JAKARTA,VictoriousNews.com – Di tengah dunia yang dipenuhi ketidakpastian, krisis ekonomi, dan berbagai persoalan hidup, orang percaya dipanggil untuk hidup dengan cara yang berbeda. Bukan dikuasai rasa takut, melainkan dipenuhi keyakinan bahwa Roh Allah tinggal di dalam dirinya.

Pesan itulah yang disampaikan Ps. Barnabas Payer dalam Kebaktian Tengah Minggu (KTM) di GBI Maple Park, Apartemen Maple Park, lantai dasar, Jalan HBR Motik No. 218, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (2/7/2026) malam.
Mengangkat dasar firman dari 1 Korintus 15:45, Ps. Barnabas menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki dua unsur penting, yaitu tubuh jasmani dan tubuh roh. Ketika seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia mengalami kelahiran baru sehingga roh yang sebelumnya mati karena dosa dihidupkan kembali oleh Kristus.

“Adam yang pertama menjadi makhluk hidup, tetapi Adam yang terakhir, yaitu Yesus Kristus, menjadi Roh yang menghidupkan. Karena itu, ketika kita lahir baru, Roh Allah tinggal di dalam diri kita,” tegas Ps Barnabas yang memiliki karunia kesembuhan dan mengusir setan.
Menurutnya, inilah yang membedakan orang percaya dengan dunia. Mereka boleh menghadapi badai kehidupan yang sama, tetapi tidak menjalani hidup dengan ketakutan yang sama.
“Masalah boleh datang, tantangan boleh datang, hinaan boleh datang. Tetapi Dia yang tinggal di dalam kita akan memberikan kekuatan setiap hari,” tukasnya.
Ps. Barnabas mengingatkan bahwa orang percaya tidak hidup berdasarkan sistem dunia, melainkan hidup dalam pemeliharaan Kerajaan Allah. Ia mencontohkan bangsa Israel di tanah Gosyen yang tetap menikmati terang sekalipun seluruh Mesir diliputi kegelapan.
“Ketika dunia mengalami krisis, anak-anak Tuhan tidak boleh kehilangan pengharapan. Kita memiliki Roh Allah yang Mahabesar tinggal di dalam diri kita,” katanya.
Ia juga mengutip Habakuk 3:17-18 sebagai ajakan untuk tetap bersukacita sekalipun keadaan terlihat sulit. Menurutnya, iman tidak dibangun berdasarkan keadaan, tetapi berdasarkan siapa yang tinggal di dalam hati orang percaya.
Bangun Mezbah, Bangun Hubungan dengan Tuhan
Dalam khotbahnya, Ps. Barnabas menekankan pentingnya membangun hubungan pribadi dengan Tuhan melalui doa, penyembahan, dan pembacaan firman setiap hari.
Mengacu pada Yohanes 14:16-17, ia mengingatkan bahwa Roh Kudus bukan hanya menyertai, tetapi juga diam di dalam setiap orang percaya.
“Firman Tuhan tidak pernah bohong. Roh Kudus adalah Penolong yang menyertai kita selama-lamanya. Karena itu jangan hidup dengan keluhan, tetapi hiduplah dengan iman,” ujarnya.

Menurutnya, banyak orang Kristen kehilangan damai sejahtera karena lebih fokus kepada besarnya persoalan daripada kebesaran Tuhan.
“Kalau kita benar-benar sadar Tuhan tinggal di dalam kita, tidak ada alasan untuk terus hidup dalam ketakutan.”
Kesaksian: Dari Lumpuh karena Stroke hingga Melihat Mukjizat Pemeliharaan Tuhan
Suasana ibadah menjadi hening ketika Ps. Barnabas membagikan kesaksian hidupnya yang mengharukan.
Ia mengaku pernah hidup jauh dari Tuhan. Saat bekerja sebagai pelaut, hidupnya dipenuhi kekerasan dan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Namun semuanya berubah ketika pada usia 36 tahun ia terserang stroke.
Di tengah kondisi yang membuat tubuhnya lumpuh, ia mulai mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh.
“Saya ikut seminar hidup dalam Roh. Saya bertobat sungguh-sungguh. Saya didoakan dan sejak hari itu saya mencari Tuhan. Tuhan menyembuhkan saya. Stroke itu hilang total. Tubuh yang tadinya berat menjadi ringan. Saya merasakan sukacita yang luar biasa,” tuturnya.
Sejak saat itu, ia membangun kehidupan doa setiap hari bersama keluarganya. Ia mengaku selama bertahun-tahun rela membayar harga untuk mencari Tuhan, bukan mencari berkat semata, melainkan mengenal Pribadi-Nya.
Kesaksian lain yang paling menyentuh terjadi ketika keluarganya tidak memiliki uang untuk membayar uang sekolah anaknya selama tiga bulan.
Alih-alih panik, ia mengajarkan anaknya untuk percaya kepada Tuhan. Sang anak tetap datang ke sekolah sambil berdoa dan memuji Tuhan. Ketika hendak membayar tunggakan, pihak sekolah justru menyatakan seluruh tunggakan telah lunas, meski mereka merasa belum pernah melakukan pembayaran.
“Itulah yang mengajar saya bahwa Tuhan bekerja ketika kita tetap percaya dan tidak menyerah pada keadaan,” katanya dengan penuh syukur.
Orang Percaya Dipanggil Menjadi Saksi Kuasa Allah
Di akhir khotbahnya, Ps. Barnabas mengajak jemaat membangun “mezbah” setiap pagi melalui doa, penyembahan, dan pembacaan firman.
Menurutnya, Roh Kudus akan mengajar, menghibur, membimbing, bahkan memberikan keberanian menghadapi setiap persoalan hidup.
“Kita ini bukan orang biasa. Tubuh kita adalah bait Allah dan Roh Kudus tinggal di dalam kita. Karena itu jangan hidup dengan ketakutan. Bangun hubungan dengan Tuhan setiap hari, maka kita akan melihat kemuliaan-Nya dinyatakan dalam hidup kita,” pungkasnya.
Malam itu, Ps Barnabas juga mendoakan secara khusus bagi jemaat maupun hamba Tuhan yang menderita sakit atau mengalami pergumulan hidup.
Seusai penyampaian firman Tuhan, Gembala GBI Maple Park, Ps. Ferry Iskandar, memimpin doa berkat bagi seluruh jemaat yang hadir.
Dengan penuh pengharapan, ia mendoakan agar setiap firman yang telah ditaburkan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi bertumbuh menjadi iman yang menghasilkan kehidupan yang berani, setia, dan berdampak di tengah dunia. Doa tersebut sekaligus menjadi peneguhan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk hidup sebagai saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat itu selaras dengan visi pelayanan GBI Maple Park, yang berada di bawah Rayon ID dalam penggembalaan Pdt. Dr. Niko Njotorahardjo. Memasuki tahun 2026, gereja mengusung tema “The Great Commission (Amanat Agung): Tahun Penuaian Jiwa”, yang berlandaskan Matius 28:19-20.
Visi tersebut menjadi panggilan bagi seluruh jemaat untuk tidak berhenti pada pertumbuhan rohani secara pribadi, tetapi juga aktif memberitakan Injil, memenangkan jiwa-jiwa, memuridkan, serta menghadirkan kasih Kristus melalui perkataan dan tindakan nyata. Dengan keyakinan bahwa Roh Kudus berdiam di dalam setiap orang percaya, GBI Maple Park terus mendorong jemaat menjadi terang dan garam di tengah masyarakat, sehingga Amanat Agung Kristus tidak sekadar menjadi slogan tahunan, melainkan diwujudkan sebagai gaya hidup yang membawa semakin banyak orang mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. SM

















