Pendidikan Moral Pancasila Adalah Salah Satu Cara Bangun Toleransi dan Cegah Paham Radikal

Pendidikan Moral Pancasila Adalah Salah Satu Cara Bangun Toleransi dan Cegah Paham Radikal

Dr. John N Palinggi, MBA ketika dijumpai di ruang kerjanya.

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Pengertian toleransi antar umat beragama adalah suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain. Hal itulah yang mengemuka dalam Hari Toleransi Internasional yang diperingati setiap tanggal 16 November.
Menanggapi pentingnya membangun toleransi antar umat beragama, Dr. John Palinggi yang juga Ketua BISMA (Badan Interaksi Sosial Masyarakat), mengatakan, bahwa, toleransi sesungguhnya adalah menerima perbedaan, sekalipun tidak sama. Toleransi mengakibatkan adanya manusia atau masyarakat yang rukun, dalam suatu komunitas, dalam suatu bangsa dan negara. “Jadi betapa pentingnya itu berpikiran toleransi, dan ikut bersama-sama mewujudkan kerukunan” tukas John Palinggi.
Menurut John, Negara kita dibangun berdasarkan falsafah Bhinneka Tunggal Ika. Artinya kita memang berbeda-beda, tetapi satu dalam membangun bangsa. “Cara yang baik membangun toleransi adalah, pemahaman menanamkan secara luhur nilai-nilai keagamaan terhadap anggota keluarga, terhadap dari diri kita sendiri. Jadi setiap orang beragama, dia paham bahwa pesan agama, tidak ada satupun yang menginstruksikan supaya melakukan kejahatan, membenci orang lain, menghina orang lain, tapi setiap agama, pasti menginstruksikan untuk supaya memperbanyak kebaikan. Kebaikan, toleransi, rasa menghormati orang lain, menghargai orang lain, respek. Agama juga menginstruksikan jangan menghina ciptaan Tuhan, yaitu manusia, jangan berbuat jahat. Hanya dua perintah itu, kalau itu dijalankan pasti muncul ide kita toleransi, jangan justru kita buka mata, kita lihat suku ini, agama ini, golongan ini beda dengan saya, disitu muncul penderitaan hidup, bukan bangga karena tidak mau bertoleransi, tetapi memperoleh hukuman dari Tuhan, kita susah hidupnya, cari makan susah” papar John.
Lebih lanjut John menjelaskan, “Tidak mungkin orang yang beda agama A, melamar agama B, ternyata beda agama, tidak jadi kerja, tidak mungkin kan? Atau membuat usaha bersama beda agama, suku, etnis, golongan, ga jadi, itu namanya kegagalan bisnis, lebih jauh kegagalan hidup”.
John menegaskan bahwa pelajaran Pendidikan Moral Pancasila merupakan salah satu cara untuk mendidik tentang toleransi, dan juga mencegah paham radikalisme, tetapi selain itu, ada cara yang paling baik, yakni percepatan pembangunan, pemerataan hasil-hasil pembangunan, sehingga semua orang dapat memperoleh makanan melalui lapangan kerja.
“Kalau lapangan kerja susah, tidak dapat makanan, apapun diajarkan tidak masuk di otak, malah timbul perlawanan yang kurang baik. Jadi seiring mengajarkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri, tapi hingga sekarang belum ada, belum tahu, kalau dulu saya diajarkan 36 nilai-nilai Pancasila, kalau sekarang belum ada, karena sudah dibubarkan BP7 nya, jadi harus dilembagakan dulu. PMP perlu diajarkan, tetapi bagaimana bisa diajarkan kalau tidak ada panduannya, jadi perlu dilembagakan dulu. Jangan Pancasila jadi pemanis mulut semua orang, sementara mulut kita itu semua menyatakan Pancasilais, tetapi memang harus dilembagakan dulu, nah inilah yang akan mengkaji apa yang perlu diajarkan, tapi itu tidak cukup, kalau lapangan kerja tidak ada, itu pasti gagal” tandasnya. SM

Natal & Tahun Baru 2020 Majalah NARWASTU Bersama Tokoh Kristiani Diadakan Awal Januari 2020

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

JAKARTA,Victoriousnews.com Seperti tahun-tahun lalu, pada 10 Januari 2020 ini Keluarga Besar Majalah NARWASTU akan kembali menggelar ibadah syukur Natal dan Tahun Baru 2020 bersama para pemuka Kristiani, tokoh-tokoh nasionalis, mitra dan para pembacanya. Acara ini akan diadakan di Graha Bethel Lantai 3, Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, dengan pengkhotbah tokoh gereja aras nasional yang juga Pembina Majalah NARWASTU, Pdt. DR. Nus Reimas. Acara ini pun akan kembali diramaikan dengan Paduan Suara Kasih Anugerah dan sejumlah sahabat NARWASTU.
Dalam pernyataan persnya baru-baru ini, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos mengatakan, acara ini selain digelar untuk berdoa bersama dengan para tokoh, mitra dan pembaca NARWASTU, juga di acara ini akan diberi penghargaan bagi “21 Tokoh Kristiani 2019 Pilihan Majalah NARWASTU.” Ke-21 tokoh ini dinilai merupakan sosok yang mampu menginspirasi, mampu memotivasi, Pancasilais, peduli pada persoalan masyarakat dan pernah dipublikasikan Majalah NARWASTU. “Tokoh yang terpilih ini tentu yang pernah tampil di NARWASTU, dan ini kami seleksi atau pilih dari sekitar 100 orang tokoh Kristiani,” tukas Jonro Munthe yang merupakan peraih award sebagai “Jurnalis Muda Motivator 2009 Pilihan Majelis Pers Indonesia (MPI)” dan lulusan IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Jakarta serta alumni Lembaga Pendidikan Pers Doktor Soetomo, Jakarta ini. LK

Pdt. Gomar Gultom & Pdt. Jacky Manuputty Pimpin PGI Periode 2019 sd 2024

Ki-ka: Pdt. Gomar Gultom dan Pdt. Jacky Manuputty

Waingapu, Victoriousnews.com,Salah satu agenda penting yang membetot perhatian publik Kristiani dalam pelaksanaan Sidang Raya Persekutuan Gereja gereja di Indonesia (PGI) XVII di Sumba,Nusa Tenggara Timur, sejak tanggal 8 sd 13 November 2019 adalah pemilihan pucuk pimpinan PGI masa bakti 2019 sd 2024. 

Sesuai jadwal agenda pemilihan yang digelar pada hari Selasa, 12/11/2019 dalam sidang di GKS Payeti cabang Praiwora, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Pendeta Gomar Gultom dari Sinode HKBP dan Pdt. Jacky Manuputty dari Sinode GPM terpilih menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) periode 2019-2024.
Informasi perolehan suara yang diterima, Pdt. Gomar Gultom mendapatkan sebanyak 79 suara, Pdt. Dr. Albertus Patty mendapatkan 39 suara, dan Pdt. Tuhoni Telaumbanua hanya mendapatkan 12 suara dari 130 suara yang diberikan oleh peserta sidang yang hadir. Sedangkan Pdt. Jacky sendiri terpilih secara aklamasi.
Sementara Wakil Sekretaris Umum terpilih yaitu Pdt. Krise A. Gosal dari Sinode GMIM.
Sidang panitia nominasi dipimpin oleh Pdt. Musa Salusu dari Sinode Gereja Toraja. Proses pemilihan diawali dengan pengecekan daftar kehadiran peserta dalam kelompok tersebut. Ada 89 perwakilan sinode yang hadir.
Sebelumnya sejumlah nama yang masuk sebagai calon Wasekum, antara lain Pdt. Dr. Retnowati, Pdt. Retno Ratih, Pdt. Agus RT. Damanik dan Pdt. Manuel E. Raintung.
Sedangkan untuk posisi Bendahara dijabat oleh Pdt. Jacub Sutisna (GBIS) dan posisi
Wakil Bendahara adalah Drs. Arie Moningka dari Sinode GKII.
Berikut Ini Adalah Susunan Personalia MPH, BPP dan MP PGI periode 2019 – 2024. Berdasarkan hasil Panitia Nominasi Sidang Raya XVII PGI tahun 2019.
I. MAJELIS PEKERJA HARIAN
Ketua Umum : Pdt. Gomar Gultom (HKBP)
Sekretaris Umum : Pdt. Jackvelyn Frits Manuputty (GPM)
Wakil Sekretaris Umum : Pdt. Krise Anki Gosal (GMIM)
Wakil Bendahara : Drs. Arie Moningka (GKII)
Ketua Unsur Tuan/Nyonya Rumah : Pdt. Alfred Djama Samani (GKS)
Ketua Unsur Pendeta : Pdt. Dr. Bambang H. Widjaja (GKPB)
Ketua Unsur non Pendeta : Olly Dondokambey, SE (GMIM)
Ketua Unsur Perempuan : Pdt. Dr. Lintje H. Pellu (GMIT)
Bendahara : Pdt. Jacub Sutisna (GBIS)

Anggota Unsur Pemuda : Abdiel F. Tanias (GMIT)
Anggota Unsur Perempuan : Pdt. Retno Ratih S. Handayani (GKJ)
Anggota : Pdt. Dr. Julianus Mojau (GMIH)
Anggota : Pdt. Ir. Karyanto Gunawan (GKKA)

II. BADAN PENGAWAS PERBENDAHARAAN
Ketua : Pdt. Kumala Setiabrata (Gereja Kristus)
Sekretaris : St. Gonti Manalu (HKI)
Anggota : Pnt. Katarina Tombi (Gereja Toraja)

III. MAJELIS PERTIMBANGAN
Pdt. Andrikus Mofu (GKI TP)
Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang (Gereja Toraja)
Pdt. Dr. A. A. Yewangoe (GKS)
Pdt. Dr. Zakaria J. Ngelow (GKSS)
Pdt. Prof. Drs. John A. Titaley (GPIB)

Pesan Mendagri Tito Karnavian Dalam Penutupan GA WEA: Pancasila Merupakan Nationality Blessing, Pemersatu Bangsa Indonesia

Ki-ka: Pdt. Anton Tarigan (Ketua Panitia GA WEA), Mendagri Tito Karnavian, Bishop Efraim Tendero (Sekjen WEA), dan Pdt. Ronny Mandang (Ketum PGLII)

SENTUL,Victoriousnews.com,- General Assembly World Evangelical Alliance yang ditutup pada hari Selasa (12/11) malam, dikejutkan dengan kehadiran Menteri Dalam Negeri Indonesia Jenderal (Pol) Tito Karnavian dalam acara tersebut. Sebenarnya Mendagri Tito Karnavian, datang untuk persiapan fmal pertemuan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Indonesia Maju Pemerintah Pusat dan Forkopimda 2019 yang dilaksanakan di tempat yang sama, yakni di SICC Rabu (13/11/2019). Namun, ketika bertemu di Hotel Harris, Pdt. Lipiyus Biniluk mengajaknya bergabung di acara GA WEA. “Tiba-tiba Pdt. Lipiyus Biniluk mene|pon saya dan mengatakan Menteri Dalam Negeri telah ada di hotel Harris dan sudah siap bergabung ke gedung SICC di acara WEA GA. Hanya dalam waktu 3 menit PGLII dan WEA diwakilkan Bishop Efraim Tendero menerima kedatangan Pak Tito dan Iangsung bercakap di ruang VVIP. Setelah sedikit memperkenalkan WEA dan PGLII, Pak Tito Karnavian yang juga akrab dengan PGLII, hadir di tengah acara GA dari 92 negara anggota WEA dan memberikan suatu refleksi keagamaan dalam konteks ke-lndonesiaan yang sangat memberkati seluruh peserta GA WEA,” tutur Deddy A. Madong, Wakil Ketua Panitia GA WEA.

Mentri Dalam Negeri Tito Karnavian bersama Bishop Efraim Tendero

Dalam Pidato sekaligus refleksi dalam konteks Ke-Indonesiaan, Mendagri Tito mengatakan bahwa Pancasila merupakan nationality blessing atau berkat dari Tuhan bagi bangsa Indonesia yang menjadi perekat bagi keberagaman Indonesia. “Indonesia adalah sebuah Negara dengan beragam agama, etnis dan budaya. Kita juga memiliki wilayah geografls yang sangat luas. Tapi para pendiri bangsa telah memilh pemersatu yang sangat kuat yaitu Pancasila. ltulah yang menentukan nasionalisme kita dan persaudaraan kebangsaan kita,” ujar Tito ketika menyampaikan pidatonya dalam bahasa Inggris di hadapan peserta WEA.

Mendagri Tito menyerahkan peta Indonesia kepada Bishop Efraim Tendero

Selain menjelaskan tentang Pancasila sebagai pilar kebangsaan, kebhinekaan, dan toleransi umat beragama,Mantan Kapolri ini juga banyak bicara tentang pemberantasan paham radikal, terorisme di Indonesia dan internasional serta upaya-upaya yang bisa ditempuh untuk mewujudkan perdamaian dunia.
Usai berpidato Mendagri Tito didaulat oleh PGLII untuk menyerahkan peta Indonesia kepada Bishop Efraim Tendero selaku General Secretary WEA. Peta Indonesia ini terbuat dari kain batik dalam bingkai kayu berwarna emas. SM

Pdt. Dr. Anton Tarigan (Ketua Panitia GA WEA): Saya Bangga, Lewat WEA, Kini Indonesia Diperhitungkan Di Dunia Internasional!

 

 Kepengurusan International Council yang terpilih dalam GA WEA (7 sd 12 Nov) di SICC, Bogor

SENTUL,Victoriousnews.com,-Pagelaran akbar bertaraf  internasional General Assembly World Evangelical Alliance (GA WEA) yang digelar sejak tanggal 7 s/d 12 November 2019 di Sentul International Convention Centre (SICC), Bogor, Jawa Barat telah berjalan sukses dan berakhir dengan baik. Selain membahas mengenai 3 isu besar (Global, Generation & Gender), dalam persidangan tersebut juga ada agenda untuk melakukan pemilihan kepengurusan WEA tingkat internasional (International Council).  “Tentu saja ini kita patut bersyukur kepada Tuhan,dan berterimakasih kepada panitia yang telah bekerja keras. Sehingga para delegasi dari 92 negara, bukan hanya diberkati lewat pembicara yang melayani firman Tuhan, tetapi sikap kerendahan hati setiap panitia yang sabar melayani dengan tulus, dan melayani dengan senyum. Saya kira itu adalah firman Tuhan yang tidak disampaikan lewat pentas, tetapi disampaikan lewat kehidupan kita ketika berinteraksi selama 7 hari ini. Kami dan panitia, mungkin tidak punya waktu untuk tampil di Pentas, tetapi sebetulnya kami sedang berkotbah setiap hari lewat apa yang kami lakukan kepada para delegasi dari berbagai negara. Kami berdoa agar mereka membawa message itu. Saya sempat ditemui oleh ketua PGLII-nya Kolombia, beliau mengatakan, datanglah ke Kolombia dan ajari kami untuk menyelenggarakan event seperti ini. Saya pikir mereka tidak hanya melihat dari disiplinnya kita sebagai panitia seperti: menyiapkan makanan tepat waktu, hotel semuanya cukup. Tetapi saya kira lebih daripada itu, bahwa kita melayani dengan sepenuh hati, dengan ketulusan dan keikhlasan. Dan saya bangga dengan tim panitia  yang melayani luar biasa,” papar Pdt. Dr. Anton Tarigan selaku  Ketua Panitia General Assembly  World Evangelical Alliance penuh syukur.

Pdt. Dr. Anton Tarigan (Ketua Panitia GA WEA)

Pdt. Anton menjelaskan bahwa International Council (IC) merupakan struktur internal dalam WEA. “International Council itu struktur dalam WEA, yang memang bertugas untuk menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta semua yang sifatnya tata aturan, itu semua IC yang menentukan. Indonesia yang sebelumnya mencalonkan dua orang, namun belum berhasil.  Di tingkat Asia diwakilkan oleh 1 orang dari Filipina, yakni Bishop Noel Pantoja, dan dari Sri Lanka, seorang perempuan, Yamini Revendra. IC WEA yang dipilih sebanyak 14 orang. Ketua (President) IC yang baru berasal dari Afrika, yakni Goodwil Shana, dipilih kembali untuk masa jabatan kedua,” tukas Pdt. Anton.

Lebih lanjut, Pdt Anton menyampaikan bahwa Sekjen WEA saat ini masih dijabat oleh Bishop Efraim Tandero karena  masa bakti pelayanan beliau masih dua tahun lagi. “Jadi yang saat ini dipilih dalam forum GA WEA adalah International Council, yang nanti tahun depan mereka akan bersidang memilih General Secretary yang baru menggantikan Bishop Efraim Tandero,”  tutur Pdt Anton sembari menambahkan bahwa tuan rumah GA WEA 6 tahun ke depan belum ditetapkan dalam persidangan WEA saat ini.

Menurut Anton, proses penjaringan calon IC itu dimulai per negara, misalnya: Indonesia mengajukan 2 nama ke tingkat region Asia, kemudian dilakukan pemilihan di tingkat Asia. “Setelah itu negara-negara yang berada di Asia itu menentukan siapa yang akan diajukan ke tingkat dunia.  Tahapan ini harus sudah selesai di Asia, baru dibawa ke GA WEA. Nah ketika di GA WEA itu hanya tinggal memasukkan nama-namanya. Jika disetujui oleh semuanya maka nama-nama itu bisa diajukan. Nah, syarat mutlaknya untuk diajukan sebagai pengurus IC adalah kompetensi menjadi hal yang penting, aktif di pelayanan internasional. Jadi orang-orang WEA itu bukan hanya jago kandang saja, tetapi mereka itu sudah dikenal di dunia.Seperti kita lihat anggota IC sekarang ini adalah orang-orang yang sudah malang melintang di dunia pelayanan secara internasional. Dan ini harus kita jadikan tonggak awal, bahwa sudah waktunya Indonesia diperhitungkan di kancah dunia internasional.,” tandas Pdt. Anton.

Berikut nama-nama anggota International Council yang terpilih dalam GA WEA: Goodwil Shana (Afrika), Desmond Austin (Karibia), Marta Gaspari (Amerika Latin), Bassem Fekry (Afrika Utara-Timur Tengah), Sekretaris IC John Langlois, Mario Li Hing (Mauritius), Ken Artz (Amerika Serikat), Yamini Revendra (Sri Lanka), Noel Pantoja (Filipina), Frank Hinkelmann (Eropa), David Guretzki (Amerika Utara), Palmira DS (Angola), Snehal Pinto (India), dan Brian Winslade (Pasifik Selatan). SM

Bishop Efraim Tendero: Ini Adalah Sidang WEA Terbaik Yang Pernah Saya Ikuti

Pose bersama seluruh pengurus PGLII dengan Bishop Efraim Tendero di depan gedung SICC, 8 Nov 2019

SENTUL,Victoriousnews.com,- Persidangan lanjutan General Assembly World Evangelical Alliance (GA-WEA) yang berlangsung di Sentul International Convention Centre (SICC), sejak tanggal 7 sd 13 November 2019 membahas 3 isu besar, yakni Global, Generation dan Gender. Nah, pada hari ketiga persidangan, Sekjen WEA, Bishop Efraim Tendero tiba-tiba mengatakan ingin bertemu seluruh pengurus serta anggota Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII). Pembicaraan akhirnya dilakukan di VVIP Lounge usai makan siang.
Dalam pembicaran itu, Bishop Efraim Tendero kembali menegaskan bahwa terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Umum WEA 2019 merupakan hal yang tidak terduga. “Sebenarnyaa sudah ada beberapa tawaran yang masuk. Di antaranya dari Korea Selatan dan Ethiopia. Secara fasilitas dan pendanaan, Korea Selatan sangat siap. Sementara Ethiopia menjadi kandidat karena faktor sejarah. Kita tahu bahwa Alkitab menyebutkan kekristenan masuk ke Afrika melalui seorang sida-sida Ethiopia yang ditemui Filipus di jalan sunyi (Kis. 8:27-38). Jadi akan sangat luar biasa jika Sidang Umum WEA 2019 diadakan di tempat yang sangat bersejarah bagi kekristenan.
Namun saat saya berdoa, rupanya Tuhan justru menginginkan Indonesia menjadi tuan rumah. Saat saya sampaikan hal ini kepada Pdt. Nus Reimas, Ketua Majelis Pertimbangan PGLII, ia bilang akan mendoakannya dulu. Menyelenggarakan acara bertaraf internasional seperti ini pasti memerlukan persiapan matang dan biaya yang tidak sedikit. Jadi kalau nantinya Indonesia menyatakan tidak siap, saya bisa memakluminya.Beberapa pekan kemudian, Pdt. Nus Reimas minta saya segera meneleponnya. Sambil menangis, ia mengatakan bahwa setelah berdoa mendapat peneguhan untuk mengambil tawaran menjadi tuan rumah Sidang Umum WEA 2019. Saya terkejut. Lantas bagaimana dengan dananya? Pdt. Ronny Mandang yang kemudian saya hubungi mengatakan Tuhan akan menyediakannya.Hari ini saya melihat bagaimana Sidang Umum WEA 2019 berlangsung dengan baik. Meski acara belum selesai, saya terkesan dengan cara panitia bekerja. Salah satu peserta Sidang Umum WEA 2019 yang sudah bergabung di WEA selama lebih dari 50 tahun, dan pernah mengikuti Sidang Umum WEA di berbagai negara, mengatakan bahwa ini merupakan salah satu Sidang Umum WEA terbaik yang pernah diikutinya. Oleh karena itu, saya ingin berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat,” tukas Tendero, selanjutnya ditutup dengan doa dan foto bersama. SM

Family Gathering GBI Vifa Robinson di The Spring of Living water Cisarua

CISARUA, Victoriousnews.com-Dengan mengusung tema “Kebersamaan Dalam Kasih”, GBI Victorious Family Apartemen Robinson, menggelar acara Family Gathering di The Spring of Living Water Cisarua, Bogor, Jawa Barat (Sabtu, 9/11).


Acara bernuansa kekeluargaan ini bertujuan agar sesama jemaat dengan pengerja tercipta kebersamaan yang makin erat. Kebersamaan dalam kasih dan mesra ini ibarat satu keluarga yang utuh dalam Kristus. Kegiatan ini juga merupakan suatu bentuk dukungan untuk mewujudkan visi Gereja Victorious Family yaitu Menjadi Seperti Yesus Melalui Keluarga Berkemenangan Yang Memberi Dampak.


Melalui acara ini pengerja GBI Victorious Family Apartemen Robinson, berharap, agar sesama jemaat dengan pengerja bisa menjadi keluarga yang berkemenangan di dalam Kristus Yesus.
Meski perjalanan dengan Bis dari Apartemen Robinson menuju The Spring of Living Water Cisarua memakan waktu selama 7 Jam akibat macet parah, namun acara yang diikuti 150 peserta (jemaat dan pengerja) ini berjalan lancar dan sukses. Peserta tampak antusias dan bersemangat mengikuti acara family gathering tersebut.
Setibanya di lokasi seluruh peserta langsung disambut dengan makan siang. Setelah itu baru acara kegiatan dimulai yang dipimpin oleh panitia. “Pertama-tama kita patut bersyukur kepada Tuhan Yesus, sehingga kita tiba dengan selamat dan acara berjalan baik. Saya juga berterimakasih kepada Gembala Sidang, Seluruh Panitia, para sponsor yang mendukung dan kepada seluruh peserta yang sudah mengambil bagian,” tutur Ps. Afu selaku YMGS GBI Victorious Family Apartemen Robinson dalam kata sambutannya.
Sebagai bentuk kebersamaan, dilanjutkan dengan acara games menarik, seru dan menciptakan kebersamaan seluruh jemaat dan pengerja. yang diikuti seluruh jemaat dan panitia.. Tak pelak, suasana sukacita, senang, ceria, dan penuh dengan canda tawa dirasakan oleh seluruh peserta, hingga tak terasa waktu sudah sore.
Pada akhirnya, kegiatan ditutup dengan pembagian hadiah kepada peserta yang berhasil memenangkan game. Disusul dengan sesi foto bersama, serta diakhiri dengan doa penutup oleh Tim Pendoa. FAT/ SM

 

 

 

 

Pdt. Dr. Niko Njotorahardjo: Saat Ini Kita Memasuki Pentakosta Ketiga

Pdt. Niko saat menyampaikan Firman Tuhan dalam pembukaan GA WEA

SENTUL,Victoriousnews.com,- Gembala senior GBI Gatot Subroto (Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo) adalah pemilik gedung Sentul International Convention Center (SICC) di Babakan Madang Sentul Selatan, Bogor Jawa Barat. Di tempat tersebutlah, diselenggarakan General Assembly World Evangelical Alliance (GA WEA- Sidang Raya Penginjilan Sedunia).


Pdt. Niko juga dikenal sebagai hamba Tuhan kerap menggelar KKR di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai tuan rumah, panitia memberikan kepercayaan untuk menyampaikan firman Tuhan tentang tema GA WEA 2019, yakni “Your Kingdom Come” (Datanglah Kerajaan-Mu).
Pdt Niko mengawali renungannya, dengan mengungkapkan bahwa dirinya mendirikan SICC sebagai respon panggilan Tuhan pada dirinya untuk membentuk House of Prayer for All Nations, healing center, miracle center, dan tempat yang berpengaruh untuk trasnsformasi bagi Indonesia dan bangsa-bangsa.


“Saya percaya, General Assembly World Evangelical Alliance diadakan ditempat ini (SICC), bukan suatu kebetulan, tapi saya percaya ada maksud Tuhan yang luarbiasa. Saya akan menyampaikan apa yang Tuhan taruh dalam hati saya. Tema dari pertemuan ini, Your Kingdom Come (Datanglah Kerajaan-Mu), ini adalah doa yang diajarkan Tuhan Yesus, didalam Doa Bapa Kami, dan saya percaya, sebenarnya doa ini harus diperkatakan setiap hari. Pada saat kita berdoa demikian, itu sebetulnya kita berdoa untuk mukjizat, kesembuhan, pelepasan, pertobatan, keselamatan, sebab pada saat Your Kingdom Come, itu terjadi seperti itu, selain itu, kalau kita berdoa Datanglah Kerajaan-Mu, sebenarnya kita berdoa untuk kedatangan Tuhan Yesus yang kedua, karena kita merindukan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua” terang Pdt Niko.


Lebih lanjut Pdt Niko menjelaskan tentang kedatangan Kerajaan Tuhan, menurut kitab Injil Matius. “Pada suatu hari murid-murid Tuhan Yesus bertanya, Guru, apa tanda dari kedatangan-Mu, dan apa tanda dari kesudahan dunia ini, Tuhan Yesus menjawab, salah satunya dari Matius 24 ayat 14 : Dan Injil Kerajaan-Nya diberitakan diseluruh dunia, dan menjadi kesaksian bagi seluruh bangsa, dan setelah itu tiba kesudahannya. Jadi Tuhan Yesus akan datang kembali, kalau Injil Kerajaan Allah sudah diberitakan diseluruh dunia, menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Kalau saudara dan saya, sangat merindukan kedatangan Tuhan, berarti kita merindukan supaya Injil Kerajaan Allah diberitakan diseluruh dunia, kesaksian bagi bangsa-bangsa, dan untuk itulah Tuhan memberikan Amanat Agung, karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu, dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa, sampai kepada akhir zaman”.


Pdt Niko dalam renungan firman Tuhan, juga mengungkapkan sejarah pencurahan Roh Kudus, dan dampaknya bagi kekristenan.
“Amanat Agung belum berakhir, karena itu pada tahun 1906, kembali Roh Kudus dicurahkan, di Azusa Street Los Angeles Amerika Serikat, seorang hamba Tuhan bernama William Seymour, dipakai Tuhan luarbiasa. Peristiwa Azusa Street ini dahsyat, menurut Conwel Theological Seminary, 77,9 % kekristenan yang ada saat ini, dimulai pada tahun 1900” jelas Pdt Niko. Kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh Pdt Niko tentang nubuatan dari William J. Seymour pada tahun 1909. “Pada tahun 1909, dia (William Seymour) bernubuat, kira-kira 100 tahun ke depan, yakni era sekarang ini, Roh Kudus akan dicurahkan jauh lebih dahsyat dari peristiwa Azusa Street, dan dikatakan bahwa gerakan ini tidak akan berhenti, sampai Tuhan Yesus datang kembali” ungkap Pdt Niko.
Pdt Niko menyebutkan bahwa hingga kini sudah terjadi curahan Roh Kudus (Pentakosta) dua kali dalam sejarah dunia, yakni pertama pada para murid di Yerusalem, kedua pada peristiwa Azusa Street di Los Angeles Amerika Serikat, dan saat ini, menurut Pdt Niko, kita sudah memasuki Pentakosta yang ketiga. “Saat ini kita telah memasuki Pentakosta ketiga. Dan dimulai dari Indonesia, akan banyak orang yang menerima Yesus sebagai juruselamat hingga ke bangsa-bangsa seluruh dunia,” pungkas Pdt. Niko. SM

Ketika Buka SR PGI XVII, Yasonna Laoly (Menkumham RI) Ajak Gereja & Tokoh Adat Gelorakan Semangat Kebersamaan Hadapi Tantangan Radikalisme

Menkumham RI, Yasonna Laoly memukul gong menandai dibukanya SR PGI XVII di Sumba

SUMBA, NTT,- Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI, Yasonna Laoly,  mewakili Presiden Jokowi, membuka secara resmi Sidang Raya XVII PGI, di Pantai Puru Kambera, Waingapu, Sumba Timur, NTT, Jumat (8/11). Dalam kata sambutannya, Yasona Laoly menekankan, bahwa Era 4.0 yang ditandai dengan kemajuan teknologi, telah merambah ke berbagai belahan dunia, termasuk indonesia. Hal ini tentunya menambah semakin kerasnya persaingan. Persaingan bukan lagi siapa yang terbesar atau terkecil, tetapi siapa yang tercepat. Oleh sebab itu, gereja juga diminta ikut mempersiapkan diri, dengan menyiapkan generasi muda yang dapat memanfaatkan berbagai peluang di tengah persaingan tersebut.“Sekarang segala sesuatu bisa dijangkau dengan hand phone, dan tinggal pencet. Nah, perubahan ini harus kita respon. Perlu ketrampilan yang mumpuni untuk menangkap peluang, dan semuanya itu harus dimulai dengan pendidikan. Pendidikan semakin penting. Pertanyaannya, sejauhmana gereja telah mempersiapkan jemaat, secara khusus generasi muda, yang unggul di masa depan,” katanya.

Tarian Massal di tepi pantai dan bebatuan cadas, tempat upacara pembukaan SR PGI XVII

Dalam sambutannya, juga disinggung mengenai tantangan radikalisme yang kini terjadi di bangsa Indonesia. Sebab itu, dia mengajak gereja dan tokoh adat, terus menggelorakan semangat kebersamaan dan gotongroyong. Selain itu, pentingnya menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Sementara itu, Dalam sambutannya, Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang menyambut dengan rasa syukur atas kehadiran jemaat GKS yang datang dari berbagai tempat, dan penuh semangat menghadiri acara ini. “Kehadiran kalian semua dari tempat yang jauh menandakan adanya kesatuan hati kita untuk merayakan pesta iman ini,” tandas Pdt. Ery, panggilan akrabnya.

Lanjut Ketua Umum PGI, tema Sidang Raya XVII PGI adalah pengakuan iman dari gereja mula-mula yang tidak akan dilupakan, dan ini juga menjadi pengakuan iman gereja-gereja di abad 21 ini. “Banyak pergumulan yang melilit kita, namun harus yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita. Itu pula yang kita rayakan pada Sidang Raya ini. Kita akan membicarakan karunia yang sudah diberikan Allah, begitu juga karunia yang sudah diberikan kepada Sumba dengan keindahan alamnya,” ujarnya.

Pembukaan SR XVII PGI berlangsung semarak. Tidak hanya peserta sidang, jemaat dari 4 kabupaten di Sumba serta masyarakat, beribadah bersama-sama, dan menyaksikan acara pembukan yang luar biasa. Sekitar 7000 orang tumpah ruah di pinggir pantai nan indah dan mempesona itu.

Antusiasme jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS) dan masyarakat perlu diacungi jempol. Menurut informasi yang dihimpun tim media PGI, sebelum pembukaan mereka telah berdatangan ke lokasi dengan menggunakan kendaraan roda dua, bis, mobil pribadi, hingga truk. Teriknya matahari sama sekali tak mematahkan niat mereka untuk hadir.

Prosesi pembukaan yang diawali ibadah ini, diisi tarian, atraksi seribu kuda, dan fragmen perjuangan masyarakat Sumba mula-mula yang dikolaborasi dengan masuknya Injil ke Tana Humba. Kesemuanya itu membuat decak kagum, dan rasa haru yang luar biasa dari mereka yang hadir.

Mewakili Presiden RI Joko Widodo, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI Yasonna H. Laoly tiba di Pantai Puru Kambera didampingi Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat serta Wakil Gubernur NTT Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi. Kedatangan mereka diterima MPH-PGI dan Pimpinan Sinode GKS dengan adat budaya Sumba.

Pembukaan Sidang Raya XVII PGI ditandai dengan pemukulan gong oleh Yasona Laoly , didampingi oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Bupati Sumba Barat, Wakil Bupati Sumba Barat, Bupati Sumba Tengah, Ketua Sinode GKS serta MPH-PGI. Usai pemukulan gong Yasonna menerima kuda putih yang diberikan oleh panitia. SM/IR