Pengamat dan Praktisi Ekonomi John Palinggi, Ingatkan Indonesia di Tengah Ancaman Perang dan Krisis Ekonomi

banner 468x60

JAKARTA,VictoriousNews.com— Pengamat dan praktisi ekonomi, Dr. John Palinggi, MM, MBA mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang memasuki fase penuh ketidakpastian. Konflik geopolitik yang meluas hingga ancaman krisis ekonomi global menjadi sinyal keras bagi semua negara, termasuk Indonesia, untuk bersiap.

Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini melebar ke kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Bahrain. Menurut John Palinggi, dampaknya tidak main-main yakni:  sekitar 20% pasokan minyak dunia terhambat di Selat Hormuz; Kapal-kapal enggan berlayar karena ancaman serangan; Biaya asuransi melonjak drastis dan Rantai pasok logistik global terganggu. “Ini bukan lagi perang dua negara, tapi konflik yang sudah melibatkan banyak pihak dan berdampak langsung ke ekonomi dunia,” tegasnya.

Banjir Informasi Menyesatkan, Publik Diminta Waspada

John Palinggi juga menyoroti maraknya informasi yang tidak akurat di media sosial dan televisi. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada “pakar instan” yang justru memperkeruh keadaan.

Menurutnya, informasi yang tidak berbasis fakta dapat: Memicu kepanikan publik,Menyesatkan opini masyarakat dan  Mengganggu stabilitas nasional.  Ia menegaskan, masyarakat sebaiknya merujuk pada sumber resmi pemerintah yang memiliki akses data lebih valid.

Masalah Dalam Negeri: Utang, BUMN, dan Dugaan Kebocoran Anggaran

Selain ancaman global, John menyoroti persoalan internal yang tak kalah serius. Ia meminta dilakukan audit menyeluruh terhadap: Utang negara dan utang swasta; Penyertaan modal negara di BUMN;Pinjaman kementerian dan lembaga; dan Kredit bermasalah di bank BUMN.

Menurutnya, ada indikasi kuat praktik penyimpangan, termasuk dugaan pencucian uang dan kredit fiktif yang berpotensi membebani negara.

Proyek Infrastruktur Disorot: Boros dan Sarat Korupsi

John juga  mengkritik proyek infrastruktur yang dinilai tidak efisien dan jauh dari kebutuhan rakyat. Ia menyoroti: Jalan yang cepat rusak dan diperbaiki berulang,; Proyek tanpa tender serta dugaan korupsi pengadaan hingga ratusan triliun rupiah per tahun.  “Di luar negeri jalan bisa bertahan 10 tahun. Di sini, 6 bulan sudah rusak. Ini harus dipertanyakan,” ujarnya.

Menurut John, Indonesia dinilai belum mandiri dalam sektor energi. Ketergantungan impor BBM masih tinggi meski memiliki sumber daya.Ia juga menyinggung adanya: Dugaan mafia migas; Ketidakefisienan pengolahan minyak; dan Potensi manipulasi impor.  Hal ini membuat harga energi rentan terhadap gejolak global.

Ancaman Resesi Nyata, Tapi Jangan Panik

Sejumlah negara Asia seperti Thailand, Vietnam, dan India disebut telah mengalami tekanan ekonomi serius.

Namun, John mengingatkan agar masyarakat tidak panik berlebihan. “Takut itu wajar, tapi jangan sampai kehilangan akal sehat,” katanya.

John meminta masyarakat memberi kepercayaan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi situasi sulit, termasuk beban utang negara. Ia juga mendorong pemerintah untuk: Lebih transparan dalam pengelolaan anggaran;

Tegas memberantas korupsi; serta Membentuk unit khusus penindakan “Kalau tidak tegas, negara bisa hancur,” ujarnya.

Pesan untuk Pelaku Usaha: Bertahan dan Jujur

Bagi pelaku usaha, John Palinggi menegaskan bahwa krisis adalah bagian dari dinamika bisnis. Pesannya sederhana: Jangan manipulasi kredit;  Jangan menyalahkan pemerintah

Tetap adaptif dan berintegritas. “Pedagang sejati selalu menemukan jalan, bahkan di masa krisis,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Palinggi mengajak masyarakat melihat krisis dari perspektif yang lebih dalam.

Menurutnya,  krisis adalah bagian dari kehidupan. ‘Kesulitan bisa menjadi momentum perubahan.  Solidaritas dan keimanan menjadi kunci bertahan. Resesi bukan akhir segalanya. Ini adalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat dan lebih baik,” pungkasnya. SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60