JOMBANG,Victoriousnews.com– Suasana hangat dan penuh semangat memenuhi Gedung Gereja GKJW Jemaat Kertorejo, Jumat (6/6), saat digelar acara bedah buku “Kisah Kiai Wakyo dan Kiai Sesam”—sebuah karya monumental yang merekam sejarah kelahiran dan perkembangan komunitas Kristen di Desa Kertorejo, Ngoro, Jombang.
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Undhuh-Undhuh GKJW Kertorejo 2025 dan sekaligus menjadi momen peluncuran resmi buku yang ditulis oleh Wiryo Widianto, Negari Karunia Adi, dan Iman Wimbadi.

Disambut dengan puji-pujian dari ibu-ibu, anak-anak, dan remaja gereja, serta sambutan hangat dari sesepuh desa, ibu Widyastuti Mestoko, acara ini dimulai dengan penyerahan buku oleh Pdt. Dwi Bagus kepada Kepala Desa Kertorejo, ibu Hj. Dra. Suisti, sebagai simbol penghargaan terhadap sejarah lokal yang hidup dan mengakar.

Hadir dalam acara ini ratusan warga, baik dari jemaat lokal maupun tamu dari berbagai kota seperti Bandung, Bogor, Surabaya, Sidoarjo, Kediri, Malang, Banyuwangi, dan Jombang. Antusiasme terlihat jelas; ruang utama gereja joglo yang klasik dipenuhi jemaat, hingga banyak yang duduk di kursi-kursi tambahan di luar gedung.
Mengenang Tokoh, Menghidupkan Teladan
Bedah buku ini dipandu langsung oleh Pdt. Dwi Bagus sebagai moderator, mengalirkan diskusi hangat yang sarat makna. Para penulis memaparkan kisah dua tokoh utama: Kiai Wakyo, sang pemimpin desa sekaligus tokoh iman, dan Kiai Sesam Midin, anak angkat yang dididik dari gembala kerbau hingga menjadi gembala jemaat.

Narasumber pertama, Wiryo Widianto mengajak hadirin menyelami akar sejarah Desa Kertorejo dan tokoh-tokoh yang membangunnya dengan iman, kerja keras, dan transformasi hidup yang luar biasa.
Dalam pemaparannya, Wiryo mengungkapkan bahwa nama Kertorejo tak bisa dilepaskan dari peran Coollen, seorang tokoh Kristen awal yang memimpin komunitas di Ngoro. Dengan pendekatan budaya Jawa, Coollen menciptakan bentuk kekristenan yang inklusif dan mudah diterima masyarakat setempat. Ia membuka 32 dusun baru — salah satunya, dusun ke-29: Kertorejo.
Di sinilah kisah luar biasa Wakijo, atau yang kemudian dikenal sebagai Kiai Wakyo, bermula. Berasal dari Krian, Wakijo tumbuh dalam lingkungan keras dan bahkan pernah belajar ilmu mencuri dari seorang guru di Sidoarjo. Namun, titik balik hidupnya terjadi ketika ia hampir tertangkap dalam ujian terakhirnya. Saat itu, ia merenung: jika terus begini, hidupnya akan berakhir dalam kehancuran.
Dari Hutan Gelap Menuju Desa yang Terang
Lanjut Wiryo, dengan kesadaran baru,Wakijo meninggalkan masa lalunya dan memilih jalan yang benar. Ia menjadi pemimpin dalam babad alas Tragal — membuka dan membangun wilayah hutan yang kelak menjadi Desa Kertorejo. “Nama “Kertorejo” sendiri merupakan gabungan dari dua kata: “Kerto” (makmur) dan “Rejo” (ramai/sejahtera), mencerminkan cita-cita besar yang diusung Wakijo bagi desanya,” tandas Wiryo yang juga Ketua DPD Perkumpulan Wartawan Media Kristiani (Perwamki) Jatim.
Meski belum dibaptis, Wakijo dikenal taat dan rajin. Ia membangun komunitas Kristen terbesar di kawasan Ngoro, di tengah situasi sulit di mana orang yang dibaptis seringkali diusir dari lingkungannya.

Namun Wakijo tidak berjalan sendiri. Karena tidak memiliki anak laki-laki, ia mengangkat seorang anak bernama Samidin, yang kelak dikenal sebagai Kiai Sesam Midin. Dari gembala kerbau, Sesam dididik menjadi gembala jemaat — bukti nyata pemuridan lintas generasi yang lahir dari kasih dan visi Wakijo.
Pelajaran dari Dua Generasi Pemimpin Iman
Melalui kisah mereka, Wiryo menggarisbawahi lima nilai keteladanan penting yang relevan hingga kini:
1. Manusia Pembelajar – Wakijo membuka diri untuk berubah, bahkan dari masa lalu yang kelam.
2. Kepompong Menjadi Kupu-kupu – Dari calon pencuri menjadi pemimpin yang melayani.
3. Pemuridan – Wakijo membimbing Sesam dengan penuh tanggung jawab, bukan hanya sebagai anak, tetapi sebagai penerus misi.
4. Kolaborasi Antar Generasi – Dua tokoh dari generasi berbeda bekerja bersama membangun Kertorejo.
5. Warisan Iman – Mereka meninggalkan jejak iman yang kokoh bagi generasi berikutnya.
Peringatan 55 tahun kepemimpinan Wakijo sebagai Lurah dan 25 tahun Sesam sebagai gembala jemaat bukan sekadar angka, melainkan kesaksian tentang kesetiaan kepada panggilan Tuhan.

Dalam sebuah catatan dari misionaris, Wakijo ditanya bagaimana rasanya menjadi pemeluk Kristen. Ia menjawab dalam bahasa Jawa: “Boten kanten-kantenan”, yang berarti bahagia tak terukur. Dan ketika ditanya harapannya ke depan, ia menjawab penuh iman: “Saya, istri, anak, cucu dan keturunan saya tetap teguh dalam iman dan percaya kepada Kristus.”
Penulis kedua, Negari Karunia Adi, menyoroti pentingnya kekeluargaan dalam pewartaan iman. Ia menekankan bahwa membangun Kerajaan Allah dimulai dari rumah dan relasi antarwarga yang saling menopang.
Sementara Iman Wimbadi menegaskan bahwa seluruh kisah ini tidak lepas dari predestinasi—rencana ilahi yang bekerja melalui umat yang dipilih-Nya, dalam segala keterbatasan mereka.
Warisan Sejarah di Tengah Perubahan Zaman
Salah satu momen yang menggetarkan adalah tanggapan dari Prof. Dr. Ir. Harianto, M.S., keturunan langsung tokoh dalam buku ini. Ia mengingatkan betapa kerasnya kehidupan masa lalu di bawah kolonialisme. Namun, Kiai Wakyo tetap membangun gereja meski dilanda kelaparan dan kerja paksa. “Itulah kekuatan iman,” ujarnya.
Di tengah diskusi, anak-anak dan pemuda GKJW Kertorejo menyuguhkan pujian yang memeriahkan suasana. Tak ketinggalan, para sesepuh dan pelaku sejarah ikut berbagi kesaksian perjuangan iman mereka, menjadikan acara ini bukan sekadar diskusi, tetapi juga perayaan iman lintas generasi.
Pdt. Chrysta B.P. Andrea, M.Th., turut menegaskan pentingnya memahami sejarah untuk melangkah maju. “Seperti Daud yang menarik mundur tali ketapel agar bisa melesat kuat, sejarah adalah tarikan yang memperkuat langkah iman kita,” katanya penuh semangat.
Meninggalkan Jejak untuk Masa Depan
Acara ditutup dengan pernyataan reflektif dari Roni Mustamu, Sekjen DPD Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Jatim. Ia mengajak seluruh jemaat untuk menjaga warisan iman sebagai warisan hidup, bukan sekadar cerita masa lalu.
Peluncuran buku Kisah Kiai Wakyo dan Kiai Sesam menjadi penanda penting bahwa sejarah lokal memiliki daya untuk memperkuat identitas iman dan membangun semangat kebersamaan di tengah perubahan zaman. Sebuah warisan yang bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga diteruskan. Wid
Selengkapnya bisa disaksikan via Channel YouTube:


















