Kesaksian
 
Lily Yuliana

VICTORIOUSNEWS.COM,-Wanita kelahiran Jakarta, 14 September 1976 ini berlatar belakang dari keluarga yang sudah mengenal Tuhan Yesus  sebagai Juruselamat.  Sejak usianya masih belia, Lily, demikian kerap disapa, dididik dan diajarkan untuk mengikuti sekolah minggu. Seiring berjalannya waktu, ketika beranjak dewasa, iman kerohanian Lily pun terus bertumbuh dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. “Saya anak keempat dari empat bersaudara. Dari kecil keluarga kami sudah mengenal Tuhan. Kami selalu diajarkan untuk sekolah minggu. Puji Tuhan sampai sudah dewasa kami selalu ingat Tuhan,” tutur putri keempat dari pasangan Alm. Dencik dan Yulinda.

Perjalanan hidup Lily dan keluarganya kerap diwarnai dengan badai persoalan. Tetapi terpaan badai persoalan senantiasa dihadapi dengan penuh syukur dan doa kepada Tuhan. Dengan demikian, Lily mengalami kekuatan iman yang luar biasa dari Tuhan Yesus. Salah satu badai yang sampai sekarang menerpa dirinya adalah sakit tumor otak yang menyerang syaraf mata sehingga ia pun merelakan kedua matanya tidak bisa melihat. “Gejala awalnya, saya sering pusing. Saya sempat minum panadol kemudian hilang. Tapi lama kelamaan, kok pusingnya makin sering. Lalu saya memeriksakan diri ke dokter THT di RS. Sumber Waras, katanya tidak masalah. Mulai saat itu saya tidak pernah pikirkan penyakit itu,”  tutur wanita yang menikah dengan Budi Harjono pada tahun 2006 ini mengisahkan.

Setelah membangun bahtera rumah tangga pasangan suami istri ini pun dikaruniai Tuhan seorang putri pertama pada akhir 2006. Buah hatinya dirawat dengan penuh kasih sayang hingga bertumbuh menjadi anak yang baik dan sehat. Bahkan pada saat itu, Lily masih bekerja sebagai karyawan swasta. Dan setiap pagi hari sebelum berangkat kerja, ia menyempatkan diri mengantarkan anak pertamanya sekolah taman kanak-kanak.

Lily tetap bersemangat merawat anaknya

Tetapi pada awal tahun 2011, Lily mengaku penglihatannya makin lama makin berkurang dan akhirnya tidak bisa melihat sama sekali. Agar tidak mengalami kekecewaan mengenai penyakitnya,  Lily pun memutuskan untuk berkonsultasi dengan gembala sidangnya dimana ia bergereja. “Saat sakit itu saya sempat tanya kepada gembala sidang saya, apakah penyakit ini disebabkan karena saya tidak pelayanan setelah menikah. Karena sebelum menikah, saya melayani jadi guru sekolah minggu dan paduan suara di gereja. Kemudian gembala itu menjawab, bukan karena itu. Tapi Tuhan memiliki rencana atas hidupmu. Saat itu saya bersyukur sekali karena diberikan kekuatan. Ternyata walaupun kondisi mata saya  tidak bisa lihat, diberikan kekuatan seperti itu, anugerah banget,” ungkapnya.

Merasa kondisi matanya semakin parah, Lily dan suami segera memeriksakan ke rumah sakit. Ironisnya, justru  pemeriksaan laboratorium rumah sakit itu hasilnya bagus. Padahal dalam sehari itu Lily mengalami muntah sebanyak 30 kali dalam sehari. “Pada waktu itu, saya positif hamil anak yang kedua. Kemudian dokter menyarankan untuk pergi ke rumah sakit mata Aini. Dokter bilang agar dilakukan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau foto rontgen.Tapi dokter kandungan saya tidak mengijinkan saya untuk melakukan foto rontgen karena kondisi  saya sedang hamil anak yang kedua. Setelah melakukan pemeriksaan MRI, saya divonis menderita tumor otak jinak. Waktu itu saya berserah kepada Tuhan, dan berharap bahwa nanti bisa sembuh dengan sendirinya. Kemudian selang sebulan, kedua mata saya sudah tidak bisa melihat. Puji Tuhan, ada jemaat gereja yang menolong saya untuk memeriksakan diri  ke sebuah rumah sakit Mitra Kemayoran, RS. Pertamina dan MMC Semanggi. Begitulah luar biasanya semua pertolongan Tuhan. Kedua dokter dari RS. Mitra Kemayoran dan Pertamina itu menyarankan agar saya nunggu unfal baru ditindak operasi.

Sementara itu di RS MMC Semanggi, dokternya berkata, ‘Lily, jika seumur hidupmu nanti mata kamu tidak bisa melihat, bagaimana? Kemudian saya jawab, karena dari kecil saya diajarkan untuk ingat Tuhan, ya walaupun saya seumur hidup tidak bisa melihat, ya bersyukur saja kepada Tuhan. Tapi saya akan merawat anak saya sampai besar. Karena kalau tumor itu menyerang kepala, kalau saya dalam kondisi tidak hamil, tumor itu agak lambat dalam berkembang.  Tapi karena saya sedang hamil saat itu, akhirnya tumor itu cepat sekali berkembang, yang tadinya 2 cm berkembang cepat menjadi 4 cm. Posisi tumornya itu berada di sebelah syaraf mata sebelah kanan,” ujar Lily .

Mujizat,  Operasi Tumor Otak Tanpa Biaya!. Sebelum menghadapi pisau operasi untuk proses penyembuhan tumor otaknya, Lily sangat bergumul dengan kondisinya saat itu. Pertama, ia dan suami bergumul mengenai biaya operasi dan persiapan biaya persiapan persalinan anak keduanya. Kedua, Lily bergumul tentang kondisi tubuhnya, dimana kalau menderita tumor otak dalam keadaan hamil tidak boleh melahirkan secara normal dan harus dioperasi caesar. Ibarat jatuh ketimpa tangga pula. Tapi Lily terus berdoa kepada Tuhan secara sederhana. “Saya hanya cerita sama Tuhan dan berdoa. Saya bilang, Tuhan, anak pertama saya lahirnya normal. Kemudian saya disarankan untuk Caesar. Kan Caesar itu  tidak enak Tuhan. Rasanya sakit dan biayanya mahal, uangnya darimana? Akhirnya mujizat terjadi, anak ini diprediksi lahir 10 agustus untuk dilakukan Caesar. Ternyata tanggal 8 Agustus siang hari, saya merasa pengin buang air kecil setiap menit. Kemudian saat itu saya nelpon suami yang sedang bekerja. Suami saya bilang, setengah jam lagi sampai rumah. Kemudian suami saya menghubungi seorang tante pelayan gereja dan membawa mobilnya. Kemudian karena waktu tinggal 2 hari lagi, maksudnya pergi ke RS. MMC Semanggi untuk konsultasi.  Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, ternyata bayi anak kedua saya lahir di mobil.  Yang jadi mujizatnya adalah bayi itu lahir dan saya  tidak merasakan sakit sedikitpun. Disitulah mobilnya langsung buru-buru dibawa  ke  RS Harapan Kita. Pas di mobil itu, ari-ari itu keluar banyak sekali. Saya merasa, dokternya yang tolong saya itu Tuhan Yesus langsung bisa lahir normal dan lahir di mobil hanya dengan kuasa doa,” kenang Lily mengisahkan bahwa semua proses kelahirannya tidak dikenakan biaya apapun.

Setelah anak keduanya lahir, Lily kemudian menyampaikan  kepada Prof. Eka (dokter kenalan Lily yang menangani penyakit tumornya). “Seminggu kemudian saya lapor dan konsultasi kepada Prof. Eka. Saya infokan bahwa anak saya sudah lahir. Kemudian saya lanjut untuk operasi tumor otak (diangkat). Karena pada tanggal 17 Agustus hari kemerdekaan, jadi ditunda tanggal 18 Agustus. Prof Eka, waktu bilang, kalau orang normal, setelah dioperasi itu minimal 3 hari pertama itu berada di ICU. Saya sempat kaget waktu itu, kemudian saya berdoa lagi, Tuhan, jika Tuhan mengijinkan saya hidup, maka saya tidak mau di ICU lama-lama.  Di ICU itu tidak enak Tuhan, biayanya mahal dan sehari saja biayanya bisa 10 juta. Uang darimana Tuhan? Saya hanya berdoa sederhana saja waktu itu. Memang saya tidak bisa berdoa dengan kata-kata yang indah, hanya sederhana tapi dengan hati yang terdalam dan tulus. Puji Tuhan, pada saat pasang selang,  di meja operasi mungkin karena saya bisa kenal dengan Profesor Eka di RS MMC. Padahal suami saya hanya bekerja sebagai debt collector dan kami tinggal di pinggir rel. Tentu untuk operasi butuh biaya yang sangat besar sekali. Kalau bukan karena Tuhan, siapa lagi?. Biaya tindakan operasi saja 30 jutaan, tapi Prof Eka tidak kenakan biaya sama sekali. Luar biasa Tuhan. Mujizat sekali. Apapun yang terjadi berserah sama Tuhan. Luar biasanya, operasi berjalan tanggal 18 Agustus 2011 jam 9 pagi sampai jam 7 malam.  Kemudian pada jam 8 malam, karena mata saya sudah tidak bisa melihat,  saya sadar dan merasakan bahwa kaki dan tangan saya diikat dan ada selang.  Nah, waktu operasi besar ini saya masuk ICU, suami saya tidak boleh masuk. Tapi Tuhan dengar doa saya, kalau masih diijinkan saya hidup tidak mau di ICU lama-lama.  Mujizatnya, semua proses operasi tidak dikenakan biaya. Bahkan dalam sakit saya ini ada orang yang menggalang dana untuk membeli obat. Bukannya saya mengeluarkan uang, malah saya mendapat berkat pertolongan. Tuhan cukupkan pada waktuNya. Disitu saya tersadar oleh kata-kata gembala sidang saya, bahwa Tuhan punya rencana yang indah bagi hidup saya,” urai wanita yang memiliki motto hidup ‘Tetap semangat berjalan bersama dengan Tuhan. Apapun  yang terjadi jangan takut, karena ada Tuhan’.

Kakak Iparnya Bertobat Setelah Melihat Kesaksian Hidup. Meski hidup yang dijalani begitu berat, tapi Lily terus mengucap syukur atas pertolongan Tuhan hari lepas hari. Setelah Lily tidak bisa melihat, ia tetap bertanggungjawab mendampingi suami dan merawat kedua putrinya bersama sang mama Yulinda di sebuah rumah tak jauh dari stasiun kereta api Pesing, Jakarta Barat. “Suami  dari cici saya yang semula beragama non Kristen bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, setelah melihat perjalanan hidup saya. Tuhan tolong begitu luar biasa. Kata ipar saya,  dia mimpi seperti didatangi Tuhan. Dia juga mengaku, terima Tuhan Yesus, karena melihat sendiri kisah hidup saya. Bahwa pertolongan Tuhan luar biasa. Memang benar bahwa Tuhan punya rencana, dengan kondisi mata yang tidak melihat,” tukas pemilik ayat favorit Yeremia 29:11.

Sampai saat ini, Lily pun masih beriman dan berharap dapat menerima kesembuhan dan matanya dapat melihat kembali. Tetapi, jika Tuhan berkehendak lain, dan seumur hidupnya tidak bisa melihat, maka ia rindu dapat menjadi berkat bagi orang lain. “Jika ada orang yang sedang mengalami sakit seperti saya, atau apapun juga, janganlah gampang menyerah. Tetap bersandar kepada Tuhan dan punya semangat hidup. Walaupun sekarang kondisi mata saya tidak melihat, saya tahu bahwa sumber hidup saya adalah Tuhan Yesus. Karena hidup di bumi kan sementara. Jadi perbuatan apapun harus kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan,” pungkas Lily sembari menambahkan bahwa setiap tahun masih ada pemeriksaan MRI. Tapi  puji Tuhan sampai sekarang (sejak 2011), tidak ada perkembangan sel tumor. margianto/victorious edisi 792

https://victoriousnews.com/wp-content/uploads/2018/02/yuli-851x1024.jpghttps://victoriousnews.com/wp-content/uploads/2018/02/yuli-150x150.jpgadminKesaksianVICTORIOUSNEWS.COM,-Wanita kelahiran Jakarta, 14 September 1976 ini berlatar belakang dari keluarga yang sudah mengenal Tuhan Yesus  sebagai Juruselamat.  Sejak usianya masih belia, Lily, demikian kerap disapa, dididik dan diajarkan untuk mengikuti sekolah minggu. Seiring berjalannya waktu, ketika beranjak dewasa, iman kerohanian Lily pun terus bertumbuh dan kuat dalam menghadapi...