Dr. Antonius Natan, M.Th: MAU KEMANA LGBT DI INDONESIA ?

Dr. Antonius Natan, M.Th: MAU KEMANA LGBT DI INDONESIA ?

Dr. Antonius Natan, MTh.

VICTORIOUSNEWS.COM,-Tahun 2017 dunia merayakan 500th Church Reformation yang dicanangkan oleh Martin Luther di Jerman pada tahun 1517, tetapi saat ini Jerman adalah negara ke-23 di dunia yang melegalkan pernikahan sejenis. Church of England adalah gereja resmi pemerintah Inggris, Juli 2017 Sidang Sinode menyatakan: LGBT orientation is not a crime, is not a sickness, is not a sin. London Pride Parade adalah LGBT Pride Parade yang diselenggarakan setiap tahun di London, diselenggarakan tahunan sejak 1972, dan akan terus dilakukan sampai pernikahan sejenis legal di seluruh dunia. Berbagai negara termasuk Australia melegalkan pernikahan sejenis tahun lalu. Bagaimana LGBT di Indonesia, mau kemanakah mereka ? bagaimanakah kita menanggapinya ? Bagaimana dengan Hukum di Indonesia ?Pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak permohonan uji materi Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Menanggapi putusan itu, sejumlah postingan di media sosial menuduh MK telah melegalkan perbuatan zina dan homoseksual. Juru Bicara MK Fajar Laksono menegaskan, dalam putusan Nomor 46/PUU-XIV/2016, Mahkamah tidak melegalkan perbuatan seksual sejenis. “Tidak ada satu kata pun dalam amar putusan dan pertimbangan Mahkamah yang menyebut istilah LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender), apalagi dikatakan melegalkannya,” ujar Fajar melalui keterangan tertulisnya, Senin (18/12/2017) seperti dikutip dari Kompas.com.Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) adalah pasal yang mengatur soal kejahatan terhadap kesusilaan. Menurut Prof Mahfud MD bahwa MK menolak memberi perluasan tafsir atas yang ada di KUHP, bukan membolehkan atau melarang. Perlu diketahui bahwa ranah ini merupakan peranan yudikatif atau peranan DPR. Masalah LGBT masih digodok di DPR, semoga hasilnya memenuhi standar moral agama-agama di Indonesia yang juga tidak setuju dengan melegalkan perkawinan sejenis.Kelompok ini juga dibela dengan gigih oleh jaringan internasional, dipublikasikan dengan media sosial secara maksimal. Lembaga dunia sekelas UNDP kucurkan dana sebesar  US $ 8 juta atau setara dengan Rp. 108 Milyar untuk dukung LGBT di Indonesia, China, Filipina dan Thailand, “Inisiatif ini dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Interseks (LGBTI), dan mengurangi ketimpangan dan marginalisasi atas dasar orientasasi seksual dan identitas gender (SOGI)” demikian disampaikan UNDP di situs resminya. Dikutip dari DetiknewsLantas para pemuka agama seakan diam membisu, dan masyarakat seolah menyetujui “penyakit LGBT” berkembang dan menyatakan sebagai urusan pribadi dan searah perkembangan jaman ?

Apa Kata Alkitab ?Alkitab dalam Perjanjian Baru secara tegas menunjukkan bahwa perilaku lesbian (L) dan perilaku homoseks (G) adalah dosa, disamping itu Alkitab mengajarkan agar tetap mengasihi mereka yang terlibat di dalam dosa. Kita harus membedakan dosa dan pelaku dosa, Alkitab mengajarkan bahwa para gay dan lesbian agar diperlakukan dengan baik sebagaimana manusia lainnya, sehingga dapat bertobat dan dipulihkan dari dosa.

Alkitab jelas menyebutkan bahwa homoseksualitas (kecenderungan untuk tertarik kepada orang lain yang sejenis – Kamus Besar Indonesia) adalah dosa dan kekejian di mata Allah. Beberapa ayat yang menjadi referensi sebagai berikut: “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka … karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki” Roma 1:24-27. “Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.” Imamat 18:22 “Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian” Imamat 20:13 “… sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang. Namun demikian orang-orang yang bermimpi-mimpian ini juga mencemarkan tubuh mereka dan menghina kekuasaan Allah serta menghujat semua yang mulia di sorga” Yudas 1:7-8 “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” 1 Korintus 6:9-10

Kata “pemburit” berasal dari teks asli Alkitab bahasa Yunani “arsenokoites” yang artinya adalah “One who lies with a male as with a female, sodomite, homosexual.” Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang dengan keinginan homoseks (hubungan seks dengan pasangan sejenis (pria dengan pria) menurut Kamus Besar Indonesia). Alkitab menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi homoseks karena dosa (Roma 1:24-27) dan kondisi ini merupakan pilihan mereka sendiri. Seseorang bisa saja terlahir dengan kecenderungan terhadap homoseksualitas, tetapi bukan merupakan alasan untuk hidup dalam dosa dan terjerumus akan keinginan dosa.

Firman Tuhan menyatakan bahwa pengampunan Allah berlaku bagi kaum LGBT, sama seperti bagi orang yang berzinah, penyembah berhala, pembunuh, penipu, pencuri, pemfitnah, pemabuk dll. Allah juga menjanjikan pertolongannya dan memberikan keteguhan hati untuk menang terhadap dosa, sama seperti setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus memperoleh anugerah keselamatan.

 Fenomena yang berkembang. Stigma sebagai banci, transgender, gay, lesbian, biseksual pada jaman millennial ini tidak lagi memalukan, melainkan muncul fenomena baru bahwa LGBT adalah identitas dan LGBT adalah orang yang mengikuti kemajuan jaman, dengan konteks Hak Asasi Manusia atau yang dikenal sebagai HAM maka timbul keberanian untuk muncul dipermukaan dan berbicara diberbagai media sosial dan menciptakan panggung untuk mengkampanyekan keadilan dan kesetaraan terhadap transgender, gay, lesbian. Tuntutan bahwa LGBT bukan dosa dan LGBT adalah manusiawi terus dikumandangkan, sepertinya dunia modern memiliki pergeseran norma dan etika yang berlandaskan agama dan setuju dengan hak asasi manusia walaupun melanggar norma, etika maupun agama. Akhirnya muncullah wacana dan dorongan agar perkawinan sejenis dapat diakui dan dilembagakan.

Gereja Harus Memutuskan. Gereja sebagai kepanjangan tangan Tuhan, gereja yang memiliki suara kenabian dan gereja miliki otoritas ilahi, tidak boleh tinggal diam, gereja harus memutuskan. Bahwa Firman Tuhan dengan tegas mengatakan bahwa homoseksualitas adalah dosa, maka gereja harus memiliki persepsi dan ukuran yang sama tidak bisa memberkati pernikahan sesama jenis. Persoalan ini tidak sekedar toleransi dan tidak tentang hak asasi manusia, tetapi hakekat penciptaan dan tujuan Allah menciptakan manusia dan lembaga keluarga. Gereja menegakkan Firman Tuhan secara baik dan benar, dan gereja taat kepada hukum yang telah ditetapkan oleh Allah.

Gereja hendaknya melakukan inisiatif-inisiatif baru terhadap perilaku seks yang menyimpang dari para Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Interseks. Mendidik dan melatih pelayan gereja agar bisa melakukan konseling secara professional, membuka pintu yang seluas-luasnya bagi kaum LGBT agar diterima sebagai sahabat dan keluarga. Gereja membuka pelayanan khusus dan ibadah yang dikhususkan dengan pelayan yang telah terlatih dan memiliki kapasitas dan pelayanan ini. Gereja menyatakan kuasa serta otoritas ilahi untuk mengalahkan kelemahan-kelemahan. Peranan gereja tidak lepas dari dukungan pengerja dan para jemaat, kesatuan hati dan doa diperlukan agar kemuliaan Tuhan dinyatakan. Amin. Biarlah Indonesia penuh KemuliaanNya.

Penulis adalah Waket I STT Rahmat Emmanuel/ Sekum PGLII DKI Jakarta

Ketekunan Membawa Keberhasilan

Dr. Lenny H. S. Chendralisan, M.Th

VICTORIOUSNEWS.COM,-Memperhatikan etimologi kata ketekunan asal kata tekun yang berarti rajin, sungguh-sungguh, giat.  Orang yang tekun, rajin, sungguh-sungguh dan giat, tidak mungkin tidak berhasil. Ketekunan berhubungan dengan usaha. Dimana ada aktivitas yang mendatangkan hasil yang berguna, tidak selalu berupa uang, bisa saja, kebahagiaan, naik kelas, lulus dari sekolah, memperoleh nilai yang baik, berbuah di dalam Kristus dan membawa jiwa kepada Tuhan. Memiliki hidup yang berhasil bukan karena kekuatan kita, tapi semata-mata adalah anugerah Tuhan. Adakalanya keberhasilan bagi orang yang percaya kepada Tuhan, dapat meneteskan air mata, bukan hanya saat duka saja dapat meneteskan air mata, saat berhasilpun ada tetesan air mata. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mzm 126:6). Petani yang pergi ke ladang menabur benih, ada waktu yang ditunggu untuk menuai. Benih yang bertumbuh dan berhasil dapat dituai, memberikan sukacita tersendiri.

Jika, kita ingin berhasil, kita harus rajin, harus sungguh-sungguh, bukan suam-suam kuku, sehingga kita tidak mengalami kegagalan. Ingin dipakai Tuhan, jadikan diri tekun dan kita dapat menyaksikan cinta kasih Tuhan untuk kemuliaan Tuhan yang ada pada kita. Melakukan dengan sungguh-sungguh, memberikan semua yang dapat kita sanggupi, baik itu pengetahuan, akal serta apa yang dapat kita lakukan. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan (2 Ptr 1:5). Kebajikan sama pengertiannya dengan kebaikan, memberikan kebaikanpun lakukan dengan bergairah dan rajin melakukannya.

Untuk sungguh-sungguh, perlu komitmen; “Saya akan tekun. Saya akan rajin. Saya akan bergairah.” Tanpa komitmen, keberhasilan yang pernah diraih atau hampir mendapatkannya akan mengalami kegagalan. Apa itu komitmen ? Komitmen memiliki pengertian adanya janji dengan diri sendiri untuk melakukan ketekunan dengan sungguh-sungguh. Janji bukan hanya pada diri sendiri, kepada Tuhanpun kita harus sungguh-sungguh. Begitupun dalam iring Tuhan, jangan pernah ragu-ragu. Tidak mudah meraih keberhasilan, kita perlu memiliki komitmen. Adanya komitmen akan menumbuhkan tanggungjawab. Karena ada janji dengan diri sendiri dan kepada Tuhan, sehingga punya buah-buah keberhasilan dalam hidup kita. Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik (Mat 7:17). Mempunyai karakter/watak yang terbentuk hingga menjadi sukses. Sukses itu bukan hanya milik orang dewasa, namun milik semua orang.

Kita bukan orang yang biasa saja, karena dasar hidup kita adalah Kristus.  Komitmen dapat dianalogikan sebagai janji mau melakukannya dengan rajin. Saat itulah sesungguhnya kita sedang membangun dasar hidup, dengan perilaku membangun hidup yang positif,  hidup yang berhasil. Bukan merusak keberhasilan yang telah diraih. Keberhasilan yang telah diraih perlu pimpinan Roh Kudus, agar Roh Kudus mendampingi kita setiap waktu. Tuhan. Akan memampukan kita untuk tekun, rajin, sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan kita. Pepatah mengatahkan; life is war (hidup adalah peperangan). Memerangi kemalasan memberikan gairah kepada ketekunan. Memerangi kebodohan memberikan tempat kepada kecerdasan. Memerangi kemiskinan, kita sedang memberikan tempat kepada keberhasilan. Kalau kita memiliki karakter yang positif, di manapun kita akan berhasil. Kalau kita memiliki karakter lemah-lembut, kemanapun kita akan disayang Tuhan dan disayang sesama, tentu saja di dalam kekudusan dan kesalehan hidup.

Sukses, berhasil itu sebuah proses, sebuah perjalanan. Dan perjalanan kita masih panjang dengan mengisi lintasan kehidupan berdasarkan kehendak Tuhan. Orang yang komitmen dengan waktu itulah orang yang sukses..Kesuksesan atau keberhasilan ada pengakuan dan terlihat. Dan ketika berhasil ada penguasaan diri dan tidak menjadi sombong. Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu (Yes 2:11).

Tekun dalam mengejar keberhasilan dan punya tujuan yang jelas.Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul (1 Kor 9:26). Petinju kalau mau memberikan SWING (mengayunkan) pukulannya akan mengarahkan dengan jelas, tepat pada sasaran pukulannya. Tepat pada sasaran berarti fokusnya jelas, tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah (Ams 19:2). Saat kita berhasil, berarti kita punya tanggungjawab dihadapan Tuhan.

            Meraihnya berani berkorban, berani berlelah-lelah dalam mencapai keberhasilan. Berani bertindak untuk memulai dengan mengatur waktu. Dapat mengambil keputusan adalah orang yang berhasil. Saat memulai, akan mengakhiri dengan baik dengan emaksimalkan potensi yang kita miliki. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan (2 Ptr 1:8-9). Memotivasi diri kita  untuk sungguh-sungguh, sehingga potensi/kelebihan yang ada dapat dibuat maksimal.  Motivasi berarti dorongan yang menyebabkan kita mau melakukan sesuatu dengan benar. Menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.  Untuk menjadi giat dan berhasil membutuhkan semangat. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri, andalkan Tuhan. Tuhan akan memberikan kesempatan pada kita untuk berhasil. Ambil setiap kesempatan yang Tuhan berikan. Menyadari bahwa diri kita punya potensi yang besar dan bersedia mengembangkannya. Berjuang dalam peperangan dengan sungguh-sungguh sampai sesuatu yang ingin kita raih mendatangkan kebaikan.

            Menolak panggilan tertinggi (hight calling) dan pilihan Tuhan adalah kegagalan. Kita dipanggil dan dipilih Tuhan, supaya kita diberkati dan memberkati. Keberhasilan dapat berupa berhasil melepaskan diri dari kejahatan, kebencian serta kepahitan hidup. Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat (1 Ptr 3:9).

            Kemalasan dapat membuat orang yang tadinya berguna, menjadi yang paling tidak berguna. Kemalasan yang dipelihara, tadinya orang hidup dalam kekayaan, bisa berkurang kekayaannya karena malas, hidup dalam kenyamanan dan berhenti untuk sungguh-sungguh.

            Malas adalah keadaan dimana tidak bergairah, menolak bekerja, tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Talenta yang Tuhan berikan, dikubur dalam-dalam tidak terasah karena kemalasan. Orang yang malas, hari ini tidak bisa dipakai Tuhan, besokpun tidak akan dipakai Tuhan dan kelak Tuhan dapat saja mencampakkannya di dalam kegelapan.

Marthin Luther, orang Jerman, hidup selama 62 tahun. Sejak umur 34 tahun Marthin Luther mulai menulis, terus menulis selama 29 tahun. Ada 68 buku yang ditulisnya telah dicetak, masing-masing rata-rata 750 halaman. Dan 27 buku belum dicetak. Marthin Luther juga seorang dosen dan Gembala Sidang. Orang yang dikenang dengan karya-karyanya. Banyak karyanya yang telah menjadi berkat. Dia adalah seorang teladan yang rajin melayani Tuhan. Amatilah semut. Semut tidak pasif, dia bergerak terus bahkan bisa beriring-iringan sedemikian banyaknya. Semut tanpa pimpinan, dia giat mencari, menyediakan dan menyimpan makanannya. Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen (Ams 6:6-8). Semut selalu berkelompok, tidak menyendiri.

Sungguh-sungguh, sehingga Kerajaan Tuhan yang ada di surga, dapat terjadi bagi kita di bumi. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Ptr 5:11). Latihlah diri untuk menjadi rajin sehingga berhasil dalam segala aspek terlebih dalam pengenalan akan Tuhan. Sola Gracia.***

KISAH PERTOBATAN REO PANGGABEAN AKIBAT TERSENTUH KOTBAH SEORANG PENDETA

Pdt. Reo Panggabean

VICTORIOUSNEWS.COM-Pria bernama lengkap Reo Benyamin Panggabean ini kelahiran 16 Juni 1966.  Ia adalah anak kelima dari lima bersaudara, dari pasangan Muller Panggabean (Ayah) dan Helena Hutabarat (ibu). Reo telah menikah dengan wanita dambaannya bernama Dini Dieny Djandam, asal Kalimantan Tengah dan dikaruniai dua orang putra, masing-masing; Zefanya Kaleluni Panggabean (Zefa) dan Nehemia Janrah Panggabean (Nemi).

Kesaksian Reo, berawal saat hadir dalam Ibadah Raya GBI REM di Atrium Senen (1998). Kala itu, ada seorang hamba Tuhan yang berkhotbah dan mengatakan satu kalimat  ‘bayarlah nazarmu’ .  Kalimat itulah yang tergiang dalam telinga Reo dan menjadi “titik balik” dari seluruh kehidupan yang selama itu sudah dijalankan. “Sewaktu Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sesekali suka datang dalam ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Istora Senayan (Jakarta Selatan). Kegiatan tersebut membuat diri saya berkomitmen ingin menjadi seorang pendeta. Alasannya waktu itu sederhana (karena masih remaja yang emosinya belum stabil), enak ya jadi pendeta, bisa ngomong di depan banyak orang, bisa marahin orang untuk bilang ‘bertobatlah’ dan lain sebagainya hahahaha,” katanya sembari tertawa.

“Kalau bertobat yang namanya merasakan jamahan Tuhan adalah saat saya ikut satu acara retreat remaja di Jogjakarta. Di situlah sesungguhnya cinta mula-mula saya. Dengan cinta itulah, saya bahkan berkata kepada ibu saya kalau saya mau jadi pendeta. Mendengar hal itu, ibu saya tertawa. Saat ini, ibu saya pasti menyadari bahwa tertawanya seperti Sara tertawa waktu dikatakan akan mengandung hahahaha,” urainya kembali disambung tawa.

Bagaimana liku-liku yang akhirnya menghantarkan pada pelayanan yang full time? “Pelayanan diri saya bukan hanya sepenuh waktu, tapi juga sepenuh hati. Kesungguhan itu saya wujudkan dengan membangun ‘Oikumene Ministry Jakarta’ yang diawali saat menempuh pendidikan teologia di STT Ekklesia Jakarta (Sinode GSJA) di Gedung Kenanga pada tahun 2003 pasca pernikahan dengan Dini Dieny Djandam yang dilakukan pada 03.03.03 (3 Maret 2003) di GKI Kwitang (Jakarta Pusat),” urainya.

“Sejak menempuh pendidikkan di STT, saya berjanji akan bayar harga di dalam pelayanan yang saya jalani. Pikir saya, berapapun harga yang akan saya keluarkan dalam pelayanan tidak akan pernah dapat membayar apa yang sudah Tuhan Yesus lakukan untuk membayar lunas dosa saya,” tandasnya.

Oikumene Ministry Jakarta menjadi wadah bagi siapa saja dan bagi gereja mana saja yang mau bergabung. Yang pasti siapa saja yang mau bergabung mempunyai hati melayani (misi) dan berani bayar untuk semua keperluannya. “Puji Tuhan Yesus hingga saat ini kami telah melakukan beberapa pelayanan ke beberapa daerah di Indonesia dan luar negeri. Saya menikmati pelayanan ini semua karena, sahabat-sahabat yang mau bergabung mempunyai hati yang sama walaupun mereka berasal dari gereja atau denominasi yang berbeda. Coba bayangin, orang Katolik dan Protestan yang ibadahnya penuh dengan ketenangan bergabung dengan orang Karismatik atau Pantekosta apa jadinya? Mungkin di tempat lain susah, atau mungkin satu gereja dengan gereja yang lain tidak membuka diri. Lihat waktu mereka ada di Oikumene Ministry Jakarta (singkat OMJ) mereka bisa melayani bersama dan punya tujuan yang sama. Haleluya!” kata Reo antusias.

Ditambahkan, sudah saatnya gereja-gereja membuktikan dirinya bahwa mereka benar-benar satu tubuh. Jangan hanya slogan saja! Dengan sedikit senyum dan membagi lesung pipinya. “Jika berbicara kepemimpinan, saya ingat seperti sudah melekat. Sedari kecil, saya selalu dapat mempengaruhi orang bahkan membawa orang ke arah yang saya mau. Bukan itu saja. Terkadang dalam kumpulan ketika harus ambil keputusan akhir tidak sedikit keputusan saya yang menentukan. Ada satu peristiwa yang saya tidak mungkin bisa terlupakan adalah saat saya memimpin adik-adik di STIE Perbanas saat gerakan reformasi penurunan Soeharto Soeharto (8 Juni 1921–27 Januari 2008, Presiden Indonesia kedua periode 12 Maret 1967–21 Mei 1998) pada Mei 1998. Padahal, saat itu, saya sudah menjadi alumni. Sebelum kuliah teologia, saya berkuliah di STIE Perbanas (1985) dan lulus sebagai Sarjana Ekonomi,” ujarnya.

“Selama kuliah, saya merasakan sangat memilik pengaruh di dalam pergaulan. Bahkan, saya bisa bergaul dengan senior yang lima atau enam tahun di atas saya begitupun sebaliknya. Saya begitu berpengaruh kepada adik tingkat saya. Terbukti, dengan kepercayaan mereka meminta saya memimpin rombongan menuju gedung MPR/DPR. Peristiwa 1998 juga kunci bagi kehidupan saya. Setelah Pak Harto lengser saya dihianati oleh adik-adik saya yang menurut saya mereka meninggalkan saya karena kepentingan yang berbeda. Ya, perjuangan yang berbeda. Bagi saya, saat Pak Harto turun ya selesai. Tapi, bagi banyak orang inilah kesempatan meniti karier di bidang politik dengan cara apapun,” katanya.

“Saya ingat waktu itu, di tengah kesendirian, saya mulai berdoa. Menurut saya, berdoanya sangat konyol. Saya minta Tuhan kasih jalan agar saya tidak habis dan menunjukkan kepada mereka bahwa saya benar. Dengan cara yang menurut saya aneh, saya mulai berkenalan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak terpikir akan kenal dengan mereka. Dalam kampanye pemilu paska lengsernya Pak Harto, saya menemani Dr (HC) Hj Megawati Soekarnoputri  (Presiden ke-5 Indonesia periode 23 Juli 2001–20 Oktober 2004, Wakil Presiden Indonesia ke-8 periode 20 Oktober 1999–23 Juli 2001, dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sejak 1999) di Jambi. Kalau mas bisa dapat dokumentasi dari televisi atau media-media cetak mana saja pasti ada wajah saya. Saya puas dan sangat puas. Meski bukan anggota partai dan tanpa kepentingan politik apapun saya mengerjakan tugas ini dan menunjukkan kepada siapapun bahwa saya belum habis hahahaha… banyak loh yang mau minta kerjaan apa aja saat mereka melihat saya bareng ibu Mega dan Alm Dr (HC) H Muhammad Taufiq Kiemas (31 Desember 1942–8 Juni 2013, Ketua Majelis Permusyawaratan ke-13 periode 1 Oktober 2009–8 Juni 2013) berada di Jambi. Apa lagi para pemborong hahahaha.  Setelah ibu Mega jadi presiden, saya cabut. Saya senang aaja kalau bisa kasih tahu sama para ‘bajing loncat politik’ bahwa Tuhan bela saya dan semakin tegas bahwa saya harus tinggalkan semua ini untuk balik sama panggilan yang akhirnya tergenapi dalam satu ibadah yang sudah saya sebut di atas,” jelasnya.

“Kini, pekerjaan saya hanya pelayanan saja. Khotbah hari Minggu, khotbah di kantor, kampus, dan dimana saja. Terbukti, Tuhan Yesus luar biasa memelihara saya tatkala saya sungguh-sungguh mau melayani Dia. Begini saja sobat Victorious, kalau diceritain semua tidak akan ada habisnya. Jadi, pembaca bisa melihat sepak terjang saya di facebook atau instagram di Reo B. Panggabean,” ucap Pdt Reo.

Saat ini, ‘Penre’ singkatan dari Pendeta Reo, begitu biasa disapa oleh para ibu atau oma yang aktif di Persekutuan Doa Regatta (PDR). PDR dibangun oleh Pdt Oke Supit SH MH MBA (71 tahun, kelahiran 10 Oktober 1944) dan Rae Sita Supit (1 Juni 1945-20 Mei 2015) serta Ibu Minarni. Ketiga nama disebut merupakan warga Aparteman Regatta, Pantai Mutiara (Pluit, Jakarta Utara).  margianto/tabloid victorious edisi 842

KUNJUNGAN KLH SITI NURBAYA KE PGI: BERSAMA-SAMA PEDULI TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP

 

Pose bersama Jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan pimpinan PGI. (foto: pgi.or.id)

Jakarta,Victoriousnews.com-Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menerima kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ibu Siti Nurbaya, beserta jajarannya. Dalam pertemuan kali ini, beberapa konflik masyarakat, menjadi bahan diskusi, seperti kasus TPL, dan Pulau Romang, dan lainnya. Berharap, kebijakan- keputusan, dari pihak yang mengeluarkan keputusan tetap berpihak pada kepentingan umum

“Selama ini perizinan dalam pengelolaan hutan selalu diberikan kepada korporasi, dan rakyat terpinggirkan”, demikian Dr Ir Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, mengawali percakapan antara Menteri LHK betsama jajarannya dengan MPH-PGI dalam kunjungannya ke Grha Oikoumene PGI, Kamis 18/1 2018.

Menteri yang didampingi oleh Sekjen KLHK, Dirjen PPI, Dirjen PSLB3 juga menjelaskan bahwa pada 30 Desember 2016 lalu Presiden Jokowi sudah mencanangkan Perhutanan Sosial, di mana pengelolaan hutan juga diberikan kepada masyarakat adat. Sebagai langkah awal, Presiden telah meredistribusi hutan negara kepada masyarakat adat. “Harus ada keseimbangan antara korporasi dengan rakyat, demi membangun produktivitas masyarakat. Bahkan Presiden berpesan agar masyarakat didahulukan”, sambungnya.

Menteri sangat mengapresiasi langkah-langkah yang ditempuh oleh PGI dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat ini, termasuk dalam mempercepat proses pengelolaan Perhutanan Sosial ini. Sebelumnya PGI menayangkan video singkat berisikan advokasi PGI tentang lingkungan hidup dan perjuangan masyarakat adat atas hak-haknya.

Sekum PGI, Pdt Gomar Gultom, pada kesempatan ini menyampaikan betapa masih banyaknya konflik agraria berhubung pengelolaan tata ruang yang tak adil selama ini. “Kami cukup banyak menerima pengaduan dari masyarakat seperti masyarakat dari Pulau Romang di Maluku, sebelas kelompok masyarakat adat dari Tanah Batak, kelompok masyarakat dari Tulangbawang, Lampung, masyarakat Kalumpang di Sulawesi Barat, dan masyarakat Dayak terkait dengan sertifikasi dll”, kata Gomar.

Gomar juga memaparkan langkah-langkah yang telah dan sedang dilakukan oleh PGI terkait Perhutanan Sosial, dalam kerjasama dengan KLHK. Selain mempersiapkan demplot sebagai pilot projek di tiga sinode gereja, PGI juga baru menyelesaikan penyusunan Modul Pelatihan bagi Pelayan Gereja dalam rangka Perhutanan Sosial.

Terkait dengan redistribusi tanah dan perhutanan sosial ini, Menteri sempat menyampaikan hambatan yang muncul. “Proses-proses politik lokal bisa saja menjadi penghalang. UU Kehutanan menyebutkan bahwa hutaj bisa diserahkan kepada masyarakat jika sudah ada perdanya.”, kata Menteri.

Menteri memberikan contoh bahwa Presiden telah mengeluarkan 5172 ha dari konsesi TPL dan menyerahkannya kepada masyarakat Sipituhuta di Humbang Habinsaran di akhir 2016 lalu, namun hingga kini Bupati dan DPRDnya belum juga mengeluarkan Perdanya.

Dalam kaitan ini Sekum PGI mengatakan bahwa salah satu upaya PGI adalah mendorong gereja-gereja untuk ikut menghimbau para anggota DPRD lebih perduli mengenai hal ini agar sejalan dengan policy pemerintah pusat yang sudah baik ini.

Selain membahas masalah perhutanan sosial ini, percakapan juga menyoroti perlunya kesadaran akan keselamatan lingkungan dan pengelolaan sampah. Ketum PGI mengungkapkan bahwa PGI sudah hampir 8 tahun memgkampanyekan pengurangan penggunaan plastik dan tissu. “Kami mendorong gereja-gereja untuk mengurangi penggunaan minuman kemasan plastik. Kami juga mewajibkannsemua staf untuk selalu membawa tumbler dan saputangan,” kata Ibu Henriette.

Pada kesempatan tersebut, Ketum PGI, Pdt Henriette Lebang, menyerahkan beberapa buku terbitan PGI terkait dengan masalah lingkungan hidup dan pengelolaan hutan sosial, antara lain “Kebijakan Gereja-gereja tentang Konflik Agraria dan Degradasi Lingkungan”. Juga diserahkan buku “Gereja Sahabat Alam”, sebuah panduan praktis bagi warga gereja untuk ikut berpartisipasi menyelamatkan bumi yang terancam kiamat ekologis. Ketum PGI juga menyerahkan “Modul Pelatihan bagi Pelayan Gereja dalam Pengelolaan Hutan Sosial”

Dr. Imam Prasodjo yang ikut mendampingi Menteri menyebutkan peran strategis para tokoh agama dalam mengedukasi masyarakat akan isu lingkungan hidup ini. Dan dalam hal ini beliau melihat peran strategis gereja. Sementara Dr. Sarwono Kusumaatmadja yang juga turut serta menyatakan apresiasinya atas upaya-upaya yang dilakukan oleh PGI. margianto/pgi.or.id

POLITISI KRISTEN HARUS PRAKTIKKAN NILAI-NILAI KRISTIANI & AJARAN FIRMAN TUHAN!

Pembicara diskusi Gerkindo 19/1. Ki-ka: Jerry Sumampouw, Yerry Tawalujan, Boni Hargens, dan Pdt. Gomar Gultom

Jakarta, Victoriousnews.com-Pengamat politik, Boni Hargen sebagi pemateri dalam diskusi publik yang mengusung tema “Bagaimana Menghadirkan Politisi Kristen Yang Cerdas Dan Berintegritas”, Jumat (19/01/2018) di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)  Lantai 10, Jalan Salemba Raya 12 Jakarta Pusat, mengatakan, diskusi ini sangat menarik  karena bicara Kristen. Karena ini patokan untuk seorang politisi yang sesuai dan praktikkan nilai-nilai Kristen. “Selama ini tidak ada jaminan politisi Kristen tidak lepas dari korupsi. Ini penting diperhatikan. Karena itu, satu hal yang penting terkait dengan topik bahasan adalah metanoia, artinya harus sesuai dengan firman,” tutur Boni Hargens

Boni Hargens (Direktur Lembaga Pemilih Indonesia)

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) ini mengatakan bahwa, menjembatani agama dan politik adalah perjuangan missioner yang dilandasi oleh asumsi etis yang dibahas di awal: moralitas adalah kandungan inheren dari politik demokrasi. Hal itu benar! Prinsip-prinsip pokok demokrasi adalah nilai-nilai etis yang melandasi seluruh argumentasi tentang kandungan moral dalam demokrasi. Namun, demokrasi dalam prinsip (das Sollen) dan demokrasi dalam praksis (das Sein) adalah dua hal yang berbeda. Dan selalu ada jurang di antara. “Agama mendesak operasionalisasi prinsip moral harus terungkap dalam keseluruhan praktek politik. Hal itu mengandaikan para pelaku politik memahami, menerima, dan berniat mewujudkan dalil moral dalam keberkuasaan. Maka, proses politik sesungguhnya upaya memperjuangkan kebaikan umum yang dilandasi dan disasarkan pada tujuan etis yaitu kebaikan setiap orang yang ada dalam lingkup politik. Fakta ini jarang ditemukan. Tautan agama dan politik yang diperlihatkan justru berupa gambar-gambar kekejian, diskriminasi, dan hasutan kebencian terhadap kelompok politik lain yang berbeda agama. Itulah yang kita lihat dalam proses pemilihan Gubernur Jakarta tahun 2017. Kekalahan Ahok bukanlah alasan untuk meratap, tetapi cara Ahok dikalahkan. Ahok dikalahkan dengan mobilisasi statement keagamaan yang berisikan kebencian, permusuhan, dan dendam. Di sini, agama bukan oase moral melainkan benih pertikaian,” papar Boni Hargens.

Baca Juga:GERKINDO DORONG UMAT KRISTEN UNTUK MENJADI POLITISI YANG CERDAS & BERINTEGRITAS

Menurut Boni, membangun habitus baru adalah upaya mendekonstruksi habitus lama yang tidak beradab dan mengkonstruksi ruang hidup (Lebensraum) yang menumbuhkan keadaban politik. Agama bukan sumur kebencian melainkan oase yang memberi kesegaran. Agama menjadi sumber kebajikan untuk memberadabkan politik yang binal dan biadab. “Kalau dalam habitus lama, moral dicabut dari politik, maka dalam habitus baru, moral adalah energi dasar dari politik. Habitus baru yang kita maksud adalah suatu keadaan hidup baru yang di dalamnya nilai-nilai moral menjadi pedoman dan roh yang menjiwai seluruh aktivitas sosial politik. Dalam habitus lama, manusia politik menjadikan dirinya sebagai sentrum dari aktivitas dan tujuan politiknya pada penciptaan bonum commune. Mengikuti alur berpikir kaum utilitarian, suatu tindakan dianggap baik atau jahat tidak ditentukan oleh motifnya, tetapi oleh seberapa besar keuntungan yang diberikan untuk hajat hidup orang banyak,” ungkap Boni. margianto

POLITISI KRISTEN HARUS TAKUT AKAN TUHAN, CAKAP & BENCI AJARAN SUAP

Pembicara diskusi Gerkindo 19/1. Ki-ka: Jerry Sumampouw, Yerry Tawalujan, Boni Hargens, dan Pdt. Gomar Gultom

Jakarta, Victoriousnews.com-Dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh Gerakan Kasih Indonesia (Gerkindo) dengan mengusung tema “Bagaimana Menghadirkan Politisi Kristen Yang Cerdas Dan Berintegritas”, Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom, mengungkapkan, dalam pemaparannya, bahwa, ideologi bangsa kita masih belum tuntas. Karena masih banyak orang maupun kelompok-kelompok tertentu yang ingin mengganti ideologi bangsa Indonesia. Kemudian Gomar menyitir pernyataan seorang penulis buku bernama Max Lane, bahwa bangsa yang belum selesai dengan ideologinya, belum siap untuk membangun bangsanya.

Pdt. Gomar Gultom (Sekum PGI)

Gomar menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki sistem demokrasi prosedural/keterwakilan sesuai logika dasar pemilu yang melahirkan 4 indikator yang dapat merusak mental demokrasi. Pertama,  terjadi politik transaksional (kalau tidak ada uang jangan berharap bisa menang pemilu atau menang sebagai caleg).  “Hal inilah yang bisa memicu fenomena perburuan harta dan kekuasaan. Sehingga yang terjadi adalah perubahan dari ketokohan seseorang dan kekuatan pasar pemilih. Jika ini terjadi terus menerus maka akan berujung, fungsi Negara untuk mensejahterakan rakyatnya akan tergerus oleh proses privatisasi,” tutur Pdt. Gomar Jumat (19/01/2018) di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)  Lantai 10, Jalan Salemba Raya 12 Jakarta Pusat.

Indikator yang kedua, lanjut Gomar, adalah terjadinya politik identitas yang bisa menjadi ancaman serius bagi kemajemukan. Misalnya, politik identitas dan politisasi agama yang dimainkan dalam Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. “Indikator ketiga adalah terjadinya demokrasi Nir-etika—atas nama demokrasi yang menganggap seolah-olah sah dan bisa menghalalkan segala cara. Indikator keempat adalah terjadinya oligarki partai, setiap caleg bisa mendapat tiket dan gerbang masuk ke parlemen harus melalui partai,” papar Gomar.

Lalu bagaimana peran gereja terhadap politik? Menurut Gomar, gereja harus hadir menjadi garam dan terang serta mengusahakan kesejahteraan bangsa. “Gereja tidak boleh terjebak dalam politik praktis. Tetapi gereja harus memberikan pendidikan politik bagi warga/jemaat yang ingin terjun ke dunia politik. Misalnya, mencari figur yang takut akan Tuhan, cakap dan benci terhadap ajaran suap,” urainya.

Masih menurut Gomar, idealnya seorang politisi Kristen setidaknya harus memiliki  kriteria-kriteria berikut antara lain; memiliki identitas, cakap, integritas, influence dan ada keberpihakan kepada konstituen yang diwakili. “Dia harus punya identitas yakni harus jelas Kristennya, cakap punya kemampuan legislatif dan lobi, juga memiliki pengaruh dan tentu harus jelas keberpihakan kepada konstituen yang diwakili,” tegas Gomar Gultom. margianto

GERKINDO DORONG UMAT KRISTEN UNTUK MENJADI POLITISI YANG CERDAS & BERINTEGRITAS

Pembicara diskusi Gerkindo 19/1. Ki-ka: Jerry Sumampouw, Yerry Tawalujan, Boni Hargens, dan Pdt. Gomar Gultom

Jakarta, Victoriousnews.com- Ormas bernama Gerakan Kasih Indonesia (GERKINDO) menyelenggarakan Diskusi Publik dengan mengusung tema “Bagaimana Menghadirkan Politisi Kristen Yang Cerdas Dan Berintegritas”, Jumat (19/01/2018) di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)  Lantai 10, Jalan Salemba Raya 12 Jakarta Pusat. Acara diskusi yang dipandu oleh Ketua Umum Gerkindo, Pdt. Efraim Yerry Tawalujan sebagai moderator ini, menampilkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya. Diantaranya adalah: Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum PGI), Jeirry Sumampouw (Koordinator Komite Pemilih Indonesia/TePi)  dan Boni Hargens (Direktur Lembaga Pemilih Indonesia/LPI).

Ketua Umum Gerkindo, Yerry Tawalujan, mengatakan, bahwa memberikan edukasi politik kepada warga gereja dan pemimpin-pemimpin Kristen merupakan salah satu tugas pihaknya. Tujuannya agar warga gereja maupun pemimpin Kristen aktif terlibat di dunia politik. “Bukan untuk mengejar kekuasaan, tetapi sebagai bagian dari pelayanan, bagian dari tanggung jawab rohani untuk menjadi terang dan garam, juga di bidang politik.  Karena, tujuan akhirnya untuk Indonesia sejahtera,” tukas Yerry.

Yerry Tawalujan (Ketua Umum Gerkindo)

Menurut Yerry, dari perspektif Kristiani, Indonesia sejahtera adalah perintah Alkitab. Untuk membuat bangsamu sejahtera,  itu jelas tertulis dalam Alkitab yaitu dalam kitab Yeremia 29 ayat 7. Lebih lanjut, dia menjelaskan, menghadirkan politisi yang cerdas dan berintegritas merupakan dua hal yang harus dimiliki oleh seluruh politisi, khususnya politisi Kristen. “Cerdas, berbicara tentang kapabilitasnya tentang skillnya, yang akan menjadi pertanyaan kenapa Anda mau maju jadi caleg,” katanya.

Lanjut Yerry, integritas menyangkut karakter seseorang. Karena banyak orang yang cerdas, namun integritasnya kurang. “Kita mau cari dua hal ini berjalan bersama-sama. Tokoh yang cerdas, kadar intelektualnya bagus, performa kinerjanya luar biasa, track recordnya bagus, tapi juga ditunjang dengan integritas, dengan karakter, karakter yang sudah terbukti, orang-orang seperti inilah yang harus kita hadirkan di Senayan (DPR) maupun di DPD tingkat I dan tingkat II,” tandasnya.

Sementara itu,  Jerry Sumampouw, lebih menyoroti bahwa seorang politisi harus mengenal dirinya, mengenal saingannya, mengenal medan pertempuran dan harus memahami regulasi atau aturan pemilu. “Kalau seorang caleg tidak punya modal materi, modal sosial, modal basis konstituen maka sebaiknya berpikir ulang untuk maju. Sebaiknya juga harus maju dari daerah dimana dia tinggal,” tegas Jerry.

Jerry Sumampouw (Koordinator TePI)

Apakah mungkin ada politisi Kristen yang bersih? “Jika kita ingin memiliki politisi Kristen yang bersih, maka harus dipersiapkan dari sekarang. Misalnya, mengajak/mengkader warga gereja yang berkompeten untuk menjadi caleg; mengkosolidasikan caleg Kristen untuk didistribusikan di lintas partai. Kenapa harus begitu? Karena dalam medan politik itu kotor, maka kita harus menjadi “sapu” untuk membersihkannya. Intinya, harus ada caleg Kristen yang bersih,” ujar Jerry Sumampouw.

Baca juga: POLITISI KRISTEN HARUS TAKUT AKAN TUHAN, CAKAP & BENCI AJARAN SUAP

Menurut Jerry, kerja politik itu harus rasional, tidak boleh emosional. Kerja politik itu tidak boleh reaktif, tetapi harus proaktif. “Dalam politik itu tidak ada juara harapan. Yang ada hanya menang atau kalah. Oleh sebab itu seorang politisi tidak boleh melakukan kesalahan. Sebab sedikit saja kesalahan, maka bisa berakibat fatal. Kita harus tanamkan sejak dini, bahwa politik adalah pengabdian untuk menyelesaikan persoalan. Dan politik adalah adalah pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk dilayani,” ungkap Jerry.margianto

Narwastu Berikan Award Kepada ‘21 Tokoh Kristiani 2017’ Sebagai Pemimpin Inspirator & Motivator

21 Tokoh Kristiani 2017 versi Majalah Narwastu

Jakarta, Victoriousnews.com,-Setiap tahun, majalah Narwastu yang dipimpin oleh Jonro I Munthe, S.Sos tak pernah absen dalam menjaring serta memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh Kristiani yang dinilai mampu menjadi inspirator dan motivator bagi umat Kristiani dan masyarakat umum. “Mereka kami nilai sosok pelayan yang mampu menginspirasi dan mampu memotivasi sesuai dengan profesi atau pelayanannya. Misalnya, ada yang aktif di organisasi gerejawi, sosial, politik, hukum, HAM, kepala daerah, aktif di bidang kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan pendidikan, dan itu cukup menarik dicermati dan direkam. Dari situlah kami lihat sepanjang tahun 2017 ini ada muncul sejumlah figur pejuang (Baca: tokoh) yang bersentuhan dengan berbagai peristiwa menarik di tengah gereja, masyarakat dan bangsa ini,” ujar Pemimpin Redaksi Majalah Narwastu, Jonro I Munthe, dalam keterangan tertulis, terkait penganugerahan tokoh Kristiani 2017, Kamis (18/1/2018).

Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemred Narwastu) ketika menyampaikan kata sambutan

                Menurutnya, ada tiga kriteria yang media tersebut tetapkan untuk memilih tokoh yang dinilai layak menjadi Tokoh Kristiani 2017. Pertama, populer dalam arti yang positif di bidangnya masing-masing. Kedua, peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan nasional. Ketiga, tokoh tersebut kerap jadi perbincangan dan muncul di media massa, baik karena pemikiran yang inovatif, aktivitas maupun ide-ide kontroversialnya. “Tokoh tersebut harus menjadi inspirator dan motivator di tengah jemaat atau masyarakat. Bagi tim Narwastu, tak mudah untuk memilih seseorang agar jadi ‘tokoh Kristiani’. Lantaran kiprahnya harus kami ikuti pula lewat media massa, khususnya media Kristen, termasuk mencermati track record-nya. Pada akhir 2017 ini, kami pilih lagi “21 Tokoh Kristiani 2017.” Seperti tahun lalu, ada berlatarbelakang advokat, politisi, jenderal, tokoh lintas agama, pengusaha, aktivis HAM, pemimpin gereja, aktivis gereja, jurnalis, pimpinan ormas, dan aktivis LSM,” papar  alumni IISIP Jakarta, dan peraih award sebagai “Jurnalis Muda Motivator pada 2009 dari Majelis Pers Indonesia (MPI)”.

                Dari hasil seleksi tim Narwastu, sejak awal September 2017 dari 100 nama yang dipilih, ada 21 tokoh yang ditetapkan menginspiratif dan menjadi motivator dalam bidang masing-masing yakni: (1) Prof. Thomas Pentury, M.Si (Dirjen Bimas Kristen Protestan Kemenag RI) (2) Drs. Steven Kandouw (Wakil Gubernur Sulawesi Utara), (3) Dr. Ayub Titu Eki (Bupati Kabupaten Kupang, NTT), (4) dr. Gilbert Simanjuntak (Dokter Mata dari UKI, Jakarta), (5) Dennis Firmansjah, M.M. (Konsultan Bisnis/Profesional) (6) Piter Siringoringo, S.H. (Advokat Senior), (7) Pdt. Dr. Robinson Butarbutar (Ketua Rapat Pendeta Sinode HKBP), (8) Laksma TNI (Purn.) Paruntungan Girsang, M.Sc (Mantan Sekretaris Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut), (9) Dr. dr. Ampera Mattipanna (Dokter dari Makassar), (10) Pdt. Osil Totongan, S.Th, M.Min (Rohaniwan), (11) Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, M.M., S.H., M.H. (Ketua DPD API Jawa Barat), (12) Pdt. M. Tomana, M.Th (Ketua Sinode Gereja Sahabat di Indonesia), (13) Pdt. Gunawan Iskandar, S.E., M.M. (Rohaniwan dari Singapura), (14) Jemmy Mongan (Aktivis Kemanusiaan), (15) Pdt. William Wairata (Direktur LPMI), (16) Ir. Fajar Seto Hardono, M.M. (Wakil Ketua Umum BKPAK(, (17) Esra Manurung (Motivator dan Konsultan Keuangan), (18) dr. Aris Tambing, MARS (Direktur Rumah Sakit Jiwa Grogol), (19) Heben Heser Ginting, S.E., AM.d (Mantan Calon Bupati Tanah Karo, Sumut), (20) Pdt. Halomoan Simanjuntak, S.Th (Sekretaris Umum PGI Wilayah Sumatera Selatan) dan (21) Jefri Kadang (Aktivis gereja dari Bandung).

“Inilah hadiah Natal terindah atau apresiasi dari Narwastu sebagai insan media kepada Bapak/Ibu dan saudara. Bapak/Ibu dan saudara selama ini kami nilai pula telah ikut membentuk karakter bangsa ini, selain bisa menginspirasi dan memotivasi banyak orang. Dan pemberian penghargaan kepada 21 Tokoh Kristiani 2017 ini dari Penasihat dan Pimpinan Majalah NARWASTU sudah diadakan pada 12 Januari 2018 di Gedung LPMI Menteng, Jakarta Pusat. Dan dihadiri para tokoh yang terpilih, serta diawali dengan kebaktian Natal dan doa syukur memasuki Tahun Baru 2018 Pdt. Dr. Nus Reimas,” pungkas Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Narwastu, Jonro I. Munthe, S.Sos kepada pers. Margianto/foto: JM

PESAN PEBULU TANGKIS INDONESIA, EV.IMELDA WIGUNA KEPADA KAUM DEBORAH GBI REM KELAPAGADING: TUHAN TAK PERNAH GAGAL!

Ev. Imelda Wiguna ketika menyampaikan firman Tuhan dalam ibadah Deborah GBI REM Kelapagading, Senin, (15/1)

Jakarta, Victoriousnews.com,- “Tuhan Tak Pernah Gagal. Apa yang Tuhan rancangkan untuk kita tidak pernah gagal. 2018 adalah tahun kepastian!. Roh Kudus dan firmanNya tidak akan pernah meninggalkan kita,” ujar Evangelist Imelda Wiguna ketika menyampaikan firman Tuhan dalam ibadah wanita Deborah Women Fellowship di GBI REM Kelapagading, Jl. Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G-K, Kelapagading-Jakarta Utara, Senin, (15/1) siang.

Pemain bulutangkis Indonesia era tahun 70 s/d 80-an ini mengupas tema “Tuhan Tak Pernah Gagal” yang mengambil nats Alkitab dari kitab Yeremia 29:11. ‘Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan’. “Firman Tuhan tidak pernah berubah, dahulu sampai sekarang. Oleh karena itu berpeganglah kepada janji Tuhan. Seringkali Tuhan izinkan masalah datang dalam kehidupan kita. Namun lewat masalah itu seharus justru membuat kita semakin dekat dengan Tuhan. Sebab, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk menjawab doa kita dan meluputkan kita dari segala persoalan. Tuhan itu baik, tak ada rencana Tuhan yang jahat,” tutur wanita kelahiran Slawi, Jawa Tengah, 12 Oktober 1951.

Menurut mengajak kaum wanita Deborah Kelapagading yang dipimpin oleh Ibu Lenty Dewanto, agar mempergunakan lidah/mulut kita untuk memuji nama Tuhan. “Firman Tuhan katakan, perkataan lidah itu dashyat (Yakobus 3:5-9). “Oleh karena itu, Ibu-ibu mari kita gunakan lidah kita untuk memuji Tuhan, jangan ngomongin hal-hal yang negatif dan yang tidak berkenan kepada Tuhan,” tukas peraih gelar juara ganda putri dan ganda campuran All England 1979 ini. Seusai penyampaian firman Tuhan, Ev. Imelda Wiguna didaulat untuk mendoakan jemaat Deborah kelapagading (Ibu Jini Supit) yang berulang tahun beberapa waktu lalu.

Usai Ibadah Kaum Deborah foto bersama Ev. Imelda Wiguna

Bagi kaum wanita yang rindu untuk mengalami lawatan Tuhan, dimenangkan dari segala pergumulan keluarga, mari bergabung bersama dalam ibadah kaum Deborah di Kelapagading setiap hari Senin pukul 11.00 Wib. Rike/foto: Yes