Jakarta,Victoriousnews.com—Di tengah kian menebalnya dinding ketidakpercayaan rakyat terhadap penguasa, suara peringatan kembali menggema. Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menegaskan, pemerintah tidak boleh memalingkan muka dari kritik publik. Dari Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta, Rabu (3/9/2025), para tokoh lintas iman dan intelektual memotret wajah demokrasi Indonesia yang kian buram: represifitas aparat yang melukai nurani, keadilan sosial yang retak, hingga kebijakan negara yang dinilai semakin timpang dan abai terhadap kepentingan rakyat banyak.
Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, kritik keras yang dilontarkan GNB lahir dari kecintaan pada bangsa, bukan upaya melemahkan pemerintah.
“Nilai-nilai kemanusiaan telah tergerus. Itulah kenapa kami merasa perlu menyampaikan pesan kebangsaan. Kritik keras yang kami sampaikan sejatinya wujud dari rasa cinta kepada bangsa, negara, dan juga pemerintahan. Sebab tanpa pemerintahan, kehidupan kita akan jauh lebih buruk,” ujar Lukman.
Rakyat Kehilangan Oksigen Kepercayaan
Alissa Wahid menilai, gelombang demonstrasi akhir Agustus lalu berbeda dari sebelumnya karena dipicu krisis kepercayaan yang akut.
“Kepercayaan itu seperti oksigen. Saat ada, tidak terasa. Tetapi ketika hilang, kita semua sesak napas. Dan sekarang, rakyat sudah sesak napas karena ketidakpercayaan itu begitu kuat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kemarahan publik bukan hanya akibat jatuhnya korban jiwa dari kalangan pengemudi ojek online, melainkan akumulasi panjang dari ketidakadilan, arogansi pejabat, serta brutalitas aparat kepolisian.
“Kemarahan terhadap DPR, pemerintah, politisi, dan terutama terhadap kepolisian, itu sudah menumpuk. Kekerasan eksesif polisi sudah berkali-kali terjadi dan teriakan rakyat tidak pernah diindahkan,” tegasnya.
Frustrasi yang Meledak Jadi Demonstrasi
Filsuf Franz Magnis Suseno menilai demonstrasi yang berujung ricuh mencerminkan frustrasi rakyat yang selama ini terabaikan.
“Sudah 80 tahun merdeka, tapi masyarakat masih melihat pejabat memperkaya diri sendiri. Itu meledak jadi kemarahan. Namun, penjarahan dan pembakaran bukan bagian dari aspirasi rakyat. Itu ada pihak yang menunggangi,” kata Romo Magnis.
Mantan Ketua Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom, menegaskan bahwa DPR justru menjadi sasaran utama kritik rakyat.
“Demo sekarang justru banyak berisi tuntutan agar parlemen berbenah. Anggota DPR harus sadar, bila perlu direcall kalau mencederai hati rakyat,” tegas Gomar.
Sementara itu, Eks Pimpinan KPK Laode M. Syarif menyoroti ketimpangan anggaran negara yang dinilai lebih berpihak pada sektor pertahanan dan kepolisian dibanding kebutuhan mendesak rakyat.“Kalau masukan dari para sesepuh bangsa hanya didengar tanpa dijalankan, itu artinya pemerintah tuli. Itu tidak boleh,” ujarnya keras.
Melalui forum tersebut, GNB menyerukan agar pemerintah menghentikan kekerasan aparat, membuka ruang dialog tulus dengan rakyat, dan memastikan kebijakan negara tidak hanya melayani segelintir elite, tetapi benar-benar berpihak pada keadilan sosial.
Tokoh yang hadir dalam forum ini antara lain: Lukman Hakim Saifuddin, Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Kardinal Ignatius Suharyo, Alissa Wahid, Pdt. Gomar Gultom, Franz Magnis Suseno SJ, Erry Riyana Hardjapamekas, Laode M. Syarif, Ery Seda, A. dan Setyo Wibowo SJ. SM


















