Kemenhub RI Memberikan Bantuan Bis Untuk Kegiatan SR XVII PGI Di Sumba

Kemenhub RI Memberikan Bantuan Bis Untuk Kegiatan SR XVII PGI Di Sumba

Para Supir Bis diberi rompi tugas dan didoakan untuk bekerja dengan tertib dan memperhatikan keselamatan peserta Pra SR & SR

Perhelatan Akbar Sidang Raya Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (SR PGI) XVII akan digelar Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 7 sd 14 November 2019 mendatang. Acara yang akan  dihadiri oleh ribuan peserta dari lintas sinode anggota PGI di seluruh Indonesia, tentu membutuhkan transportasi yang memudahkan  para peserta untuk hadir di lokasi persidangan. Oleh sebab itu,  seminggu pra  Sidang Raya,  kementrian Perhubungan RI ‌menyerahkan bis bantuan untuk transportasi peserta Sidang Raya XVII PGI 2019. Proses penyerahan secara simbolis dilaksanakan di Gedung Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Payeti, oleh Kepala Balai Perhubungan kepada Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbiliyora, M.Si.

Selain pemberian kunci, juga ‌pemakaian rompi untuk sopir bis, dan Damri yang dipakaikan secara simbolis diwakili oleh Bupati Sumba Timur, Kepala Balai Perhubungan, Sekum PGI, Ketua Sinode GKS, Sekretaris Daerah, Dandim, perwakilan Kapolres, Ketum Panitia, dan Ketua Pelaksana.

‌Pada kesempatan itu, Panitia Pelaksana Sidang Raya XVII PGI memberikan cinderamata kepada Kepala Balai Perhubungan, dan rombongan, serta sopir, berupa pemakaian selendang Sumba Timur.

‌Dalam sambutannya, Kepala Balai Perhubungan mengucapkan terima kasih atas penerimaan yang hangat dari Bupati Sumba Timur dan Panitia Sidang Raya XVII PGI. Dia menyampaikan bahwa bantuan bis berjumlah 25 buah, dan Damri 7 buah ini, diharapkan dapat membantu kelancaran kegiatan Sidang Raya XVII PGI di Pulau Sumba. “Ada salam dari Pak Menteri, Beliau sampaikan hanya ini yang bisa kami bantu dan beliau mendoakan dan berharap sidang raya PGI XVII Di Pulau Sumba bisa berjalan dengan baik dan Damai,” tandasnya.

‌Sementara itu, Drs. Gidion Mbiliyora, M.Si. mengucapkan terima kasih banyak kepada Menteri Perhubungan melalui Kepala Balai Perhubungan, yang sudah datang langsung menyerahkan bantuan tersebut. Menurutnya, ini bentuk kepedulian dan perhatian pemerintah pusat bagi pelaksanaan Sidang Raya XVII PGI di Pulau Sumba. “Kami sangat bersyukur bisa menerima bantuan ini, sekiranya bisa bermanfaat bagi keberlangsungan acara ini,” tegasnya. SM/IS

Tokoh Muslim Moderat, Dr. Alwi Shihab dan Istri Alm. Gus Dur (Sinta Nuriyah Wahid) Hadiri Puncak Acara HUT Emas GYK dari OSZA di Balai Sarbini

Cendekiawan Muslim Moderat, Dr. Alwi Shihab dan Istri Alm Gus Dur (no 5 & 6 dari kiri) menghadiri Puncak HUT Emas GYK OSZA.

JAKARTA, Victoriousnews.com,- “Bangkit dan Bersinar”. Demikian judul buku yang diluncurkan sekaligus menandai puncak perayaan HUT EMAS (50 tahun) Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir (GYK dari OSZA) di Indonesia yang digelar di Balai Sarbini, Plaza Semanggi, Jl Jend Sudirman-, Jakarta Selatan, Sabtu (26/10) 2019.
Dalam perayaan HUT Emas yang menampilkan acara menarik dengan konsep “Malam Pagelaran Opera Budaya Nusantara” terasa sangat istimewa. Karena, selain dihadiri oleh Elder David F Evans (Presiden GYK OSZA area Asia), Elder Djarot Subiantoro (Dewan Area 70 Indonesia), Erwin Dumalang, Agus Suparmanto (Pasak Jakarta-Jawa Barat), Sugiyanto (penyusun buku 50 tahun GYK OSZA), juga dihadiri oleh tokoh Muslim moderat, yakni: Dr. Alwi Shihab serta Istri Alm. Gus Dur (Sinta Nuriyah Wahid).

Puncak HUT ke 50 GYK OSZA tampilkan pagelaran opera budaya nusantara

Elder Djarot Subiantoro, dari area 70 Indonesia, menjelaskan Tema HUT Ke-50 GYK dari OSZA adalah “Bangkit dan Bersinar”. Menurut Elder Djarot, sebagai pengikut Kristus, Jemaat GYK dari OSZA senantiasa berusaha mengamalkan dua perintah utama yang tercantum dalam Matius 22:36-39, yakni untuk mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama manusia, dan Yohanes 14:15 yaitu bila mengasihi Tuhan, kita akan menuruti segala perintah-Nya.
“Hal ini selaras dan konsisten dengan doa dedikasi di Tanah Indonesia 50 tahun yang lalu, dengan visi, pelayanan dan kehidupan kami selagi berusaha menjadi orang-orang suci di zaman akhir.Dan diharapkan dapat bangkit dan bersinar sebagai sebuah keluarga dan komunitas, dijadikan makmur, diberkati sehingga menjadi produktif. Pekerjaan tersebut akan lah tidak mudah, namun akan berhasil karena ini adalah pekerjaan Allah,” tukas Djarot menambahkan bahwa GYK OSZA ini berada di Indonesia sejak 1969 dan didirikan di Amerika Serikat sejak April 1830.
Sementara itu, Penyusun Buku “Bangkit dan Bersinar 50 tahun Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di Indonesia”, Sugiyanto, menjelaskan bahwa isi buku ni adalah semi antologi. Yaitu gabungan antara kumpulan mengenai pesan penting dan berita kegiatan di lapangan dalam rangka merealisasikan program kerja, atau konkretnya adalah Injil dalam Tindakan.

Ka-ki: Sugiyanto (Penyusun Buku Bangkit & Bersinar), Elder Djarot Subiantoro, dan Elder David F Evans

Lanjut Sugiyanto, isi buku ini mengandung pesan-pesan berharga dari para pemimpin yang maknanya tidak lekang oleh waktu. Selain merupakan hasil penelusuran sumber-sumber internal, juga diperkaya dengan referensi dari buku, majalah, dan sumber daya lain yang dipilih. Dengan menelaah buku ini para pembaca diharapkan menjadi lebih bijak dalam menyikapi keberadaan Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, yang bukan sebuah ancaman, alih-alih sebagai mitra dalam pembangunan kerohanian, keinsyafan, kesalehan dan peradaban unggul umat manusia.
Presiden Area Asia GYK OSZA, Elder David F.Evans, kepada wartawan yang bernaung dalam Perkumpulan Wartawan Media Kristiani (PERWAMKI), mengungkapkan, bahwa, dimanapun GYK OSZA berada, selalu berusaha menghormati norma dan hukum yang ada di Negara tersebut. “Kami ingin berbagi dan memberkati suatu bangsa dimana kami berada. Saat memperkenalkan keberadaan dan pengajaran gereja, kami (GYK OSZA) tidak pernah memaksakan untuk ikut, semua diserahkan kepada orang per orang sambil melakukan perbuatan kasih seperti 2 perintah injil (Matius 22:36-39),” papar Evans yang mengaku telah membawahi GYK OSZA di 21 negara.

Dalam sambutan tertulisnya, Cendekiawan Muslim, Dr Alwi Shihab, menyampaikan, 50 tahun perjalanan Gereja Yesus Kristus dari OSZA di Indonesia menjadi salah satu bukti bahwa keberagaman terawat dengan baik di Indonesia.
“Telah 50 tahun, Gereja Yesus Kristus Dari OSZA tumbuh dan berkontribusi aktif dalam berbagai sektor kemanusiaan, bergotong royong dan bahu membahu dengan masyarakat dalam berbagai bidang, salah satunya kepedulian terhadap penanganan kebencanaan alam,” ujarnya.
Lanjut Alwi,  satu hal keunikan Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia saat ini, namun banyak komunitas beragama lain yang juga hidup dan berkembang, bahkan, sebagian besar agama dunia hidup berdampingan dalam persahabatan dan kedamaian sepanjang waktu.
Alwi mencontohkan LDS Charities yang dimiliki oleh GYK dari OSZA, telah 50 tahun di Indonesia, menempatkan keluarga sebagai unit utama kehidupan dalam rangka mencapai kedamaian peradaban yang lebih luas. “Dengan kata lain, kita harus menciptakan dalam diri kita perasaan bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan, bahwa orang-orang dari setiap jalan dijamin dalam hubungan khusus dengan Tuhan: masing-masing dipilih, tidak hanya untuk misi tetapi juga untuk cinta khusus,” imbuhnya.
Ketiga agama yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam itu, menurut Alwi, seperti saudara kandung dalam keluarga yang sehat.
“Kita mungkin memiliki perbedaan dan persaingan yang besar, tetapi pada akhirnya kita harus berusaha untuk saling melindungi dari bahaya dan nasib buruk. Kita harus mencoba bersatu untuk memperbaiki dunia di sekitar kita, sebagai wujud peran serta dan kontribusi yang tidak bisa dinilai dari besar kecil bentuknya melainkan dari kemurnian dan keikhlasan hati,” ungkapnya.
Alwi juga mengucapkan selamat berulang tahun yang ke-50 Gereja Yesus Kristus dari OSZA, dengan harapan terus berperan serta dan berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia.
“Mari kita hadirkan senyum Ibu pertiwi atas terwujudnya keharmonisan, ketoleransian, dan kerukunan beragama sebagai wujud karunia dan anugerah Ilahi yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia,” tandasnya.
Mewakili Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Gomar Gultom, MTh, mengucapkan selamat HUT ke-50 dan Peluncuran Buku 50 tahun Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di Indonesia.“Saya mengapresiasi pelayanan Gereja OSZA di Indonesia yang selalu tanggap dalam berbagai bencana yang terjadi di Indonesia. Hal ini memperlihatkan komitmen Gereja OSZA dalam aksi-aksi kemanusiaan, sebagai wujud pewartaan kabar baik di tengah masyarakat dan bangsa Indonesia di tengah krisis yang dihadapinya,” ujar Gomar.SM

Menerapkan Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Generasi Penerus Bangsa

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Pemuda merupakan sekelompok golongan muda yang akan menjadi penerus bangsa di masa depan. Bangsa Indonesia kedepan ditentukan oleh pemuda yang mengisi bangsa ini. Pemuda juga kuat menjaga dan megawal bangsa, maka akan lebih baik Indonesia masa depan. Pemuda harus memiliki tubuh dan juga semangat yang kuat dalam menjaga dan mengawal bangsa. Rusaknya moral dan akhlak pecandu narkoba, maka akan membawa kehancuran bangsa kedepan. Untuk mencegahnya salah satu, pancasila inilah yang dapat digunakan sebagai benteng dan ideologi sebagai  dasar pemuda.

Indonesia merupakan negara hukum yang berbentuk pancasila, sebagai suatu alat perekat bangsa. Pancasila bukan sekedar sebagai dasar ideologi saja, tetapi didalamnya terdapat sosok yang memiliki peranan penting, terutama pemuda dalam menjaga keutuhan pancasila. Pemuda sebagai peran pilar pondasi bangsa penggerak pembangunan nasional dalam memastikan pancasila sebagai satu-satunya ideologi yang cocok dan sesuai dengan kepribadian bangsa yang harus terus dijaga, tepi dalam kenyataannya pemuda-pemuda kita semakin diserang dengan gaya hidup yang konsumtif dan hedonis yang ditawarkan liberalisme sebagai pendukung utama fundamentalisme pasar. Disisi lain fundamentalisme agama telah berhasil menculik anak-anak, pemuda Indonesia menjadi pelaku terorisme yang telah menyimpang dari ajaran agama yang benar. Inilah yang bertolak belakang dengan nilai-nilai pancasila. Untuk itu, pemerintah dan pemuda-pemuda Indonesia perlu mensosialisasikan dan mengamalkan nilai-nilai empat pilar bangsa yakni, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinekha Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia. Pemuda harus menerapkan sila-sila pancasila itu sendiri. Pemuda harus menjadi pribadi yang adil dan bertanggungjawab, saling membantu dengan gotong royong. Dalam menjalankan ajaran agama yang baik, benar dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Gerakan mahasiswa harus menjadi pelopor dalam mempertahankan NKRI dalam kandungan dalam sila-sila pancasila dan UUD 1945. Kesatuan bangsa dalam kehidupan bermasyarakat. Pemuda harus mencintai Pancasila serta mengedepankan nilai-nilai moral dan akhlak sebagai pandangan hidup yang memberi petunjuk kehidupan. Pemuda harus berani mencegah paham-paham yang bertentangan dengan pancasila, masa depan pemuda dan nasib generasi penerus.

Pancasila selama ini sudah merupakan ideologi utama baik dalam level negara maupun level masyarakat. Disamping sebagai “common ideology”. Pancasila juga merupakan juga merupakan kristalisasi nilai, karena masyarakat Indonesia berketuhanan, berkeadilan dan tradisi berkemasyarakatan dalam membangun kesatuan Indonesia.***

Kesaksian hidup Lily Jusuf: ‘ORANG BODOH YANG DIBERKATI TUHAN’

Ki-ka: Pose ketika Lily zaman  susah dan Lily sudah diberkati Tuhan

JAKARTA,Victoriousnews.com,- Setiap insan yang terlahir ke dunia ini pasti mendambakan untuk menikmati hidup bahagia, senang, sukacita dan berkecukupan secara materi. Kondisi semacam ini tidak dirasakan oleh wanita bernama lengkap Lily Jusuf sewaktu kecil. Semenjak bocah, Lily mengenyam sebuah drama kehidupan yang  amat pahit, getir, miskin bahkan  menderita secara ekonomi. Bayangkan saja, ketika usianya menginjak 4 tahun, Lily sering menahan lapar dan harus lantaran  orang tuanya tak punya uang untuk membeli makanan. Rumahnya terbuat dari bambu seperti gubuk reot, jelek; tidak ada toilet, bahkan tidurpun beralaskan kasur usang.  Ditambah lagi, penghasilan kedua orangtuanya yang pas-pasan—hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.  “Dari kecil saya mengalami hidup susah dan miskin sekali. Mau makan saja gak punya lauk. Saya sering puasa bukan karena niat untuk puasa, tetapi karena tidak ada yang bisa dimakan.  Mau buang air besar juga gak punya toilet. Pokoknya, miskin..kin..kin,” kenang Wanita kelahiran Jakarta, 02 Oktober 1968 ini mengisahkan kembali masa kecilnya yang sangat susah secara ekonomi.

Lily mengunjungi dan mendoakan anak yang sakit

Penderitaan Lily bukan hanya soal makan/minum dan pakai, melainkan juga merembet kepada masalah pendidikan. Dibandingkan dengan teman sebayanya, yang sama-sama berdarah Tionghoa, Lily tidak merasakan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Swasta yang berkualitas pada zamannya karena tidak punya biaya. Akhirnya, ia memutuskan untuk masuk ke SD Inpres (negeri) yang biayanya sangat murah meriah karena disubsidi oleh pemerintah.  Meski, sekolahnya murah, Lily pun sering menunggak biaya sekolah karena tak punya uang. Sehingga, ia  pun berniat membantu sang Mama untuk berjualan kolak yang dijajakan di sekitar lingkungan rumah maupun sekolahnya.

Lily Mengajak makan bareng anak jalanan

Tak jarang Lily mendapatkan hinaan, ejekan bahkan dibully oleh teman-temannya yang duduk di bangku SD Inpres di kawasan Mangga Dua, ketika melihat dirinya berjualan. Malu dan sakit hati?  Sudah pasti hal itu dirasakannya. Namun, dirinya tak peduli. Yang terbersit dalam benaknya adalah bagaimana bertahan hidup dan bisa sekolah.  “Saya itu terlahir dua bersaudara. Saya anak pertama, dan adik saya cowok. Pokoknya waktu itu, saya ingin membantu Mama untuk menghidupi keluarga. Karena Papa saya kurang peduli dengan Mama dan anak-anaknya. Sehingga sebagai anak pertama, saya harus bantu apa yang bisa saya lakukan, termasuk berjualan kolak.  Waktu itu benar-benar susah sekali,” ujar anak pertama dari pasangan (Alm).Heng Lay Thong (Papa Athong) dan Kong Djun Ngo (Mama Ango).

Ki-ka: Lily berdoa dan bersyukur telah bertambah usia & Sang Mama yang menjadi teladan hidupnya, Kong Djun Ngo (Mama Ango)

Dalam mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, Lily mengaku bukanlah anak yang pintar. Ia hanya anak yang biasa saja, bahkan nilainya pun tak memuaskan. Tetapi ia sangat rajin dan semangat untuk menuntut ilmu di bangku sekolah. Selepas lulus SD,  Lily pun berniat untuk melanjutkan sekolah menengah pertama. Lagi-lagi, lantaran faktor biaya sekolah, ia hanya puas masuk SMP (Sentosa) yang jaraknya tak jauh dari rumahnya. Ekonomi keluarganya juga tak kunjung membaik. Bahkan cenderung semakin merosot. Hal itu tak mematahkan semangatnya untuk belajar dengan giat. Dan mulai saat itulah, ia sering diajak teman sebayanya untuk pergi ke gereja.  Ia mulai paham mengenai cara berdoa secara Kristen. Perlahan tetapi pasti, ia mulai mempratekkan doa itu setiap hari.  “Saya dididik dalam keluarga non Kristen. Papa-Mama saya itu berdarah Tionghoa yang menganut kepercayaan leluhur.  Saya juga pernah ke gereja waktu kecil, tapi selalu dilarang oleh papa saya. Akhirnya, saya ngumpet-ngumpet perginya. Dulu saya pernah pergi ke gereja Pantekosta di dekat Mangga Dua Square,” kisah Lily.

Setelah lulus SMP dan usianya beranjak remaja, Lily berkeinginan mencari nafkah untuk membantu sang Mama berjualan. Namun, sang Mama berharap agar dirinya melanjutkan  melanjutkan sekolah SMA. “Ya karena waktu itu kondisi orang tua benar-benar tak mampu, sebagai anak pertama ingin banget bekerja saja untuk meringankan beban mama saya. Karena Papa saya waktu itu tidak bekerja, sehingga Mama sayalah yang banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga. Saya kasihan Mama saya bekerja sendirian. Bersyukurlah Mama saya mengerti, dan saya disuruh untuk lanjut sekolah SMA sampai selesai. Jadi saya ini S3, maksudnya SD, SMP dan SMA,” ujarnya sambil tertawa.

Selepas SMA, Lily bertekad dan berjuang agar hidupnya mengalami perubahan dalam hal finansial. Dengan sungguh-sungguh ia berdoa kepada Tuhan agar memperoleh pekerjaan yang dapat membantu ekonomi keluarga. “Doa saya pun terkabul. Saya diterima kerja di sebuah toko besi di kawasan Mangga Dua. Gajinya waktu itu Rp.75.000,-, dan uang makan Rp.1500,-. Ya walaupun gajinya kecil, saya tetap bersyukur saja. Karenanya saya yakin berkat Tuhan pasti indah pada waktuNya,” tukas Lily.

Keluarga yang bahagia dan diberkati Tuhan, ki-ka: Rudy Wong (Suami), Jennifer Wong (Putri pertama), Lily Jusuf, Jerry Winata (Putra Kedua) dan Jeffry Winata (Putra ketiga/bungsu)

Mendapat Jodoh Yang Baik dari Tuhan

 Kisah asmara dua insan antara Lily Jusuf dan Rudy Wong tergolong unik. Awalnya, ketika bertemu dengan Pria yang kini menjadi suaminya adalah berkat dikenalkan (baca: dijodohin) oleh teman dekatnya. Calon kekasih Lily adalah seorang pendiam dan  waktu itu bekerja sebagai Sales/Marketing di sebuah perusahaan. Namun, sebelumnya Lily mengaku bahwa dirinya senantiasa berdoa kepada Tuhan agar diberikan jodoh yang baik dan sayang kepadanya. “Waktu itu, saya berdoa kepada Tuhan. ‘Tuhan saya ingin mendapat suami yang baik dan sayang saya. Tidak perlu kaya. Yang penting dia mengasihi dan menerima saya apa adanya. Saya tahu dirilah, karena waktu itu saya masih hidup susah, ngapain juga cari orang kaya.  Dan Tuhan jawab tepat pada waktunya. Tuhan memberi pasangan yang baik dan sayang sekali. Singkat cerita, setelah cocok menjalin hubungan kekasih selama 4 tahun, akhirnya kami memutuskan untuk menikah pada tahun 1994. Kami waktu itu diberkati dalam pernikahan kudus secara Katolik,” ungkap Lily.

Pesta pernikahan pun digelar secara sederhana. Menurut Lily, karena tak ada dana untuk menggelar pesta mewah, Lily dan suami hanya mengeluarkan biaya 8 juta rupiah. Meski gaun pengantin yang dipakai bukanlah baru alias bekas, tetapi Lily bersyukur bahwa pesta pernikahannya berjalan dengan baik dan lancar. “Waktu itu kami menikah, biayanya 8 juta. Ya maklum, karena kondisinya masih susah. Terus, saya pake baju pengantin bekas, bukan beli baru. Sederhana saja dan tidak mewah.  Maklum tidak punya biaya.  Ya saya pakai yang murah-murah saja.  Karena saya juga tahu kondisi suami yang hanya sales/marketing saja di sebuah perusahaan. Kami hanya memiliki cinta yang kuat dan saling menyayangi,” urainya penuh syukur yang kini telah dikaruniai 3 anak (1 Putri dan 2 Putra), yakni:  Pertama, Jennifer Wong (24 tahun) lulusan S1 Bisnis Manajemen di Singapura. Anak kedua bernama; Jerry Winata (21 Tahun) lulusan S1 Mechanical Engineering di Universitas Seattle Amerika Serikat dan ketiga bernama Jeffrey Winata (14 tahun) masih sekolah SMP kelas 9 di Jakarta.

Keluarga yang kompak

Ketulusan Hati Mendatangkan Berkat

Kesetiaan, ketaataan, ketekunan, ketulusan hati serta senantiasa berdoa sungguh-sungguh kepada itulah yang mewarnai perjalanan hidup Lily dan suami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Perlahan tapi pasti, usahanya mulai diberkati oleh Tuhan. “Jadi sewaktu saya kerja di toko besi itu, gajinya  tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya saya kerja sama adik ipar saya di sebuah toko computer di kawasan Glodok. Waktu itu saya  digaji 300 ribu per bulan. Nah, singkat cerita, adik ipar saya menjual tokonya dan minta suami saya bayarin. Saya lupa toko itu dibayarin berapa puluh juta sama suami saya. Nah, akhirnya kita olah dan dagang komputer. Kemudian tahun 1998 ada kerusuhan dan kebakaran di Glodok Plaza. Kemudian kita pindah di Dusit Mangga Dua. Puji Tuhan, doa kami dijawab Tuhan. Mulai dari situlah, usaha kami perlahan-lahan diberkati Tuhan. Mulai tambah kios satu per satu. Dan suami bisa beli rumah pertama, walaupun  nyicil dan kumpul-kumpul uang,” ujar Lily yang memiliki kata mutiara ‘Hidup adalah pilihan. Pilihlah yang baik dan benar. Yang baik belum tentu benar. Yang benar sudah pasti baik’.

Tengah: Putra Kedua, Jerry Winata lulusan S1 Mechanical Engineering Seattle University Amerika Serika, kini telah bekerja di sana.

Tahun berganti tahun, berkat Tuhan terus mengalir deras dalam kehidupan rumah tangga Lily dan suami. Menurut Lily, jika hati kita tulus dalam membantu orang atau melakukan pekerjaan apapun, pasti berkat Tuhan akan mengikuti kita. “Sebaliknya, kalau yang ada dalam otak kita hanya fulus (baca: uang), maka apa yang kita kerjakan tidak akan menjadi mulus. Apalagi banyak akal bulus,” ujar Wanita lulusan Sekolah Pengkotbah Modern (SPM) angkatan 23 ini sembari tertawa lepas walaupun beberapa kali kena tipu milyaran rupiah.

Kata-kata tersebut maknanya sangat dalam. Ketulusan hati yang dipraktikkan oleh Lily dan suami dalam menjalankan usaha  akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa. Meski diberkati di usaha dagang komputer, namun Lily dan suami mencoba banting stir atau alih profesi ke dunia Properti. Ternyata di dunia bisnis Properti inilah yang menghantarkan dirinya semakin diberkati dalam hal keuangan dan harta benda. “Kemudian saya masuk ke dunia bisnis properti. Kami bisa membeli rumah dengan harga 485 juta. Nah karena waktu itu uangnya masih kurang, akhirnya rumah yang pertama kita jual untuk tambahan beli rumah mewah di kawasan Danau Sunter. Mulai tahun 2004 itulah bisnis Properti yang kami tekuni terus diberkati Tuhan sampai hari ini. Saya bersyukur karena Tuhan berkati luar biasa. Saya juga tidak menyangka melalui bisnis properti ini berkatnya luar biasa. Semua karena Tuhan Yesus yang memberkati keluarga kami,” kata Lily yang kini melanjutkan Studi di STT Lintas Budaya Kelapa Gading.

Terbeban Untuk Melayani Orang Susah

Didikan sang Mama untuk mengasihi dan memberi kepada orang yang berkekurangan itu selalu membekas dalam benak Lily ketika dirinya melihat anak-anak terlantar, pengamen, dan orang yang tidak mampu. Lily teringat kata-kata sang Mama ketika masih ia masih kecil dan susah, ‘kita harus memberi dan mengasihi setiap orang. Kasih saja baju kita yang layak pakai kepada orang lain yang butuh. Kita harus memberi orang makan’. “Mama saya selalu ajarkan anak-anaknya agar saling mengasihi. Memberi dibalik kekurangan. Kasih kepada orang susah,baju yang layak pakai. Kasih orang makan. Padahal waktu itu, Mama saya masih beragama non Kristen. Kemudian, waktu itu saya bilang, Ma kita aja miskin bagaimana mau kasih ke orang. Ternyata apa yang kita tabur dulu, dan baru menyadari bahwa saat inilah kami telah menuainya. Apa yang kami berikan ketika miskin, kini kami menuai dalam kelimpahan. Memberi dan mengasihi itu kekuatanya luar biasa. Sebab Tuhan Yesus juga mengajarkan, bahwa kita harus mengasihi sesama kita. Kita juga diajarkan harus memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Berkat Tuhan itu tidak akan habis, ketika hati kita tulus dalam mengasihi dan memberi kepada sesama,” tukas Lily yang kini rindu untuk membuka sebuah yayasan sosial  untuk menampung anak-anak tidak mampu dan anak terlantar.

Pelayanan Lily kepada orang gila di kawasan Bekasi

Sebagai seorang wanita yang pernah merasakan pahitnya hidup semasa kecilnya, Lily menangis dan terbeban untuk menolong anak-anak yang miskin. “Teladan Mama saya itulah yang tularkan kepada anak-anak saya saat ini. Saya didik anak-anak saya untuk mengasihi dan memberi kepada orang yang berkekurangan.Karena mama saya ajarin saya, waktu susah saja harus memberi dan memberi. Saya lebih senang melayani door to door, tidak suka hanya dalam gereja.  Karena kalau hanya melayani di gereja takutnya terikat oleh waktunya. Sekarang terbeban melayani Tuhan kepada orang-orang miskin, anak-anak jalanan. Jadi kalau saya melihat orang susah, itu teringat masa lalu saya. Masa kecil saya itu seperti itu. Pernah dalam pelayanan saya di Sukabumi, melihat pemulung dan pengamen. Saya ajak makan satu meja. Saya gak mau gengsi walaupun sudah diberkati seperti sekarang. Karena saya ingin menerapkan ajaran Tuhan Yesus, yaitu mengasihi sesama. Bahkan ada anak-anak jalanan yang saya temui, mengaku seumur-umur belum pernah makan Pizza. Bukannya saya mau pamer, tapi saya ingin membantu mereka dan berbuat baik. Biarlah hanya Tuhan saja yang tahu dan untuk kemuliaan nama Tuhan,” ungkap Lily yang semakin cinta Tuhan dan kini beribadah Gereja di kawasan MGK Kemayoran Jakarta Pusat.

Diberikan Tuhan “Karunia Kesembuhan”

            Kini, Lily bersama keluarga rindu hanya untuk menyenangkan hati Tuhan. Baginya, harta benda maupun uang yang ia miliki hanyalah titipan dari Tuhan, suatu saat akan lenyap. Meski banyak orang yang melekatkan label sebagai “orang kaya”, tetapi  hal itu tidak membuatkan menjadi sombong. Justru sebaliknya, ia beserta keluarga belajar semakin rendah hati.  Menurutnya, berkat apapun  yang diberikan Tuhan itu harus dikelola dan bermanfaat untuk mendatangkan kemuliaan Tuhan bukan untuk kepentingannya sendiri. “Puji Tuhan sampai saat ini Tuhan sudah berkati kami secara luar biasa. Saya punya suami yang baik dan sayang keluarga. Dikaruniai anak-anak yang luar biasa. Dan semuanya baik-baik. Sekolah di luar negeri dan yang terakhir masih SMP. Pokoknya saya bersyukur sekali. Karena semuanya berasal dari Tuhan. Dulu saya pernah berdoa sama Tuhan, jika Tuhan sudah berkati saya, maka saya ingin menjadi berkat bagi orang lain, yaitu rindu membuka yayasan sosial,” papar Lily yang mengaku tidak pernah mau menerima persembahan kasih ketika mendapatkan undangan kotbah atau mengisi kesaksian hidupnya di berbagai gereja.

Melayani anak-anak jalanan di bawah kolong tol Jakarta Barat

            Lily menceritakan ketika melayani dan mendoakan orang sakit beberapa waktu lalu. Dalam pelayanannya, ia sungguh bersyukur diberikan karunia kesembuhan oleh Tuhan. “Saya banyak melayani orang sakit. Baik mendoakan orang sakit melalui telepon maupun datang langsung ke Rumah Sakit. Puji Tuhan ketika saya diminta mendoakan orang,  mereka kebanyakan disembuhkan dari penyakitnya. Ada beberapa teman yang sakit kanker saya doakan sembuh. Awalnya saya tidak tahu, tetapi dari kesaksian orang-orang yang saya doakan mereka mengatakan setelah didoakan semuanya sembuh.  Semua karena Tuhan. Saya dapat karunia itu,ya baru beberapa tahun ini. Ini karunia yang diberikan Tuhan yang tidak bisa digantikan dengan apapun,” tandas Lily sembari menambahkan bahwa putra keduanya telah diterima kerja di sebuah perusahaan di  Amerika.

            Untuk membekali dirinya dalam melayani Tuhan, akhirnya Lily memutuskan untuk melanjutkan studi teologi di Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya Kelapa Gading. “Awalnya saya melanjutkan studi S1 di STTLB itu dikenalin sama teman saya namanya pak Bagus. Teman saya bilang, ‘kamu sekolah saja sama Pak Poltak deh’. Terus, saya bilang malas ah. Saya sudah tua, ngapain?. Saya sekolah juga gak pintar SMEA juga oon deh pokoknya.  Akhirnya ada SPM angkatan 23 saya diajak untuk ikut. Awalnya saya susah ikuti, karena bahasa kotbahnya dalam sekali. Kayaknya saya tidak bisa dan sempat mau mundur waktu itu. Teman-teman seangkatan saya menyemangati saya.  Akhirnya saya lulus juga.  Mulai dari situlah, kemudian Pak Poltak Sibarani (Ketua STTLB) bilang, Bu Lily kuliah S1 saja.  Saya sudah tua pak. Eh, saya putuskan ikut juga. Dan ternyata banyak juga yang lebih tua dari saya. Padahal saya sempat bergumul sama Tuhan. Saya mau jadi diri sendiri saja gak mau jadi siapa-siapa. Terus Roh Kudus bilang, kamu gak sekolah saja aku berkati luar biasa, bagaimana kalau sekolah. Nah, mulai saat itulah saya terus semangat sampai saat ini,” papar Lily.

Sebagai orangtua yang sukses dalam menjalankan bisnis, Lily ingin menularkannya kepada anak-anaknya. Saat ini ia sedang mempersiapkan sebuah ruko (dijadikan sebuah café) di kawasan Sunter untuk diberikan kepada putri pertamanya, Jennifer Wong. “Ini ruko rencananya mau dibuat café untuk anak pertama saya. Rencananya, saya rindu di lantai 2 ini ada persekutuan doa. Karena Jennifer ada rencana mau menikah. Saya bilang nanti mama bukain bisnis ya. Mama kasih kamu unpan sama kail, nanti ikannya tangkap sendiri. Pokoknya, saya kasih pondasi yang kuat. Semua kembali lagi, harus berdoa. Saya hidup dan diberkati ini,  juga semua karena atas karunia Tuhan. Sekali lagi, harta semua titipan Tuhan.  Hidup mengalir saja, Tuhan mau bawa kemana. Yang jelas, kalau kita tidak bisa berbuat baik kepada orang, janganlah engkau berbuat jahat,” pungkasnya bersemangat. SM

Ibadah Syukur Program GoodNews Episode ke 500 & Peluncuran Buku Love Revolution

Ps. Daniel Hendrata & Ps. Debby Catharina

JAKARTA, Victoriousnews.com,- Program tayangan talk show rohani Kristen “GoodNews” (GN) telah mengudara sejak 17 September 2005 di layar televisi. Puji Tuhan, pada hari Kamis (17/10/2019), GoodNews program memasuki episode ke-500 yang ditayangkan live recording di STOREHOUSE, The Bellezza Shopping Arcade lantai 1 Nomor 115- 118 Permata Hijau, Jakarta Selatan. Dalam episode istimewa ini menghadirkan narasumber sekaligus pendiri program tersebut yakni: Ps. Daniel Hendrata dan sang isteri Ps.Debby Catharina.
Dalam episode 500 program goodnews juga ditandai dengan peluncuran buku berjudul “Love Revolution” karya Ps. Daniel dan Ps Debby yang juga sebagai chairman dan co-founders dari Anugrah Ministries (www.anugrah.net), dan lead pastors dari Anugrah Church.

Momen istimewa, tiup lilin dan potong kue

Ps.Daniel Hendrata dan Ps. Debby Catharina adalah pasangan suami istri yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai pelayan penuh waktu, yakni menggembalakan di Anugrah Ministries, dan Anugrah Church.
Ps Daniel dan Debby menikah pada 7 Februari 1998, dan dikaruniai dua orang anak bernama Angeline Catharina Hendrata, dan James Richard Hendrata.

Ki-ka: Ps.Daniel, Edward Chen dan istri, Ps. Debby Catharina

Tepatnya, pada 11 Maret 2018, mereka resmi menjadi gembala dari Gereja Anugrah. Komitmen dan arah pelayanan suami-istri pendeta ini, ialah keselamatan, keluarga, dan pembentukan karakter.

Ps Daniel dan Ps Debby meyakini, bahwa keluarga mempunyai arti yang penting dalam kehidupan, bahkan dalam suatu masyarakat atau negara. Oleh karena itu, selain berkotbah secara umum, mereka juga banyak melakukan seminar, KKR, maupun pelayanan yang lebih spesifik menjangkau keluarga.

Setelah sukses menuliskan buku Guard Your Family, yang habis terjual hingga memasuki cetakan keempat, ‘Love Revolution’ merupakan buku lanjutan dari Guard Your Family persembahan dari Ps Daniel Hendrata dan
Ps Debby Catharina.

Buku interaktif ini mengajarkan tentang arti hidup yang sejati, bagaimana tidak menyerah sampai Love Revolution terjadi dalam keluarga kita, mengenali Waktu dan Musim dalam kehidupan kita, juga Millennial Parenting.

Ps. Daniel dan Ps.Debby, membuat buku Love Revolution, berangkat dari pengalaman mereka menghadapi masalah sejak memulai keluarga, mengurus anak, pindah dari Surabaya ke Jakarta, dan membentuk tim kerja Love Revolution, untuk memproduksi Goodnews.

“Cinta membutuhkan pengorbanan. Istri masa muda, beda dengan istri muda. Sebagai Kristen, istri kita adalah istri masa muda” tukas Ps. Daniel.

Acara syukuran ini dipandu oleh host Marsya Mannopo dan Shinta Rosari serta dimeriahkan oleh penyanyi mandarin pasangan suami istri, yakni Edward Chen dan Istri. SM

Dr. John Palinggi, MBA (Pengamat Sospol): Koalisi dan oposisi adalah suatu perdebatan di parlemen terkait kebijakan atau program

Dr. John Palinggi bersama KH Said Agil Siradj (Ketum PBNU)

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Dukungan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang bergabung ke pemerintahan Jokowi beberapa waktu lalu ternyata menjadi kabar baik. Meskipun banyak pengamat politik menilai hal tersebut menandakan tidak solidnya parpol pengusung Jokowi-Amin.

Baca Juga :Jangan Takut, Pelantikan Presiden & Wakil Presiden Pasti Aman!

Menanggapi mengenai koalisi dan oposisi yang terjadi belakangan ini, Ketua Umum Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (ARDIN), Dr,  John Palinggi, MBA, mengatakan, bahwa, Indonesia tidak mengenal adanya oposisi pemerintahan. “Koalisi dan oposisi adalah suatu perdebatan di parlemen (DPR RI) terkait suatu kebijakan atau program. Adanya perdebatan atau beda pendapat di parlemen membuat anggota dewan berkoalisi untuk memenangkan perdebatan pendapat di parlemen,” tutur John yang baru dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Kamar Dagang Industri Indonesia (Kadin).

Dr. John Palinggi bersama dengan KH Ma’ruf Amin (Wakil Presiden terpilih)

Menurut John, perdebatan pendapat di parlemen tersebut dalam rangka memperjuangkan aspirasi rakyat bukan kepentingan partai politiknya, apalagi kepentingan  pribadi dan kelompoknya. “Membela aspirasi rakyat yang berbeda. Yang diputuskan di parlemen itu untuk kepentingan rakyat bukan parpol dan kelompoknya. Anggota parlemen jangan memandulkan tuntutan rakyat, kalau itu dilakukan, mereka layak disebut pengkhianat rakyat dan Negara,” tandasnya.

Dr. John Palinggi bersama Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, SIP

Lanjut John, sebenarnya dalam politik itu tidak ada koalisi permanen. Hal itu karena seringkali saat membela aspirasi rakyat terdapat perbedaan pendapat atau pandangan. “Ada saatnya berpeda pendapat karena membela aspirasi rakyat yang berbeda. Oposisi juga demikian. Jadi oposisi bukan diartikan sebagai kelompok penyerang pemerintah, dan oposisi sebagai kelompok pendukung pemerintah,” pungkasnya. SM

Anda Rindu Berziarah Rohani? Panorama Ministry Tawarkan ‘Harga Jujur’

Media Gathering bersama Panorama Ministry di sebuah cafe- Jalan Sabang, Jakarta Pusat (Rabu, 16/10)

JAKARTA, Victoriousnews.com,-Guna mempererat  hubungan dengan awak Jurnalis, anak usaha dari PT Panorama JTB Tours Indonesia, yakni Panorama Ministry (PT Misi Pelayanan Mandiri) menggelar “media gathering” di sebuah café di kawasan Jalan Sabang, Jakarta Pusat (Rabu, 16/10) sore. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Ibu Ellen Purnawan (General Manager Panorama Ministry), Bapak Dewo (perwakilan pimpinan PT Panorama JTB Tours), sejumlah staff panorama ministry, puluhan Jurnalis dari berbagai media termasuk media Kristiani yang bernaung dalam Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (Perwamki). “Selamat Pagi! Bapak/Ibu jangan kaget kata selamat pagi itu setiap hari kami ucapkan tanpa mengenal waktu. Baik pagi, siang maupun malam, kami tetap mengucapkan ‘selamat pagi’. Kenapa? Ya supaya kami tetap semangat dalam bekerja, karena merasa hari masih pagi,” tutur Indi (sales Panorama Ministry) yang dipercaya sebagai MC ketika membuka acara Media Gathering.

Panorama Ministry optimis akan adanya momentum positif dari perjalanan rohani pada tahun 2020 nanti. Dengan kondisi ekonomi Indonesia yang relatif stabil, kelas menengah sudah menempatkan leisure atau wisata bukan lagi sebagai gaya hidup, melainkan kebutuhan keluarga. Maka ceruk pasar untuk produk yang tematik juga semakin terbuka. Berita terbaru yang membanggakan Indonesia dan umat Katolik tentunya dengan penobatan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo sebagai Kardina di Vatikan, dimana beliau merupakan satu-satunya wakil dari benua Asia saat ini. “ Saat ini merupakan momen prestisius dan membanggakan, karena Mgr Ignatius Suharyo merupakan satu-satunya wakil dari Asia. Tentunya hal ini akan membuat para jemaat semakin ingin bepergian ke Vatikan, untuk melihat langsung momen bersejarah bagi Indonesia. Sehingga dapat menjadi momentum positif bagi industri perjalanan rohani,” ujar General Manager Panorama Ministry, Ellen Purnawan.

Ellen Purnawan (GM Panorama Ministry)

Lanjut, Ellen, Misi pelayanan ini telah hadir sejak tahun 1995, yang didirikan langsung oleh founder Panorama Group, Adhi Tirta Wisata. Pada tanggal 12 Oktober 2018, Panorama Ministry yang terdaftar secara resmi sebagai PT Misi Pelayanan Mandiri, “terlahir kembali” dengan gagasan, ide-ide, dan destinasi terbaru. Sebut saja: Lourdes, Bhutan, Srilanka, Bangkok, India, dan Vietnam. “Hal itulah yang membuat kita lebih fleksibel dalam melakukan pelayanan. Para umat dapat memilih mau perjalanan kemana, dan harga kami juga lebih murah. Keuntungan dari Panorama Ministry juga akan diarahkan kepada Panorama Foundation. Kita juga telah membuka travel untuk umat komunitas dari berbagai agama: baik Muslim, Nasrani, Hindu Budha dan lain-lain. Pelanggan akan melakukan perjalanan internasional ataupun domestik akan tetap kami layani,” tutur Ellen.

Salah satu contoh produk terbaru dari Panorama Ministry yang menyediakan harga jujur adalah Paket Holyland Jerusalem. Paket ini akan melayani jemaat sampai 11 hari dengan destinasi pilihan seperti Cairo, St Catherine, Jerusalem, Vatikan, Sinai dan Tiberias. “Kenapa Panorama secara fokus mendirikan badan khusus umat di Indonesia? Karena 99% umat memeluk agama, hanya 1% menurut sensus penduduk yang tidak memeluk agama. Kita tahu ke depan tugas dan tanggung jawab kita akan lebih besar lagi,” papar Ellen.

Para Jurnalis tampak senang, karena dalam acara tersebut ada beragam games dan door prize menarik dan mereka dapat membawa pulang hadiah yang diberikan oleh Panorama Ministry. SM

Jangan Takut, Pelantikan Presiden & Wakil Presiden Pasti Aman!

Dr. John Palinggi, MBA bersama Presiden Joko Widodo

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden itu adalah perintah undang-undang. Jadi dalam mekanisme sistem politik kita, manakala Presiden dan Wakil Presiden sudah terpilih, maka wajib hukumnya untuk dilantik oleh Mahkamah Agung (MA) di hadapan sidang paripurna DPR RI.Demikian dikatakan oleh pengamat sosial politik, Dr. John N Palinggi ketika ditemui di ruang kerjanya, Menara Mandiri, Menteng-Jakarta Pusat (Rabu, 16/10/2019).

Baca Juga : Dr. John Palinggi, MBA (Pengamat Sospol): Koalisi dan oposisi adalah suatu perdebatan di parlemen terkait kebijakan atau program

Menurut John, agenda pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan KH, Ma’aruf Amin masa bakti 2019-2024 yang digelar pada 20 Oktober 2019 mendatang pasti  berjalan mulus, aman dan damai. “Mengenai adanya isu belakangan ini bahwa pelantikan Presiden dan Wapres akan ada gangguan, baik ancaman teroris dan lain sebagainya; terus terang saya mengesampingkan itu. Oleh karenanya, saya mengajak masyarakat agar berpikir waras. Kita sudah capek dengan ocehan-ocehan seperti itu. Saya sangat yakin bahwa acara pelantikan nanti akan berjalan mulus, aman tanpa gangguan. Saya ini konsultan keamanan. Semisal ada informasi pergerakan teroris, ya tangkap saja. Tidak usah ramai diberitakan di media, menciptakan rasa ketakutan di masyarakat. Jadi, media juga harus belajar menyajikan berita yang benar,” tutur Ketua Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA).

Dr. John Palinggi ketika ditemui di kantornya (Rabu, 16/10)

Lanjut John, di Indonesia  ini terlalu banyak orang yang pandai merekayasa berbagai informasi  sehingga masyarakat hidupnya dipenuhi ketakutan. “Hal inilah yang membuat Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling tidak aman di luar negeri. Sehingga investor enggan masuk ke Indonesia. Warga terlalu dicurigai, masuk Mall dan hotel harus diperiksa dengan alat deteksi  berkali-kali. Oleh sebab itu, saya mengajak seluruh masyarakat wajib mendukung pemerintahan Jokowi-Amin ke depan. Jangan terus-terusan mengujat, menghina atau bahkan merendahkan Presiden. Sehingga ke depan, pembangunan Negara berjalan dan tidak terganggu. Apalagi saya melihat Presiden Jokowi orang yang tulus bekerja bagi rakyat dan Negara. Kalau ada koreksi dan kritik hendaknya dilakukan dengan mekanisme yang baik, bukannya menghina, merendahkan bahkan memaki-maki Presiden,” papar John penuh harap. SM

Yayasan Damai Sejahtera Utama Gelar Seminar Buku Sejarah Penebusan Seri -1 Di Surabaya

SURABAYA,Victoriousnews.com Penebusan adalah metode penyelamatan dengan membayar suatu harga. Yesus dengan darah-Nya yang berharga di atas kayu salib telah menebus kita. Peristiwa “Salib Kristus” ini adalah puncak dari rentetan sejarah penyelenggaraan Allah yang tidak terputus sejak setelah kejatuhan manusia untuk menyelamatkan umat pilihan-Nya. Seluruh sejarah ini dibentangkan lewat buku-buku seri sejarah penebusan. 

Ketua Pembina Yayasan Damai Sejahtera Utama, Ferry Tandiono

Seminar buku seri sejarah penebusan telah dilaksanakan di lebih dari delapan belas negara di seluruh dunia, di antaranya Amerika Serikat, Korea Selatan, Inggris, Cina, Jerman, bahkan sampai ke Rusia dan Bangladesh. Atas kasih karunia Tuhan, seminar buku sejarah penebusan seri pertama berjudul “Silsilah di Kitab Kejadian” dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2019 di Dyandra Convention Center Surabaya.


Seminar ini diadakan oleh Yayasan Damai Sejahtera Utama, bekerjasama dengan BAMAG Jawa Timur, PGS Kota Surabaya, PGLII Kota Surabaya, dan PGPI Kota Surabaya. Dua ribu peserta berkumpul dari berbagai denominasi dan dihadiri banyak STT di antaranya STAS Deu, Sola Gratia, Exelcius, STTI, Happy Family, Sabda Alam, Tabernakel, STT Amadeus, dan banyak lagi.


Seringkali ketika membaca Alkitab, orang melewatkan bagian silsilah begitu saja, padahal di dalamnya terkandung rahasia Allah yang menakjubkan. Tuhan memadatkan seluruh sejarah penebusan yang telah berlangsung sejak Adam sampai kedatangan Yesus Kristus ke dalam silsilah. Buku Silsilah di Kitab Kejadian membahas silsilah Adam sampai kepada Abraham.
“Dari silsilah ini, yang Tuhan paling tekankan adalah pewarisan iman,” ujar Pdt. Dr Phillip Lee selaku pembicara utama. Adam mati di usia 930 tahun ketika Lamekh generasi kesembilan dari Adam berusia 56 tahun. Kita bisa mengetahui Adam diberkati dengan umur panjang demi terus mewariskan iman kepada keturunan-keturunannya. Pewarisan iman tampak dari penamaan Nuh oleh Lamekh. Nuh artinya Sabat atau istirahat. Lamekh menamai anaknya Nuh demikian karena Lamekh mengharapkan istirahat dari tanah yang dikutuk Tuhan. Kutukan terhadap tanah terjadi di Taman Eden. Dan hanya Adam yang tahu. Peristiwa ini diketahui Lamekh dari Adam. “Maka saudara jika mau panjang umur, ajarkan firman Tuhan,” tukas Pdt Phillip Lee.

Pdt. Phillip Lee

Buku seri Sejarah Penebusan di tulis oleh Pdt. Abraham Park, D.Min., D.D. Dan diterjemahkan oleh Pdt. Youn Doo Hee. Tiga tahun enam bulan dan tujuh hari penulis berdoa dan membaca Alkitab diatas Gunung Jiri di Korea. Penulis bertahan hidup sendirian, dengan hanya makan beras yang direndam dengan air. Beliau terus berdoa dan membaca Alkitab hingga mendapat pencerahan roh kudus, dan mulai menulis draft buku seri Sejarah Penebusan. Ketika kehabisan kertas, beliau menulis menggunakan daun kudzu. Pendeta Abraham Park hamba Tuhan yang telah membaca Alkitab lebih dari 1800 kali dan senantiasa menekankan “Hanya Yesus” didalam hidupnya.
Buku seri kedua dengan judul Pertemuan yang Terlupakan membahas tentang 40 tahun perjalanan umat Israel dalam masa eksodus. Penulis menerangkan 42 perkemahan di padang gurun yang belum pernah diungkapkan. Yang mengejutkan, Ritma (perkemahan ke 14) dan Kadesh (perkemahan ke 32) adalah tempat yang sama. Mayoritas waktu yang dihabiskan di padang gurun, yaitu selama 38 tahun umat Israel berputar-putar dari Ritma hanya untuk sampai kembali ke tempat yang sama, karena ketidakpercayaan. Seperti demikian, ketidakpercayaan dan keluhan hanya membuang waktu saja. Buku ini juga membahas bapa iman Abraham dan misteri keturunan keempat yang menggenapi perjanjian suluh.
Buku seri ketiga, keempat, dan kelima, masing-masing membahas 14 nama dalam silsilah Yesus yang dicatat di Matius 1. Ketika membaca silsilah ini, banyak yang menganggap nama-nama yang tercatat semuanya memiliki hubungan ayah dan anak kandung. Namun sebenarnya tidaklah demikian. Banyak nama-nama yang dihilangkan dari silsilah Yesus Kristus ini. Sebagai contoh, salah satu topik dalam buku ke-3 yang membahas 14 keturunan dari Abraham sampai Daud, terdapat tokoh yang bernama Ram dan Aminadab. Ram adalah tokoh yang hidup di masa awal masuk ke Mesir sedangkan Aminadab adalah tokoh yang hidup di masa eksodus dari Mesir. Terdapat jangka waktu 430 tahun sejak umat Israel masuk ke Mesir dan keluar dari Mesir. Sehingga membuktikan Ram bukanlah ayah kandung dari Aminadab. Lebih lagi, penulis menjelaskan penyebab nama-nama diantara Ram dan Aminadab ini dihapus.
Total ada dua belas buku dalam seri Sejarah Penebusan. Buku-buku ini telah diterjemahkan ke delapan belas bahasa di seluruh dunia. Sepuluh telah diterbitkan dalam bahasa Korea dan enam buku telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Yes 55:8-9 (NKJV) jalanmu dan jalan-Ku itu berbeda. Jalan bukan hanya berarti jalan yang kelihatan, tapi juga metode/ cara. Maksudnya, harus hidup sesuai dengan cara yang berkenan bagi Bapa. Pdt Phillip Lee menekankan bahwa rahasia Henokh naik ke surga tanpa mengalami kematian adalah karena ia selalu mencocokkan hatinya dengan hati Tuhan. Maka, kita pun harus mencari Tuhan seperti apa dan mencocokkan dengan hati Tuhan.


Buku-buku seri Sejarah Penebusan dapat diperoleh di toko-toko buku Kristen, marketplace online, dan juga tersedia dalam bentuk e-book di Google Book. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh di www.sejarahpenebusan.com, IG Sejarah Penebusan, dan FB Sejarah Penebusan. Kelas-kelas online pun dapat diikuti di grup FB Kelas Online Sejarah Penebusan.
Dengan mengembalikan semua kemuliaan hanya kepada Allah yang hidup, penulis buku seri Sejarah Penebusan sangat menantikan kedatangan segera hari ketika firman Tuhan menutupi seluruh alam semesta dan bangsa di tanah yang penuh dosa seperti air memenuhi lautan (Mat 28:19-20, Yes 11:9, Hab 2:14). SM