. Tetapi jika kita merasa belum beruntung dan tidak mendapatkan sikap toleransi beragama dari lingkungan, tetap bersabarlah dan tetaplah memberikan toleransi dalam beragama. Disinilah iman kita sedang diuji agar mereka dapat terbuka menerima indahnya perbedaan.

Marilah kita saling menjalin rasa persaudaraan antar sesama. Di tengah pandemi corona yang berkepanjangan ini, merupakan saat yang tepat untuk saling menghormati, saling menghargai dan saling menyayangi. ***

See also  Pdt. Dr. Niko Njotorahardjo: Saat Ini Kita Memasuki Pentakosta Ketiga

*Penulis Adalah Jurnalis, tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *